Selasa, Juni 23, 2009

Negara Bersama Rakyat Bahari Indonesia wajib Bangun Jaringan Kedaulatan Laut Dalam Menjaga kejahatan kapal2 Asing & Ancaman Militer Asing

Karena Indonesia adalah Negara Kepulauan Terbesar di Dunia maka adalah suatu keharusan Bagi kekuatan militer Laut Indonesia bersama Rakyat Bahari untuk mulai kita fokus terhadap ancaman dan tantangan yang muncul dalam suatu masa. Fokus terhadap hal tersebut bukan saja Pencurian Ikan oleh Nelayan asing tetapi juga pada seluruh aktivitas kapal asing baik Kapal sipil ataupum Kapal Militer Asing , saatnya kita tidak hanya terpaku pada struktur kekuatan laut yang dibangun Negara agar mampu menghadapi Gangguan di laut atau serbuan Pihak Milter Asing akan tetapi juga kita wajib mengenali pula secara lengkap karakter pihak yang dikategorikan sebagai ancaman dan tantangan tersebut. Dengan kata lain, karakter dan tindak tanduk calon calon lawan dicermati dengan benar. Agar kita TNI Bersam Rakyat Bahari Mampu Mendeteksi setiap Pelnggaran Di Wilayah laut Indonesia. TNI Bersama Rakyat Bahari akan Siap memenangkan setiap Peperangan Laut dengan Militer Asing di seluruh Wilayah Laut Kedaulatan Indonesia yang akan dicaplok Mereka sesuai dan sejalan dengan Doktrin Perlawanan Rakyat Semesta Indonesia

Sebagai contoh adalah U.S. Navy yang memandang bahwa kekuatan laut Cina akan menjadi calon lawannya di masa depan. Persepsi demikian kemudian muncul dalam aspek-aspek terkait, baik operasi, intelijen, logistik maupun pendidikan dan pengkajian. Kalau mencermati kurikulum di lembaga pendidikan U.S. Navy, khususnya untuk perwira, sebagian dari kurikulum itu dirancang untuk mengenali karakter dan tindak tanduk Cina. Begitu pula dengan hasil-hasil pengkajian di U.S. Navy, termasuk seminar-seminar, sebagian fokusnya diarahkan ke kekuatan laut Cina, meliputi aspek operasi, intelijen, logistik maupun mutasi para personel Militer Cina .
Kegiatan operasi dan intelijen pun demikian. Berlalu lalangnya kapal perang dan kapal Angkatan Laut Amerika Serikat di perairan ZEE Cina membuktikan kebenaran akan fokus itu. Apabila kita berangkat dari pemahaman demikian, tentu saja bukan suatu hal yang aneh alias janggal dengan insiden seperti USNS Impeccable (T-AGOS 23) atau tabrakan udara antara pesawat intai EP-3 Aries dengan pesawat tempur Cina.,

Sekarang Bagamana tentang Indonesia dengan segala aspek tantangan demi tantangan dari Negara – Negara disekitar Negara kepulauan Indonesia , walau sampai saat ini Indonesia secara resmi belum pernah mendeklarasikan siapa lawannya dan atau calon-calon lawannya. Namun melihat perkembangan kontemporer di Laut Sulawesi, tidak sedikit pihak di negeri ini berpendapat bahwa Malaysia dan Australia lebih besar probabilitasnya menjadi calon lawan Indonesia suatu ketika dibandingkan dengan Singapura misalnya. Selanjutnya muncul pertanyaan, sudah seberapa dalam pengetahuan kita mengenai Australia dan Malaysia khususnya kekuatan Efektif Angkatan laut Mereka dalam berperang ? Sebagai Negara Kepulauan Terbesar Di dunia Sudahkah fokus Para Pemimpin dan Petinggi militer negeri ini diarahkan ke sana , dalam segala aspek baik operasi, intelijen, logistik dan lain sebagainya? Pahamkah kita dengan doktrin operasi Militer Malaysia ? juga saatnya kita pelajari bagaimana Doktrin operasi Militer Australia apa Mengertikah kita dengan karakter operasi militer serta struktur organisasi dan Personel militernya ? Selain data data terbaru Alutsista Dari Calon Calon Agresor
Banyak pertanyaan serupa yang relevan untuk diajukan.Semua itu pada dasarnya konsekuensi bila kita harus meprediksi bila terjadi peperangan dan menilai kekuatan suatu Negara - negara yang merupakan calon calon Potensial lawan kita di Masa depan. Saatnya sekarang sebelum sebagian wilayah Indonesia dicaplok Malaysia atau Australia LEMHANAS dan TNI melakukan obsevasi – observasi yang serius pada Ciri Perilaku , aktivitas Militer Negara – Negara Seperti Malaysia , Australia , deteksi lalu lintas Aktivitas Militer asing diseluruh Perairan Nusantara . bangun Sekarang juga bersama Rakyat Bahari membangun jaringan kedaulatan Laut dengan mengikut sertakan Satu juta Kapal2 sipil nasional dan Kapal2 Nelayan Indonesia dengan memberikan penyuluhan sandi kpd satu juta kapten atau nakhoda kapal nasional Negara harus memberikan secara gratis Alat2 komunukasi yang dilengkapi radar buatan Dalam Negri Kepada kapal - kapal nasional Indonesia dalam memantau setiap kapal militer Asing , kapal2 nelayan asing , pantau seluruh aktivitas kapal berbendera Asing yang masuk wilayah lautIndonesia ,Pada Waktu Secepatnya Pemerintah ( DEPHAN dan TNI ) Memesan kepada Industri Perkapalan dan Industri Militer Nasional Untuk segera Membuat 10000 kapal Perang kecil Hemat Energi Mampu bergerak cepat yang dipersenjatai Rudal berserta kelengkapan tempur laut. Apabila Presiden Terpilih merealisasikanya maka dalam waktu 24 bulan Dari Oktober 2009 Maka Pada 0ktober 2011 Kekuatan Laut Indonesia Akan disegani karena Jelas Angkatan laut Indonesia bersama Rakyat Bahari Indonesia Akan Mampu Mengontrol Keamanan Perairan & Menjaga Kedaulastan seluruh Wilayah Laut R.I. Indonesia Raya adalah Negara Kepulauan Terbesar di Dunia

Rabu, Juni 17, 2009

Kepentingan Sektoral Dalam Bingkai Kepentingan Nasional

Kepentingan Sektoral dan Kepentingan Nasional


Kerjasama keamanan Indonesia-Australia diikat dalam The Lombok Agreement. Terdapat sembilan bidang kerjasama yang disepakati kedua negara, yang mana untuk Angkatan Bersenjata mencakup counter terrorism, maritime security, intelligence, humanitarian assistance and disaster relief dan peacekeeping. Kesepakatan mengenai kerjasama militer kedua negara disepakati pada Januari 2009 antara kedua petinggi Angkatan Bersenjata masing-masing.
Soal kerjasama keamanan dengan Australia merupakan suatu hal yang taken for granted bagi militer Indonesia, sebab hal itu merupakan kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah. Namun bagaimana realisasinya di lapangan, itu suatu hal yang mesti dicermati dengan benar. Sebab pertanyaan utamanya adalah siapa yang diuntungkan dari kerjasama itu. Apakah Australia atau Indonesia atau kedua-duanya.
Mengukur derajat kepentingan nasional masing-masing negara, nampaknya Australia lebih diuntungkan dengan kerjasama ini. Misalnya dalam bidang counter terrorism, maritime security, humanitarian assistance and disaster relief, begitu pula dengan intelligence dan peacekeeping. Dalam soal counter terrorism dan maritime security, Indonesia sepertinya akan lebih banyak berfungsi sebagai bumper. Negeri ini akan lebih ditempatkan sebagai pelaksana lapangan yang akan menginterdiksi ancaman terhadap Australia tepat di jalur pendekat maritim.
Mengenai kerjasama bidang humanitarian assistance and disaster relief, Australia lebih siap dari aspek sumber daya. Sedangkan Indonesia lebih akan menjadi “sasaran” operasi humanitarian assistance and disaster relief Australia. Probabilitas terjadinya bencana alam di Indonesia jauh lebih besar daripada di Australia.
Begitu pula dengan intelligence. Australia mempunyai sumber daya untuk mengumpulkan informasi intelijen yang sangat sulit ditandingi oleh Indonesia. Artinya Indonesia akan lebih sebagai penerima informasi, sebab apa yang akan terjadi di Indonesia sudah diketahui terlebih dahulu oleh intelijen Australia. Dan informasi yang dibagi oleh negeri di selatan itu tentu saja yang lebih menguntungkan dia.
Berangkat dari situ, perlu kehati-hatian Indonesia dalam mengimplementasikan kerjasama itu. Jangan terlalu banyak janji terhadap Australia, sebab sekali berjanji mereka akan mengejar terus realisasi janji dimaksud. Harus jelas apa keuntungan yang akan diraih Indonesia dalam suatu kerjasama terlebih dahulu, baru kemudian kerjasama itu direalisasikan. Keuntungan yang dimaksud tentu saja harus bersifat strategis dan politis, bukan keuntungan taktis belaka.
Keinginan pihak tertentu di Negeri Nusantara untuk menempatkan penasehat dari institusi pertahanan negeri di selatan di suatu lembaga tertentu dalam rangka perwujudan The Lombok Treaty mesti ditelaah dengan benar. Jangan sampai hanya demi kepentingan sektoral yang sempit maka kepentingan yang lebih besar dikorbankan. Sebab apabila kepentingan sektoral itu pun tidak direalisasikan, republik ini insya Allah akan tetap eksis dalam percaturan antar bangsa.

Minggu, Juni 07, 2009

SEGERA GUNAKAN KREDIT PERALATAN MILITER DARI RUSIA



Kerjasama Indonesia-Rusia Dan Perimbangan Kekuatan Di Kawasan ASEAN


Tidak gampang untuk dibantah bahwa beberapa negara di sekitar Indonesia melihat dengan penuh kewaspadaan dan kekhawatiran tentang kerjasama Indonesia-Rusia di bidang pertahanan. Sebab dalam kerjasama itu Rusia tidak kikir untuk meminjamkan uangnya kepada Indonesia untuk dibelikan sejumlah senjata modern buatan Rusia guna modernisasi kekuatan pertahanan Indonesia. Bandingkan dengan Amerika Serikat yang terlalu banyak syarat ketika ingin menjual senjatanya kepada Indonesia.
Tak aneh bila ada upaya-upaya di belakang layar di Indonesia dari pihak tertentu untuk menghambat laju kerjasama pertahanan Indonesia-Rusia. Contoh yang sangat jelas dan kasat mata adalah berlarutnya rencana pengadaan kapal selam yang dibiayai oleh kredit dari Rusia. Kondisi demikian mencerminkan bahwa ada pihak di dalam negeri dan di luar negeri yang tidak senang bila AL kita kondisinya lebih kuat daripada saat ini.
Kerjasama pertahanan Indonesia-Rusia, apabila terwujudnya penuh melalui penggunaan kredit US$ 1 milyar akan menimbulkan keseimbangan baru di kawasan. Sebab selama ini Amerika Serikat telah mengizinkan Malaysia, Singapura dan Australia yang tergabung dalam FPDA mempunyai senjata modern dan jarak jauh yang lebih mematikan dalam arsenal mereka. Kebijakan sama tidak diterapkan kepada Indonesia karena dianggap akan mengganggu kepentingan nasional Amerika Serikat.
Ketidakseimbangan itu sesungguhnya tidak menguntungkan stabilitas kawasan, sebab secara langsung atau tidak langsung menempatkan Indonesia pada posisi tidak nyaman. Situasi demikian dibaca dengan jeli oleh Rusia dan dimanfaatkan dengan cerdas dengan menawarkan sistem senjatanya yang secara kualitas mampu disandingkan dengan senjata serupa buatan Amerika Serikat maupun NATO.
Janji Menteri Pertahanan Amerika Serikat kepada sejawatnya dari Indonesia dalam The 8th Shangrila Dialogue di Singapura 29-30 Mei 2009 di Singapura hendaknya tidak disikapi dengan berlebihan. Bila syarat-syaratnya tidak merugikan Indonesia, boleh-boleh saja tawaran itu diterima. Namun jangan sampai kredit US$ 1 milyar dari Rusia diabaikan, sebab hal itu akan memberikan dampak negatif terhadap Indonesia. Orang seringkali mengatakan bahwa kesempatan tidak datang dua kali.

TRANSKRIPS PIDATO PRESIDENT OBAMA DI KAIRO - MESIR


Mencermati Pidato Barack Husein Obama di Mesir. Transkripsi selengkapnya.

