Senin, Februari 23, 2009

MENGUAK TABIR PERISTIWA 1 OKTOBER 1965 - MENCARI KEADILAN

MENGUAK TABIR PERISTIWA 1 OKTOBER 1965 - MENCARI KEADILAN


TRAGEDI 1965 BERAWAL DARI TAHUN 1948

Oleh Gustaf bersama - sama Sdr Adam

Menurut Anthony Reid (Revolusi Nasional Indonesia, 1996), peristiwa Madiun 1948 penting bukan hanya dari segi jumlah korban yang cukup besar pada kedua pihak, tetapi karena warisan kebencian yang ditinggalkan antara kelompok kanan (santri) dan kiri (abangan). Warisan kebencian itu yang masih tersisa dalam buku Kesaksian Korban Kekejaman PKI 1948 yang disunting Fadli Zon dan diluncurkan awal September 2005 di hotel Ambhara Jakarta bersamaan dengan diskusi yang digelar oleh Ridwan Saidi cs tentang peristiwa 1948 dan 1965.
Mengenai korban dari pihak santri bahkan para kiai tahun 1948 sudah sering disebut dalam buku pelajaran sejarah. Tetapi korban dari pihak kiri juga banyak sebagai-mana oleh Roeslan Abdulgani (Casperr Schuuring, Roeslan Abdulgani, Tokoh Segala Zaman, 2002). Roeslan menyaksikan pengadilan tidak resmi yang dilakukan oleh tentara. Beberapa orang dijatuhi hukuman mati dan dieksekusi di depan mata Roeslan. Malamnya menurut Roeslan ia menangis keras. Demikian pula mantan Perdana Menteri Amir Syaridudin ditembak mati bersama beberapa tokoh kiri lainnya lainnya tanpa melalui pengadilan. begitu tega memakan anak-anaknya sendiri.
Di luar dua pandangan dari kutub ekstrem yakni kalangan militer ("Peristiwa Madiun 1948 adalah pengkhianatan PKI") dan kelompok kiri ("Peristiwa Madiun 1948 adalah provokasi Hatta"), sudah muncul suara lain yang lebih jernih seperti Hersri Setiawan. Hersri sastrawan Lekra yang sempat bermukim di negeri Belanda, mempertanyakan apakah peristiwa Madiun itu "coup d'etat" atau "coup de ville", upaya perebutan kekuasaan secara nasional atau hanya perlawanan pada tingkat kota/daerah ? (Negara Madiun ?, terbit 2002 dan dicetak ulang dengan revisi tahun 2003). Sudah diterjemahkan tulisan David Charles Anderson yang menyoal apakah peristiwa Madiun itu lebih tepat dilihat sebagai persoalan intern tentara (2003). Skripsi yang bagus dari Soe Hok Gie, Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan, Kisah Pemberon-takan Madiun 1948 (terbit 1997) juga membahas persoalan ini.
Arsip Rusia mengenai aspek ini sudah dimanfaatkan oleh Larissa Efimova dalam artikelnya "Who gave instructions to Indonesian Communist Leader Muso in 1948". Madiun 1948 tidak ada hubungan dengan Moscow.
Yang menarik adalah sebuah disertasi yang sedang ditulis oleh mahasiswa Indonesia pada School of Politics, University of Nottingham, Inggris yang mencoba melihat tragedi 1965 itu sebagai pertentangan kelas. Kelas priyayi (diwakili oleh tentara) bersekutu dengan santri dalam perseteruan melawan dan menghancurkan kelas abangan (komunis). Sebagian komandan tentara yang membasmi G30S/1965 adalah juga prajurit yang sudah berperan sama tahun 1948. Keterlibatan Banser NU dalam pengganya-ngan G30S/1965 antara lain karena tahun 1948 kerabat mereka termasuk korban.
Dimensi geografis
Bila sebelumnya tragedi 1965 seakan hanya berlangsung di pulau Jawa, maka kini sudah mulai terbit buku-buku tentang dampak peristiwa tersebut di daerah. Pembantaian di Bali tahun 1965 disinggung dalam buku I Ngurah Setiawan (Bali, Narasi dalam Kuasa, 2005). Dua artikel mengenai masalah 1965 di Nusa Tenggara Timur yang masing-masing ditulis Paul Webb dan Steven Farram diterjemahkan dan disatukan dalam sebuah buku "Di-PKI-Kan, Tragedi 1965 dan Kaum Nasrani di Indonesia Timur". Dampak tragedi 1965 terhadap perempuan di Sumatera Barat ditulis oleh Yenny Narni, dosen sejarah Universitas Andalas Padang. Pembantaian di daerah Painan dilaporkan oleh Bakry Ilyas (alm). Sudah ada artikel lepas mengenai peristiwa 1965 di Sumatera Selatan antara lain ditulis seorang eksil di Swedia. Pengalaman seorang tapol di Sumatera Utara sudah terbit tetapi laporan secara menyeluruh mengenai daerah ini tampaknya belum dikerjakan.
Sudah bermunculan pula buku-buku yang ditulis oleh kelompok eksil Eropa seperti biografi Umar Said (Pengalaman Hidup Saya) tiga buku yang ditulis oleh Koesni Sulang di antaranya tentang Restoran Indonesia di Paris. Bagaimana melawan rezim diktator Orde Baru dengan masakan, ini kisah unik. Biografi tokoh perempuan Fransisca Fanggidaej ditulis oleh Hersri Setiawan berdasarkan wawancara di negeri Belanda.
Aspek keluarga
Sudah terbit beberapa buku tentang Aidit dan keluarganya. Budi Kurniawan dan Yani Adriansyah menulis tentang pengalaman pahit saudara, anak dan keponakan DN Aidit (Menolak Menyerah, Menyingkap Tabir Keluarga Aidit). Tesis Peter Edman pada sebuah universitas di Australia telah diterjemahkan menjadi Komunisme ala Aidit, Kisah PKI di bawah kepemimpinan DN Aidit 1950-1965. Tentunya akan menarik bila dapat diterbitkan dalam bahasa Indonesia, disertasi sejarawan Perancis Jacques Leclerc tentang dialektika antara desa dengan kota seperti dianalisis melalui pidato-pidato Aidit.
Selain Asahan Alham Aidit yang menulis novel berlatar perang Vietnam, Sobron Aiditlah yang paling produktif menulis. Terakhir bukunya berjudul Catatan Spiritual di balik sosok Sobron Aidit. Sobron yang waktu kecil khatam Quran itu kemudian beralih beragama ke Kristen Protestan pada usia lanjut. Ia mengatakan bahwa Tuhannya tetap yang dulu, tetapi yang berganti hanya ritual. Cita-citanya kini adalah membeli sebuah gereja, karena anggota Perki (Persatuan Kristen Indonesia) di Almere, Belanda melakukan misa dengan menyewa tempat.
Aspek agama ini sebetulnya dibahas oleh Hersri Setiawan dalam kisah tentang pulau Buru. Ada di antara tapol di kamp kerja paksa itu yang berganti agama karena alasan praktis, misalnya demi dapat libur dalam seminggu. Namun di antara korban 1965 ada pula penganut Islam yang taat seperti Haji Ahmadi Mustahal dan Hasan Raid (keduanya telah menulis memoar).
Kalangan keluarga korban peristiwa 1965 sudah mulai ada yang berani bersuara dan mengakui jatidiri mereka seperti peragawati terkenal Okky Asokawati dan Dr Ikrar Nusa Bhakti. Walaupun ada pula yang sampai akhir hayatnya masih membantah seperti Alm Cacuk Sudaryanto (Belajar Tanpa Henti, ditulis bersama Bondan Winarno). buku Jangan Menoleh Ke Belakang, Okky menceritakan bahwa ayahnya adalah AKBP Anwas Tanuamijaya yang namanya tercantum sebagai wakil ketua Dewan Revolusi yang kemudian ditahan belasan tahun di penjara Cipinang, Nirbaya dan Salemba. Untuk menghidupi keluarga, ibunya terpaksa bekerja memberi les piano dan bahasa Inggris. Karena tidak memiliki kendaraan pribadi, setiap minggu dengan bergelantungan di atas bus mereka sekeluarga pergi menyenguk sang ayah di penjara.
Makin banyak terbit karya sastra dengan tema atau latar belakang tragedi 1965, demikian pula film dokumenter tentang peristiwa ini. Yang ditunggu tentunya pandangan pemerintah atau "buku putih" tentang peristiwa 1965 setelah 40 tahun berlalu. Tahun 2004 Presiden Megawati telah meminta kepada Mendiknas Malik Fadjar untuk menulis ulang sejarah 1965. Maka disusunlah sebuah tim yang diketuai Prof Taufik Abdullah untuk menulis buku tersebut dengan beranggotakan 25 penulis.
Tanggal 12-13 April 2005 telah dibahas hasil penelitian itu dalam sebuah lokakarya di Jakarta. Namun naskah yang ada masih jauh dari harapan dan sulit diprediksi kapan bisa terbit.
Yang lebih dekat tentulah buku dokter Ribka Ciptaning yang akan diluncurkan tanggal 1 Oktober 2005 dengan pembicara kunci KH Abdurrachman Wahid dan Ali Sadikin. Sebelumnya Ciptaning menulis buku "Aku Bangga Jadi Anak PKI" (2002). Apa judul buku barunya ? Tunggu sajalah, pasti mengagetkan.
(Dr Asvi Warman Adam, Ahli Peneliti Utama LIPI)

*********** 0 0 0 0 0 **********

Cofdri77 wrote:

Berbagai Versi tentang Sebuah Tragedi.
Tragedi 30 September telah terjadi 40 tahun yang lalu. Banyak fakta objektif yang bersifat mutlak dan tidak bisa dipungkiri; antara lain keterlibatan PKI; ambiguitas Soekarno; intrik dalam tubuh militer (khususnya AD); serta kedekatan hubungan personal antara pelaku utama G 30 S dengan Mayjen Soeharto, Pangkostrad/ Pangkopkamtib.
G 30 S juga tidak dapat diabaikan begitu saja, mengingat bahwa peristiwa tersebut menjadi triggering factor bagi operasi paling efektif pembasmian suatu ideologi di sebuah negara. Stigmatisasi yang diterapkan Soeharto terhadap mereka yang tidak terlibat langsung dengan komunisme -- misalnya melarang anak-anak eks tapol untuk menjadi pegawai negeri -- juga merupakan cara yang efektif untuk menutup kemungkinan bangkitnya komunisme di negeri ini.
Telah banyak penelitian, kajian ataupun literatur yang mengkaji collapse-nya komunisme di Indonesia, baik yang ditulis oleh pakar dari luar negeri maupun dalam negeri. Berbagai versi tentang G 30 S pun muncul. Setidaknya, ada enam teori yang ada dalam penulisan mengenai peristiwa tersebut, masing-masing adalah sebagai berikut :
a. Pelaku Utama G 30 S adalah PKI dan Biro Khusus
Dengan memperalat unsur ABRI, tokoh-tokoh Biro Khusus PKI merencanakan putsch ini sejak lama. Tujuannya untuk merebut kekuasaan dan menciptakan masyarakat komunis di Indonesia. Tentu saja, pemerintah Orba adalah pihak yang pertama kali menyetujui teori pertama ini. Buku Putih Pengkhianatan G 30 S/PKI yang diterbitkan oleh Sekretariat Negara (1994) merupakan penjelasan secara lengkap atas peristiwa paling tragis itu. Sejarawan Nugroho Notosusanto dan Ismail Saleh adalah penulis domestik pertama yang menulis versi ini, bukunya berjudul Percobaan Kup Gerakan 30 September di Indonesia, terbitan Jakarta, 1968. Penulis luar negeri yang dikategorikan masuk dalam versi ini adalah Arnold Brackman, penulis buku The Communist Collapse in Indonesia, terbitan New York tahun 1969.
b. G 30 S adalah Persoalan Internal AD
Versi kedua beranggapan bahwa G 30 S adalah persoalan internal AD yang didalangi sebuah kelompok terbatas. Persiapan gerakan dilakukan secara teliti oleh kelompok tersebut, dengan cara menyusupi PKI. Versi kedua ini ditulis oleh MR. Siregar (Tragedi Manusia dan Kemanusiaan, Kasus Indonesia: Sebuah Holokaus yang Diterima sesudah Perang Dunia Kedua - terbit pertama kali tahun 1993 di Amsterdam). The 30 September Movement karya Coen Holtsappel juga termasuk dalam versi kedua ini. Demikian pula Cornell Paper (A Preliminary Analysis of the October 1, 1965: Coup in Indonesia) karya Ben Anderson dkk, yang diterbitkan di Ithaca, 1971. Whose Plot ? New Light on the 1965 Events karya WF. Wertheim juga mengacu pada versi yang memojokkan ABRI, khususnya Angkatan Darat ini. Buku karya Wimandjaja K. Litohoe, Primadosa, juga mengarah pada sintesis bahwa G 30 S merupakan kudeta yang dirancang oleh sekelompok orang AD dibawah pimpinan Soeharto.
Penyusunan Mozaik ...
Bisa dikatakan bahwa tahun 1965 merupakan puncak krisis politik di Indonesia. Tahun ini diawali dengan hancurnya BPS (Barisan Pendukung Soekarno) sebuah barisan yang sebetulnya bercorak oposisi terhadap Soekarno tetapi menggunakan kamuflase politik .. (salah satu anggota BPS yang sampai sekarang masih hidup adalah Ibu Sudjinah, beliau pernah ditahan lama sekali oleh rezim Orde Baru, sekarang beliau mengajar bahasa Inggris private dan juga sedang mempersiapkan memoarnya untuk diterbitkan).
Keputusan Presiden Soekarno untuk keluar dari PBB juga merupakan salah satu pemicu dari keributan-keributan yang kemudian terjadi di tahun 1965. Dengan keluarnya Indonesia dari PBB, otomatis perselisihan antara Soekarno dan "Nekolim" semakin meruncing tajam. Keluarnya RI dari PBB menye-babkan timbulnya spekulasi bahwa kita akan semakin dekat dengan "Kawan di Utara" yang dalam hal ini adalah RRT. Bahkan terdengar sas-sus bahwa kemungkinan Indonesia akan mendapat senjata nuklir dari pemerintah RRT yang pada masa itu dipimpin oleh PM Chou En Lai.
Situasi Indonesia sangatlah buruk, dengan turunnya ekspor dan besarnya pinjaman untuk keperluan tentara, mendongkrak utang luar negeri jadi US$ 2,4 miliar. Tapi yang paling berpengaruh terhadap gejolak politik dalam negeri kondisi kesehatan Bung Karno. Ia menolak anjuran tim dokter dari Wina, Austria, agar penyakit ginjalnya dioperasi. Keengganannya itu disebabkan nasihat seorang dukun yang meramalkan bahwa ia akan mati oleh pisau!. Kemudian ia berkonsultasi dengan para dokter-dokter dari Cina dan memilih cara pengobatan secara akunpunktur. Sempat dalam salah satu pidatonya di bulan Januari 1965, Bung Karno mengejek "desas-desus Nekolim" yang mengeluarkan rumors tentang sakitnya.
Faktanya, gangguan kesehatan Bung Karno tidak dapat disembunyikan lagi. dalam suatu pertemuan umum tanggal 05 Agustus 1965, ia diserang sakit yang kemudian timbullah desas-desus kuat bahwa ia sedang dalam keadaan gawat.
Kecemasan perebutan kekuasaan pun akhirnya timbul. Hal lain terjadi adalah ketika pada tanggal 30 September 1965, siang hari (beberapa jam sebelum penculikan para jenderal-jenderal TNI AD), ditengah-tengah pidatonya, Presiden Soekarno terpaksa berhenti. Rupanya disebabkan oleh kurang enak badan. Beberapa menit kemudia, ia melanjutkan pidatonya.
Dan kemudian terjadilah peristiwa tragis itu. Sekelompok orang menyusun sebuah rencana - yang masih spekulatif apakah berada dalam sebuah skenario besar atau bukan - yang rentetannya sangat panjang. Dini hari 1 Oktober 65, enam jenderal dan satu perwira pertama AD menjadi korban kelompok tersebut. Peristiwa ini dengan cepat merubah peta politik Indonesia. Pilar kekuasaan Presiden Soekarno, yakni golongan kiri (baik yang komunis maupun nasionalis) sama - sama hancur. Ayunan pendulum politik bergeser pada AD. Terbunuhnya jenderal-jenderal loyalis terhadap Soekarno, semakin memperburuk posisi dan kondisi sang "Founding Father" tersebut
Kendati sangat menyadari bahwa PKI berada di sisi yang tidak menguntungkan dan demikian juga dengan AURI, Presiden Soekarno tetap memainkan kartunya (yang benar-benar sudah sangat lemah) untuk mempertahankan kekuasaan. Dia tinggal memiliki beberapa jenderal AD yang masih dapat dipercaya, serta segelintir politisi yang loyal. Namun seberapa jauh ia mampu bertahan ? ...