Kairo, Mesir, 4 Juni 2009

Terima kasih. Selamat siang. Saya merasa terhormat berada di kota Kairo yang tak lekang oleh waktu, dan dijamu oleh dua institusi yang luar biasa. Selama lebih seribu tahun, Al Azhar telah menjadi ujung tombak pembelajaran Islam, dan selama lebih seabad, Universitas Kairo telah menjadi sumber kemajuan Mesir. Bersama, anda mewakili keselarasan antara tradisi dan kemajuan. Saya berterima kasih atas keramahan anda, dan keramahan rakyat Mesir. Saya juga bangga membawa niat baik rakyat Amerika, dan menyampaikan salam perdamaian dari warga muslim di negara saya: “assalamu’alaikum”.
Kita bertemu pada saat ada ketegangan besar antara Amerika Serikat dan warga Muslim seluruh dunia – ketegangan yang berakar pada gerak sejarah yang melampaui setiap perdebatan kebijakan yang kini berlangsung. Hubungan antara Islam dan Barat selama berada-abad mencakup koeksistensi dan kerja sama, tapi juga konflik dan peperangan bernuansa agama. Akhir-akhir ini, ketegangan muncul akibat kolonialisme yang menyangkal hak dan peluang bagi banyak warga Muslim, serta Perang Dingin yang membuat banyak negara dengan mayoritas penduduk Muslim diperlakukan sebagai boneka dengan mengabaikan aspirasi mereka. Lebih jauh lagi, perubahan besar yang diusung oleh modernitas dan globalisasi membuat kalangan Muslim menilai Barat bersikap memusuhi Islam.
Kelompok ekstrimis garis keras telah mengeksploitasi hubungan yang tegang itu, jumlah mereka kecil namun memiliki potensi di kalangan Muslim. Serangan pada 11 September 2001 dan upaya berkelanjutan dari kalangan ekstrimis ini untuk menyerang warga sipil telah membuat sebagian kalangan di negara saya menilai Islam bukan cuma memusuhi Amerika dan negara Barat, melainkan juga hak asasi manusia. Semua ini semakin memupuk rasa takut dan saling tidak percaya.
Selama hubungan Barat dan Islam ditentukan oleh perbedaan-perbedaan, kita akan memperkuat mereka yang menyebarkan kebencian ketimbang perdamaian, serta memperkuat mereka yang mempromosikan konflik ketimbang kerja sama yang dapat membantu rakyat mencapai keadilan dan kemakmuran. Lingkaran kecurigaan dan permusuhan ini harus kita akhiri.
Saya datang ke Kairo untuk mengupayakan awal baru antara Amerika Serikat dan Muslim diseluruh dunia, berdasarkan kepentingan bersama dan rasa saling menghormati – dan berlandaskan pada kenyataan bahwa Amerika dan Islam tidaklah eksklusif satu sama lain, dan tidak perlu bersaing. Kedua pihak bertemu dan berbagi prinsip yang sama – yaitu prinsip-prinsip keadilan dan kemajuan; toleransi dan martabat semua umat manusia.
Saya menyadari perubahan tidak dapat terjadi dalam semalam. Saya tahu banyak harapan terhadap pidato ini, tetapi satu pidato tidak akan mampu menghapus rasa curiga yang terpupuk selama bertahun-tahun, dan dalam waktu singkat siang ini saya juga tidak akan mampu menjawab semua pertanyaan rumit yang membawa kita ke titik ini. Tapi saya percaya bahwa agar bisa melangkah maju, kita harus secara terbuka mengatakan kepada satu sama lain hal-hal yang ada dalam hati kita, dan yang seringkali hanya diungkapkan di belakang pintu tertutup. Harus ada upaya terus menerus untuk mendengarkan satu sama lain; saling belajar satu sama lain; saling menghormati, dan mencari persamaan. Sebagaimana kitab suci Al Qur’an mengatakan, “Ingatlah kepada Allah dan bicaralah selalu tentang kebenaran.” Ini yang akan saya lakukan hari ini – berbicara tentang kebenaran sesuai kemampuan saya, dengan rendah hati oleh tugas di depan kita, dan dengan keyakinan bahwa kepentingan bersama yang kita miliki sebagai umat manusia jauh lebih kuat daripada kekuatan-kekuatan yang memisahkan kita.
Sebagian dari keyakinan ini berakar dari pengalaman saya pribadi. Saya penganut Kristiani, tapi ayah saya berasal dari Kenya yang turun temurun penganut Muslim. Saat kecil, saya tinggal di Indonesia beberapa tahun dan mendengar lantunan adzan subuh dan maghrib. Ketika muda, saya bekerja di komunitas-komunitas kota Chicago yang banyak anggotanya menemukan martabat dan kedamaian dalam keimanan Islam.
Sebagai pelajar sejarah, saya juga mengetahui peradaban berhutang besar terhadap Islam. Adalah Islam – di tempat-tempat seperti Universitas Al-Azhar – yang mengusung lentera ilmu selama berabad-abad, dan membuka jalan bagi era Kebangkitan Kembali dan era Pencerahan di Eropa. Adalah inovasi dalam masyarakat Muslim yang mengembangkan urutan aljabar; kompas magnet dan alat navigasi; keahlian dalam menggunakan pena dan percetakan; dan pemahaman mengenai penularan penyakit serta pengobatannya. Budaya Islam telah memberikan kita gerbang-gerbang yang megah dan puncak-puncak menara yang menjunjung tinggi; puisi-puisi yang tak lekang oleh waktu dan musik yang dihargai; kaligrafi yang anggun dan tempat-tempat untuk melakukan kontemplasi secara damai. Dan sepanjang sejarah, Islam telah menunjukkan melalui kata-kata dan perbuatan bahwa toleransi beragama dan persamaan ras adalah hal-hal yang mungkin.
Saya juga tahu bahwa Islam selalu menjadi bagian dari riwayat Amerika. Negara pertama yang mengakui negara saya adalah Maroko. Saat menandatangani Perjanjian Tripoli pada tahun 1796, presiden kedua kami John Adams menulis, “Amerika Serikat tidaklah memiliki karakter bermusuhan dengan hukum, agama, maupun ketentraman umat Muslim.” Dan sejak berdirinya negara kami, umat Muslim Amerika telah memperkaya Amerika Serikat. Mereka telah berjuang dalam sejumlah peperangan, bekerja dalam pemerintahan, memperjuangkan hak-hak sipil, mengajar di perguruan-perguruan tinggi kami, unggul dalam arena-arena olah raga kami, memenangkan Hadiah Nobel, membangun gedung-gedung kami yang tertinggi, dan menyalakan obor Olimpiade. Dan ketika warga Muslim-Amerika pertama terpilih sebagai anggota Kongres belum lama ini, ia mengambil sumpah untuk membela Konstitusi kami dengan menggunakan Al Quran yang disimpan oleh salah satu Bapak Pendiri kami – Thomas Jefferson – di perpustakaan pribadinya.
Jadi saya mengenal Islam di tiga benua sebelum datang ke kawasan tempat agama ini pertama kali diturunkan. Pengalaman tersebut memandu keyakinan saya bahwa kemitraan antara Amerika dan Islam harus didasarkan pada apakah Islam itu, bukan pada apakah yang bukan Islam. Dan saya menganggap ini adalah bagian dari tanggung jawab saya sebagai Presiden Amerika Serikat untuk memerangi stereotip negatif tentang Islam di mana pun munculnya.
Tapi prinsip yang sama harus diterapkan pada persepsi tentang Amerika. Seperti halnya umat Muslim tidak sesuai dengan stereotip yang mentah, Amerika juga bukan stereotip mentah tentang sebuah kekaisaran yang memiliki kepentingan sendiri. Amerika Serikat telah menjadi salah satu sumber kemajuan terbesar yang dikenali dunia. Kami lahir akibat revolusi melawan sebuah kekaisaran. Kami berdiri berdasarkan ide bahwa semua orang diciptakan sama, dan kami telah menumpahkan darah dan berjuang selama berabad-abad untuk memberikan arti kepada kata-kata tersebut – di dalam batas negara kami, dan di sekeliling dunia. Kami terbentuk oleh setiap budaya, yang datang dari setiap sudut bumi, dan berdedikasi pada sebuah konsep sederhana: E pluribus unum: “Dari banyak menjadi satu”.
Banyak dikatakan menyangkut fakta bahwa seorang Amerika keturunan Afrika dengan nama Barack Hussein Obama dapat terpilih sebagai presiden. Tapi kisah pribadi saya bukanlah sesuatu yang unik. Mimpi akan kesempatan bagi semua belumlah terwujud bagi setiap orang di Amerika, tapi janji itu diberikan bagi semua yang datang ke pantai kami – termasuk hampir tujuh juta warga Muslim Amerika di negara kami saat ini yang memiliki pendapatan dan pendidikan lebih tinggi dari rata-rata.
Lebih jauh lagi, kebebasan di Amerika tidaklah terpisahkan dari kebebasan menjalankan agama. Itu sebabnya ada masjid di setiap negara bagian di negeri kami, dan ada lebih dari 1200 masjid di dalam batas negara kami. Itu sebabnya pemerintah Amerika telah maju ke pengadilan untuk membela hak wanita dan anak perempuan mengenakan hijab, dan untuk menghukum mereka yang mengingkarinya.
Jadi janganlah ada keraguan: Islam adalah bagian dari Amerika. Dan saya percaya bahwa Amerika memegang kebenaran dalam dirinya bahwa terlepas dari ras, agama, dan posisi dalam hidup, kita semua memiliki aspirasi yang sama – untuk hidup dalam damai dan keamanan; untuk memperoleh pendidikan dan untuk bekerja dengan martabat; untuk mengasihi keluarga kita, masyarakat kita, dan Tuhan kita. Ini adalah hal-hal yang sama-sama kita yakini. Ini adalah harapan dari semua kemanusiaan.
Tentu saja, mengenali persamaan kemanusiaan merupakan awal dari tugas kita. Justru ini adalah awal. Kata-kata saja tidak dapat memenuhi kebutuhan rakyat. Kebutuhan baru terpenuhi jika kita bertindak berani di tahun-tahun mendatang; Dan kita harus bertindak dengan pemahaman bahwa tantangan-tantangan yang kita hadapi adalah tantangan bersama, dan kegagalan kita mengatasinya akan merugikan kita semua.
Karena kita telah belajar dari pengalaman baru-baru ini bahwa ketika sistem keuangan melemah di satu negara, kemakmuran di mana pun ikut dirugikan. Ketika jenis flu baru menulari satu orang, semua terkena risiko. Ketika satu negara membangun senjata nuklir, risiko serangan nuklir bagi semua negara ikut naik. Ketika kelompok ekstrim keras beroperasi di satu rangkaian pegunungan, rakyat di seberang samudera pun ikut menghadapi bahaya. Dan ketika mereka yang tak bersalah di Bosnia dan Darfur dibantai, itu menjadi noda dalam nurani kita bersama. Itulah artinya berbagi dunia di abad ke-21. Inilah tanggung jawab kita kepada satu sama lain sebagai umat manusia.
Dan ini adalah tanggung jawab yang sulit diemban. Karena sejarah manusia telah merekam berbagai bangsa dan suku yang mencoba menaklukkan satu sama lain demi kepentingan sendiri. Tapi di era baru ini, sikap seperti itu justru akan mengalahkan diri sendiri. Karena saling ketergantungan kita, setiap tatanan dunia yang mengangkat satu bangsa atau sekelompok orang lebih tinggi dari yang lain pada akhirnya akan gagal. Jadi apa pun pikiran kita mengenai masa lalu, kita tidak boleh terperangkap olehnya. Masalah-masalah kita harus ditangani dengan kemitraan; kemajuan harus dibagi bersama.
Itu tidak berarti kita tidak mengindahkan sumber-sumber ketegangan. Justru yang disarankan adalah sebaliknya: kita harus menghadapi ketegangan-ketegangan ini secara langsung. Dan dalam semangat ini, saya akan berbicara sejelas dan segamblang mungkin mengenai isu-isu spesifik yang saya percaya akhirnya harus kita hadapi bersama.
Isu pertama yang harus kita hadapi adalah ekstrimisme garis keras dalam semua wujud.
Di Ankara, saya telah menjelaskan bahwa Amerika tidak sedang – dan tidak akan pernah – berperang dengan Islam. Kami akan, meski demikian, tak lelah-lelahnya melawan kelompok ekstrim keras yang mengancam serius keamanan kami. Karena kami menolak apa yang juga ditolak oleh semua orang beragama: yaitu pembunuhan laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang tidak bersalah. Dan adalah tugas saya yang pertama sebagai Presiden untuk melindungi rakyat Amerika.
Situasi di Afghanistan mendemonstrasikan sasaran-sasaran Amerika dan kebutuhan kita untuk bekerja sama. Lebih tujuh tahun lalu, Amerika Serikat mengejar Al Qaida dan Taliban dengan dukungan internasional yang luas. Kami tidak melakukannya karena ada pilihan, kami melakukannya karena perlu. Saya sadar bahwa sejumlah orang mempertanyakan atau membenarkan peristiwa serangan 11 September. Tapi mari kita perjelas: Al Qaida membunuh hampir 3000 orang pada hari itu. Para korban adalah kaum pria, wanita, dan anak-anak yang tidak bersalah dari Amerika dan banyak negara lain yang tidak berbuat apa-apa untuk melukai orang lain. Tapi Al Qaida memilih untuk dengan kejam membunuh mereka, mengklaim pujian atas serangan tersebut, dan bahkan sekarang menyatakan tekad mereka untuk membunuh lagi dalam skala sangat besar. Mereka memiliki kaki tangan di banyak negara dan sedang mencoba untuk memperluas jangkauan mereka. Ini bukan opini yang dapat diperdebatkan; ini adalah fakta yang harus dihadapi.
Janganlah salah paham: kami tidak menginginkan tentara kami di Afghanistan. Kami tidak berencana mendirikan basis militer di sana. Sangat menyakitkan bagi Amerika untuk kehilangan nyawa banyak warga pria dan wanita kami. Adalah mahal dan sulit secara politik untuk melanjutkan konflik ini. Kami dengan senang hati akan memulangkan setiap tentara kami jika kami bisa yakin bahwa tidak ada kaum ekstrimis keras di Afghanistan dan Pakistan yang bertekad membunuh sebanyak mungkin orang Amerika sebisa mereka. Tetapi hal itu tidak bukanlah kenyataan yang ada sekarang.
Itulah sebabnya kami bermitra dengan koalisi 46 negara. Dan meksi biayanya besar, niat Amerika tidak akan melemah. Tak satu pun dari kita yang seharusnya mentoleransi kaum ekstrimis seperti ini. Mereka telah membunuh di banyak negara. Mereka telah membunuh orang dari beragam agama – lebih dari yang lain, mereka telah membunuh umat Muslim. Tindakan-tindakan mereka sangat bertentangan dengan hak umat manusia, kemajuan bangsa-bangsa, dan dengan Islam. Kitab suci Al Quran mengajarkan bahwa siapa yang membunuh orang tak bersalah, maka ia seperti telah membunuh semua umat manusia; dan siapa yang menyelamatkan satu orang; maka ia telah menyelamatkan semua umat manusia. Iman indah yang diyakini oleh lebih semiliar orang sungguh lebih besar daripada kebencian sempit sekelompok orang. Islam bukanlah bagian dari masalah dalam memerangi ekstrimisme keras – Islam haruslah menjadi bagian penting dari penggalakkan perdamaian.