*********** 0 0 0 0 0 **********





Surat Soekarno kepada Dewi
Soekarno prihatin sekali dengan situasi pasca G 30 S, ketika terjadi saling bunuh diantara sesama bangsa Indonesia. Soekarno memandang, pembantaian terhadap orang-orang komunis yang dilakukan di seluruh negeri, merupakan sesuatu yang "merusak hasil kerjanya selama duapuluh tahun".
Kita memang harus melihat sikap Soekarno sebagai sikap seorang negarawan, founding father, yang berobsesi membangun Indonesia yang plural -- bahkan pluralitas ideologi yang digambarkannya dalam konsep (yang kini jadi utopis), yakni NASAKOM. Keprihatinan Soekarno terhadap aksi pembantaian orang-orang komunis, tampaknya dilandaskan pada aspek persatuan bangsa.
Bulan November 1965, Presiden Soekarno membentuk Factfinding Comission (Komisi Pencari Fakta) untuk menertibkan, membersihkan dan menyelesaikan oknum-oknum sipil yang tersangkut G 30 S. Panitia Presidium -- juga disebut sebagai Panitia III Menteri -- ini beranggotakan Oei Tjoe Tat dari Partindo, Brigjen. Pol. Moedjoko (secara politis dekat dengan Waperdam III Chairul Saleh) dan H. Aminnudin Aziz (seorang tokoh Nadhlatul Ulama). Namun akhirnya Panitia itu gagal total. Sementara situasi politik semakin panas. Demonstrasi terus terjadi. Universitas Res Publica (sekarang menjadi Universitas Trisakti) didemonstrasi, ditembaki dan dibakar massa
Soekarno tidak sanggup lagi mempertahankan kekuasaan. Perlahan tapi pasti, dia dilolosi oleh kekuatan baru, yakni aliansi antara AD, mahasiswa, serta masyarakat yang tidak sepaham dengan PKI maupun aliran kiri pada umumnya.
Ratna Sari Dewi, istri ketiga Bung Karno, bertutur bahwa beberapa hari sebelum 30 September 1965, Presiden Soekarno memanggil Jenderal Yani. Bung Karno bertanya, "Saya mendapat informasi tentang Dewan Jenderal yang mau bikin kudeta pada 05 Oktober. Apakah kau tahu?" Jenderal Yani menjawab: "Saya tahu. Mereka sudah ada di tangan saya. Bapak enggak usah khawatir." Bung Karno percaya Yani. Tetapi nyatanya, Jenderal Yani menjadi salah satu korban penculikan G 30 S.
Ketangkasan Mayjen Soeharto meredam aksi G 30 S memancing kecurigaan Dewi. Katanya, "Sepertinya, Soeharto sudah tahu semua, seakan telah direncanakan. Bagaimana dia bisa memecahkan masalah yang terjadi pada malam 30 September dan segera bertindak. Begitu Cepat. Kalau belum tahu rencana G 30 S, ia tak mungkin bisa melakukannya."
Bagaimana dengan Soekarno ?, apakah dia mengetahui gerakan tersebut ? Menurut Ratna Sari Dewi, "Bapak tidak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi. ... Tanggal 01 Oktober, Bapak masih ada di Jakarta dan saya bisa mengunjungi dia di Halim. Jadi hari itu, Bapak tidak kirim surat. Ini surat tanggal 2 yang dikirim dari Istana Bogor. Isinya, dia baik-baik saja, sedang sibuk menghadiri petemuan dengan para petinggi militer guna menyelesaikan konflik militer. Bapak membantah keterlibatan PKI dan hanya menyebut konflik dua kelompok militer."
Memang, tanggal 02 Oktober itu Bung Karno mengirimkan surat kepada istri yang konon paling dicintainya itu. Begitulah kebiasaan Bung Karno bila dia tidak sempat berkunjung ke Wisma Yaso, tempat kediaman Ratna Sari Dewi. Aktifitas Bung Karno dalam hari-hari pertama setelah G 30 S meletus, memang tidak banyak. Mobilitasnya sangat terbatas. Pada tanggal 1 pagi di Halim, sorenya ke Istana Bogor, dan tinggal disana untuk beberapa hari sambil memantau situasi.
Esoknya, tanggal 3 Oktober, Dewi kembali mendapat surat dari suaminya. Isinya secara detail: surat Soekarno kepada Dewi :
...
"Dewi sayangku, saya senang menerima dua pucuk suratmu. Saya senang kamu mendengar perkataanku dan terima kasih kamu menaruh perhatian. Pranoto agak lemah, tapi hanya dia di Mabes Angkatan Darat yang bisa berhubungan dengan pihak kiri dan kanan. Saya menunjuk dia sebagai care-taker Panglima AD untuk menangani urusan sehari-hari AD. Komando AD tetap ada di tangan saya. Segera sesuatunya tentang kembali, saya akan menunjuk Komandan AD definitif. Saya tidak tahu dimana Yani atau apa yang sesungguhnya terjadi dengannya. Segera sesuatunya aman, saya akan kembali ke Jakarta. Saya tetap memikirkanmu. Kamu tahu betapa cintaku kepadamu.”
1000 cium,
Soekarno
Dari surat tertanggal 03 Oktober 1965 yang dikirim dari Istana Bogor, diketahui banyak hal penting. Pertama, Soekarno menghendaki AD dipegang orang yang netral, tidak condong ke kanan atau kiri. Keinginan seperti ini sangat logis, apalagi mengingat jiwa nasionalisme Soekarno yang amat orientasi pada persatuan.
Kedua, Soekarno belum mengetahui nasib Yani dan jenderal-jenderal lain yang diculik Gerombolan 30 September. Apa yang tertulis dalam surat Soekarno ini, barangkali agak kontradiktif dengan dugaan Ulf Sundhaussen bahwa pada tanggal 03 Oktober, Soekarno sudah mengutus salah seorang perwira Cakrabirawa untuk mengambil jenasah para jenderal.
Sebuah surat tertanggal 05 Oktober dikirimkan lagi kepada Dewi. Isinya antara lain:
“Sayangku, Dewi. Hari ini pemakamaan enam jenderal dan satu ajudan jenderal. ... Soebandrio dan Leimena tidak mengikutiku menghadiri upacara pemakaman karena alasan keamanan. Mereka mengatakan tak ada seorang pun yang yakin apa yang terjadi pada suasana upacara yang emosional begitu. Sayangku, perasaanmu benar: ...... adalah seorang mata-mata. Namanya tertulis didalam daftar orang-orang yang kita curigai. Saya memanggil enam jenderal yang lain untuk berbicara dengan mereka setelah upacara pemakaman itu: Moersid, Sutardio, Ashari, Dirgo dan Adjie dari Bandung. Mereka adalah jenderal-jenderal yang berpengaruh di Angkatan Darat. Untuk jenderal-jenderal yang terbunuh, kita tunggu hasil investigasi rahasia kita: apakah mereka benar-benar akan melakukan kudeta terhadap saya atau tidak ? Informasi bertentangan satu sama lain. Benar, mereka semua 'communistophobie'. Tentang Mr. P., saya akan menceritakan kepadamu nanti. Saya tidak dibawah pengaruh seorang pun. Jangan khawatir tentang itu. Begitu kondisi mereda, saya akan pindah ke Jakarta. Saya sangat rindu kamu, istriku. Oh, cintaku, aku cinta kamu. "
Oh, 1000 cium,
Soekarno
************************
Ada yang janggal dari surat ini. Yakni pernyataan Bung Karno sendiri bahwa dia menghadiri acara pemakaman para jenderal yang terbunuh. Menurut banyak sumber, Bung Karno tidak hadir dalam acara tersebut. Sejumlah analis memperkirakan, ketidakhadiran Presiden dalam acara pemakaman para jenderal Pahlawan Revolusi (yang memungkinkan pidato Nasution menjadi headline yang abadi) bernuansa politis. Tindakan itu mencerminkan pandangannya, bahwa G 30 S adalah persoalan intern tentara, khususnya AD.
Pernyataan lain dari isi surat Bung Karno kepada Dewi adalah soal Mister P. Siapakah dia ? Betulkan dia mata-mata ? agaknya, hanya Bung Karno dan Dewi sendiri yang tahu tentang hal ini.
Tanggal 08 Oktober, kembali Soekarno berkirim surat. Isinya antara lain:
"Dewi sayangku, jangan salah sangka terhadap saya. Saya tersenyum pada Sidang Kabinet untuk menunjukkan kepada dunia bahwa saya aman dan bisa menguasai keadaan. (Kamu tahu pers Nekolim mengatakan saya jatuh atau hampir jatuh). Juga untuk memberi rakyat keyakinan dan kekuatan. Tahukah kamu bahwa saya menyatakan jenderal-jenderal yang terbunuh itu Pahlawan Revolusi dan saya menaikkan pangkatnya setingkat lebih tinggi ? Tahukah kamu bahwa saya memutuskan untuk memakamkan Irma Suryani (anak perempuan Nasution) di Taman Pahlawan ? Hanya lantaran keluarga Nasution memutuskan pemakaman putrinya di Kebayoran. Saya tidak tahu tentang Nyonya Martono. Mengapa kamu begitu marah padaku ? Itu membuatku sedih dan terpisah. Tenanglah, sayang. Saya segera ke Jakarta kembali. Saya akan berbicara denganmu. Tenanglah, Dewi. Jangan membuat aku terpisah. Aku cinta kamu."
1000 cium,
Soekarno
**************************
Seandainya surat-surat Soekarno itu sungguh-sungguh otentik, bisa saja semua itu menjadi bahan kajian sejarah yang sangat penting. Dalam surat-surat yang bersifat pribadi, biasanya tercurah banyak hal tanpa kamuflase. Otentisitas sejarah sebetulnya bisa didapatkan dari sana, tentu seandainya pemilik dokumen pribadi itu tidak berkeberatan surat-surat pribadi itu diuji otentisitasnya.
Betapa pun pengakuan Dewi Soekarno tentang suaminya di hari-hari beraksinya G 30 S, memberikan nuansa yang lain.