Kami juga tahu bahwa kekuatan militer saja tidak akan memecahkan masalah di Afghanistan dan Pakistan. Itu sebabnya kami berencana untuk menanam investasi sebesar 1,5 miliar dolar setiap tahun selama lima tahun ke depan untuk bermitra dengan warga Pakistan membangun sekolah, rumah sakit, jalan-jalan, dan usaha, dan ratusan juta untuk membantu mereka yang telah kehilangan tempat tinggal. Dan itu sebabnya kami menyediakan lebih dari 2.8 miliar dolar untuk membantu rakyat Afghanistan membangun ekonomi mereka dan menyediakan jasa-jasa yang dibutuhkan masyarakat.
Kini saya akan berbicara tentang masalah Irak. Tidak seperti Afghanistan, Irak adalah perang karena pilihan yang telah menimbulkan perbedaan-perbedaan kuat di negara saya dan di dunia. Meski saya percaya bahwa rakyat Irak pada akhirnya lebih baik tanpa tirani Saddam Hussein, saya juga percaya bahwa peristiwa-peristiwa di Irak telah mengingatkan Amerika tentang perlunya menggunakan diplomasi dan membangun konsensus untuk mengatasi masalah-masalah kita kapan pun memungkinkan. Kita bahkan dapat mengingat kata-kata salah satu presiden terbesar kami, Thomas Jefferson, yang mengatakan: “Saya berharap kebijakan kita akan bertambah sejalan dengan kekuatan kita, dan mengajarkan kita bahwa semakin sedikit kita menggunakan kekuatan, justru semakin besar kekuatan itu.”
Hari ini Amerika memiliki dua tanggung jawab: yaitu untuk membantu Irak membangun masa depan yang lebih baik, dan untuk menyerahkan Irak ke tangan rakyat Irak. Saya telah menjelaskan kepada warga Irak bahwa kami tidak berencana mendirikan basis di sana, dan tidak mengklaim baik teritori maupun sumber daya mereka. Kedaulatan Irak ada di tangan mereka sendiri. Itu sebabnya saya memerintahkan pencabutan brigade-brigade tempur kami sampai bulan Agustus mendatang. Itu sebabnya kami akan menghormati kesepakatan kami dengan pemerintah Irak yang terpilih secara demokratis untuk menarik pasukan tempur dari kota-kota Irak pada Juli mendatang, dan untuk memulangkan semua tentara kami dari Irak pada tahun 2012. Kami akan membantu Irak melatih Tentara Keamanan dan membangun ekonominya. Tapi kami akan mendukung Irak yang aman dan bersatu sebagai mitra, dan tidak pernah sebagai pelindung.
Dan akhirnya, seperti halnya Amerika tidak pernah bisa mentoleransi kekerasan oleh kaum ekstrimis, kami tidak pernah boleh mengompromikan prinsip-prinsip kami. Serangan 11 September adalah trauma besar bagi negara kami. Rasa takut dan marah yang muncul karenanya bisa dipahami, tapi dalam sejumlah kasus, itu telah membuat kami bertindak berlawanan dengan pemikiran-pemikiran kami. Kami sedang mengambil langkah-langkah konkret untuk mengubah arah. Saya telah sepenuhnya melarang praktik penyiksaan oleh Amerika Serikat, dan saya telah memerintahkan penutupan penjara di Teluk Guantanamo awal tahun depan.
Jadi Amerika akan membela diri, dengan menghormati kedaulatan bangsa-bangsa dan aturan hukum. Dan kami akan melakukannya dalam kemitraan dengan masyarakat-masyarakat Muslim yang juga terancam. Semakin cepat kaum ekstrimis diisolasi dan diusir dari dalam masyarakat-masyarakat Muslim, semakin cepat kita semua akan menjadi selamat.
Sumber ketegangan besar yang kedua yang perlu kita diskusikan adalah situasi antara warga Israel, Palestina, dan dunia Arab.
Ikatan yang kuat antara Amerika dan Israel telah banyak diketahui. Ikatan ini tidak dapat dipatahkan. Ini lahir berdasarkan ikatan budaya dan sejarah, serta pengakuan bahwa aspirasi atas sebuah tanah air Yahudi berakar dari sebuah sejarah tragis yang tidak bisa diingkari.
Di seantero dunia, kaum Yahudi telah ditindas selama berabad-abad, dan anti-Semitisme di Eropa memuncak dalam peristiwa Holocaust yang tidak pernah ada sebelumnya. Besok saya akan mengunjungi Buchenwald yang menjadi bagian dari jaringan kamp-kamp tempat kaum Yahudi diperbudak, disiksa, ditembak, dan digas hingga tewas oleh Third Reich. Enam juta orang Yahudi terbunuh – lebih banyak dari seluruh populasi Yahudi di Israel hari ini. Mengingkari fakta tersebut adalah tidak berdasar, bodoh, dan penuh kebencian. Mengancam Israel dengan penghancuran – atau mengulangi stereotip keji tentang umat Yahudi – sungguh sangat salah dan hanya akan membangkitkan kembali ingatan yang terperih di benak umat Yahudi sembari mencegah perdamaian yang patut dimiliki rakyat di kawasan ini.
Di sisi lain, tidak bisa diingkari bahwa rakyat Palestina – baik yang Muslim maupun yang Kristen – telah menderita dalam perjuangan memperoleh tanah air. Lebih dari enam puluh tahun, mereka telah merasakan sakitnya tidak memiliki tempat tinggal. Banyak yang menunggu di kamp-kamp pengungsi di Tepi Barat, Gaza, dan tanah-tanah tetangga untuk sebuah kehidupan yang damai dan aman yang belum pernah mereka jalani. Mereka menerima hinaan setiap hari – besar dan kecil – yang hadir bersama pendudukan. Jadi janganlah ada keraguan: situasi yang dihadapi rakyat Palestina tidaklah dapat ditoleransi. Amerika tidak akan bersikap tidak acuh terhadap aspirasi sah Palestina atas martabat, kesempatan, dan sebuah negara milik mereka sendiri.
Selama beberapa dekade, yang ada hanyalah jalan buntu: Dua rakyat dengan aspirasi yang sah, masing-masing memiliki sejarah menyakitkan yang membuat kompromi sulit dilakukan. Adalah mudah untuk menuding – rakyat Palestina menuding hilangnya tempat tinggal akibat berdirinya negara Israel, dan rakyat Israel menuding permusuhan yang terus menerus dan serangan dari dalam batas negaranya sendiri dan dari luar sepanjang sejarah negara tersebut. Tapi jika kita melihat konflik ini hanya dari satu sisi mana pun, maka kita akan dibutakan dari kebenaran: satu-satunya resolusi adalah aspirasi kedua pihak diwujudkan melalui dua negara, di mana rakyat Israel dan Palestina masing-masing hidup dalam damai dan keamanan. (tepuk tangan)
Ini adalah kepentingan Israel, kepentingan Palestina, dan kepentingan Amerika. Itu sebabnya saya berniat untuk secara pribadi mengejar hasil ini, dengan segala kesabaran yang dituntut oleh tugas ini. (tepuk tangan) Kewajiban-kewajiban yang telah disepakati pihak-pihak menurut Peta Jalan telah jelas. Supaya perdamaian terwujud, waktunya bagi mereka – dan bagi kita semua – untuk melakukan tanggung jawab kita.
Warga Palestina harus meninggalkan kekerasan. Perlawanan lewat kekerasan dan pembunuhan adalah salah dan tidak akan berhasil. Selama berabad-abad, rakyat kulit hitam di Amerika menderita hentakan pecut sebagai budak dan penghinaan akibat pemisahan berdasarkan warna kulit. Tetapi bukan kekerasan yang memenangkan hak-hak persamaan sepenuhnya. Sebuah tuntutan damai namun penuh tekad bagi realisasi kondisi ideal yang merupakan inti dari pendirian Amerika. Kisah sama ini juga diceritakan oleh rakyat mulai dari Afrika Selatan sampai Asia Selatan; dari Eropa Timur sampai Indonesia. Sebuah kisah yang mengandung kebenaran yang sederhana: bahwa kekerasan merupakan sebuah jalan buntu. Bukanlah sebuah tanda keberanian atau kekuasaan kalau menembak roket ke anak-anak yang sedang tidur, atau meledakkan perempuan tua di dalam bis. Itu bukanlah cara untuk mengklaim moralitas; namun itu merupakan cara untuk menghilangkannya.
Kini waktunya untuk warga Palestina memusatkan perhatian kepada apa yang bisa mereka bangun. Penguasa Palestina harus mengembangkan kemampuan untuk memerintah, dengan institusi yang melayani kebutuhan rakyatnya. Hamas memiliki dukungan di sebagian kalangan rakyat Palestina, tetapi mereka juga punya tanggung jawab. Guna memainkan peran yang memenuhi aspirasi rakyat Palestina, dan untuk mempersatukan rakyat Palestina, Hamas harus mengakhiri kekerasan, menghormati persetujuan di masa lalu dan mengakui hak eksistensi Israel.
Secara bersamaan, rakyat Israel harus mengakui bahwa sebagaimana hak Israel untuk eksis tidak bisa dibantah, demikian pula halnya dengan hak Palestina. Amerika Serikat tidak menerima keabsahan dari mereka yang berniat melenyapkan Israel ke dalam laut, tetapi kami juga tidak menerima keabsahan dari penerusan pembangunan pemukiman (tepuk tangan) Yahudi. Pekerjaan konstruksi ini melanggar persetujuan sebelumnya dan melemahkan usaha mencapai perdamaian. Sudah tiba waktunya pembangunan pemukiman ini dihentikan. (tepuk tangan)
Israel harus memenuhi kewajibannya untuk memastikan rakyat Palestina bisa hidup dan bekerja serta membangun masyarakat mereka. Selain menghancurkan banyak keluarga Palestina, terus berlangsungnya krisis kemanusiaan di Gaza juga tidak memperkuat keamanan Israel; begitu pula halnya dengan terus berlangsungnya kelangkaan peluang di Tepi Barat. Kemajuan dalam kehidupan sehari-hari rakyat Palestina harus menjadi bagian dari peta jalan menuju perdamaian, dan Israel harus mengambil langkah-langkah konkrit untuk memberdayakan kemajuan semacam itu.
Akhirnya, Negara-Negara Arab harus menyadari bahwa Inisiatif Perdamaian Arab merupakan awal yang penting, tetapi bukan akhir dari tanggung jawab mereka. Konflik Arab – Israel tidak bisa lagi dipakai untuk mengalihkan perhatian rakyat negara-negara Arab dari masalah-masalah lainnya. Sebaliknya, konflik itu harus menjadi penggerak untuk membantu rakyat Palestina mengembangkan institusi yang akan melanggengkan negara mereka; mengakui hak Israel; serta memilih kemajuan ketimbang fokus pada masa lalu yang begitu melemahkan.
Amerika akan menyesuaikan kebijakannya dengan mereka yang memperjuangkan perdamaian dan mengatakan secara terbuka apa yang kami katakan secara pribadi kepada warga Israel, Palestina, dan Negara-Negara Arab. (tepuk tangan) Kita tidak bisa memaksakan perdamaian. Tetapi secara pribadi, banyak orang Muslim menyadari bahwa Israel tidak akan lenyap; juga banyak orang Israel menyadari perlunya kehadiran sebuah negara Palestina. Waktunya sudah tiba bagi kita untuk bertindak berdasarkan apa yang oleh setiap orang diketahui merupakan hal yang benar.
Terlalu banyak air mata sudah diteteskan. Terlalu banyak darah sudah ditumpahkan. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk berjuang menciptakan sebuah masa dimana para ibu Israel dan Palestina bisa menyaksikan anak-anak mereka tumbuh tanpa ketakutan; masa dimana Tanah Suci dari ketiga agama besar merupakan tempat perdamaian yang diinginkan Allah; masa dimana Jerusalem merupakan tempat tinggal aman dan langgeng bagi orang Yahudi dan Kristen dan Muslim, dan merupakan sebuah tempat untuk semua keturunan Abraham hidup bersama secara damai sebagaimana dikisahkan dalam ISRA, ketika Musa, Yesus dan Muhammad (damai bersama mereka) bergabung dalam ibadah doa. (tepuk tangan)
Sumber ketegangan ketiga adalah kepentingan kita bersama sehubungan hak-hak dan tanggung jawab negara-negara atas senjata nuklir.
Isu ini menjadi sumber ketegangan baru-baru ini antara Amerika dan Republik Islam Iran. Selama bertahun-tahun, Iran mendefinisikan dirinya sebagian lewat oposisinya terhadap negara saya, dan memang ada sejarah yang kacau di antara kami. Di tengah-tengah Perang Dingin, Amerika memainkan peran dalam penggulingan pemerintah Iran yang terpilih secara demokratik. Sejak Revolusi Islam, Iran telah memainkan peran dalam tindak penyanderaan dan kekerasan terhadap pasukan dan warga sipil Amerika. Sejarah ini diketahui secara luas. Daripada terperangkap dalam masa lalu, saya telah menjelaskan kepada para pemimpin dan rakyat Iran bahwa negara saya siap untuk melangkah maju. Pertanyaannya kini, bukanlah apa yang ditentang Iran, tetapi masa depan apa yang ingin dibangunnya.
Sulit untuk mengatasi puluhan tahun ketidakpercayaan, tetapi kami akan maju dengan keberanian, kebenaran dan tekad. Banyak isu yang harus dibahas oleh kedua negara kita, dan kami siap melangkah maju tanpa prasyarat namun didasarkan pada sikap saling menghormati. Tetapi jelas bagi semua pihak yang berkepentingan bahwa dalam soal senjata nuklir kita telah mencapai titik yang menentukan. Ini bukan sekedar terkait kepentingan Amerika, ini berhubungan dengan pencegahan perlombaan senjata nuklir yang bisa menyebabkan wilayah ini terjerumus ke dalam jalur sangat berbahaya dan menghancurkan tatanan non-proliferasi global.
Saya memahami mereka yang memprotes bahwa beberapa negara memiliki senjata sementara yang lainnya tidak. Tak satupun negara bisa menentukan negara-negara mana yang boleh memiliki senjata nuklir. Itulah sebabnya saya secara kuat mempertegas komitmen Amerika untuk mengusahakan sebuah dunia di mana tak satu pun negara memiliki senjata nuklir. (tepuk tangan) Dan setiap negara – termasuk Iran – harus punya akses ke energi nuklir untuk tujuan damai apabila ia patuh pada tanggung jawabnya dibawah Persetujuan Non-Proliferasi Nuklir. Komitmen itu merupakan inti dari Persetujuan itu, dan harus diberikan kepada semua pihak yang mematuhinya.
Isu keempat yang akan saya tanggapi adalah demokrasi.
Saya percaya pada sebuah sistem pemerintahan yang memberi hak bersuara kepada rakyatnya, dan yang menghormati penegakan hukum serta hak untuk semua manusia. Saya tahu bahwa ada kontroversi tentang penggalakkan demokrasi dalam tahun-tahun terakhir ini, dan sebagian dari kontroversi ini terkait dengan perang di Irak. Saya perjelas: sistem pemerintahan apa pun tidak bisa dipaksakan kepada sebuah negara oleh negara lainnya.