*********** 0 0 0 0 0 **********

IBRAHIM ISA dari BIJLMER
----------------------
25 Agustus 2005
KUSNI ANAK DAYAK - PUTRAINDONESIA
Bukan sekedar karena ia kukenal baik, bukansekedar, karena ia sahabat dekatku. Bukan pula karena ia tergolong"orang yang terhalang pulang" . Bukan --- bukansekadar itu saja, yang membikin aku menulis hari ini. Penyebabnya, ialah, karena bagikunama J.J. Kusni -< nama aslinya Kusni Sulang> - menyandang suatu pengertian dan makna yang lebih fundamentaldan lebih aktual. Pada nama Kusni terlukis nasib dan perjuangan seorang seniman Dayak mantan anggota Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat, warganegara Indonesia yang cinta daerah dan asal etnisnya (Dayak), seorang patriot yang mencintai dan membela Republik Indonesiasejak masa mudanya, ketika masih berkarya dan bergiat di Jogyakarta. Sampai dewasa ini hak-hak politiknya, hak-hak kemanusiaannyatelah dirampas oleh rezim Orba, paspor Indonesia dan kewarganegaraanya telah dicabut tanpa alasan sah, tanpa proses pengadilan apapun. Bukan sekadar alasan-alasan itu sajayang menyebabkan aku menulis kalii ini. Hal-hal itu dengan sendirinya adalah penting, bahkan amat penting!
Yang menjadi penyebab langsungaku menyorotipenyair dan penulis Kusni Sulang sekarang i ini,terus terang --- pemicunya, ialah sebuah artikel yang ditulis di.k. berbahasa Inggris, ''Jakarta Post'',Agustus 2005. Tulisan itu adalah tentang sahabatku, Kusni, berjudul EXILED WRITER TRIES TO RECLAIM RIGHT TO BE INDONESIAN, ditulis oleh wartawan s.k. tsb, Evi Mariani. Diterjemahkan dengan bebas ke dalam bahasa Indonesia, menjadi sbb: SEORANG PENULIS EKSIL BERUSAHA UNTUK MENGKLAIM KEMBALI HAK MENJADI ORANG INDONESIA.
Tentu, maksud sang wartawan ialah, bahwa Kusni secara hukum berusaha mem-peroleh kembali hak kewarganegaraannya, yang secara sewenang-wenang telah dirampas oleh rezim Orba, atas tuduhan terlibat ataupun berindikasi terlibat dengan G30S. Atau karena ketika itu Kusni adalah seorang anggota LEKRA, suatu organisasi kebudayaan Indonesia yang beraliran progresif, pendukung politik Presiden Sukarno dan Pancasila.LEKRA dikenal sebagai sebuah organisasi kebuda-yaan Indonesia yang paling masal keanggotaannya dan yang kegiatannya merakyat, yang melakukan kegiatan untuk melaksanakan prinsip KEBUDAYAAN DARI, DAN UNTUK RAKYAT. Yang jelas perampasan hak kewarganegaraan Kusni itu dilakukan oleh rezim Orba di luar hukum, bertentangan dengan hak warganegara Indonesia sesuai dengan UUD- RI. Sebagaimana halnya rezim Orba telah mencabut ratusan paspor dan kewarganegaraan orang-orang Indonesia yang pada tahun 1965 sedang studi atas tugas negara, melakukan kegiatan persahabatan antara Indonesia dengan negeri lain, ataupun sedang berkunjung ke luar negeri untuk urusan negara maupun pribadi.
Tanpa adanya tulisan wartawan Jakarta Post Evi Mariani sekalipun, masyarakat budaya Indonesia cukup kenal siapa J.J. Kusni, atau nama J.J. Budhisaswati <'pen-name-nya' sebagai penulis dan penyair> .Tiga buah bukunya telah terbit di Indonesia, a.l. kumpulan syair berjudul "Sansana Anak Naga dan Tahun-tahun Pembunuhan" . Kusni sering menulis, menulis dan banyak sekali menghasilkan tulisan bermutu tentang masalah-masalah budaya Indonesia, Perancis (memper-kenalkan budaya Perancis kepada pembaca-pembaca Indonesia), tetapi terutama yang menyangkut budaya suku Dayak. Kusni juga menulis mengenai pembelaan HAM, menggugat pelanggaran besar Orba terhadap Hak-Hak Azasi Manusia; mengenai pembantaian lebih sejuta warganegara Indonesia yang tak bersalah pada tahun-tahun 1965-66-67. Dan mengenai puluhan juta warganegara Indonesia lainnya, terutama keluarga eks-tapol dan yang dituduh atau dianggap berada diluar hukum Indonesia,dan oleh rezim Orba ditempatkan di luar masyarakat dengan diberi cap tidak''bersih lingkungan''. Kurang lebih 20 juta warganegara Indonesia, tanpa proses pengadilan apapun, sampai dewasa ini masih terus didiskriminasi. Hak mereka dicabut untuk menjadi guru, pegawai negeri, tentara dan polisi, tidak boleh jadi lurah, bahkan jadi dalangpun dilarang. KTP mereka sebagai penduduk sah Indonesia, itupun sampai sekarang masih didiskriminasi. Seorang warganegara Indonesia bila sudah mencapai 70 tahun, berhak memperleh kartu penduduk seumur hidup. Tapi puluhan juta warganegara yang patuh hukum,banyak diantara mereka dulu aktif ambil bagian dalam perjuangan anti kolonialisme dan dalam kegiatan membela Republik Indonesia,dewasa ini karena menyandang stempel keluarga eks-tapol,maka menderita diskriminasi selama rezim Orba sampai saat tulisan ini dibuat.
Memang Kusni pertama-tama adalah anak Dayak. Sekaligus adalah putra Indonesia Diantara 'orang-orang yang terhalang pulang', Kusni termasuk yang langka sehubungan dengan prestasi yang dicapainya di bidang ilmu, di bidang studi. Hasil itu diperolehnya biarpun hidup dalam keadaan sulit, harus melakukan kerja badan seringkali lebih dari 8 jam sehari, apakah itu sebagai sopir truk, sebagai pelayan toko ataupun ikut membangun Restoran Indonesia . Sebagai hasil ketekunan studinya ia berhasil memperoleh gelar Ph.D pada suatu universitas di Paris. Desertasinya yang disokong oleh mendiang Profesor Wertheim dari Belanda, adalah mengenai masalah TURBA, t u r u n k e b a w a h, suatu kegiatan riset di Indonesia pada zaman pemerintahan Presiden Sukarno dulu, dimana Kusni turut ambil bagian..
Seperti halnya Kusni, juga sahabatku lainnya bernama TM Siregar tergolong "orang yang terhalang pulang". Sambil'' kelayaban'' di luar negeri, karena paspornya dicabut KBRI rezim Orba, dan sudah mencapai tingkat ''manula" (ketika itu 70th), namun masih menyempatkan diri untuk melanjutkan studinya dan memperoleh gelar Ph.D. (doktor) di Universitas Wageningen beberapa tahun yang lalu. Karya ilmiahnya, desertasinya berkenaan dengan Perubahan di Pedesaan Tiongkok dewasa ini.-- China's Economic Reform -- From Rural Focus to International Market --.T.M. Siregar sudah kembali ke Indonesia, tetapi masih menyandang paspor w.n. Belanda. Ia harus menempuh prosedur lika-liku untuk memperoleh kembali hak kewarga-negaraannya. Suatu bukti lagi, di Indonesia, keadilan itu bukan hadiah penguasa, tetapi hanya bisa diperoleh melalui perjuangan. Padahal, ketika menjabat Presiden RI. Abdurrahman Wahid, telah mengeluarkan Instruksi Presiden No. 1, Tahun 2000, untuk merehabilitasi hak-hak kewarganegaraan ''orang-orang yang terhalang'' pulang.Presiden Wahid menugaskan Menhamkam Yusril Ihza Mahendra ketika itu, pergi ke Den Haag bertemu dengan para warganegara "yang terhalang pulang" itu, dan selanjutnya mengurus rehabilitasi mereka itu. Celakanya, Yusril bukan saja tidak melaksanakan tugas negara itu, tetapi bahkan melempar Isntruksi Presiden No 1/2000 itu ke ''laci meja tulis'' kantornya untuk selanjutnya ''memeti-eskannya".
Di Eropah dewasa ini masih ada ratusan orang Indonesia yang ''terhalang pulang'' , yang nasibnya sama seperti Kusni, Umar Said, T.M. Siregar. Ada yang sudah meninggal di luarnegeri, seperti almarhum penyair Agam Wispi, almarhum pelukis Basuk Resobowo, dan almarhum dokor pedagogik Waluyo,yang hak-hak kewarga-negaraan dan politiknya sebagai orang Indonesia telah dengan sewenang-wenang dicabut oleh rezim Orba. Sebagaimana halnya duapuluh juta manusia Indonesia yang menderita diskriminasi sosial, politik dan ekonomi, oleh rezim Orba dan ''orang-orang Indonesia yang terhalang pulang", semua mereka itu berhak memperoleh kembali kewarganegaraan Indonesianya. Karena, --- itu adalah hak mereka yang dijamin oleh UUD-RI. Maka, bila penguasa terus melakukan diskriminasi tsb, tidak sungguh-sungguh berusaha untuk menangani serta mengkoreksi politik Orba yang salah itu, berarti pemerintah terus membiarkan pelanggaran terhadap UUD RI dan HAM, terhadap sejumlah besar warganegara sendiri.
Adalah kewajiban pemerintah sekarang ini yang menyatakan akan melaksanakan HAM dan memberlaku-kan Reformasi, untuk merehabilitasi mereka. Apalagi bila dikaitkan dengan janji pemerintah untuk mereali-sasi usaha mencari kebenaran, keadilan dan rekonsiliasi nasional, maka bukankah janggal sekali bila pemerintah yang begitu santer bicara tentang rekonsiliasi masih saja menyumbat telinga dan menutup mata terhadap keadaan lebih duapuluh juta warganegara Indonesia, yang disebabkan oleh fitnahan dan tuduhan rekayasa keterlibatan dengan G30S, sampai dewasa ini masih menderita lahir dan bathin.
Mengangkat kasus J.J. Kusni dalam usahanya untuk memperoleh kembali hak kewarganegaraan Indonesanya, bagiku -- sekaligus mengangkat nasib dua puluh juta warganegara Indonesia yang sampai saat ini masih didiskriminasi di Indonesia, sebagai akibat pelanggaran HAM yang oleh Orba sejak berdirinya rezim tsb. * * *
*********** 0 0 0 0 0 **********

Sementara DPR sedang sibuk mempertimbangkan pemberian amnesti, abolisi dan rehabilitasi bagi anggota GAM; baik pemerintah RI maupun kalangan GAM, ternyata melupakan orang-orang Aceh lain. Itulah orang-orang Aceh yang dicap anggota PKI dan semua onderbouwnya, pendek kata orang Aceh yang beraliran kiri. Jangankan pengampunan atau pemulihan nama baik, orang-orang Aceh kiri ini, seperti halnya orang-orang kiri Indonesia lainnya, tidak pernah memperoleh perhatian. Salah satunya adalah Tom Iljas yang sekarang menetap di Swedia. Berikut ini penuturan Tom Iljas kepada Radio Nederland.
Pedih
Tom Iljas [TI]: "Pedih memang. Pedih. Kalau saya bilang waktu itu istilahnya iri hati ya karena mereka itu jelas-jelas angkat senjata, berontak, hendak memisahkan diri dari Indonesia. Sekarang dengan tercapainya
TI: "Betul. Itu tidak hanya Aceh. Setiap pemberontakan yang terjadi, sejak adanya republik, apakah itu DI TII, apakah itu Permesta PRRI, apakah itu di Papua, atau di Poso, di mana-mana di Maluku. Semuanya sesudah diselesaikan, sebagian juga ditindas secara militer, tapi sesudah selesai kan tidak berkelanjutan diskriminasinya. Sesudah selesai kemudian ada masalah rekonsiliasi, apakah kekeluargaan kan disele-saikan dengan baik-baik."
"Saya ambil contoh ya, Ahmad Hussein yang waktu itu pentolan pemberontakan di Sumatra Barat, PRRI. Di Jakarta, mereka hidup sendiri, hidup senang. Tidak pernah dibawa ke pengadilan. Jadi pedagang kaya, diberi fasilitas oleh pemerintah."
RN: "Sementara, pihak GAM yang mengangkat senjata pada ujung akhirnya juga begitu. Artinya memperoleh hak-hak sipil-lah singkatnya."
TI: "Sepenuhnya, malah GAM dikasih modal, dikasih tanah, dan sebagainya."
RN: "Jadi kalau menurut Anda, mengapa ini ada suatu perbedaan seolah-olah ada khusus buat yang PKI atau yang dianggap bekas PKI atau nasionalis kiri ini?"
Berontak dulu
TI: "Saya tidak tahu kenapa. Saya pernah bercanda sama beberapa diplomat dari KBRI di Stockholm ya. Apa ya kira-kira, apa barangkali kita ini tidak punya kekuataan untuk dibikin bargaining ya. Tidak punya organisasi, tidak punya senjata kayak GAM sehingga tidak ada yang menggubris. Itu kepala bagian politik di KBRI sini bilang pada saya, "Pak Tom berontak dulu saja supaya bisa digubris." Bergurau tapi."
RN: "Tapi ini bergurau-gurau yang sangat sinis ini."
TI: "Sangat sinis, memang."
RN: "Jadi seolah-olah angkat senjata dulu dong biar bisa kembali hak sipilnya."
TI: "Ya, artinya ndak punya apa-apa, ndak punya organisasi, ndak punya kekuatan untuk dibikin bargaining, orang ndak ada yang menggubris. Kecuali Gus Dur, tidak ada yang menggubris sejak zaman Habibie sampai sekarang."
RN: "Ya, Anda menyebut Gus Dur. Maksudnya ketika itu Menteri Kehakiman Yusril Ihza Mahendra pergi ke Belanda?"
TI: "Ya, betul. Satu-satunya yang mengangkat isu ini cuma Gus Dur walaupun oleh Yusril tidak ditindaklanjuti setelah dia pulang dari Belanda, kan?"
RN: "Tapi ketika itu, Anda berharap banyak?"
TI: "O ya, tentu saja. Tidak hanya saya yang berharap banyak waktu itu. Banyak sekali. Semua pada gembira kan."
RN: "Anda siap pulang ketika itu?"
TI: "Kenapa tidak?"
RN: "Tapi poinnya di mana, sekedar untuk pulang atau hak-hak sipil?"
Minta maaf dulu
TI: "Kalau sekarang ya, kalau bicara soal itu kalau dilihat dari kenyataannya memang para eks mahasiswa atau yang terdampar di luar negeri, sekarang sudah banyak yang tua dan sakit. Soal-soal begini tentu juga diperhatikan efek ekonomisnya. Mungkin malah menjadi beban saja di Indonesia. Tapi kuncinya bukan di situ."
"Masalahnya itu, kami-kami ini kan orang yang tidak bersalah. Pemerintah belum pernah menyatakan minta maaf apalagi merehabilitasi atau kompensasi. Minta maaf saja tidak. Jadi intinya dulu yang disele-saikan. Kalau itu sudah selesai, masalah dalam praktek mungkin juga ada yang tidak bisa pulang karena kesehatan tapi itu soal lain."
RN: "Jadi maksud Anda, kalau soal pribadi ada yang tua ada yang muda, atau ada yang sakit ada yang sehat, ini soal masing-masing. Artinya soal pulang soal masing-masing. Tapi yang lebih prinsipil soal maaf?"
TI: "Betul. Masalahnya di-clearkan. Kalau memang kami ini salah, seperti saya, mbok di bawa ke pengadilan. Saya bersedia. Tidak tahu salahnya, tidak pernah dihukum, ndak pernah diadili, tapi 40 tahun hak-haknya dirampas."
RN: "Tapi ini kalau menyangkut GAM kan tidak ada soal maaf memaafkan. Artinya keduanya menandatangani suatu perjanjian. Keduanya berjanji secara bermartabat. Masalahnya, kalau GAM memperoleh hak sipil. Seharusnya Anda kan menuntut hak sipil bukan soal maaf?"
TI: "Soalnya dua. Antara GAM dengan RI memang maaf-memaafkan tidak ada, karena mereka memang mengangkat senjata. Jadi sekarang ada perjanjian kedua belah pihak yang bermartabat. Kalau saya itu, itu bukan orang yang mengangkat senjata tapi ndak tahu salahnya, dihukum."
"Kan yang menghukum yang harus meminta maaf, begitu. Bahwa saya menuntut apa tidak, itu soal saya. Selama ini juga kita menuntut melalui beberapa organisasi di Jakarta,tapi kan ndak ada yang menggubris."
Demikian Tom Iljas, salah seorang Aceh kiri yang kini menetap di Swedia.
******************
Kolom IBRAHIM ISA
14 Agustus 2005.
-------------------------------------------------------------------------------
SAMA-SAMA "EKSIL" - TAPI DIDISKRIMINASI -
* * *
Wawancara Tom Iljas dengan RCTI:

Dari sahabat baik saya Tom Iljas (Stockholm, Sweden), baru saya terima transkrip wawancara sahabat saya itu dengan wartawan RCTV (Rajawali Citra Televisi Indonesia), yang berlangsung pada pagi hari, tanggal 11 Agustus, 2005. Pandangan yang diajukan oleh Tom Iljas, adalah unik. Suatu pandangan salah seorang yang menurut istilah Gus Dur adalah "orang yang terhalang pulang". "Orang yang terhalang pulang" jumlahnya meliputi ratusan orang. Mereka itu adalah produk kesewenang-wenangan politik Orba yang tanpa proses apapun telah mencabut paspor dan kewarganegaraan mereka atas tuduhan terlibat atau berindikasi terlibat dengan G30S. Sesudah Presiden Suharto digulingkan (Mei 1998) oleh Gerakan Reformasi, berdiri pemerintah Presiden Abdurrahman sebagai hasil pemilu yang jurdil. Selanjutnya Presiden RI telah mengeluarkan Instruksi Presiden No.1 Tahun 2000, dan khusus mengirimkan Menkum-dang Yusril Ihza Mahenra ke Belanda, untuk mengurus kepulangan mereka-mereka yang "terhalang pulang" itu.
Tetapi Menteri Yusril punya politik lain. Beliau tidak melaksanakan Instruksi Presiden yang dibanggakannya dan dijanjikannya akan dilaksanakannya ketika beliau mengadakan pertemuan dengan para "orang yang terhalang pulang" di Belanda. Kongkritnya, di KBRI Den Haag, pada Januari 2000. Instruksi Presiden itu "dipeti-eskan" oleh Menkumdang Yusril sampai saat ini. Yusril jangankan menjamah, bicara-pun tidak lagi mengenai masalah kepulangan ini. Tidak ada kesimpulan lain tentang menteri ini: Munafik!
Tindakan sewenang-wenang Menkumdang Yusril memang punya latar belakang politik pemerintah yang mendiskiminasikan "orang-orang yang terhalang" pulang yang selama puluhan tahun diperlakukan sewenang-wenang tanpa melalui proses hukum apapun. Padahal mereka-mereka itu sebagian terbesar di kirim bertugas ke luarnegeri untuk studi demi nantinya mengabdi pada pembangunan Republik Indonesia. Mereka ke luarngeri atas tugas pemerintah Presiden Sukarno. Tuduhan terlibat dengan G30S yang dialamatkan kepada mereka-mereka itu, dilakukan penguasa Orba tanpa bukti apapun, semata-mata fitnah dan rekayasa. Politik peme-rintah terhadap mereka-mereka ini samasekali berbeda --- dengan politik yang dijalankan pemerintah terhadap orang-orang "eksil" seperti orang-orang GAM (dulu terhadap orang-orang PRRI-Permesta). Mereka itu (GAM dan dulu PRRI-permesta) jelas-jelas telah melakukan pemberontakan bersenjata terhadap pemerintah Republik Indonesia. GAM jelas berniat hendak mendirikan negara sendiri, yang bisa membawa akibat tercabik-cabiknya Republik Indonesia.
Tapi pemerintah melakukan perundingan dan mencapai persetujuan dengan GAM
Wawancara Tom Iljas, adalah jeritan keadilan yang timbul dari hati nurani dan di-alamatkan kepada pemerintah Indonesia!
Sudah waktunya pemerintah Indonesia mengkoreksi pelanggaran HAM yang dilakukan Orba terhadap warganegaranya sendiri yang tak bersalah, yang ketika itu sedang mengemban tugas negara. Sudah waktunya pemerintah mengambil langkah nyata untuk merehabilitasi 'orang-orang yang terhalang pulang'. Lebih-lebih lagi merehabilitasi -hak politik dan kewarga-negaraan sekitar dua puluh juta warganegara tak bersalah Indonesia, dikenal sebagai "korban peristiwa 65". Pada saat-saat ketika seluruh bangsa akan memperingati Ultah Ke-60 Republik Indonesia, "para korban 65 ' itu masih mengalami tuduhan, diksrimi-nasi dan stigmatisasi - atas tuduhan sewenang-wenang, terlibat atau berindikasi terlibat dengan G30S.
Pemerintah Indonesia, bila sungguh-sungguh hendak menegakkan negara hukum Indonesia, bila benar-benar hendak memberlakukan HAM, maka harus mengambil langkah nyata merehabilitasi para 'korban 65' dan semua 'orang-orang yang ter-halang pulang', seperti Tom Iljas, yang hak-hak kewarganegaraan dan politiknya telah dirampas sewenang-wenang oleh rezim Orba..
Mari ikuti wawancara Tom Iljas di bawah ini:
Interview Tom Iljas dng RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia), Sdri. Devi Trianna.

==============================================
Pandangan saya, sebagai orang Indonesia yang telah lama tinggal di Swedia, terhadap GAM dan orang-orangnya yang bermukim di Swedia
Sebelum menjawab yang diajukan, Tom Iljas menguraikan singkat latarbelakang dirinya.
Tom adalah salah seorang dari sekelompok orang-orang Indonesia yang terhalang pulang karena dikaitkan dengan peristiwa 30S. awal tahun 60-an Tom Iljas tugas belajar dari PTIP. ketika selesai studinua, peristiwa 30S. Passport Iljas ditahan oleh bagian imigrasi KBRI. Sampai sekarang surat ketrangan bahwa paspornya masih tersimpan .
Sebelum peralihan kekuasaan tahun 65/66, salah satu kriteria yang tidak tertulis dalam memilih pemuda-pemuda untuk belajar keluar negeri ketika itu yalah kecinta-an kepada bangsa dan Tanahair Indonesia (patriotisme). Sebagai contoh: kasus Tom Iljas sendiri, yang mendapat tugas belajar keluar negeri atas surat rekomendasi Bupati Pesisir Selatan dan Gubernur Sumatera Barat kepada PTIP. Dalam surat rekomendasi itu diingatkan Tom Iljas melawan pemberontakan PRRI. Salinan dari surat rekomendasi tsb sampai sekarang masih ia simpan
Selanjutnya di jelaskannya bahwa kebanyakan dari para pemuda yang dikirim belajar keluarnegeri ketika itu adalah seperti itu. Atau orang tuanya, pamannya, anggota famili lainnya, ikut mendirikan/membela Republik Indonesia, atau ia sendiri pernah ikut aktiv dalam membela Republik Indonesia, umpamanya aktiv dalam demonstrasi-demonstrasi perjuangan pembebasan Irian Barat. Kebanyakan mereka dikirim belajar kenegeri-negeri blok sosialis karena biayanya sangat murah. Setelah peristiwa 30S pemuda-pemuda dengan semangat cinta tanahair yang berkobar-kobar ini tidak bisa pulang dan tidak bisa mengabdikan ilmu yang dituntutnya di Indonesia.
Selesai menngisahkan sedikir latar belakang tentang dirinya, Tom Iljas kemudian menjawab pertanyaan yang diajukan oleh wartawan RCTV, sbb:
Saya dan GAM -- Sama-sama "eksil" -- Tetapi Pendirian Bertolak Belakang:
"Secara lahiriah memang ada kesamaan antara saya (dan orang-orang seperti saya) dengan orang-orang GAM, yaitu sama-sama eksil Indonesia di Swedia. Tetapi, dari latarbelakang yang saya uraikan tadi mudah dipahami bahwa saya dan GAM secara politik diametral berseberangan. Saya termasuk orang-orang yang membela keutuhan Republik Indonesia sedangkan GAM justru angkat senjata untuk memisah-kan diri dari RI.
Namun, meskipun bertentangan secara diametral, tetapi sesuai dengan hukum yang berlaku din Swedia, kami tidak saling mengganggu, Tidak pernah terjadi bentrok apapun, tetapi juga tidak saling berhubungan. Karena bermukim dinegeri kecil, sudah barang tentu kadang-kadang bertemu dipasar, ditoko, dsb. Kadang-kadang bertegur sapa tetapi pembicaraan tidak menyentuh urusan politik masing-masing.
Sehubungan dengan keberadaan -orang Indonesia di Swedia, satu hal yang tidak dimengerti oleh pemerintah Indonesia yalah bahwa hukum dinegeri ini tidak seperti di Indonesia. Pemerintah bolak-balik mengirim Ali Alatas kemari mendesak pemerintah Swedia untuk menindak GAM. Ini tidak mungkin dilakukan oleh pemerintah Swedia, karena dinegeri ini orang tidak bisa dihukum atas dasar pandangan politik atau ideologi. Setiap orang dijamin secara hukum untuk berpendapat dan berserikat. Selama seseorang tidak melakukan tindakan kriminal ia tak bisa dihukum. Di Indonesia seseorang bisa dihukum karena pandangan politik atau ideologi yang berbeda dengan penguasa.
Apakah GAM mendapat perlakuan istimewa dari pemerintah Swedia, apakah organisasinya diakui pemerintah, dsb., bisa dijawab singakt: saya tidak. Mereka, orang-orang GAM, menghidupi keluarganya seperti penduduk lainnya, kebanyakan malah melakukan pekerjaan-pekerjaan yang orang setempat enggan melakukannya seperti cleaning service. Yang tidak bekerja karena berbagai sebab mendapat tunjangan sosial, persis seperti orang-orang lainnya. Mengenai organisasinya diakui atau tidak, selama AD/ART organisasinya tidak bertentangan dengan undang-undang Swedia tidak ada alasan bagi pemerintah Swedia untuk melarangnya.
MENYAMBUT PERDAMAIAN DI ACEH
Tanggapan saya atas perundingan perdamaian: Atas pertanyaan yang diajukan oleh wartawan RCTV, dijelaskan sbb: saya menyambut tercapainya perdamaian di Aceh. Dengan demikian penderitaan rakyat Aceh yang berkepanjangan itu bisa diakhiri, dan rakyat Aceh bisa hidup dalam kedamaian, bebas dari rasa takut dan bisa membangun Aceh untuk hari depan yang lebih baik.
Tetapi saya menyambutnya dengan rasa agak iri hati. Coba diurut saja, PRRI/ Permesta memberontak, DI/TII memberontak, Kahar Muzakar di Sulawesi mem-berontak, RMS di Maluku, di Papua, GAM di Aceh, dan entah dimana lagi. Semuanya diselesaikan dengan rekonsiliasi, amnesti, kekeluargaan dan entah apa lagi namanya. Ahmad Husein pentolan pemberontakan PRRI 1958 setelah PRRI dihancurkan ia hidup mewah di Jakarta segala fasilitas dari pemerintah, tak pernah dibawa kepengadilan dan tak menerima sangsi hukum apapun.
Bandingkan dengan saya dan orang-orang seperti saya, yang sejak Desember 1959 sampai terjadinya peristiwa 65 tidak pernah menginjakkan kaki di Indonesia. Tidak tahu salahnya, dituduh terlibat peristiwa 30 September dan hak-hak kewarga-negaraan dicabut tanpa proses pengadilan apapun, dan sampai hari ini pemerintah tidak menggubris samasekali, menutup mata, kuping dan hati nuraninya. Bahkan seorang diplomat KBRI Stockholm sendiri secara bergurau pernah bilang pada saya, "Pak Tom harus berontak dulu baru digubris". Saya kemukakan pada wartawan tsb. bahwa "Ini kan sangat tidak adil, sangat tidak manusiawi".
Kameramen yang mendampingi dan mendengarkan wawancara tsb menyela dan mengusulkan kepada penginterview agar temanya dibikin dua, satu soal GAM dan satu lagi soal orang-orang terhalang pulang, dijadikan tema tersendiri. Usul itu saya sokong, sekaligus saya tambahkan bahwa sebenarnya dengan sikap permusuhan yang ditunjukkan pemerintah-pemerintah sejak orde baru, yang rugi bukan saja para eksil itu tetapi juga Indonesia secara keseluruhan.
Bahwa sebenarnya para eks mahasiswa dan ilmuwan yang terdampar diluarnegeri itu cukup potensial, contohnya ada seorang ahli ilmu pendidikan yang mempunyai prestasi internasional, yang baru saja meninggal, Dr Sophian Walujo. Sebuah copy artikel "Mengenang Dr Sophian Walujo" dengan lampiran-lampirannya (yang sudah saya siapkan) saya serahkan pada penginterview untuk dibaca bila ada waktu. Maksudnya untuk menggugah perhatiannya untuk mengadakan liputan tersendiri ttg orang-orang terhalang pulang.
Demikianlah pokok-pokok isi wawancara tsb
(Tom Iljas, Sweden, 13/8-22005)
*********** 0 0 0 0 0 **********

KORBAN PELANGGARAN HAM 1965-66: MENGGUGAT!!!
(Menyongsong HUT 102 Lahirnya Bung Karno)
Oleh: M.D.Kartaprawira*)
Dewasa ini telah banyak penelitian mengenai peristiwa Gerakan 30 September (G30S), yang mengakibatkan jungkirbaliknya sejarah Indonesia. Di jaman rezim Orde Baru penguasa dengan mesin propagandanya terus menjejalkan kepada masyarakat bahwa gerakan tersebut didalangi oleh PKI dan bahkan berdasarkan TAP MPRS XXXIII/1967 Bung Karno dituduh terlibat G30S/PKI . Sesudah jenderal Soeharto tersisih dari kekuasaan, dan mulai berjalan era reformasi terbukalah kebebasan berpikir dan mengeluarkan pendapat. Akibatnya terkuak beberapa versi lainnya mengenai G30S, a.l. bahwa G30S tersebut didalangi oleh Soeharto sendiri yang ingin memusnakan saingan-saingannya dalam ABRI dan PKI sebagai pendukung Soekarno, demi meluangkan jalan untuk merebut kekuasaan. Juga ada versi terlibatnya CIA dalam G30S dan dinas intelijen Inggris, yang terus mengincar Soekarno sebagai tokoh gerakan Asia Afrika yang membahayakan kepentingan imperialis di kedua benua tersebut. Demikianlah kita kenal versi G30S/PKI, G30S/ Soeharto, G30S/CIA dll.
Lepas versi mana yang benar mengenai G30S, siapapun tidak bisa mengingkari bahwa pembunuhan (yang diperkirakan sekitar 1 sampai 3 juta orang), penahanan tanpa proses hukum (puluhan ribu orang) secara massal, pencabutan paspor orang-orang yang didakwa tersangkut G30S di luar negeri, dan lain-lainnya adalah pelanggaran HAM berat yang harus dituntaskan masalahnya.[1][1] Apalagi akibat pelanggaran HAM tersebut diderita juga oleh anak-cucu si korban yang didis-kriminasikan dalam kehidupaan bermasyarakat dan bernegara sampai dewasa ini dalam berbagai masalah.
Pembelaan terhadap korban pelanggaran HAM harus mendapat perhatian besar, sebab hak-hak tersebut adalah alami sejak manusia lahir di dunia (bahkan dari spektrum yuridis bayi yang masih dalam kandungan pun sudah memiliki hak-hak tertentu). Pembelaan terhadap korban pelanggaran HAM harus lepas dari batasan-batasan agama, etnik, suku golongan dan status kepartaian. Hal ini berarti: tidak pandang siapa yang menjadi korban pelanggaran, penguasa/penyelenggara negara berkewajiban menegakkan keadilan bagi korban yang bersangkutan. Di sisi baliknya berarti: tidak pandang siapa yang melakukan pelanggaran HAM, mereka harus ditindak sebagai penjahat/pelanggar HAM dan mendapat konsekwensi setimpal. Bahkan eksistensi TAP MPRS No.XXV/1966 yang direkayasa rejim Soeharto dan yang bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi, pun tidak bisa dijadikan dasar untuk melegitimasi kejahatan kemanusiaan tersebut dan melakukan praktek impunity. Maka TAP tersebut yang selalu dijadikan landasan untuk tindakan melanggar HAM harus dicabut.
Tapi kenyataan yang terjadi di Indonesia kita lihat kejanggalan-kejanggalan dalam pembelaan dan penegakan HAM: penuh diskriminasi. Seperti kita ketahui di Indonesia terdapat banyak pelanggaran HAM, antara lain Tragedi Kemanusiaan 1965, Peristiwa Malari, Peristiwa Tanjung Priok, Peristiwa Talangsari Lampung, Peristiwa 27 Juli, penculikan aktivis pro-demokrasi, Tragedi Mei 1998, penembakan mahasiswa Trisakti, dll. Tapi mengapa Tragedi Kemanusiaan 1965-66, yang merupakan kejahatan kemanusiaan BERAT di Indonesia dan di dunia kurang mendapat perhatian dari para peduli HAM di Indonesia dan penguasa? Kemung-kinan besar hal ini disebabkan oleh anggapan bahwa para korbannya adalah orang-orang komunis/PKI atau pendukung-pendukungnya.
Berhubung dengan itu, maka setidak-tidaknya ada dua hal yang perlu diperjelas;
Pertama, penegakan keadilan terhadap korban pelanggaran HAM harus tidak ter-gantung kepada apakah mereka itu orang komunis atau nasionalis, PKI atau PNI, Islam atau non-Islam, Jawa atau bukan-Jawa, pribumi atau keturunan asing dll, dsb. Tapi praktek di Indonesia membuktikan adanya diskriminasi dalam law enforcement, yang seharusnya tidak boleh terjadi di dalam negara yang konstitusinya mencantum-kan RI sebagai negara hukum.
Kedua, adanya suatu asumsi salah bahwa korban pelanggaran HAM 1965-66 adalah hanya orang-orang PKI, ormas-ormasnya dan para simpatisannya saja. Pada hal tidak demikian kenyataannya, sebab termasuk sebagai korban 1965 juga orang-orang nasionalis-demokrat-patriot para pendukung Bung Karno [2][2] (PNI, Partindo, Baperki) yang banyak juga jumlahnya. Tapi rezim militaris orba yang berencana merebut kekuasaan dari presiden Soekarno memilih strategi pengikisan kaum komunis dan ideologinya di bumi Indonesia sebagai tahap pertama untuk masuk ke tahap kedua – mengikis kaum nasionalis-demokrat pendukung setia Bung Karno dan merebut kekuasaan dari presiden Soekarno.
Bahkan Bung Karno sendiri setelah dikudeta oleh jenderal Soeharto dijadikan tapol (tahanan politik) dengan isolasi yang ketat dari dunia luar. Tidak ada orang yang mengetahui apa yang terjadi dengan Bung Karno yang dalam keadaan sakit kronis di dalam tahanan tersebut. Tapi yang jelas Bung Karno meninggal di dalam tahanan tersebut. Agaknya memang sudah diskenariokan demikan itu oleh rejim Soeharto. Mengenai hal itu masing-masing dari kita bisa membuat kesimpulan sendiri-sendiri. Tapi yang jelas lawan-lawan politik Bung Karno (yakni Rejim Orde Baru, CIA, KAMI/KAPPI dsb.) merasa lega dan puas.
Pentapolan Bung Karno, menyusul pencopotannya dari jabatan presiden, yang berakhir dengan kematiannya dalam tahanan adalah suatu matarantai skenario komplotan jenderal Soeharto dkk. (pendiri rejim Orde Baru) dengan CIA untuk melikwidasi Soekarno, yang merupakan musuh bebuyutan bagi kaum imperialis dan kolonialis di benua Asia-Afrika.
Untuk mensukseskan strategi tahap pertama tersebut, maka semua mesin perang dan propaganda ditujukan terhadap penghancuran PKI dan pendukung-pendukung-nya. Hal itu dapat dimengerti: Pertama, penghancuran PKI dan pelarangan ideologi komunisme di Indonesia adalah sesuai dengan strategi Amerika dalam era perang dingin melawan negara-negara blok komunis, di mana jendral Soeharto dan jenderal-jenderal kanan lainnya mendapat bantuan dan dukungannya; Kedua, dengan memfokuskan propaganda dan penghancuran PKI yang dituduh mendalangi atau tersangkut G30S, rezim Orba berusaha untuk tidak menimbulkan resistensi dari massa kaum nasionalis-demokrat dari pendukung-pendukung setia Bung Karno. Dengan demikian sukseslah strategi tahap pertama untuk membuka jalan ke strategi tahap kedua – penghancuran kekuatan Soekarno.
Jadi tidaklah salah mereka yang berpendapat bahwa penghancuran PKI hanyalah sasaran antara, sedang sasaran pokok adalah Bung Karno. Sebab Bung Karno pada era Perang Dingin yang juga merupakan era Kebangunan Rakyat-Rakyat Asia-Afrika melawan kolonialisme, peranannya sangat membahayakan kepentingan kaum imperialis dan kolonialis. Bung Karno bukan saja sebagai Bapak Pemersatu Bangsa Indonesia, tetapi juga tokoh dunia Pemersatu Bangsa-bangsa Asia-Afrika (di samping Ahmed Sekuture, Mudibo Keita, Gamal Abdel Naser, Julius Nereire, Ali Butho, dll). dalam perjuangan melawan kolonialisme dan imperialisme. Pada kurun waktu pasca Konferensi Bandung 1955 rakyat Asia-Afrika yang masih berada di bawah penindasan kaum kolonialis-imperialis mengangkat senjata melawan penindasnya. Dan satu demi satu muncullah negara-negara muda berdaulat: Guinea, Guinea-Bissau, Mozambik, Angola, Mali, Kongo Kinshasa, Kongo Brazza-ville, Tanzania, dll. Dengan demikian jelas bahwa Bung Karno juga pejuang pembela hak asasi rakyat Asia-Afrika yang dirampas oleh kaum kolonialis-imperialis puluhan-ratusan tahun lamanya.
Karena peranan Bung Karno yang demikian itulah kaum imperialis (CIA) dengan jalan apa saja berusaha melikwidasi Soekarno. Karena PKI adalah pendukung Soekarno yang paling utama dan merupakan musuh ideologis kaum imperialisme (CIA), maka merekalah yang pertama-tama harus dihancurkan. Akibat kehancuran PKI perimbangan kekuataan politik di Indonesia berubah tajam, sehingga Soekarno dapat dijatuhkan dari kekuasaan pemerintahan. Dia ditahan tanpa proses hukum dan mendapat perlakuan yang tidak manusiawi, sampai akhir hayatnya. Demikianlah Bung Karno sebagai tapol rezim Orde Baru Soeharto dan korban pelanggaran HAM 1965-66. Jadi penyelesaian masalah pelanggaran HAM 1965-66 bukanlah semata-mata masalah orang PKI, tapi masalah nasional.
Pada tanggal 28 Maret 2003 telah tiba di Negeri Belanda delegasi Pembela Korban Pelanggaran HAM 1965-66 (terdiri dari dr. Ribka Ciptaning, Ir. Setiadi Reksoprodjo dan mantan Letkol Heru Atmodjo) yang bertujuan mengikuti Sidang Komisi Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa. Perjuangan pembelaan korban pelanggaran HAM 1965-66 sudah berlangsung cukup lama, terutama oleh Komite Tapol/Napol di bawah pimpinan Gustaf Dupe SH, yang kemudian disusul timbulnya Pakorba (Paguyuban Korban Orde Baru) di bawah pimpinan Simon Tiranda, YPKP dibawah pimpinan Ibu Sulami. Sedang LSM-LSM di bidang kemanusiaan tidak tampak gregetnya dalam kegiatannya yang berkaitan dengan pelanggaran HAM 1965-66, sehingga menimbulkan pertanyaan dan kesan yang negatif. Mengapa mereka hanya meramaikan masalah pelanggaran HAM di Timtim, Aceh, Papua, Tanjung Priok, Trisakti dll., sedang mengenai masalah pelanggaran HAM 1965-66 tampak adem ayem saja? Maka dari itu tidak dapat dipersalahkan kalau timbul pertanyaan sinis dari masyarakat: apakah hal tersebut ada hubungannya dengan masalah donasi luar negeri? Apakah ada pesanan-pesanan tertentu dari donator?
Memang baru-baru ini KOMNASHAM telah mempunyai sub-komisi yang menangani masalah pelanggaran HAM 1965. Meskipun demikian hal itu masih belum bisa meyakinkan bahwa pintu pembelaan terhadap korban pelanggaran HAM 1965-66 sudah terbuka lebar. Masih memerlukan bukti yang tentu tidak akan tampak segera. Bahkan bagi sementara orang terbentuknya Sub-komisi HAM 1965 tersebut dianggap kewajaran akibat gencarnya kritik yang dilakukan oleh organisasi masyarakat (Komite Tapol/Napol, Pakorba, YPKP) dan para peduli HAM lainnya melalui tulisan-tulisan di media internet khususnya (misalnya dari Nederland dan Perancis). Makanya cepat atau lambat masalah tersebut mesti mencuat dan perlu ditangani penyelesaiannya., tidak tergantung ada atau tidak usaha-usaha dari sementara LSM yang mau memikirkan penyelesaian pelanggaran HAM 1965. Demikianlah munculnya Sub-Komisi masalah HAM 1965 dalam KOMNASHAM merupakan suatu proses alami perkembangan dalam masyarakat yang sudah tidak mungkin lagi bisa menyembunyikan secara abadi pelanggaran HAM 1965-66 di dalam negara yang konstitusinya menyatakan sebagai negara hukum. Bagaimana-pun juga terbentuknya Sub-Komisi Masalah HAM 1965 dalam KOMNAS-HAM harus disambut dengan baik.
Dewasa ini dalam kaitannya dengan penyelesaian masalah korban pelanggaran HAM 1965-66 (dan pelanggaran HAM lainnya) muncul bermacam-macam panda-ngan tentang perlunya Rekonsiliasi Nasional antara para korban dan pelaku pelang-garan HAM. Di bawah ini adalah 3 dari bermacam-macam skema mekanisme rekon-siliasi nasional:
1. Rekonsiliasi harus mengungkap kebenaran dan keadilan, untuk itu harus terlebih dulu mereka yang tersangkut dalam pelanggaran HAM harus diadili di pengadilan.
Kemudian kepada yang bersangkutan diberi grasi, sedang kepada para korban diberi rehabilitasi dan kompensasi atas hak-haknya yang terlanggar.
2. Rekonsiliasi harus mengungkap kebenaran dan keadilan, yang dilaksanakan oleh suatu komisi rekonsiliasi. Komisi itulah yang akan bertindak sebagai pengadilan. Antara pihak-pihak yang berlawanan kemudian saling maaf-memaafkan dan kepada para korban diberi rehabilitasi dan konpensasi, sedang kepada pihak lainnya diberi grasi.
3. Rekonsiliasi harus mengungkap kebenaran dan keadilan, tapi untuk itu pertama -tama Pemerintah harus terlebih dulu merehabilitasi semua para korban yang tidak terbukti bersalah atau tidak pernah diadili secara hukum. Mereka kemudian diberi konpensasi sesuai dengan kemampuan Negara saat ini. Baru kemudian para pelanggar HAM diadili secara hukum (oleh pengadilan biasa atau penga-dilan komisi rekonsiliasi) untuk mengungkap kebenaran dan keadilan. Rekon-siliasi Nasional menjadi tuntas setelah mereka yang dinyatakan bersalah men-dapatkan grasi.
Tiga macam skema mekanisme rekonsiliasi tersebut mungkin bisa menjadi bahan pemikiran untuk memecahkan masalah rekonsiliasi yang sangat rumit di Indonesia. Dari skema-skema tersebut di atas tampak adanya tiga unsur penting dalam rekonsiliasi: pengungkapan kebenaran dan keadilan; pemberian rehabilitasi dan kompensasi kepada satu pihak; dan pemberian grasi kepada pihak lain. Kalau salah satu unsur tidak ada, rekonsiliasi bisa tidak akan terjadi.
Kiranya perlu digarisbawahi, bahwa dalam masalah rekonsiliasi nasional yang menyangkut pelanggaran HAM 1965-66 pemberian rehabilitasi dan kompensasi terlebih dulu oleh pemerintah kepada para korban yang tak pernah terbukti kesalahannya berdasarkan hukum, adalah sangat penting sekali, bahkan secara moral dan yuridis dapat dipertanggungjawabkan. Seyogyanya pemerintah memper-hatikan hal tersebut secara serius.
Pengalaman Rekonsiliasi di Afrika Selatan menampakkan dengan jelas keberadaan ketiga unsur tersebut. Sehingga praktis dalam rekonsiliasi di sana berlaku impunity – bebas dari hukuman bagi mereka yang bersalah. Hal inilah yang agaknya bagi sebagian masyarakat kita sangat berat untuk diterima. Tapi apakah kita ingin selamanya menjadi tawanan sejarah?
Menurut hemat penulis setidak-tidaknya ada tiga syarat pokok untuk terbukanya pintu rekonsiliasi nasional:
Pertama, harus dicabut TAP MPRS No XXXIII/1967 tentang pencopotan kekuasaan Soekarno sebagai presiden. Sebab akibat dari pelaksanaan TAP tersebut Bung Karno beserta banyak pendukung-pendukungnya ditahan tanpa proses hukum. TAP tersebut tidak saja merupakan legitimasi kudeta Soeharto, tapi juga merupakan pelanggaran HAM.
Kedua, harus dicabut TAP MPRS No.XXV/1966 tentang pelarangan Partai Komunis Indonesia dan ormas-ormasnya beserta ajaran marxisme-leninisme di Indonesia. Sebab pelarangan sesuatu ideologi adalah merupakan pelanggaran HAM seseorang dan bertentangan dengan prinsip demokrasi.
Ketiga, semua peraturan-peraturan hukum diskriminatif terhadap para korban pelanggaran HAM 1965-66 harus dihapus secara tuntas dan konsekwen. Tanpa pecabutan peraturan-peraturan tersebut sama saja melanjutkan kesempatan tindakan pelanggaran HAM seperti telah terjadi di masa lalu.
Sangat menggembirakan bahwa delegasi Korban Pelanggaran HAM 1965-66 telah sukses dalam melaksanakan misinya di Sidang Komisi HAM PBB di Jenewa. Tapi bagaimanapun juga kesuksesan tersebut baru merupakan keberhasilan awal yang perlu ditindak lanjuti dalam skala makronya yang penuh tantangan. Sebab kita melihat dan menyadari bahwa berdasarkan fakta-fakta dan kondisi yang ada di Indonesia dewasa ini masalah pelanggaran HAM 1965 ini masih terus menghadapi tantangan serius dari pihak oponen. Setidak-tidaknya fakta-fakta berikut ini akan memperkuat kesadaran dan memberikan gambaran yang lebih jelas bahwa dalam peta politik di Indonesia kekuatan Orba masih kuat di mana-mana (di Legislasi, Birokrasi, Yudikasi dan Ormas-ormas):
- Masih dipertahankannya sekuat tenaga TAP MPRS XXV/1966 oleh mereka, sebab dengan TAP inilah mereka akan melakukan sepakterjang politiknya, termasuk mengenai masalah korban pelanggaran HAM 1965-66.
- Diterimanya Pasal 90/g RUU Pemilu di DPR belum lama ini, di mana hanya anggota-anggota fraksi PDIP yang menentangnya, berarti suatu legitimasi atas diskriminasi hak warganegara mantan tapol/napol untuk dipilih sebagai anggota DPR (di pusat maupun daerah).
- Dalam masalah rekonsiliasi Wapres Hamzah Haz dengan tegas menyatakan bahwa “Tidak setuju memaafkan PKI, sebab menyangkut masalah ideologi” (Sinar Harapan 20/3/2003). Sesungguhnya logika akan bertanya: apakah si korban yang harus meminta maaf, apalagi tidak terbukti kesalahannya?
Jadi dari fakta-fakta tersebut, meskipun ada langkah sukses delegasi Korban Pelanggaran HAM 1965-66 di Jenewa, dan meskipun dalam Komnas HAM juga telah terbentuk Komisi yang menangani masalah HAM 1965, perjuangan untuk penyele-saian pelanggaran HAM 1965-66 belum jelas perspektifnya. Dengan demikian, kita masih memerlukan perjuangan yang berat dan panjang. Apalagi satu kenyataan bahwa di samping kekuatan Orde Baru masih kuat di mana-mana, kekuatan nasionalis-demokrat dan kekuatan kiri lainnya masih terus cakar-cakaran dan berantam satu sama lain. Ironis? Jelas ironis, tapi itulah kenyataannya. Tentu kekuatan Orba senyum-tertawa dengan puasnya. Semoga kekuatan anti Orde Baru menyadari perlunya persatuan perjuangan dan melakukan politik perjuangan yang tepat seperti diajarkan Bung Karno.
Nederland, 20 Mei 2003

*) Sekretaris Korwil PDI Perjuangan Nederland,
anggota Indonesia Legal Reform Working Group (Nederland).