Tetapi hal itu tidak mengurangi komitmen saya kepada negara-negara yang mencerminkan keinginan rakyatnya. Setiap negara menghidupkan prinsip-prinsipnya dengan caranya sendiri, yang berasal dari tradisi rakyatnya. Amerika tidak berpretensi tahu apa yang terbaik untuk semua orang, sebagaimana juga kami tidak berpretensi bahwa kami bisa menentukan hasil dari sebuah pemilihan damai. Tetapi saya memiliki keyakinan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi bahwa semua orang merindukan hal-hal tertentu: Kemampuan untuk mengungkapkan pendapat dan ikut menentukan bagaimana bentuk pemerintahan; mempercayai penegakan hukum dan penyelenggaraan keadilan yang sama untuk setiap orang; pemerintahan yang transparan dan tidak mencuri dari rakyatnya; kebebasan untuk hidup sesuai pilihan masing-masing. Itu bukan sekedar ide-ide Amerika, itu adalah hak asasi manusia dan oleh karena itu kami akan mendukungnya di mana saja.
Tak ada garis lurus untuk menciptakan janji itu. Tetapi yang jelas adalah: pemerintahan-pemerintahan yang melindungi hak-hak ini pada akhirnya akan lebih stabil, sukses dan aman. Tak ada garis lurus untuk menciptakan janji itu. Tetapi yang jelas adalah: Memberangus ide-ide tidak pernah berhasil melenyapkannya. Amerika menghormati hak-hak dari semua suara damai dan patuh hukum agar didengar di seluruh dunia meskipun kita tidak sepakat dengan mereka. Dan kami menyambut gembira semua pemerintahan terpilih dan damai – asalkan mereka memerintah dengan menghormati rakyatnya. Dimanapun kekuasaan itu berada, pemerintahan dari rakyat dan untuk rakyat merupakan standar tunggal untuk semua fihak yang memegang kekuasaan,
Butir ini penting karena ada yang memperjuangkan demokrasi hanya pada saat mereka tidak berkuasa; setelah berkuasa, mereka secara keji memberangus hak-hak orang lain. (tepuk tangan) Di manapun kekuasaan itu berada, pemerintahan dari rakyat dan untuk rakyat merupakan standar tunggal untuk semua pihak yang memegang kekuasaan. anda harus mempertahankan kekuasaan lewat konsensus, bukan pemaksaan; anda harus menghormati hak-hak minoritas, dan berpartisipasi dalam semangat toleransi dan kompromi, anda harus mendahulukan kepentingan rakyat anda dan usaha sah dari proses politik di atas kepentingan partai. Tanpa ramuan ini pemilihan saja tidak akan menciptakan demokrasi yang murni.
Isu kelima yang harus kita tanggapi bersama adalah kebebasan beragama.
Islam memiliki sebuah tradisi toleransi yang patut dibanggakan. Kita menyaksikan hal ini dalam sejarah Andalusia dan Kordoba. Saya menyaksikan hal itu langsung ketika masih kanak-kanak di Indonesia, di mana warga Kristen yang saleh bebas beribadah di sebuah negara yang mayoritas penduduknya Muslim. Itulah semangat yang kita butuhkan kini. Orang di setiap negara harus bebas memilih dan menjalankan keyakinan mereka berdasarkan keyakinan pikiran, hati dan jiwa. Toleransi ini penting agar agama bisa berkembang, tetapi juga ditantang dengan berbagai cara.
Di kalangan Muslim tertentu ada kecenderungan yang merisaukan, yakni mengukur kedalaman keyakinan diri sendiri lewat penolakan keyakinan orang lain. Kebhinekaan agama yang memperkaya harus ditegakkan – apakah itu kelompok Maronit di Lebanon atau Koptik di Mesir. (tepuk tangan) Dan garis pemisah juga harus dihilangkan di antara warga Muslim, sebagaimana perpecahan antara Sunni dan Syiah telah mengakibatkan kekerasan yang tragis, khususnya di Irak.
Kebebasan beragama penting bagi kemampuan rakyat hidup bersama. Kita harus senantiasa menelaah cara-cara yang kita pakai untuk melindunginya. Misalnya, di Amerika Serikat, peraturan sumbangan amal telah mempersulit warga Muslim untuk memenuhi kewajiban agama mereka. Itulah sebabnya saya bertekad untuk bekerja sama dengan warga Muslim Amerika guna memastikan mereka bisa memenuhi zakat.
Juga penting agar negara-negara Barat mencegah larangan kepada warganegara Muslim untuk mempraktikkan agama sesuai kehendak mereka – misalnya, dengan mendikte pakaian apa yang boleh dikenakan seorang perempuan Muslim. Sederhananya, kita tidak bisa menyembunyikan ketidaksenangan terhadap agama apapun lewat alasan liberalisme.
Keyakinan seharusnya mempersatukan kita. Itulah sebabnya kami mengikhtiarkan proyek-proyek di Amerika yang mempertemukan warga Kristen, Muslim dan Yahudi. Itulah sebabnya kami menyambut gembira usaha dialog Antar Agama Raja Abdullah dan kepemimpinan Turki dalam Aliansi Keberadaban. Di seluruh dunia kita bisa memanfaatkan dialog menjadi pelayanan Antar Keyakinan, sehingga jembatan di antara berbagai rakyat mengarah pada tindakan – apakah itu berupa perang melawan malaria di Afrika atau menyediakan bantuan bencana alam.
Isu keenam yang ingin saya tanggapi adalah hak-hak perempuan.
Saya tahu ada perdebatan tentang isu ini. Saya menolak pandangan beberapa pihak di Barat bahwa perempuan yang memilih untuk menutupi rambutnya seakan-akan tidak memiliki persamaan hak, tetapi saya juga berpendapat bahwa seorang perempuan yang tidak bisa menikmati pendidikan tidak diberi kesamaan hak. Dan bukan kebetulan bahwa negara-negara di mana kaum perempuannya terdidik secara baik juga makmur.
Saya perjelas: isu-isu mengenai persamaan hak perempuan bukan semata-mata merupakan isu untuk Islam. Di Turki, Pakistan, Bangladesh dan Indonesia, kita saksikan di negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim, mereka memilih seorang perempuan untuk memimpin. Sementara itu, perjuangan bagi persamaan hak perempuan masih terus merupakan aspek dalam kehidupan di Amerika, dan di negara-negara di seluruh dunia. Itulah sebabnya Amerika akan bermitra dengan setiap negara yang mayoritas penduduknya Muslim guna mendukung perluasan pemberantasan buta huruf untuk perempuan, dan membantu perempuan muda memperjuangkan pekerjaan lewat pinjaman untuk usaha kecil yang membantu rakyat merealisasikan cita-cita mereka.
Saya yakin putri-putri kita bisa menyumbang kepada masyarakat setara seperti putra-putra kita, (tepuk tangan) dan kemakmuran kita bersama bisa dimajukan dengan memberi kesempatan kepada semua orang – laki-laki dan perempuan – mencapai potensi mereka sepenuhnya. Saya berpendapat perempuan tidak harus membuat pilihan sama seperti laki-laki agar mencapai kesamaan, dan saya menghormati perempuan yang memilih peran tradisional dalam menjalankan kehidupan mereka. Tetapi hal itu haruslah merupakan pilihan mereka sendiri.
Akhirnya, saya ingin membahas pembangunan ekonomi dan kesempatan.
Saya tahu untuk banyak kalangan, wajah globalisasi bertentangan. Internet dan televisi bisa mengantarkan pengetahuan dan informasi, tetapi juga seksualitas yang bersifat ofensif dan kekerasan tak berperi kemanusiaan. Perdagangan bisa menciptakan kekayaan dan peluang baru, tetapi juga gangguan dan perubahan di masyarakat. Di semua negara – termasuk negara saya – perubahan ini bisa menyebabkan ketakutan. Ketakutan karena akibat modernitas kita kehilangan kendali atas pilihan ekonomi kita, politik kita dan yang terpenting, identitas kita – hal-hal yang paling kita hargai dari masyarakat kita, keluarga kita, tradisi kita dan keyakinan kita.
Tetapi saya juga tahu kemajuan manusia tidak bisa ditampik. Tidak perlu ada kontradiksi antara pembangunan dan tradisi. Negara seperti Jepang dan Korea Selatan membina ekonomi mereka sambil tetap mempertahankan budaya mereka. Hal yang sama juga berlaku pada kemajuan mengagumkan dalam Islam mulai dari Kuala Lumpur sampai ke Dubai. Di masa kuno dan di masa kita, masyarakat Muslim membuktikan bahwa mereka mampu berada di garis depan inovasi dan pendidikan.
Ini penting karena tak ada strategi pembangunan yang semata-mata didasarkan pada apa yang dihasilkan tanah, dan strategi pembangunan juga tidak bisa dipertahankan kalau generasi mudanya tidak memiliki pekerjaan. Banyak Negara Teluk menikmati kekayaan sebagai akibat penghasilan minyaknya, dan beberapa sudah mulai memusatkan perhatian pada pembangunan yang lebih luas. Tetapi kita semua harus menyadari bahwa pendidikan dan inovasi akan menjadi faktor penentu dari abad ke 21. (tepuk tangan) dan di banyak masyarakat Muslim masih kekurangan investasi dalam bidang-bidang ini..Saya tekankan hal itu di negara saya. Dan sementara Amerika di masa lalu memusatkan perhatian pada minyak dan gas alam di bagian dunia ini, kami kini menghendaki hubungan yang lebih luas.
Dalam pendidikan, kami akan memperluas program pertukaran dan memperbanyak bea siswa, seperti yang mengantar ayah saya ke Amerika, sementara juga mendorong lebih banyak warga Amerika untuk belajar di tengah masyarakat Muslim. Dan kami akan menempatkan siswa-siswa Muslim yang menjanjikan di tempat-tempat magang di Amerika; melakukan investasi dalam pembelajaran online untuk guru-guru dan anak-anak di seluruh dunia; dan menciptakan jaringan online baru, sehingga seorang remaja di Kansas mampu berkomunikasi langsung dengan remaja di Kairo.
Dalam rangka pembangunan ekonomi, kami akan menciptakan sebuah korps relawan bisnis baru untuk bermitra dengan counterpartnya di negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim. Dan saya akan menyelenggarakan KTT Kewiraswastaan tahun ini untuk mengidentifikasi bagaimana kita bisa mempererat hubungan antara pemimpin bisnis, yayasan dan wiraswasta sosial di Amerika dan masyarakat Muslim di seluruh dunia.
Dalam bidang sains dan teknologi, kami akan meluncurkan sebuah dana baru untuk mendukung pembangunan teknologi di negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim, dan membantu mentransfer ide-ide ke pasar-pasar sehingga tercipta lapangan pekerjaan. Kami akan membuka pusat keunggulan sains di Afrika, Timur Tengah dan Asia Tenggara serta mengangkat Utusan Sains baru untuk bekerja sama dalam program-program yang mengembangkan sumber energi baru, menciptakan lapangan pekerjaan hijau, digitalisasi catatan, air bersih dan menumbuhkan tanaman panen baru. Dan hari ini saya mengumumkan sebuah usaha global baru bersama Organisasi Konferensi Islam guna memberantas polio. Dan kita juga akan memperluas kemitraan dengan masyarakat Muslim guna menggalakkan kesehatan anak dan ibu.
Semua ini harus dilakukan lewat kemitraan. Rakyat Amerika siap bergabung dengan warganegara dan pemerintahan; organisasi kemasyarakatan, pemimpin agama dan bisnis di masyarakat Muslim diseluruh dunia guna membantu rakyat kita memperjuangkan kehidupan yang lebih baik.
Isu-isu yang telah saya uraikan tidak mudah ditanggapi. Tetapi kita punya tanggung jawab untuk bergabung demi memperjuangkan dunia yang kita cita-citakan – sebuah dunia di mana ekstremis tidak lagi mengancam rakyat kita, dan pasukan Amerika bisa pulang; sebuah dunia di mana rakyat Israel dan Palestina masing-masing memiliki negara mereka sendiri yang aman, dan energi nuklir dipergunakan untuk tujuan damai; sebuah dunia di mana pemerintahan melayani warganegaranya serta hak-hak dari semua umat Allah dihormati. Ini merupakan kepentingan bersama. Itulah dunia yang kita cita-citakan, tetapi hal itu hanya kita bisa capai bersama.
Saya tahu ada banyak – Muslim dan non-Muslim – yang mempertanyakan apakah kita bisa membina permulaan baru ini. Beberapa ingin menghasut api perpecahan, dan menghalangi kemajuan. Beberapa mengatakan hal ini tidak ada gunanya – bahwa kita sudah ditakdirkan untuk berseteru dan berbagai peradaban ditakdirkan beradu. Banyak lagi yang sekedar skeptis bahwa perubahan nyata bisa terselenggara. Begitu banyak ketakutan, begitu banyak ketidak percayaan. Tetapi kalau kita memilih untuk terperangkap dalam masa lalu maka kita tidak pernah akan melangkah maju. Dan saya secara khusus ingin mengatakan kepada generasi muda dari setiap kepercayaan, di setiap negara – anda, lebih dari orang lain, memiliki kemampuan untuk menata kembali dunia, menyusun kembali dunia.
Kita semua menghuni dunia ini untuk waktu yang singkat. Pertanyaannya adalah apakah kita melewatkan waktu itu terpusat pada hal-hal yang memecah belah kita, atau apakah kita mendedikasikan diri pada usaha – usaha berkesinambungan – untuk mencapai kesamaan, memusatkan perhatian pada masa depan bagi anak-anak kita dan menghargai harga diri semua insan manusia.
Hal-hal ini tidaklah mudah. Lebih mudah memulai perang ketimbang menghentikannya. Lebih mudah menuduh pihak lain ketimbang melakukan introspeksi diri; untuk melihat apa yang berbeda pada diri seseorang ketimbang menemukan kesamaan kita. Tetapi ada pula sebuah aturan yang merupakan inti setiap agama – bahwa kita memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan oleh mereka. Kebenaran ini berlaku lintas negara dan lintas rakyat – sebuah keyakinan yang tidak baru, yang tidak hitam atau putih atau coklat; bukan kebenaran Kristen, atau Muslim atau Yahudi. Ini merupakan keyakinan yang berdetak dalam dari buaian keberadaban, dan masih tetap berdetak dalam jantung miliaran manusia. Ini merupakan rasa percaya pada orang lain, dan hal itulah yang membawa saya kesini hari ini.
Kita memiliki kekuatan untuk menciptakan dunia yang kita cita-citakan, tetapi hanya apabila kita punya keberanian untuk memasuki awal yang baru, sambil ingat pada apa yang tertulis.
Kitab Suci Al Quran mengatakan, “Wahai manusia! Sesungguhnya kami telah ciptakan kamu sekalian dari jenis laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu sekalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling kenal mengenal…”
Talmud mengatakan kepada kita: “Seluruh Torah adalah untuk maksud menggalakkan perdamaian.”
Kitab Suci Injil mengatakan pada kita, “Diberkatilah pencipta perdamaian, karena mereka akan disebut putra-putra Allah.”
Rakyat seluruh dunia bisa hidup bersama dalam damai. Kita tahu itu merupakan visi Allah. Kini, itu menjadi kewajiban kita di Dunia. Terima kasih. Dan semoga damai Allah bersama anda. Terima kasih banyak. Terima kasih.

Sabtu, Mei 30, 2009

Napak Tilas Sir ALEX ALATTAS .


Bapak Ali Alattas
Dia salah satu diplomat handal Indonesia. Menjabat Menteri Luar Negeri (1987-1999) dalam empat kabinat dan pernah dinominasikan menjadi Sekjen PBB oleh sejumlah negara Asia pada 1996, suatu bukti kehandalannya mewakili Indonesia di pelbagai meja perundingan dan jalur diplomatik.
Selama dua dasawarsa lebih, Alex (nama panggilannya) memperlihatkan kelas tersendiri sebagai diplomat. Bahkan pada usia senjanya, ia masih mengemban tugas sebagai Penasihat Presiden untuk Urusan Luar Negeri (2001-2004). Kemudian pada masa pemerintahan Presiden SBY diangkatn menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Urusan Luar Negeri 2005-2008. Maka tak salah bila ia dijuluki singa tua diplomat Indonesia.

Kisah hidupnya adalah diplomasi. Padahal pada masa kecil ia bercita-cita menjadi pengacara. Alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia 1956,
kelahiran Jakarta 4 November 1932 ini, meniti karier sebagai diplomat sejak berusia 22 tahun. Ia mengawali tugas diplomatnya sebagai Sekretaris Kedua di Kedutaan Besar RI Bangkok (1956-1960), sesaat setelah ia menikah.

Pusat Data Tokoh Indonesia mencatat bahwa sebelumnya, ia sempat berkecimpung dalam dunia jurnalistik sebagai korektor Harian Niewsgierf (1952-1952) dan redaktur Kantor Berita Aneta (1953-1954). Selepas bertugas di Kedubes RI Bangkok, ia kemudian menjabat
Direktur Penerangan dan Hubungan Kebudayaan Departemen Luar Negeri (1965-1966). Lalu ditugaskan menjabat Konselor Kedutaan Besar RI di Washington (1966-1970). Kembali lagi ke tanah air, menjabat Direktur Penerangan Kebudayaan (1970-1972), Sekretaris Direktorat Jenderal Politik Departemen Luar Negeri (1972-1975) dan Staf Ali dan Kepala Sekretaris Pribadi Menteri Luar Negeri (1975-1976).

Kemudian, ia dipercaya mejalankan misi diplomat sebagai Wakil Tetap RI di PBB, Jenewa (1976-1978). Kembali lagi ke tanah air, menjabat Sekretaris Wakil Presiden (1978-1982). Lalu, kemampuan diplomasinya diuji lagi dengan mengemban tugas sebagai Wakil Tetap Indonesia di PBB, New York (1983-1987). Selepas itu, ia pun dipercaya menjabat Menteri Luar Negeri (1987-1999) dalam empat kabinet masa pemeritahan Soeharto dan Habibie.

Saat menjabat Wakil Tetap Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), ia harus menghadapi berbagai kritikan mengenai masalah Timor Timur. Ia dengan cekatan bisa melayaninya dengan diplomatis. Apalagi saat pecah insiden Santa Cruz yang menewaskan puluhan orang pada 12 November 1991, ia cekatan untuk meredam kemarahan dunia. “Diplomasi itu seperti bermain kartu. Jangan tunjukkan semua kartu kepada orang lain. Dan jatuhkan kartu itu satu per satu,” katanya.

Namun semua perjuangannya menjadi sia-sia seketika, manakala Presiden BJ Habibie memberikan refrendum dengan opsi merdeka atau otonomi, tanpa berkonsultasi dengannya. Suatu opsi yang amat naif. Ia tidak setuju atas solusi jajak pendapat yang dicetuskan Habibie itu. Sebab sebagai seorang diplomat, ia tetap berkeyakinan pada solusi diplomasi betapapun sulitnya sebuah situasi.

Maka tak heran, matanya berkaca-kaca beberapa saat setelah referendum. Timtim lepas dari pangkuan ibu pertiwi dan yang lebih memilukan, Timor Loro Sa’e itu rusuh dan hangus dilalap api. Karena keputusan presiden yang sulit dimengertinya, ia harus rela mengakhiri karir diplomatnya dengan air mata.

Namun semua orang tahu, bahwa kekalahan di Timor Timur itu bukan kesalahannya. Tetapi kesalahan ‘bosnya’ yang di luar batas kewenangannya. Presiden Habibie memang akhirnya menuai badai – pertanggungjawabannya ditolak MPR – akibat ‘kecerobohan’ itu. Maka, nama besar Alex sebagai diplomat yang prestisius tetap terukir tinta emas dalam lembar-lembar perjalanan karirnya.

Sehingga, ketika Alwi Shihab diangkat menjabat Menlu pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid, Alatas dipercaya sebagai penasehat. Kemudian, setelah Gus Dur jatuh dan digantikan Megawati Sukarnoputri, Alex diangkat menjabat Penasihat Presiden untuk Urusan Luar Negeri.

Sebagai penasehat presiden ia antara lain telah menjalankan misi diplomat ke berbagai negara, termasuk ke Swedia, mengenai Hasan Tiro. Namun, aktivitasnya sebagai penasehat presiden tidak lagi sesibuk ketika ia menjabat Menlu. Sehingga, ia berkesempatan mengisi waktu dengan mewujudkan impiannya menjadi pengacara, sebagai salah satu penasihat hukum di Biro Pengacara Makarim & Taira's. Dan untuk mengisi waktu ia pun menikmati hidup dengan keluarga di rumah kediamannya di Kemang Timur, Jakarta Selatan dan Jalan Benda Raya No 19, Cilandak, Jakarta Selatan.

Para pemimpin dari berbagai negara terkejut dengan meninggalnya diplomat kawakan Indonesia, Ali Alatas, Kamis (11/12) pagi di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura. Mereka memuji peran menonjol Alatas dalam bidang diplomasi, baik di regional maupun internasional.

Ali Alatas, yang pernah menjabat Menteri Luar Negeri RI pada 1988-1999, meninggal pada usia 76 tahun. Departemen Luar Negeri menyebutkan, Alatas meninggal pada pukul 07.30 waktu Singapura, diduga kuat karena terkena serangan jantung.

Jenazah almarhum tiba di Bandar Udara Soekarno-Hatta sekitar pukul 18.30 disambut oleh Menko Polhukam Widodo AS, Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa, Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda, dan anggota Dewan Pertimbangan Presiden Rachmawati Soekarnoputri.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terguncang mendengar kabar meninggalnya anggota Dewan Pertimbangan Presiden Ali Alatas. Presiden bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla serta Perdana Menteri Malaysia Abdullah Ahmad Badawi, yang sedang berada di Indonesia, melawat ke rumah duka di Jalan Benda Raya No 19, Cilandak, Jakarta Selatan.

Presiden mendengar kabar meninggalnya Alatas saat menuju Bandara Ngurah Rai untuk kembali ke Jakarta. Presiden terguncang karena pada 7 Desember 2008 saat membesuk Alatas di RS Mount Elizabeth mengetahui almarhum dalam penyembuhan dan akan balik ke Jakarta pada 17 Desember.

Presiden membatalkan rencana kegiatannya di Palembang, Sumatera Selatan, guna menjadi inspektur upacara pada pemakaman secara militer bagi Alatas yang akan dilakukan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jumat ini sekitar pukul 09.00.

Dengan Bintang Adi Mahaprana dan Bintang Republik Indonesia Utama, menurut Juru Bicara Kepresidenan Dino Patti Djalal, Alatas dinilai berhak dimakamkan di TMP Kalibata dengan upacara militer. Presiden melihat Alatas sebagai negarawan dan salah satu putra terbaik bangsa.


Mantan Kepala Badan Pelaksana Gerakan Nonblok dan Duta Besar Keliling Nana Sutresna, yang sejak tahun 1972 sering bekerja sama dengan almarhum, di Bandara Soekarno-Hatta kemarin petang mengatakan, Ali Alatas bukan hanya seorang diplomat ulung, melainkan juga pribadi luar biasa dan patut diteladani. ”Ketika beliau menjadi Sekretaris Menlu Adam Malik, saya sebagai Juru Bicara Menlu,” ujar Nana.


”Kita kehilangan putra terbaik bangsa, diplomat paling mumpuni yang pernah kita miliki,” kata Hassan Wirajuda dalam konferensi pers di Nusa Dua, Bali. Menlu mengaku, almarhum bukan hanya mantan atasannya, melainkan juga dianggap ayah oleh semua bawahannya.

Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono menyatakan, mengenal Ali Alatas sejak 40 tahun lalu ketika sebagai diplomat muda ikut menyaksikan berdirinya ASEAN pada tahun 1967. ”Beliau kenal baik dengan mendiang ayah saya. Peran Pak Ali Alatas paling menonjol saat menjabat Menteri Luar Negeri mulai tahun 1988. Bersama-sama TNI, waktu itu Bapak LB Moerdani, beliau sukses mengombinasikan diplomasi sebagai soft power dengan kekuatan militer sebagai hard power,” ujar Juwono.

Negarawan dihormati

PM Malaysia mengaku terkejut mendengar berita kepergian Alatas. ”Bapak Ali Alatas seorang negarawan yang sangat dihormati di Malaysia. Peranannya sebagai Menlu saat itu banyak membantu hubungan baik bilateral Indonesia-Malaysia,” ujar Badawi.

PM Australia Kevin Rudd menyebut nama Alatas sebagai seorang komisioner di Komisi Internasional untuk Perlucutan Senjata dan Antipenyebarluasan Nuklir, yang baru dibentuk. ”Alatas memberikan kontribusi baik visi maupun kerja kerasnya untuk memperkuat jaringan politik, ekonomi, dan pribadi di antara kedua negara,” kata Rudd yang sedang berada di Bali mengikuti Bali Democracy Forum, Kamis.

Adapun Singapura dalam pernyataan tertulisnya juga menyatakan, Alatas adalah seorang negarawan yang sangat dihormati, yang sangat meyakini pentingnya kerja sama regional. Ia berperan sangat penting dalam penulisan naskah ASEAN Charter.

PM Jepang Taro Aso pun menyampaikan belasungkawa kepada Presiden Yudhoyono. Menteri Luar Negeri Hirofumi Nakasone mengirimkan pesan serupa kepada Hassan Wirajuda.

Ungkapan belasungkawa dan pujian juga disampaikan Duta Besar Inggris untuk Indonesia Martin Hatfull, Duta Besar Iran untuk Indonesia Behrooz Kamalvandi, Duta Besar Polandia untuk Indonesia Thomaz Lukaszuk, Duta Besar Norwegia untuk Indonesia Eivind Homme, dan Duta Besar Palestina untuk Indonesia Fariz Al-Mehdawi.(DWA/INU// GTF /OS/Antara/ AP/AFP/Reuters/OKI , )
Nama : Ali Alatas Lahir : Jakarta, 4 November 1932
Meninggal: Singapura, 11 Desember 2008
Agama: Islam


Jabatan Terakhir:
Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Urusan Luar Negeri 2005-2008

Pendidikan :
:: Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 1956
:: Akademi Dinas Luar Negeri, 1956

Karir :
:: Korektor Harian Niewsgierf (1952-1952)
:: Redaktur Kantor Berita Aneta (1953-1954)
:: Sekretaris II Kedutaan Besar RI di Bangkok (1956-1960)
:: Direktur Penerangan dan Hubungan Kebudayaan Departemen Luar Negeri (1965-1966)
:: Konselor Kedutaan Besar RI di Washington (1966-1970)
:: Direktur Penerangan Kebudayaan (1970-1972)
:: Sekretaris Direktorat Jenderal Politik Departemen Luar Negeri (1972-1975)
:: Staf Ali dan Kepala Sekretaris Pribadi Menteri Luar Negeri (1975-1976)
:: Wakil Tetap RI di PBB, Jenewa (1976-1978)
:: Sekretaris Wakil Presiden (1978-1982)
:: Wakil Tetap Indonesia di PBB, New York (1983-1987)
:: Menteri Luar Negeri (1987-1999)
:: Penasihat Presiden untuk Urusan Luar Negeri (2001-2004)
:: Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Urusan Luar Negeri 2005-2008

Penghargaan:
Bintang Adi Mahaprana dan Bintang Republik Indonesia Utama

Alamat Rumah Keluarga:
Jalan Benda Raya No 19, Cilandak, Jakarta Selatan

Rabu, Mei 27, 2009

ANTASARI - KONSPIRASI - KPK


" Yakinkah Anda Bila Pak Antasari korban konspirasi dari Elite POLRI bersama sama DPR,Pengusaha dan para PejabatTinggi..?? !! "

Indonesia Raya memang penuh kejutan. Lebih mengejutkan lagi bila membaca wacana dan analisa di dalam masyarakat kita.

Saya memang tidak segera membahas aspek-aspek penting di seputar kasus Antasari karena masih menunggu fakta-fakta yang sesungguhnya sudah lengkap di Polisi. Bahkan dalam tulisan ini saya juga hanya akan menceritakan sedikit kontradiksi yang saya harapkan rekan-rekan dapat membacanya secara hati-hati.

Dalam berita yang diungkapkan media massa banyak sekali yang berkembang, bahkan pendapat-pendapat pihak-pihak yang berurusan seperti pengacara, polisi, keluarga, dll tampak sangat berwarna. Namun faktanya belum ada yang cukup meyakinkan yang diungkapkan kepada publik. Mengapa tidak segera diuangkapkan? ada dua kemungkinan yaitu karena proses dan prosedurnya di Indonesia memang demikian (lambat) atau telah menjadi komoditi politik yang sangat mahal.