[1] Kesimpulan tersebut telah diambil dalam Sarasehan di Leuven, Belgia (2000) dan di Zeist, Nederland (2001). Dalam Sarasehan di Leuven tampil sebagai nara-sumber: Sitor Situmorang, Mr. Paul Moedikdo, Hersri Setiawan, Dr. Coen Holtzappel, Nany Nurrachman Sutojo. Sedang dalam Sarasehan di Zeist tampil sebagai narasumber: Hasan Raid, Dr.Coen Holtzappel, Mr. Paul Moedikdo dan Murtini.

[2] Selain Bung Karno, juga banyak menteri-menteri kabinetnya yang ditahan bertahun-tahun oleh rezim Suharto: Ir.Setiadi Reksoprodjo (Menteri Listrik dan Ketenagaan), Drs. Soemadjo (Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan), Oei Tju Tat SH (Menteri Negara dpb. Presidium), Astrawinata SH (Menteri Kehakiman), Armunanto (Menteri Pertambangan), Soedibjo (Menteri Negara Front Nasional), Mayjen TNI Dr. Soemarno Sastroatmodjo (Menteri Dalam Negeri/Gubernur Jakarta Raya), Soetomo Martopradoto (Menteri Perburuhan), Mayjen TNI Achmadi (Menteri Penerangan), Yusuf Muda Dalam (Menteri Urusan Bank Sentral), J.Tumakaka (Menteri Sekjen Front Nasional), Letkol Imam Sjafei (Menteri dpb. Presiden Urusan Keamanan), Dr. Soebandrio (Waperdam I), Chaerul Saleh (Waperdam III), Ir. Soerachman (Menteri Irigasi dan Pembangunan Masyarakat Desa), Drs. M. Achadi (Menteri Transmigrasi dan Koperasi, Sitor Situmorang (tokoh sastrawan), Simon Tiranda (tokoh pemuda Marhaenis), dll.

*********** 0 0 0 0 0 **********

http://www.progind.net/modules/wfsection/

G30S, Terlibatkah Soeharto?

Tulisan oleh James Luhulima ini, dimuat di Kompas, pada tanggal 27 Oktober, 2004,

Kompas, 27 Oktober 2004 - SETIAP kali memasuki bulan September dan Oktober, ingatan selalu menerawang jauh ke belakang, tepatnya ke peristiwa Gerakan 30 September (G30S) tahun 1965 yang sampai kini masih tetap menyimpan misteri.
Ada pepatah yang menyatakan bahwa orang yang menguasai informasi, akan menguasai dunia. Pepatah itu tidak mengada-ada, karena kenyataan itulah yang terjadi pada Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) Mayor Jenderal Soeharto sewaktu Peristiwa G30S terjadi.
Ia adalah satu-satunya perwira tinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) yang tahu persis tentang apa yang terjadi pada tanggal 1 Oktober 1965 dini hari itu. Data yang telah dipublikasikan selama ini menyebut-kan, pada tanggal 30 September 1965 malam, Soeharto telah diberi informasi oleh Kolonel Infanteri Abdul Latief, Komandan Brigade Infanteri I Jayasakti Kodam V Jaya, bahwa akan dilakukan penjemputan paksa terhadap para jenderal pimpinan teras Angkatan Darat, termasuk Panglima Angkatan Darat Jenderal Ahmad Yani, untuk dihadapkan kepada Presiden Soekarno.
Agak aneh, mengapa Soeharto tidak melaporkan informasi yang diterimanya dari Latief kepada Jenderal Ahmad Yani, atasannya. Kemungkinannya hanya dua, ia terlibat atau ia hanya menggunting dalam lipatan, yakni mengambil keuntungan dari gerakan yang dilakukan orang lain.
Dalam pledoinya, Latief mengungkapkan, selain bertemu dengan Soeharto pada tanggal 30 September 1965 di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD), dua hari menjelang tanggal 1 Oktober 1965 (tanggal 29 September 1965-Red), ia juga menghadiri acara kekeluargaan di kediaman Soeharto di Jalan Haji Agus Salim. Pada pertemuan pertama, Latief memberi tahu adanya isu Dewan Jenderal akan melakukan kudeta terhadap pemerintahan Presiden Soekarno. Menanggapi pemberitahuan itu, Soeharto mengatakan, ia sudah mengetahui hal itu dari seorang bekas anak buahnya dari Yogyakarta yang bernama Subagiyo, yang datang sehari sebelumnya (28 September 1965-Red).
Oei Tjoe Tat, salah seorang menteri dalam Kabinet 100 Menteri Soekarno (Kabinet Dwikora), dalam Memoir Oei Tjoe Tat, Pembantu Presiden Soekarno, yang diterbitkan oleh Hasta Mitra, menyebutkan, ia bertemu dengan Subagiyo di dalam tahanan, dan Subagiyo mengatakan, ia telah memberi tahu Soeharto mengenai akan adanya peristiwa penting pada tanggal 30 September 1965 itu. Dan, pada pertemuan kedua di RSPAD, Latief menyebutkan ia dan rekan-rekannya akan menjemput paksa para jenderal pimpinan teras Angkatan Darat untuk dihadapkan kepada Presiden Soekarno.
Adanya pertemuan antara Kolonel Abdul Latief dengan Mayor Jenderal Soeharto menjelang peristiwa G30S membuat kecewa Letnan Jenderal Purnawirawan Kemal Idris, yang sebagai Kepala Staf Kostrad pada tanggal 11 Maret 1966 memimpin pasukan tanpa identitas yang ditempatkan di sekitar Monumen Nasional.
Ditemui wartawan ketika melayat ke rumah Jenderal Besar Purnawirawan AH Nasution, 6 September 2000, Kemal Idris mengatakan, dengan meninggalnya Pak Nas makin sulit pula upaya bangsa ini untuk mengorek tuntas misteri G30S yang hingga kini masih menjadi tanda tanya bagi banyak orang. "Apa yang kita kecewa adalah (karena) Soeharto dua kali didatangi oleh Kolonel Abdul Latief dan dia (Soeharto) menerima laporan bahwa akan terjadi sesuatu pada tanggal 30 Septem-ber 1965. Saya sangat kecewa sekali kepada Soeharto yang tidak mengambil tinda-kan apa pun untuk pengamanan (hingga timbul kesan) saat itu, seolah-olah biarlah ada orang mati supaya dia berkuasa," ujar Kemal Idris.
Ternyata setelah Soeharto lengser dari jabatannya sebagai presiden pada tanggal 21 Mei 1998, muncul data baru, yang diungkapkan oleh Wakil Komandan Batalyon 530/Para Brigade 3/Brawijaya Kapten Soekarbi (kini, Mayor Purnawirawan). Dalam wawancaranya dengan tabloit berita Detak, yang dimuat dalam edisi 29 September-5 Oktober 1998, Soekarbi mengatakan, dalam Radiogram Panglima Kostrad Nomor 220 dan Nomor 239 tanggal 21 September 1965, yang ditandatangani oleh Mayor Jenderal Soeharto, isinya perintah agar Batalyon 530/Para Brigade 3/Brawijaya disiapkan dalam rangka HUT ke-20 ABRI tanggal 5 Oktober 1965 di Jakarta dengan "perlengkapan tempur garis pertama".
Pertanyaan yang segera muncul, mengapa Soeharto meminta Batalyon 530 disiapkan dengan "perlengka-pan tempur garis pertama"? Apalagi kemudian yang terjadi adalah sebagian dari anggota pasukan Batalyon 530 terlibat dalam peristiwa G30S. Tidak diketahui apakah perintah serupa diberikan pula kepada Batalyon 454/Para/Diponegoro, yang sebagian anggota pasukannya juga terlibat dalam peris-tiwa G30S.
Dengan adanya radiogram tersebut, muncul dugaan bahwa Soeharto sudah tahu mengenai akan adanya peristiwa G30S, paling tidak sejak tanggal 21 September 1965, atau sembilan hari sebelumnya. Sebab, dengan memberikan pasukan Batalyon 530 itu "perlengkapan tempur garis pertama", Soeharto telah memfasilitasi anggota pasukan tersebut untuk melakukan "gerakannya".
Belum lagi hampir semua pelaku inti G30S memiliki hubungan yang dekat dengan Soeharto, mulai Brigadir Jenderal Soepardjo, Kolonel Untung, Kolonel Abdul Latief, sampai Sjam Karuzzaman. Itu sebab-nya, pada saat G30S berlangsung, Soeharto hanya menunggu perkembangan, dan pada saat yang tepat, dengan cepat mengam-bil langkah-langkah yang diperlukan, di saat orang-orang lain, termasuk panglima dan perwira tinggi angkatan lainnya, masih bertanya-tanya apa yang sesungguhnya terjadi.
Karena mengetahui siapa saja yang telah dijemput paksa dan siapa saja yang melakukannya, maka saat itu pada prinsipnya Soeharto dapat melakukan apa saja yang dikehendakinya, termasuk dengan mudah membasmi pelaku-pelaku G30S dan mencari kambing hitam untuk dituduh sebagai penanggung jawab atas peristiwa G30S.
Sebagai orang yang memiliki seluruh informasi, Soeharto secara leluasa member-lakukan keadaan darurat. Kemudian menelepon Menteri/Panglima Angkatan Laut Laksamana Madya RE Martadinata, Menteri/Panglima Angkatan Kepolisian Komisa-ris Jenderal Soetjipto Joedodihardjo, dan Deputi Operasi Angkatan Udara Komodor Leo Wattimena. Dan, kepada mereka, Soeharto memberi tahu untuk semen-tara Angkatan Darat dipegang olehnya, serta meminta agar mereka tidak mengadakan pergerakan pasukan tanpa sepengetahuannya (dalam hal itu, Panglima Kostrad).
Sebagai kambing hitam, ia menuduh Menteri/Panglima Angkatan Udara Laksamana Madya Omar Dani berada di pihak yang salah, dan Pangkalan Angkatan Udara Halim Perdanakusuma disebutkan sebagai markas pelaksana G30S. Dengan demikian, kehadiran Presiden Soekarno di Pangkalan Angkatan Udara Halim dicitra-kan sebagai keberpihakan Soekarno pada G30S.
Itu belum semua. Dengan penguasaannya atas seluruh media massa nasional, Soeharto berhasil menjadikan versinya atas peristiwa G30S sebagai satu-satunya kebenaran. Dan, bagi orang-orang yang dianggap "berseberangan" diberi label terlibat G30S, dan dijadikan tahanan politik.
Sejumlah purnawirawan AURI di bawah pimpinan Sri Mulyono Herlambang, lewat buku Menyibak Kabut Halim 1965 membantah bahwa Lubang Buaya yang digunakan sebagai Markas Kelompok G30S berada di wilayah AURI. Tempat tersebut justru berada di wilayah Angkatan Darat.
PADA tanggal 1 Oktober 1965, pukul 06.30, Mayor Jenderal Soeharto memerintah-kan seorang perwira Kostrad, Kapten Mudjono, untuk memanggil Komandan Batalyon 530 Mayor Bambang Soepeno yang menempatkan pasukannya di sekitar Monumen Nasional dan Istana Kepresidenan. Karena Mayor Bambang Soepeno tidak ada ditempat, maka Wakil Komandan Batalyon 530 Kapten Soekarbi, yang memimpin pasukan di lapangan, bertanya apakah ia bisa mewakili. Perwira itu menjawab tidak bisa. Namun, pukul 07.30, perwira Kostrad itu kembali lagi, dan mengatakan, Kapten Soekarbi diperbolehkan menggantikan Mayor Bambang Soepeno. Tidak lama kemudian datang menghadap pula Wakil Komandan Batalyon 454 Kapten Koencoro.
Pasukan yang ditempatkan di sekitar Monumen Nasional dan Istana Kepresidenan adalah anggota dua batalyon yang diundang Panglima Kostrad Mayor Jenderal Soeharto ke Jakarta untuk mengikuti peringatan HUT ke-20 ABRI pada tanggal 5 Oktober 1965. Sebab itu, Soeharto dengan mudah memanggil pemimpin kedua batalyon itu, dan memerintahkan agar menarik kembali pasukan mereka ke Markas Kostrad.
Soekarbi membantah pernyataan yang menyebutkan bahwa Kostrad tidak tahu kehadiran pasukannya di sekitar Istana dan Monumen Nasional, mengingat anak buahnya bolak-balik ke Markas Kostrad untuk menggunakan kamar kecil (toilet).
Berbeda dengan Soeharto, yang pada pukul 06.30 , sudah mengetahui identitas pasukan yang berada di sekitar Monumen Nasional dan Istana Kepresidenan, Presiden Soekarno dan regu pengawalnya sama sekali masih tidak tahu-menahu mengenai apa yang terjadi.
Pada tanggal 30 September 1965, malam, Presiden Soekarno tidak tidur di Istana Merdeka. Menjelang tengah malam, Soekarno meninggalkan Istana Merdeka menuju ke kediaman istrinya, Ny Ratnasari Dewi, di Wisma Yaso, Jalan Gatot Subroto (kini, Museum Satria Mandala). Dalam perjalanan ke sana, Soekarno singgah di Hotel Indonesia untuk menjemput Ny Dewi, yang tengah menghadiri resepsi yang diada-kan Kedutaan Besar Irak di Bali Room.
Keesokan harinya, tanggal 1 Oktober 1965, pukul 06.30, Presiden Soekarno keluar rumah, memasuki mobil kepresidenan, dan bergegas ke Istana Merdeka. Pagi itu, Soekarno dijadwalkan menerima Wakil Perdana Menteri II Dr Leimena dan Menteri/ Panglima Angkatan Darat Jenderal Ahmad Yani.
Di dalam mobil, Suparto, staf ajudan yang mengemudikan mobil itu, memberi tahu informasi yang diperolehnya dari Komandan Detasemen Kawal Pribadi (DKP) Komisaris Polisi Mangil Martowidjojo, yakni bahwa pada pukul 04.00, ada penemba-kan di rumah Menteri Koordinator Pertahanan dan Keamanan/Kepala Staf Angkatan Bersenjata Jenderal AH Nasution dan rumah Wakil Perdana Menteri II Dr Leimena, yang letaknya bersebelahan.
Presiden Soekarno langsung memerintahkan Suparto untuk memberhentikan mobil yang baru bergerak beberapa meter itu. Ia langsung memanggil Mangil dan meminta penjelasan tentang penembakan tersebut.
Kemudian Soekarno bertanya, "Baiknya bagaimana, saya tinggal di sini dulu atau langsung kembali ke Istana?" Mangil menjawab, "Sebaiknya Bapak tinggal di sini dulu, karena saya masih harus menunggu laporan dari Inspektur I Jatiman (Kepala Bagian II DKP) yang tadi saya perintahkan untuk mengecek kebenaran berita tersebut." Mendengar jawaban itu, Soekarno menghardik Mangil dengan nada keras, "Bagaimana mungkin, kejadian pukul 04.00 pagi, sampai sekarang belum diketahui dengan jelas…"Soekarno dan regu pengawalnya kemudian meninggalkan Wisma Yaso menuju Istana Merdeka. Rencananya mereka akan melalui Jembatan Semang-gi, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan MH Thamrin, Jalan Medan Merdeka Barat, dan Jalan Merdeka Utara.
Sewaktu rombongan Presiden Soekarno melintas di atas Jembatan Dukuh Atas, menjelang Bundaran Hotel Indonesia, Jatiman menghubungi Mangil dan membenarkan ada tembakan di rumah Jenderal AH Nasution dan Dr Leimena. Ia juga menginformasikan tentang adanya pasukan Angkatan Darat "yang terasa sangat mencurigakan" di sekitar Istana dan kawasan Monumen Nasional. Mendengar informasi itu Mangil memutuskan untuk menjauhkan Soekarno dari pasukan tersebut. Pada saat yang sama, Wakil Komandan Resimen Tjakrabirawa Kolonel (CPM) Maulwi Saelan menghubungi Mangil lewat handy-talkie dan memerintahkan untuk membawa Soekarno ke rumah istrinya yang lain, Ny Harjati, di kawasan Slipi, di sebelah lokasi Hotel Orchid (sekarang). Rombongan kemudian membelok ke kiri, memasuki Jalan Budi Kemuliaan, Tanah Abang Timur, Jalan Jati Petamburan, dan ke arah Slipi, ke rumah Ny Harjati.
Saelan menunggu Soekarno di rumah Ny Harjati. Begitu tiba, pukul 07.00, Soekarno segera masuk ke dalam rumah, diikuti Saelan. Soekarno segera memerintahkan Saelan mengontak semua panglima angkatan. Namun, sejak malam hingga pagi itu, jaringan telepon lumpuh sehingga Saelan meminta Suparto untuk menghubungi secara langsung.
Saelan kemudian mendatangi Mangil di luar, dan mengupayakan untuk mencari tempat yang aman bagi Soekarno. Berbagai gagasan pun bermunculan, tetapi setelah Suparto kembali pada pukul 08.30 dan melaporkan bahwa ia berhasil mengadakan kontak dengan Menteri/Panglima Angkatan Udara Laksamana Madya Omar Dani di Pangkalan Angkatan Udara Halim, maka diputuskan untuk membawa Soekarno ke sana.
Soekarno menyetujui hal itu karena itu sesuai dengan Standard Operating Procedure (SOP) Tjakrabirawa. Bahwa jika dalam perjalanan pengamanan Presiden terjadi sesuatu hal yang mengancam keamanan dan keselamatan Presiden, maka secepatnya Presiden dibawa ke Markas Angkatan Bersenjata terdekat. Alternatif lain adalah menuju ke Pangkalan Angkatan Udara Halim Perdanakusuma karena di sana ada pesawat terbang kepresidenan C-140 Jetstar. Atau, pelabuhan Angkatan Laut, tempat kapal kepresidenan RI Varuna berlabuh. Atau, bisa juga ke Istana Bogor karena di sana diparkir helikopter kepresidenan Sikorsky S-61V.
Sekitar pukul 09.30, rombongan Presiden Soekarno tiba di Pangkalan Angkatan Udara Halim. Presiden disambut Omar Dani dan Komodor Leo Wattimena, yang karena ketidaktahuannya atas apa yang terjadi, dapat ditarik ke kubu Soeharto siang harinya. Sementara itu, sekitar pukul 06.00, Brigadir Jenderal Soepardjo, pimpinan G30S, berangkat ke Istana untuk melaporkan peristiwa G30S kepada Presiden Soekarno. Karena Soekarno tidak berada di Istana, Soepardjo sempat menunggu selama dua jam di sana. Setelah mendapatkan informasi bahwa Soekarno berada di Halim, maka ia segera menyusul ke Halim. Pukul 10.00, ia bertemu dengan Soekarno dan melaporkan mengenai gerakannya. Namun, Soekarno menolak untuk mendukung gerakan itu, dan meminta ia menghentikan gerakannya untuk menghindari pertumpahan darah.
Namun, penguasaan atas pasukan dan media massa saat itu membuat Soeharto bisa melakukan tindakan apa saja yang dikehendakinya melalui kaki tangannya. Bahkan, Soekarno, lewat kesaksian Brigjen Sugandhi, Kepala Pusat Penerangan Hankam, dan ajudan Presiden Soekarno sendiri, Kolonel Marinir Bambang Widjanarko, dikatakan bertanggung jawab atas G30S.
Uniknya, Bambang Widjanarko yang memberikan kesaksian bahwa Soekarno terlibat dalam peristiwa G30S, tetap ditugaskan mendampingi Soekarno sampai jabatannya sebagai Presiden Indonesia resmi dicabut oleh MPRS.
Kesaksian Sugandhi dibantah oleh Oei Tjoe Tat, yang juga hadir dalam jam minum kopi pagi (koffie uurtje) pada tanggal 30 September 1965. Cerita Sugandhi tentang apa yang terjadi pagi itu, menurut Oei Tjoe Tat, mengada-ada. Seperti Sugandhi, kesaksian Bambang Widjanarko pun dibantah oleh Kolonel (CPM) Maulwi Saelan dan Ajun Inspektur Polisi Tingkat I Sogol Djauhari Abdul Muchid, bertugas di bagian Higiene dan Dinas Khusus Kepresidenan. Sogol disebut Bambang Widjanarko sebagai orang yang menyerahkan surat Untung tentang penjemputan paksa para jenderal kepada Soekarno tanggal 30 September 1965 malam.
Pertanyaan besar yang mengganjal, adalah mengapa sama sekali tidak ada yang mempersoalkan, mengapa Soeharto tidak melaporkan adanya gerakan untuk menjemput paksa para jenderal Angkatan Darat kepada atasannya, Jenderal Ahmad Yani, yang tewas dalam aksi penjemputan paksa itu? (Kutipan dari tulisan James Luhulima, selesai)