Analisa teori konspirasi cukup meyakinkan, yaitu misalnya untuk menghancurkan KPK, untuk mendiskreditkan anti korupsi pemerintah, untuk mengalihkan masalah kecurangan pemilu (kasus DPT), untuk meredam kasus yang lebih besar, untuk kepentingan mafia TW, untuk dll. Alasan yang digunakan juga bermacam-macam, misalnya: tidak mungkin seorang AA terjebak dengan bodohnya, tidak mungkin hanya soal wanita, tidak mungkin sekecil itu persoalannya, tidak mungkin sebuah kasus terungkap begitu cepat, tidak mungkin dll.

Analisa tindak kriminal pembunuhan hanya melihat pada motif, barang bukti dan saksi. Namun prosesnya memerlukan waktu yang cukup panjang sebagaimana biasanya di negara kita. Kasus ini akan menjadi lebih panjang lagi karena dugaan keterlibatan tokoh yang terkenal di masyarakat. Polisi sudah memiliki catatan tentang motif, barang bukti dan kesaksian dari para saksi. Apakah kemudian terjadi rekayasa adalah berpulang kepada nurani dan kebijakan di Polisi Indonesia.

Mengapa publik kemudian menjadi ramai? hal ini tidak lain karena tersebar luasnya informasi melalui media massa yang sedemikian hingar bingarnya, sehingga opini-pun terpecah menjadi pro dan kontra.

Betapapun kebenaran yang kita ketahui, apabila sudah terjadi distorsi pemberitaan dan sudut pandang yang berbeda dan bahkan pengadilan media massa, maka akan semakin sulit untuk melihatnya secara jernih tentang apa sesungguhnya yang sedang terjadi.

Beberapa opini yang dikembangkan misalnya tentang jatuhnya seseorang karena cinta birahi, opini yang lain tentang adanya agenda besar yang tersembunyi, dst...dst. Apakah rekan-rekan tidak sebaiknya menunggu saja pengungkapan fakta dari Polisi yang melakukan penyidikan dan penyelidikan? Lebih jauh lagi, apakah tidak sebaiknya kita tunggu jalannya pengadilan dan pengungkapan fakta tentang kasus pembunuhan tersebut. Mengapa kita menghabiskan energi untuk menganalisa sesuatu kasus yang faktanya sebagian besar masih disembunyikan dari publik? Andaikatapun saya diberikan informasi dasarnya, tentu tidak akan boleh diungkapkan kepada publik sebelum proses pengadilan menghasilkan putusan, karena hal itu sungguh tidak adil bagi perjalanan pengadilannya nanti.

Ingat, bahwa desepsi informasi dan upaya-upaya pengelabuan/pembohongan publi dalam dunia hukum Indonesia sudah sedemikian parahnya. Saya yakin hal ini menjadi kewajiban kita bersama untuk mendorong terciptanya sistem hukum yang mampu menjamin keadilan dan tegaknya hukum di negara kita.

Maka menjadi kewajiban bagi kita Rakyat Indonesia untuk Siap Mendukung Para Penyidik / Lembaga Peradilan {Yudikatif} untuk mulai berani menyatakan bahwa yang benar itu adalah benar dan yang salah adalah salah. Tantangan ini melekat kepada setiap diri kita di bidang kerja kita masing-masing. Dalam kasus ini, tantangan terbesar berada di pundak Polisi dan lembaga peradilan Indonesia untuk Mulai Mampu tidak tergoda rayuan Materi apalagi menjadi takut karena tekanan dari Siapapun Baik Atasan ataupun Para Pejabat Penguasa Republik Ini .Maka Kewajiban Para Penyidik / Lembaga Peradilan Untuk harus & dapat ungkap Kebenaran Kasus Besar di Tahun 2009 sebab Hasil mengungkap Kebenaran oleh Para Penyidik dari kasus Antasari ini akan dipertanyakan Rakyat atas kebenaran hasil Penyidikan untuk dapat dipertanggung jawabkan dihadapan Mayoritas Rakyat Indonesia . harap para penyidikPolisi / lembaga peradilan wajib ingat bahwa hasil hasil pengungkapan kebenaran dari penyidikan ini akan dipertanggung jawabkan juga oleh para Penyidik dimuka Pengadilan Tuhan Yang Maha Adil Kelak Di Akherat..!!

Sekian

Disadur Dari: Senopati Wirang - By Gustaf Alattas

Senin, Mei 04, 2009

Anti SARAS 2010

Anti Saras 2010 Ternyata kita mampu telisik jaringan “Saras Intel” sang luas jangkauan


Bismillah…

Setelah membaca artikel myquran di situs tukpencarialhaq, satu demi satu. Kita bisa mengikuti perkembangan kejadian demi kejadian dari artikel menyangkut sepak terjang situs myquran, alhamdulillah bukti-bukti yg ditampilkan di situs tukpencari alhaq telah menunjukkan bahwa serapat-rapat menyimpan bangkai toh akhirnya akan ketahuan juga. Apalagi hal itu menyangkut kemaha Sucian Allah, kehormatan Rasulullah, kemuliaan Al Qur’an yg dijadikan bahan cemoohan dan ejekan org kafir dan corong kekafirannya.

Si exbloz sang moderator mykuran telah “menghilang” (diamankan?), akan tetapi masih tersisa rasa penasaran di hati kita, kenapa di myQuran 3 tdk dibahas ttg siapa rekan exblop yg selama ini menjadi informannya, user aktif mykuran yg dia menamakan dirinya sebagai abu fauzan dengan emailnya theboyssz2nd@yahoo.com ? Info itu sempat dimunculkan, tetapi buru2 diamankan, mgkn takut ketahuan pribadinya ? http://myquran.org/forum/index.php/topic,586.msg599045.html#msg599045

Penasaran sekalikah sama si abu fauzan itu, yg katanya bisa mengakses informasi dari kalangan guru-guru salafiyin itu yang berposisi sebagai intelijen bagi jaringan tetangga itu ?

Apatah lagi paska muncul artikel myquran di situs tukpencarialhaq, si Abu Fauzan menulis pesan di situs kroninya http://www.abuaisyah.org/2008/06/27/menjawab-blog-fakta-yang-masuk-jebakan/ :
# 5 Abu Fauzan theboyssz2nd[at]yahoo.com Says:
June 27th, 2008 at 7:45 pm
“hoyoh..hoyoh…selamat ya akh sudah masuk faktablogsome barengan ana…kekeke :p Barakallahu fiik….kita doakan saja semoga aib sang admin fakta tidak disebarkan pula oleh orang lain….dan mari perbaiki diri-diri kita juga memohon pada Allah ta’ala agar senantiasa memperbaiki diri-diri kita….otreee…..
jazakallahu khoyron…
sengaja ana tampilin theboyssz2nd di comment ini agar mereka senang gembira kalau baca comment ini…..lumayan…biar faktablogsomenya tetep eksis….walaupun sudah banyak nasehat dari asatidzah…..”

Marilah kita mencari Abu Fauzan
Dari telisik ala tim senopati intelijen, nama “abu fauzan” nangkring di situs yahoo sbb :
http://profiles.yahoo.com/theboyssz2nd/
“Mahasiswa Teknik Elektro ITS”

Telisik punya telisik, para telik sandi menemukan kemungkinan abu fauzan yang ITS Elektro itu beralamat e-mail abufauzan@elect-eng.its.ac.id http://ww.its.ac.id/tanggapanberita.php?newsid=3109 ?
“Abu Fauzan (abufauzan [at] elect-eng.its.ac.id) pada 22 September 2006: yg gondrong di elektro itu pak abdullah al kaff, tapi dia gak semuda pak eka yg keren ini oom”

Atau yang ini ? www.its.ac.id/tanggapanberita.php?newsid=3554 Muhammad Reza ‘Abdulhaqq bere-email Abu Fauzan :
“Muhammad Reza ‘Abdulhaqq (abufauzan [at] elect-eng.its.ac.id) pada 14 April 2007: wow keren rektornya kelahiran Klaten…..hehehe…vivat Klaten!”

Diketemukan juga yang bernama abu fauzan, nampak kuliah di ITS elektro http://forum.alilmu.com/…/ warga-baru-kenalan-dulu-disini-ya-baarokallohufiik!/?action=printpage :
“Nama ana Muhammad Reza A, punya kuniah Abu Fauzan Asli Klaten. tinggal di Surabaya, Kuliah di ITS semester 3 satu tempat taklim sama Akh Rengga di Unair”

Kalau diperhatikan dari sini sih http://darussalaf.org/myguestbook.php?start=456, memang si abu fauzan mengaku e-mailnya YMnya theboyssz2nd dan emailnya abufauzan@elect-eng.its.ac.id.
“Abu Fauzan 2006-11-01 22:05:31 Barakallahu Fiikum, ya Ustadz Muhammad, kami sangat senang mendengarkan muhadhoroh anda lewat MP3, walaupun kami baru sesekali bermajelis dengan anda, namun kami mendapatkan faidah2 ilmu berharga dari Anda. Jazakumullahu Khoyron katsiran, pada Ustadz Muhammad dan Asatidz pembawa Dakwah Salafiyyah yang Lain atas faidah-faidah berharga yg kami dapatkan Semoga Allah memberi hidayah untuk rujuk kepada Manhaj salaf kepada setiap orang yang menyimpang, Ana juga mau ngucapin Barakallahu Laka wa Baraka ‘alaika wa jama’a baynakuma fii Khoyr buat Akh Heri/T.Material ITS-Klaten yang Insya Allah nikah tgl 20 Nop ini Barakallahu Fiikum jamii’an”

Berarti benar Abu Fauzan Muhammad Reza nama aslinya http://www.its.ac.id/tanggapanberita.php?newsid=3151
“Abu Fauzan Muhammad Reza (abufauzan [at] elect-eng.its.ac.id) pada 25 Oktober 2006: hmm….kapan ya himatektro bisa ngadain acara kayak gini…hehehe”

Berarti dia jugalah yang ada di artikel abusalma “BUKAN PEMBELAAN TEHADAP BA’ABDUH, NAMUN PEMBELAAN TERHADAP SALAFIYAH”, komentar nomor 12:
Abu Fauzan Muhammad Reza Abdulhaqq Berkata:
Nopember 26, 2006 pada 8:52 pm
Mas rachdie ahsan comment2 di blogznya disaring dulu, jangan langsung dilihatkan, demi kemaslahatan
barakallahu fiik ((http://abusalma.wordpress.com/2006/11/09/koreksi-buku-%e2%80%9csiapa-teroris-siapa-khowarij%e2%80%9d-1/ )”.

Berarti dia pun salah satu anggota forum AsSunnah nomor 77 sejak 27 Oktober 2007 “http://forum.assunnah.web.id/profile.php?mode=viewprofile&u=77″
Detailnya: “Profil :: Muhammad Reza Abdulhaqq Bergabung Sejak: 27 Okt 2007 Lokasi: Surabaya Pekerjaan: Mahasiswa ID Yahoo: theboyssz2nd”

Lewat situs pertemanan, penonton juga mudah menemukan namanya “muhammad reza” umurnya disebutkan 23 tahun ketika menjadi anggota friendster:
http://profiles.friendster.com/18465296

Berarti ada kaitannya blog http://muhammadreza.wordpress.com/ dengan Muhammad Reza Abdulhaqq, ya nama itu amat unik dan mudah dikait-kaitkan.

Daya jelajah abu fauzan
Beberapa hari lalu, sebagian rekan yang aktif di buku tamu darussalaf.org, dibombardir sama orang yg ngaku namanya “saras 2010″, “saras intel”. Si do’i mengaku “daya jelajah luas”, siapa dia ?

Mari kita perhatikan ketika informan eks moderator mykuran ini, seide sama eksblop yang juga pemaen game, anime, suka nonton TV di SBO TV grupnya JTV http://myquran.org/forum/index.php/topic,39277.msg1110111.html 26 Mei 2008, 22:40:42 :
“Bagaimana tanggapan ikhwah sekalian tentang acara Freeday Friday SBO TV yang sepertinya malah ngajarin seks bebas…di acara itu adanya cuman ngobrol ngalor ngidul tentang seks yang gag ada juntrungannya….”

Bagaimana jika sang informan kesal bermain PS sewaannya, seide sama eksblop yang juga pemain game ? http://myquran.org/forum/index.php/topic,30195.msg752114.html#msg752114 10 November 2007, 19:55:11
“Kemarin ke rentalan, nyewa PES 2008 eh ternyata gamenya ndak sebaik versi sebelum2nya Gambarnya itu loh yang bikin nyesel, kayak kartun malahan, dipermainannya pun jelek, masa’ mau nembak ke gawang tendangannya “tleser” terus huhh Hiks.. PES 2008 memang buruk!!!”

Informasi lebih detil tentangnya, setelah kita tahu Abu Fauzan asal dari Klaten, kuliah di ITS. Pada Januari 20th, 2008 pada 1:40 pm, seorang yang mengaku identik, abu fauzan mengaku asal dari Klaten Utara, “deket proliman mBramen”. Kuliah di ITS semester 3, dulu di SMA 1 Klaten. Kita dapat melihat pengakuannya di buku tamu situs link sururi http://wahonot.wordpress.com/about/.

Luas jangkauan, sampe-sampe bisa masuk ke situs Wira Mandiri, situs al Ilmu.info, yang menukil sebuah informasi: “….Info dari Akh Abu Fauzan Muhammad Reza via YM dari Surabaya. Sumber: wira.co.nr”

Masya Allah, dengan sedikit paparan di atas, ternyata Abu Fauzan Muhammad Reza Abdulhaqq benar-benar luas jangkauannya.

Aktif di myquran dan exblopznya, ada pula di friendster, terdapat pula di forum Assunnah, nampak di buku tamu Darussalaf.

Pun akrab dengan situs Wahonot yang melink situs-situs hizbi Irsyadi Turotsi, memberikan informasi ke wira.co.nr tentang acara daurah guru kita di sidoarjo KEMANAKAH KITA HARUS MENCARI ILMU Ahad, 20 Januari 2008. al-ilmu.info/sidoarjo/ dauroh-sidoarjo-kemanakah-kita-harus-mencari-ilmu

Kesimpulan

Abu fauzan, beremail theboyssz2nd@yahoo.com, abufauzan@elect-eng.its.ac.id. Abu Fauzan lihai masuk ke sana, masuk ke sini, ada di sana ada pula di sini. Nampaknya, elastisitas dakwah adalah modal utamanya agar bisa diterima dan dipercaya oleh semua pihak.

Lalu kepada siapa abu fauzan muhammad reza abdulhaqq sebenarnya dia berwala’? Allahu a’lam. Tapi yg jelas dia tipe intelijen alias penyusuf yang boleh jadi memiliki koneksi dengan “Saras 2010″ alias “Saras Intel”. wallahu alam.

Anti saras 2010

Filed under: Default | 1 Comment
Tags: abdulhaqq, abu fauzan, abufauzan@elect-eng.its.ac.id, anime, bekasi, game, intel, intelejen, intelijen, intellegent, intelligent, jakarta, klaten, mbramen, moderator, muhammad, muhammad reza, muhammad.reza@ymail.com, myquran, nonton, penyusuf, penyusup, reza, saras, saras 2010, saras intel, sbo tv, theboyssz2nd, theboyssz2nd@yahoo.com, tv
One Response to “Anti Saras 2010 telisik jaringan “Saras Intel” sang luas jangkauan”
Feed for this Entry Trackback Address

1.
1 muhammadreza on 9:37 am / 2 - September - 2008 said:

Author : muhammadreza (IP: 222.124.224.160 , 222.124.224.160)
E-mail : theboyssz2nd@yahoo.com
URL : http://
Whois : http://ws.arin.net/cgi-bin/whois.pl?queryinput=222.124.224.160
Comment:
o iya tentang saras, saya ndak ada hubungan nih sama cewek itu, kalau mas kenal, ana titip salam aja buat mbak saras 2010nya…terimakasih…

————
IP 222.124.224.160
User Agent Opera/9.20 (Windows NT 5.1; U; en)
Operating System WinXP
Browser Opera 9.2

http://www.all-nettools.com/toolbox/smart-whois.php
222.124.224.0 - 222.124.239.255
PT Telkom Divisi Regional V Jawa Timur
TELECOMMUNICATIONS/COMMUNICATIONS
JL KAPUAS 51
SURABAYA

Sumbangan dari kontributor :
Nama : Abu Fauzan Muhammad Reza Abdulhaqq Al Ghirghununji
Alamat Surabaya : Jalan Arif Rahman Hakim ?? B, Surabaya 60111
Alamat Klaten : Pondok Mulyo ??/??, Gergunung, Klaten Utara, Klaten 57434
HP : 0??232708098
Email : abufauzan@elect-eng.its.ac.id
Y!M : theboyssz2nd@yahoo.com abufauzan_muhammad@yahoo.com

Indonesia Raya ku


Indonesia ku Jaya Raya
Hampir seratusan komentar, entah berapa teriakan dalam shoutbox baik yang berkualitas maupun yang sampah...itu semua cerminan diri kita yang peduli dengan negeri tercinta Indonesia.

Mari kita yakini bersama kebangkitan Indonesia tanpa harus mencaci, menuduh ataupun menghina bagian-bagian dari kebangsaan kita sendiri yang masih tertatih-tatih dalam mensejahterakan seluruh rakyat. Tengoklah sejenak mayoritas bangsa kita yang terdiam dalam persoalan sehari-hari, untuk memperoleh makanan yang bergizi, untuk pendidikan yanglebih baik, untuk pekerjaan yang layak, untuk tempat tinggal yang nyaman, untuk pelayanan kesehatan yang standar, dst...dst begitu banyak pekerjaan rumah yang harus kita bangun bersama.

Saya masih ada walaupun jarang melihat-lihat dinamika Blog I-I. Saya sedang berobat dengan sedikit menjalankan keprihatinan pribadi dan senantiasa berdoa bahwa pada saatnya akan lahir generasi muda Indonesia yang bermoral-beretika, memegang tali agama yang kuat, namun memahami situasi demokrasi yang menuntut diterapkannya kesepakatan saling menghormati perbedaan dan penegakkan hukum tanpa pandang bulu.

Indonesia Raya

Saya menulis kembali artikel Indonesia Raya sebagai sebuah pengingat bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar. Saya juga ingin menyampaikan bahwa isu-isu keterlibatan jaringan intelijen underground dalam mendorong keberhasilan Partai Gerakan Indonesia Raya (GERINDRA) adalah tidak benar. Hanya suatu kebetulan belaka bahwa ide membangun bangsa dan negara yang besar dikumandangkan kembali oleh sebuah partai politik yang baru lahir.

Blog I-I telah menggunakan istilah Indonesia Raya jauh sebelum Partai Gerindra lahir, dan hal ini mengacu pada akar sejarah kita yang besar juga mengacu kepada lagu nasional Indonesia Raya.

Membangun jiwa membangun raga, membangun bangsa dan negara yang kuat bukanlah menyandarkan kepada Ratu Adil ataupun kelompok tertentu, tetapi membangun denyut nadi bangsa Indonesia secara keseluruhan...utuh dalam persatuan mewujudkan visi dan misi mensejahterakan seluruh saudara-saudara kita.

Misi Intelijen Indonesia bukanlah melanggengkan kekuasaan elit tertentu, tetapi justru menjadi alat dan pelindung rakyat dari kebusukan negara-negara asing yang ingin terus-menerus memiskinkan Indonesia, dengan merampok kekayaan alam kita, dengan memecah-belah persatuan nasional kita dan dengan mempertajam jurang perbedaan diantara kita. Disamping itu, tidak seluruh negara asing selalu menjadi musuh, melainkan juga menjadi kesempatan dalam bekerjasama untuk keuntungan bersama. Hal yang terpenting adalah jangan sampai dibohongi, karena itulah diperlukan kecerdasan dan kemapuan dalam bernegosiasi untuk kepentingan rakyat kita.

Indonesia Raya yang saat ini banyak dinilai media internasional termasuk yang sukses dalam pemulihan ekonomi dan ketahanan menghadapi krisis keuangan internasional, tidak berarti kita lengah terhadap ancaman yang dapat mengganggu kebangkitan tersebut.

Kelengahan tersebut terletak di dalam maupun di luar, dan saya simpulkan dalam beberapa poin berikut ini:
1. Kita hampir selalu terpaku kepada pimpinan nasional dan lupa dalam memperkuat pimpinan di level menengah dan wilayah. hal itu termasuk dalam soal manajemen dan profesionalitas untuk pelaksanaan program pembangunan. Akibatnya seperti menjelang pemilu Presiden, saya memperhatikan kesibukan yang berlebihan dalam manuver dan konsolidasi politik menuju kekuasaan, sementara sangat sepi pembahasan platform pembangunan (ipoleksosbudhankam) lima tahun ke depan, apalagi blue print strategis 20-30 tahun mendatang.


2. Dalam masalah keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia Raya, kita terlalu fokus pada cara mempertahankan diri, padahal hal itu terlalu defensif dan pasif. Kita belum melangkah maju dalam menyentuh setiap akar permasalahan separatisme, yaitu langsung kepada akar persoalannya dan perlu dilakukan komunikasi internal dalam kerangka keIndonesiaan yang sungguh-sungguh Bhinneka Tunggal Ika. Apabila masih saja terjadi perlawanan, sepanjang hal itu damai maka hadapi dengan damai. Apabila perlawanan itu bersenjata maka secara sah di depan hukum juga dihadapi dengan senjata. jangan sampai perlawanan damai dihadapi dengan senjata tajam sehingga menghasilkan korban nyawa manusia yang mana mereka juga rakyat Indonesia.

3. Dalam masalah sosial budaya, kita maih perlu terus membangun karakter bangsa Indonesia melalui pendidikan dan kampanye serta program-program kongkret yang membangkitkan rasa keIndonesiaan yang kuat. Tanpa bermaksud menciptakan ultra-nasionalisme, kita tetap perlu mengumandangkan persaudaraan Indonesia Raya demi terwujudnya mimpi bersama membangun kehidupan berbangsa dan bernegara secara bermartabat.

4. Pokok masalah ekonomi adalah kemiskinan dan kurang meratanya pembagian hasil pembangunan. Hal itu diperburuk oleh mentalitas rasa malas yang selalu menghantui perjalanan bangsa kita. Tidak ada kemajuan yang dapat diwujudkan tanpa kerja keras dan etos disiplin yang tinggi serta kreatifitas. Tengoklah ke dalam diri kita sendiri, sejauh mana kita menerapkan prinsip-prinsip prasyarat kemajuan tersebut dalam pekerjaan kita sehari-hari. Apakah kemalasan yang menyebabkan kemiskinan, apakah eksploitasi sistem kapitalis, ataukah ketidakadilan dalam memberikan kesempatan dalam melakukan kegiatan ekonomi, ataukah faktor kebodohan, tentunya masing-masing dari kita dapat bercermin dan melihat fakta-fakta kemiskinan di sekeliling kita.

Dalam pembangunan, Intelijen juga perlu paham situasi-situasi nyata di sekeliling masyarakat sehingga tidak memberikan masukkan dan analisa yang jauh dari fakta. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan oleh rekan-rekan semua, apabila rekan-rekan memulai dari lingkungan terdekat memperbaiki setiap kekeliruan langkah yang rekan-rekan tempuh dalam berkontribusi untuk kemajuan bangsa dan negara Indonesia.

Mossad, CIA, MI6, dan lain-lain organisasi intelijen ternama tidaklah akan dapat berperan baik apabila rakyatnya di Israel, di Amerika Serikat, di Inggris tidak menciptakan atmosfir yang kondusif sehingga organisasi tersebut dapat berkiprah di level internasional. Mereka dapat melangkah maju karena dukungan rakyatnya yang telah melangkah maju, sementara kita....mengapa masih saja bertengkar satu sama lain dengan mengorbankan kepentingan yang lebih besar?.

Sekian, semoga bermanfaat
disadur sebahian dari Senapati Wirang

Minggu, April 26, 2009

PAHLAWAN KITA DARI NUSA TENGGARA TIMUR

Mantan Gubernur NTT Meninggal Dunia
Sabtu, 25 April 2009 - 22:41 wib
By Rahmat J

KUPANG - Mantan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) periode 1998-2008, Piet Alexander Tallo meninggal dunia di RS Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta, Sabtu (25/4/2009).

Tallo meninggal sekira pukul 20.30 WIB. Tallo meninggal dalam usia 67 tahun. Dia meninggalkan seorang istri bersama tiga orang anak.

"Secara umum kondisi kesehatan bapak mulai membaik setelah dokter melepas alat bantu pernapasan yang dipasang di bagian lehernya. Namun, ketika ke kamar kecil, beliau terjatuh dan nyawanya tak tertolong," ujar seorang kerabatnya di Kupang.

Tallo dilahirkan di Tefas, sebuah perkampungan kecil di Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT pada 27 Mei 1942. Ayahnya Ch B Tallo berprofesi sebagai guru. Sedangkan ibunya, Ny M Tallo-Lodo adalah puteri seorang petani. Tallo mulai menunjukkan bakat sebagai seorang pemimpin semenjak masih di bangku Sekolah Rakyat (SR) GMIT SoE tahun 1955. Setelah tamat, dia melanjutkan pendidikan di SMP Negeri Kupang dan tamat tahun 1958. Tallo kemudian melanjutkan studi di SMA Negeri Kupang dan tamat pada tahun 1970.

Dia pun merantau ke Yogyakarta dan melanjutkan pendidikan di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Setelah menyelesaikan studinya, dia mempersunting Erny Christian sebagai isterinya pada 15 Maret 1967.

Kamis, April 23, 2009

" TOM WAINGGAI "

G. ADITJONDRO: Mengenang Tom Wainggai
Artikel untuk Tabloid Jubi, Port Numbay, No. 16

Mengenang Perjuangan Tom Wanggai:
Dengan Bendera, atau Apa ?

--------------------------
Oleh George J. Aditjondro

MINGGU lalu, saya mendapat berita bahwa sejumlah aktivis Papua Barat
berkumpul di depan gedung DPRD Papua Barat di pusat kota Port Numbay
(Jayapura). Rupanya mereka mengenang kematian almarhum Thomas W.N.S.
Wainggai, tokoh pejuang kemerdekaan negeri ini yang meninggal dalam tahanan
rezim Orde Baru dalam usia 59 tahun.

Saya belum sempat mengenal beliau secara pribadi, seakrab sebagaimana saya
mengenal almarhum Arnold Ap, tetangga dan
kawan seperjuangan saya di Papua
Barat waktu itu. Pada saat saya meninggalkan Bumi Kasuari,
bulan Agustus 1987, untuk melanjutkan studi di AS,
kami mungkin baru berpapasan satu dua
kali di kantor gubernur. Tom, begitu panggilan akrabnya, waktu itu bekerja
di kantor BAPPEDA Propinsi,
berbekal sederetan gelar S-2 dan S-3 di bidang
hukum dan administrasi pemerintahan dari AS dan Jepang.

Makanya, saya agak terkejut ketika mendengar beliau
memproklamasikanberdirinya Republik Melanesia Barat
di Stadion Mandala, Port Numbay, pada tanggal 14 Desember 1988. Sejak saat itulah saya berusaha mengikuti dampak pernyataan
yang sekali lagi menuntut dipatuhinya hak rakyat Papua Barat
untuk menentukan nasibnya sendiri.

Setelah pulang dari studi di Universitas Cornell, AS,
dan mulai mengajar di bekas alma mater saya,
Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Tom sudah
divonis 20 tahun penjara, dan sudah dipindah dari Port Numbay
ke penjaraCipinang. Lewat kawan-kawan di PGI yang aktif
dalam pelayanan rohani para narapidana,
saya berusaha terus mengikuti keadaan Tom.

Sekali-sekali, dalam perjalanan mengikuti seminar
di luar negeri, saya menyanggupi jadi 'tukang pos'
untuk mengirim surat-surat Tom ke kawan-kawannya
di mancanegara. Dengan seizin kawan-kawan Papua yang
melayani Tom, surat-surat itu
sempat saya fotokopi dulu, yang kemudian
sedikit menjadi "jendela" untuk memahami
pemikiran cendekiawan dari Serui ini.

Satu hal yang waktu itu sudah menarik perhatian saya adalah bahwa nada
surat-surat buat kawan-kawan Tom di AS,
Australia, Aotearoa (New Zealand),Negeri Belanda dan Jepang
itu sangat optimis bahwa kemerdekaan negara di
belahan barat Pulau Niugini itu akan segera tercapai.
Paling tidak, tahun 2000.