*************** 0 0 0 0 0 0******************
SURAT RAHASIA SOEHARTO (?)
Hadji Muhammad Soeharto
Logo Militer
dilingkari semacam bunga

RAHASIA
Tanggal: 10 September 1998
Ditujukan kepada:
Isi berita:
Mas Wir: berargumentasi dengan Habibi harus dihindari betul, cukup dengan pakai memo pribadi saja dikirim via ajudan. Tentang film G 30 S PKI selain tidak diputar ada baiknya dimusnahkan saja karena ada kejanggalan tentang saya sebagai orang kepercayaan pak Yani kok tidak ikut dihabisi pagi itu dan Yasir Hadibroto telah pernah bicara tentang telah dibunuhnya DN Aidit (setelah ditangkap) atas perintah saya. Selain itu adalah soal Mas Mashuri (Mantan Mempen) tahu betul bahwa saya tidak tidur saat mau dibangunkan pagi itu. Letkol Latief walau sudah tua dan lumpuh di penjara masih sangat berbahaya saat dia buka mulut (harus diperhatikan).
Tekanan untuk menghapuskan Dwi fungsi ABRI sangat berbahaya dan lebih berbahaya lagi kalau A.U dan A.L. merasa bahwa dwi fungsi yang dimaksud adalah dwi fungsinya Angkatan Darat.Dwi fungsi akan berarti jabatan Gubernur, Bupati, Walikota, DPR, BUMN-BUMN, Menteri, Dirjen, Sekjen dan Duta Besar akan di isi oleh orang-orang sipil dan keadaan ini akan membuat Jenderal-Jenderal AD kalap dan menggerakkan pemberontakan di mana-mana seperti di zaman Soekarno.
Kegagalan panen akan berkepanjangan, Gudang KUD di daerah sudah kosong, Gudang Bulog juga akan kosong karena beras di luar negeri sudah diborong oleh perusahaan asing yang saham-sahamnya dikuasai anak-anak; bahaya mati kelaparan mengancam. Rekayasa mengkoordinir penjarahan sama saja halnya dengan rekayasa DOM Aceh, Timor Timur, Irian, Tanjung Priok dll, lebih-lebih setelah GOLKAR jadi musuh rakyat dan SI MPR dianggap sidang abunawas.
Satu-satunya jalan mencegah disintegrasi adalah tindakan Tiannamen dan undang-undang darurat diberlakukan, dan trio reformasi Amin Rais, Mega, Sultan Hamengkubuwono bisa dipindahkan oleh Yapto ke Sukabumi atau Balikpapan; Kalau di DPR sudah tidak ada anggota ABRI, maka penciutan 50% anggota TNI AD pasti terjadi untuk dijadikan anggota POLRI serta disemua kabupaten dan kecamatan anggotanya TNI akan dikosongkan dan diganti dengan POLRI.
Kepalangtanggung basah, lebih baik pecah daripada retak.
Selamat melaksanakan tugas


Menteri Pertahanan Keamanan RI
Tanda tangan
Sdr. Soebagio/anggota DKP Yth:
Surat ini tolong dipelajari dan diteliti H.M. Soeharto
Dan ditindak lanjuti:
Terimakasih.
Tanda tangan
Wiranto
*************** 0 0 0 0 0 0******************

Minggu, Februari 15, 2009

KRISIS EKONOMI DUNIA

KRISIS EKONOMI DUNIA MULAI DIRASAKAN INDONESIA

Situasi resesi ekonomi global yang dipicu oleh akumulasi kredit macet di sektor perumahan AS sejak 2007 yang diakhiri dengan pengumuman bangkrutnya Lehman Brothers pada 15 September 2008 yang lalu telah menimbulkan multi efek berantai sentimen negatif di berbagai lantai bursa saham terkemuka di dunia. Seketika itu, Pemerintah AS, melalui voting di konggres menyetujui pengguyuran dana talangan $ 700 miliar ke pasar uang. Kepanikan pun merembet ke sejumlah negara maju dan berkembang. Eropa mengambil keputusan menurunkan suku bunga untuk menjaga sektor riil tetap bertahan.Pemerintah Indonesia justru menaikan BI rate untuk menyerap dana publik demi mempertahankan likuiditas perbankan nasional, sementara itu kalangan pengusaha menjerit karena beban bunga untuk kredit modal kerja naik dan mempengaruhi kinerja operasionalisasi usaha. Histeria semakin menjadi, tatkala pemerintah memutuskan menutup perdagangan BEI. Kepercayaan publik kepada lembaga keuangan maupun pasar modal belum pulih, Rupiah kembali terpuruk mengingatkan kita pada masa krisis 97/98 lalu.Pemerintah mencoba menenangkan publik yang panik dan takut kehilangan uang dalam jumlah besar dengan cara buy back saham BUMN (sentimen positif= harga saham naik)dan menambah pagu dana Kesra dengan berbagai ragam produknya. Situasi yang tidak bisa dihindari oleh Indonesia, ketika sekuritas dan perbankan nasional turut aktif menjual produk kampiun asing yang mengagungkan pasar bebas, pasar tanpa intervensi negara serta tanpa rule of game. Konsep yang diadopsi dari Adam Smith dan para tokoh pendukungnya (Reagan, Teacher, Von Hayek, dll) menegaskan bahwa pasar akan berjalan menuju keseimbangan tanpa intervensi negara. Bukan negara yang mengatur pasar, tapi pasar-lah yang mendikte negara. Semua kebijakan negara harus sesuai selera pasar. Uang bukan sekedar alat transaksi atau penopang produksi tapi suatu komoditas yang bisa diperdagangkan dimana saja dan kapan saja tanpa birokrasi yang ruwet dan bertele-tele. Para pialang yang punya sifat mengejar profit semata dan gemar mempermainkan uang orang lain ,dengan mudahnya menuduh bahwa rendahnya kepercayaan publik terhadap market yang menyebabkan ekonomi mengalami resesi. Moral pertanggungjawaban kepada masyarakat luas sudah tidak ada nilainya, tergantikan oleh moral profit taking. Akibat prilaku moral hazard, negara harus menalangi kerugian mereka bermain spekulasi di pasar. Bagi Indonesia Raya, menjadi momentum untuk mengkaji kembali sistem atau model ekonomi nasional seperti apa yang memuat nilai dasar keadilan dan akuntabilitas publik yang memadai ? Jelas sekali, sekarang model liberalisme telah menunjukan sifat yang membahayakan bagi perekonomian nasional meskipun disatu sisi merupakan peluang bagi perusahaan yang ter-listing di lantai bursa untuk menghimpun dana publik sekaligus menempatkannya sebagai bagian dari pemilik perusahaan, suatu kondisi yang tidak mungkin diraih publik pada awal abad 19. Apakah kita akan menganut model ekonomi syariah atau kembali kepada amanat konstitusi yaitu model ekonomi kerakyatan. Ketiga model tersebut, patut untuk dikaji secara mendalam baik Pemerintah, BI, DPR, Perguruan Tinggi, maupun masyarakat luas lainnya yang merasa berkepentingan terhadap masa depan ekonomi Indonesia Raya. Perlu dipertimbangkan pembentukan Komisi Ketahanan Ekonomi Nasional yang bisa me-review seluruh produk hukum di bidang ekonomi serta memberikan rekomendasi yang integratif dan antisipatif terhadap ATHG ekonomi nasional. Indonesia lebih banyak membutuhkan pelaku usaha UKM karena sifatnya yang lebih fleksibel dan tahan banting ketimbang mendirikan pabrik besar dengan investasi triliunan. Tetapi dengan catatan, Pemerintah tetap harus komitmen dan konsisten membangun industri dasar dan industri barang modal, selain itu serahkan kepada pelaku UKM. Untuk menunjang kearah itu, perbankan dan bankir harus menjalankan fungsi intermediasinya secara tepat dan cepat tidak berbasis on the paper an sich. Pemerintah segera memfasilitasi daerah untuk mensosialisaikan pada rakyat sehingga barikade pasar bisa diminimalisir.agar rakyat Indonesia dapat survive dalam menghadapi krisis Ekonomi Dunia .Semoga . Amin

Sabtu, Februari 07, 2009

KORUPSI ; BUDAYA BIROKRAT ATAU BUDAYA KITA ?

Budaya Korupsi : Milik Kita Bersama ?

Sangat tidak mudah mengambil keputusan apakah korupsi adalah milik para koruptor ataukah milik kita bersama? .. Juga tidak gampang mengukur kadarnya sebagai “penyakit sistem” (struktural), sebagai “penyakit manusia”, atau “penyakit budaya” suatu masyarakat yang berada dalam sistem yang sama… Ia sangat cair,bahkan bisa seakan-akan merupakan serbuk yang rata menabur, atau bagaikan asap halus yang tak kasat mata,sehingga tidak bisa serta merta bisa disimpulkan bahwa perilaku korupsi adalah semacam anomali atau penyakit khusus yang berlaku pada sejumlah orang, ataukah ia memiliki “infrastruktur” budaya yang memang mendarah daging dimasyarakat disemua kelas dan status sosial secara lebih menyeluruh pada kehidupan negara kita….