Dengan tetap menghormati perbedaan pendapat
di antara orang Papua, juga perbedaan antara pemikiran Tom
dan saya sendiri, saya terus berusaha mengikuti perkembangan Tom
di penjara. Juga ketika saya sendiri terpaksa hijrah dari
tanah tumpah darah saya, pada tanggal 1 Februari 1995,
gara-gara para pendukung Suharto
dan Habibie tidak senang saya mengecam KKN para boss mereka.

Kampanye dari Perth:
--------------------
Untunglah di tempat pelarian saya yang pertama,
Perth, ada satu kelompok pegiat HAM yang mengkhususkan diri
berkampanye untuk pembebasan Tom.
Seorang kawan akrab saya di Perth, Nonie Atkinson,
adalah anggota kelompok Amnesty International (AI)
kawasan Como, Perth Selatan. Kelompok ini telah
"mengadopsi" Tom Wainggai sebagai "prisoner of conscience"
(orang yang dipenjara karena keyakinannya),
dan ingin melakukan apa saja, tanpa kekerasan,
untuk membebaskannya dari penjara. Sejak akhir 1993, para
anggota kelompok itu sudah melayangkan surat-surat
ke alamat Menlu Ali Alatas, mendesak pembebasan Tom Wainggai
atas alasan kesehatan dan kemanusiaan.

Memang, ketika masih berada di Perth itu,
saya sudah mendengar dari kawan-kawan saya di PGI,
bahwa kesehatan mental tokoh pencetus 'Republik Melanesia Barat' sangat terganggu. Bahkan ketika saya masih berada di Salatiga,
kawan-kawan saya yang biasa 'keluar masuk' penjara Cipinang,
sudah melaporkan hal yang sama.

Nah, faktor kesehatan narapidana politik paling top
dari Papua Barat itulah, kemudian dijadikan
isyu sentral oleh kelompok AI di Perth, untuk
memperjuangkan pembebasannya. Sesudah
dua pertemuan di bulan Juli dan
Agustus 1995, kelompok AI Perth memutuskan
untuk mengirim surat pada wakil Palang Merah Internasional di Jakarta,
untuk memberikan pelayanan kesehatan
pada Tom. Juga diputuskan untuk mengirim surat
kepada Bambang Widjajanto,SH, yang pernah membela
Tom dalam sidang pengadilan di Port Numbay, tahun 1989,
untuk meminta foto-foto, kliping-kliping koran,
dan bahan informasi
apa saja yang dapat membantu kampanye pembebasan Tom di Australia.

Kelompok AI ini tidak sendiri dalam berkampanye. Mereka didukung oleh
Komisi Ahli Hukum Sedunia, ICJ (International Commission of Jurists) Seksi
Australia Cabang Australia Barat, yang anggota-anggotanya bekerja di
beberapa universitas di Perth. Para ahli hukum ini pun secara resmi
mengirim surat kepada Sekjen Komnas HAM, Menteri Kehakiman, dan Menteri
Luarnegeri Republik Indonesia, mendesak supaya Tom Wainggai segera
mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai. Sayangnya, surat-surat yang
dilayangkan tanggal 28 Juli 1995 itu, tidak mendapat balasan. Siapa tahu,
mungkin hilang ditelan ombak Samudra Hindia.

Di kalangan politisi Australia Barat di parlemen federal di Canberra,
dukungan untuk perjuangan pembebasan Tom Wainggai, datang dari Partai
Hijau. Dalam kesempatan tanya-jawab dengan fraksi pemerintah di parlemen,
para senator Partai Hijau berulang kali mendesak Menlu Australia waktu itu,
Gareth Evans, untuk mempertanyakan nasib Tom Wainggai pada Menlu Indonesia,
Ali Alatas.

Antara Cipinang & Kramat Jati:
------------------------------
Sayang sekali, semua kegiatan itu bagaikan menggarami lautan. Pada hari
Selasa, 12 Maret 1996, ketika saya sudah pindah dari Perth ke Newcastle,
untuk menjalani kontrak mengajar selama lima tahun, kami dikejutkan oleh
telepon dengan berita sedih dari Jakarta. Kawan kami, seorang pegiat HAM
asal Papua Barat, memberitakan bahwa Tom Wainggai telah meninggal dunia
dalam perjalanan dari penjara Cipinang ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati.

Kawan-kawan dan kaum kerabatnya di Jakarta, menunggu kedatangan isteri Tom
yang kelahiran Jepang, tiba dari negeri kelahirannya, bersama-sama ketiga
anak Tom yang juga telah menyusul ke sana, demi kelangsungan sekolah
mereka. Ketiga anak itu bernama Solomon, Angelica, dan David.

Hampir seminggu setelah Tom menghadap Sang Pencipta, jenazahnya berhasil
diterbangkan kembali ke negeri kelahirannya. Hari Senin, 18 Maret 1996,
pesawat yang mengangkut jenazah Tom mendarat di Bandara Sentani, didampingi
oleh isteri dan ketiga orang anaknya. Secara spontan, ribuan pendukung Tom
yang kebanyakan berasal dari Kabupaten Yapen-Waropen, mengarak peti jenazah
dan keluarga yang berduka dari Sentani ke Port Numbay.

Kemarahan rakyat Papua karena berita kematian yang misterius itu, serta
merta dilampiaskan terhadap simbol-simbol kekuatan ekonomi dan politik yang
tidak berada dalam tangan bangsa Papua. Pasar Abepura, berbagai kompleks
pertokoan, puluhan rumah pendatang dan gedung instansi pemerintah, serta
mobil-mobil milik pendatang menjadi sasaran amukan massa.

Kematian Tom karena "sakit", setelah bertahun-tahun lamanya para pegiat HAM
di dalam dan di luar negeri gagal memperjuangkan pembebasan dini atas
alasan kesehatan dan kemanusiaan, masih tetap meninggalkan tanda tanya.
Sejauh ingatan saya, inilah kematian tokoh pejuang kemerdekaan Papua Barat
yang kedua di dalam -- atau sekitar -- penjara di Pulau Jawa.

Tokoh Papua yang telah mendahului Tom Wainggai adalah Gustaf Tanawani,
seorang bekas camat yang diadili dengan tuduhan subversi tahun 1984,
dipindahkan ke penjara Malang, dan meninggal secara misterius ketika
berstatus sebagai penghuni penjara Madiun, pada tanggal 8 Januari 1989.
Kebetulan, Gustaf Tanawani juga orang Serui seperti Tom.

Para kerabat dan pejuang HAM di Papua Barat, sudah sepantasnya menuntut
pemerintah pusat di Jakarta membuka kembali berkas Tom Wainggai dan Gustaf
Tanawani, untuk menghilangkan kesan seolah-olah penjara di Jawa bisa
menjadi tempat "menghilangkan" para pejuang kemerdekaan Papua Barat. Mirip
seperti peranan penjara Boven Digul di Papua Barat bagi para pejuang
kemerdekaan Indonesia di zaman kolonialisme Belanda.

Saya rasa, mengusut kembali kelalaian aparat hukum di Jawa, dalam
memelihara keselamatan tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan Papua Barat yang
dibuang ke Jawa, saat ini lebih penting ketimbang mengenang Tom Wainggai
dengan mengabadikan bendera rancangannya.

Bintang Kejora versus Bintang 14:
---------------------------------
Mungkin, sobat-sobat di Papua Barat ada yang kurang senang dengan pendapat
ini. Tapi cobalah kita fikirkan dengan kepala dingin: mana yang lebih
penting, memperjuangkan dihormatinya hak kolektif bangsa Papua untuk
menentukan nasibnya sendiri lewat referendum ataukah cara lain, atau 'adu
bendera' di pusat kota Port Numbay?

Kedua bendera yang kini dipertentangkan, sama-sama punya kelemahan. Sang
Bintang Kejora, konon dirancang oleh seorang Belanda, yang mencoba memadu
warna-warna dasar bendera Belanda dan AS, dengan Sampari yang merupakan
simbol kebangkitan dalam tradisi Teluk Saerera (Teluk Cenderawasih).
Khususnya, dalam mitologi Koreri yang berasal dari suku Biak-Numfoor.

Jadi, kalau mau dilihat dari sudut demokrasi, bendera itu bukan karya
sepenuhnya orang Papua sendiri, juga bukan hasil kompetisi yang terbuka
bagi seluruh rakyat Papua. Lalu, sampari (bintang kejora) terutama
merupakan bagian dari kebudayaan salah satu suku saja, di antara ke-240
suku bangsa Papua Barat.

Bendera 'Republik Melanesia Barat', yang kini populer dengan istilah
"Bintang 14", juga bukan hasil proses perancangan dan perlombaan yang
demokratis. Memang, bendera yang satu ini adalah karya salah seorang putra
terbaik bangsa Papua Barat, yang gugur di penjara rezim Jakarta, tapi
cobalah kita renungkan kembali proses pembuatan dan maknanya.

Menurut surat Tom kepada seorang kawannya di Negeri Belanda, tanggal 14 Mei
1993, bendera itu mulai dirancangnya di Jepang tahun 1969. Pada mulanya,
dia baru punya ide untuk menggunakan tiga warna -- hitam, putih, dan merah.
Kemudian, suatu hari di tahun 1983 di Tallahassee, Florida (AS), dia
mendapat ilham untuk menambahkan warna hijau, membentang dari atas ke
bawah, di bagian kiri bendera itu, mirip dengan posisi jalur merah pada
bendera Papua Barat yang lama. Di atas jalur hijau itu Tom meletakkan 14
bintang yang diatur berbentuk salib.

Selanjutnya, suatu hari di tahun 1986, di Port Numbay, Tom membuka Alkitab
dan menemukan 'pembenaran' terhadap bendera rancangannya, dalam kitab Wahyu
Bab 6, pasal 1 s/d 17. Dari situ dia memberikan makna hitam sebagai warna
maut, warna kematian, yang harus ditebus dengan salib, yakni penderitaan
yang harus dilalui oleh bangsa Papua untuk mencapai kebahagiaan di bumi,
yakni kemerdekaan.

Berbicara soal "bangsa Papua", di sini juga kita bisa lihat re-definisi
jatidiri bangsa penghuni separuh pulau cenderawasih, yang berusaha
dilakukan oleh Tom Wainggai di segala bidang. Nama "Papua", digantikannya
dengan nama "Melanesia". Singkatan "OPM" untuk para pejuang bersenjata di
hutan, digantinya dari "Organisasi Papua Merdeka" menjadi "Organisasi
Pembebasan Melanesia".

Lambang negara, yang tadinya hanya burung mambruk, dilengkapinya dengan
burung kuning dan burung mambruk, mengapit peta kawasan Papua Barat, yang
diganti namanya menjadi "Melanesia". Dan yang paling radikal tapi bersifat
eksklusif, adalah semboyan negara, yang dulunya dikenal dengan istilah "One
People, One Soul", diganti oleh Tom menjadi "Tuhan adalah Gembala Kami",
yang diambilnya dari kitab Mazmur, Bab 23, pasal 1 s/d 6.

Baik salib dalam ujud 14 bintang serta semboyan negara itu, tidak menjadi
masalah bagi Tom, yang memang membayangkan "Republik Melanesia" yang
dipimpinnya itu akan merupakan negara Kristen. Tentu saja, hal ini tak akan
diterima oleh dua kelompok besar dalam gerakan kemerdekaan Papua Barat,
yakni orang-orang Kristen yang menganut faham sekuler, khususnya pemisahan
"Gereja" dan "Negara", serta para pejuang kemerdekaan yang bukan Kristen.

Kelompok non-Kristen ini terdiri dari mereka yang Muslim, dan kebanyakan
berasal dari daerah Fakfak dan Kepulauan Raja Ampat, serta para penganut
agama suku. Kedua kelompok ini tentunya juga tidak ingin negara yang akan
datang "memaksa" mereka masuk agama Kristen, atau mengatur kehidupan
bernegara menurut doktrin-doktrin atau simbol-simbol Kristen.

Saat ini, nama Papua untuk separuh pulau kasuari ini saja sudah
problematis. Soalnya, nama Papua sudah dikenal di negara tetangga, PNG,
untuk belahan selatan, di mana pernah ada gerakan Papua Besena yang
memperjuangkan pemisahan Papua dari Niugini (belahan utara). Itu sebabnya,
di kalangan pejuang kemerdekaan, istilah Papua Barat tetap merupakan
istilah yang lebih lazim dipakai untuk menyebut nama negerinya.

Dibandingkan dengan nama "Papua" yang diberikan oleh Gus Dur (berdasarkan
alasan yang keliru, seolah-olah istilah itu berasal dari bahasa Arab, dan
bermakna "telanjang"), istilah "Melanesia" tidak kalah problematisnya.
Bahkan istilah "Melanesia Barat" pun masih tetap problematis, sebab kawasan
Melanesia, yang merujuk ke warna kulit atau ras penghuninya, sesungguhnya
bukan baru mulai di pulau kasuari, tapi mulai dari Maluku dan Nusa Tenggara
Timur.

Usut Semua Kematian Misterius:
------------------------------
Kesimpulan saya, dari pada memecah-belah kekuatan dengan menyusun barisan
sendiri, dengan menggunakan istilah "Bintang 14", yang seolah-olah
merupakan saingan dari "fraksi Bintang Kejora", lebih baik semua yang ingin
memperjuangkan kemerdekaan membentuk satu presidium.

Soal bendera, para pejuang kemerdekaan sebaiknya bersikap lebih praktis dan
pragmatis, selama tujuan membentuk negara yang merdeka belum tercapai.
Pilihlah bendera yang sudah lebih dikenal oleh rakyat banyak, dan tidak
bersifat eksklusif.

Salah satu tugas mendesak bagi presidium itu adalah menggugat pemerintah
Gus Dur dan Megawati untuk membongkar kasus kematian misterius sejumlah
putra terbaik Papua Barat, seperti Arnold Ap, Edu Mofu, Gustaf Tanawani,
Tom Wainggai, Obeth Badii, Chrisian Misiren,
Aloysius Gobay, Amos Womsiwor,
Obeth Womsiwor, Pakistan Rumbekwan,
Bernardus Adadikam, Max Ongge,
Lazarus Konsu, Hermanus Wayoi, dan masih banyak lagi.

Puri Baru, Minggu, 25 Maret 2000

******************************
OTTIS SIMOPIAREF

Pengikut dari 5 benua

Arsip Blog