Darah daging itu bisa jadi tak hanya berskala budaya atau kebudayaan, bisa jadi ia sudah merupakan peradaban. Terutama apabila disepakati bahwa korupsi materiil hanyalah salah satu output “kecil” dari dasar-dasar jiwa korupsi yang juga bisa menemukan manifestasinya pada perilaku lain, pada pola berpikir, cara pandang, cara memahami, cara merasakan, bahkan cara memahami dan melaksanakan iman. Tak pernah berhenti kita bertanya: di kedalaman jiwa manusia, apakah korupsi itu peristiwa mental, peristiwa ilmu, peristiwa akhlak, peristiwa iman, atau apa??? …

Kalau sudah sampai ke kompleksitas itu, kita yang di panggung berteriak “Wahai Kaum Koruptor!! ” tidak otomatis kita sendiri bukan koruptor…Atau kekhusyukan seseorang dalam beribadah, status mulia seseorang dalam kegiatan keagamaan, citra bersih seseorang dalam imaji publik – tidak serta merta mengandung arti bahwa yang bersangkutan berada di luar lingkaran, jaringan dan sistem korup. Bahkan kita yang bertugas memberantas korupsi, perlu mengaktifkan terus menerus kewaspadaan diri untuk menjamin bahwa dalam berbagai konteks dan nuansa itu langkah-langkah kita benar-benar bebas dari potensialitas korupsi. Apalagi sejumlah pagar eksternal atau internal yang tak selalu bisa kita atasi membuat langkah-langkah kita tampak di mata orang lain sebagai “tebang pilih”.

…………….

Dulu Suharto bikin Kraton Kemukus; kraton sempalannya nyayogyakartohadiningrat dari tiga generasi sebelum yang sekarang. Keratonnya dikasih nama Republik, baju kebesarannya sebagai Raja dikasih label Presiden, dengan “uborampe” (kelengkapan basa-basi) mengumpulkan sekian ratus orang menjadi dua kelompok yang dikasih papan nama “MPR ” dan “DPR ”, dan akhirnya hanya seorang Raja yang jauh-jauh hari sudah merancang dan membangun makamnya di sebuah bukit…

Rakyat Indonesia tidak keberatan dengan “Kraton” berlabel “Republik” itu, karena jiwa raga mereka adalah “abdi dalem” dan “kawulo” sampai hari ini.

Dan sampai hari inipun kaum intelektual juga tidak pernah mengakui bahwa ORBA adalah “Kraton ”, karena diam-diam di dalam kandungan mentalnya masih menyimpan rasa “andhap asor ” atau inferioritas “kawulo ” ; masih menyimpan mitologi subyektif untuk “takut ”, “pakewuh ” atau “segan ”,..

juga karena sejak semula mereka diam-diam berikhtiar bagaimana menjadi “abdi dalem” OrBa agar bisa ikutan Korupsi. Kalau Sang Prabu Haryo Suharto tidak menerima proposal lamaran mereka untuk jadi abdi dalem di Kraton Dinasti OrBa, barulah mereka tampil di media-media massa sebagai Oposan/Lawan yang kencang berteriak…“Suharto Korup !! Abdi-Abdi Dalem OrBa, Korup !!”

Kemudian, setelah Prabu Haryo Suharto Lengser karena dihantam dari sana-sini, dari External maupun Internal Keraton, dari kalangan jelata,mahasiswa,preman sampai militer..dari Cuaca dan Iklim Perekonomian Dunia yang bergeser kearah jurang krisis moneter yang mempengaruhi stabilitas power kedinastiannya yang lalu kemudian di tambahi lagi pergesekannya oleh lawan-lawan politik yang dulu lamarannya di tolak sang prabu dengan membangkit-bangkitkan rasa sakit dari borok kesenjangan sosial dikalangan rakyat keraton yang sudah lama menunggu kesempatan membalaskan luka mereka dengan kebebasan hewani utk menjarahi orang-orang china ; baik harta maupun wanita-wanitanya…….lalu ketika Suharto sudah tidak lagi menjadi Prabu, mereka yang dulu penjilat-penjilat setianya merubah wajah mereka dengan wajah-wajah yang lebih “reformis”-mereka yang dulu ditolak lamarannya menjadi bagian penjilat Suharto mulai sibuk membenahi penampilan mereka utk bersiap duduk dikursi-kursi Keraton yang ditinggalkan Suharto: untuk meneruskan kekuasaan dan tradisi Korupsinya.

tulisan ini bukan tuduhan, juga saya harap tidak menambah persoalan. Ini sumbangan kewaspadaan, demi kebangkitan atau totalnya kehancuran kita bersama.

view ini sekadar pintu awal untuk membuka kemungkinan besar kenyataan yang perlu kita teliti dengan jujur bahwa kasus-kasus korupsi yang dijaring KPK hanyalah sejumlah cipratan kecil dari budaya dan peradaban korupsi. Bangsa kita terjebak dalam kesalahan manajemen sejarah yang menggiring mereka melakukan korupsi sejak “dini ”. Sebelum mengKorupsi uang dan harta Negara, kita sudah melakukan korupsi iman, ilmu, cara berpikir, sejatinya isi hati, setiap jenis perilaku dari yang sehari-hari kultural sampai yang kenegaraan dalam konstitusi dan birokrasi….

pergantian demi pergantian dinasti penguasa di negara ini belum ada yang bisa sepenuhnya menerapkan keunggulan mentalnya..bagaimana mungkin kita bisa hidup tidak punya motor, mobil, rumah bagus, laptop, Handphone ? ; bagaimana mungkin kita mengelak dari arus besar kemewahan, hedonisme, gebyar dan gemerlap??..maka untuk mendapatkan itu semua, bakat tradisi korupsi akhirnya terus terterapkan ke wilayah-wilayah lain yang masih mengandung ketidak-majuan dan ketidak-mudahan…Dengan hasil korupsi, kita bisa memperoleh berbagai kemudahan dan kemajuan: bisa beli apa saja sebagaimana atau melebihi orang lain, keluarga menganggap kita sukses,Pesantren dan Masjid yang kita bantu dengan hasil jerih payah korupsi kita bisa menyimpulkan kita adalah dermawan… masyarakat yang melihat bisa menganggap bahwa kita adalah “orang yang benar-benar Baik ”: buktinya; punya jabatan, kaya, dan mau bersedekah kepada mereka….

Tetapi ada sedikit pengetahuan yang sudah terlanjur nyantol di saraf otak yang membuat ingatan bahwa kita korup itu menghasilkan sesuatu yang tidak enak dalam hati dan tidak mudah di depan Tuhan. Maka tak cukup bantu Pesantren dan Masjid, kita perlu umroh sesering mungkin, langsung melakukan pendekatan kepada Tuhan. Sebenarnya sedikit-sedikit kita merasa juga bahwa Tuhan tersinggung karena kita tuduh ia bisa kita sogok dengan umroh atas dosa korupsi kita – tetapi karena yang korup dilakukan oleh banyak teman-teman Indonesia lain, maka kita menjadi sedikit tenang…

Senin, Februari 02, 2009

JIKALAU ANDA MENANG PEMILU 2009

JIKALAU ANDA MENANG MENJADI PEMINPIN PEMERINTAH INDONESIA 2009 - 2014
MAKA SEGERA LAKSANAKANLAH TIGA TUNTUTAN RAKYAT HAI PARA PEMIMPIN BANGSA :

Tanggalkan sifat khianat Mulai dari Dirimu DEMI BUMI PERTIWI BERKERJA DEMI RAKYAT INDONESIA DENGAN Tulus , Adil ,Merata SEJAHTERAKAN RAKYAT DARI SABANG - MAUROKE
Rela Ikhlas dalam membangun DEMI KEUTUHAN DAN KETAHANAN Rakyat Indonesia

Jangan Cepat Puas dan Jangan Terlihat Panik dalam setiap suasana
Perhatikan Setiap Kejanggalan PERISTIWA – PERISTIWA NEGARA & BANGSA . JANGAN PERNAH MAU DIDIKTE NEGARA ASING ATAU BADAN - BADAN DUNIA

Segera Seret Sebanyak mungkin PENGKHIANAT BANGSA KE Pengadilan , segera berlakukan Hukum GANTUNG Untuk PARA KORUPTOR & PARA PENGKHIANAT NEGARA INDONESIA , MAKA PASTI INDONESIA KU SEJAHTERA SENTOSA SELAMANYA, AMIN

PARA PENSIUNAN JENDRAL DI KANCAH PEMILU 2009

Calon-calon Pensiunan militer dalam kancah pemilu 2009
" Pemilu adalah indikasi beberapa hal: popularitas atau terpuruknya pemerintah dan kecenderungan politik lainnya. Dalam negara yang kompleks seperti Indonesia, pemilu juga melibatkan usaha kelompok dalam elit yang berkuasa untuk mempertahankan kemenangannya atau upaya mereka yang telah tenggelam untuk tampil kembali. Sejak jatuhnya Suharto tahun 1998, elit militer telah banyak kehilangan kekuatan politiknya dan sekarang mereka secara resmi disingkirkan dari arena politik. Karena itu bukan suatu kebetulan kalau banyak pensiunan perwira, terutama mantan jenderal angkatan darat, yang ingin kembali ke panggung politik. Banyak yang sudah menjadi calon legislatif dalam pemilu 2009 sementara beberapa kaliber berat telah melangkah menuju pemilihan presiden yang akan diadakan kemudian pada tahun ini (2009).

Ini dapat diinterpretasikan dalam beberapa cara. Selama lebih dari tiga dekade, Suharto memimpin kediktatoran militer dengan dwifungsi sebagai doktrin utamanya. Dwifungsi memberi militer hak untuk bermain dalam politik, yang kemudian dieksploitasi dalam skala besar. Meskipun anggota angkatan bersenjata tak diperbolehkan memilih, mereka diberi jatah 100 kursi dalam DPR dan DPRD.
Tetapi, setelah jatuhnya Suharto, dwifungsi dilempar masuk ke tong sampah sejarah. Sepanjang sejarahnya, Indonesia telah memiliki beberapa pengalaman mengenai keterlibatan militer dalam politik. Selama apa yang disebut sebagai jaman liberal (1952- 1959), militer tak puas disingkirkan dari panggung politik dan membentuk partai politik mereka sendiri, IPKI (Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia) yang tampil dengan menyedihkan dalam pemilu1955. Aspirasi politik mereka kembali muncul setelah beberapa organisasi militer mendirikan platform baru bernama Golkar (Golongan Karya) pada tahun 1964. Maksudnya adalah agar Golkar dapat menghadapi pengaruh PKI (Partai Komunis Indonesia) yang kian besar. Golkar menjadi mesin politik yang ampuh bagi Suharto dan jenderal-jenderalnya setelah mereka merebut kekuasaan pada bulan Oktober 1965 dan menyingkirkan gerakan sayap kiri.
Selama lebih dari 30 tahun Golkar tetap menjadi satu-satunya kendaraan politik militer tetapi partai ini secara konstan direcoki oleh pergulatan kekuasaan internal. Pada tahun 1990-an, Suharto kian terisolasi dan memutuskan untuk “menyipilkan” pucuk pimpinan Golkar. Tahun 1993 ia menunjuk Harmoko, seorang sipil, sebagai ketua, dan lima tahun kemudian, Akbar Tandjung mengambil alih. Tahun lalu, Jusuf Kalla, wakil presiden Indonesia, terpilih sebagai ketua partai. Perkembangan ini mengantarkan keterlibatan militer dalam politik menuju fase ketiga: dengan peran yang kini melemah, beberapa jenderal utama mulai mendirikan organisasi politik di luar Golkar.
Ada politisi senior yang berkilah bahwa memasang jenderal dalam pemilu merupakan hal positif karena kalangan sipil kurang memiliki wewenang dan lemah dalam pengambilan keputusan. Tetapi ada jauh lebih banyak hal dari itu. Banyak perwira yang dengan tegas meyakini bahwa militer adalah satu-satunya kekuatan yang dapat melindungi integritas negara dan politisi selalu membuat hal menjadi kacau. Ini tak diragukan lagi merupakan kerangka kerja ideologis dan pemikiran pensiunan jenderal seperti Wiranto, Prabowo dan banyak lagi.
Sudah pasti benar bahwa militer tetap merupakan institusi terkuat di Indonesia dan bahwa penyelenggara pemerintahan yang memiliki kemauan kuat, otoriter dan tangguh sering kali muncul dari jajaran ini. Selama Orde Baru di bawah Suharto yang berlangsung sedemikian lama, suatu kasta penyelenggara pemerintahan militer telah tercipta. Di Indonesia sekarang ini, banyak penyelenggara pemerintahan baru yang merupakan warga sipil, yang terpilih melalui proses demokrasi, tetapi mereka sering kali dipandang tak dapat memutuskan dan lemah dibandingkan dengan penguasa yang otoriter di masa lalu.
Dari sekian banyak pensiunan perwira yang ingin memperoleh posisi politik, yang paling ambisius adalah jenderal Wiranto, Prabowo dan Sutyoso yang akan memperebutkan kursi presiden. Banyak pensiunan perwira lain yang mencoba meraih posisi tertinggi dalam salah satu dari 38 partai politik yang bakal bertarung dalam pemilihan tingkat nasional dan daerah, atau berusaha menjadi gubernur atau bupati. Yang lain berharap untuk memperoleh posisi strategis dalam birokrasi daerah.
Ketiga jenderal itu dikenal memiliki catatan pelanggaran HAM berat dan keunggulan politik mereka mencerminkan kegagalan akuntabilitas kriminal di masa pasca-Suharto dalam menyeret mereka ke meja hijau untuk mempertanggung-jawabkan perbuatan mereka. Ketiganya senantiasa tampil di muka umum dan telah mendapatkan kedudukan sebagai pemimpin partai politik baru yang ingin menantang presiden yang berkuasa sekarang ini, pensiunan jenderal Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Jenderal bintang empat Wiranto adalah senior SBY di angkatan darat. Selama hari-hari penuh huru hara tahun 1998-1999 sebelum dan setelah jatuhnya Suharto, ketika terjadi penganiayaan di banyak kota dan pengambilan suara bagi kemerdekaan Timor Timur yang mengakibatkan kehancuran militer yang disengaja di muka negara, Wiranto menduduki tingkat tertinggi dalam angkatan bersenjata Indonesia.
Letjen (purn) Prabowo mempunyai riwayat HAM yang sama kelamnya. Ia adalah salah satu tokoh kunci dalam kegiatan penumpasan pemberontakan di Timor Timur dan bertanggungjawab atas pelatihan dan pembiayaan kelompok milisi yang merajalela di sana tahun 1999. Sebagai komandan unit baret merah yang terkenal, Prabowo juga bertanggungjawab terhadap penculikan dan hilangnya sejumlah aktivis pro-demokrasi beberapa hari sebelum jatuhnya Suharto (yang ketika itu adalah mertuanya).
Letjen. (purn) Sutiyoso juga komandan baret merah dan bertugas dalam beberapa daerah konflik seperti Timor Timur, Aceh dan Papua Barat. Ia berturut-turut menjabat sebagai gubernur Jakarta selama dua periode dan posisi inilah yang menggugah berkeinginan menjadi presiden.
Jenderal Wiranto telah mendirikan partai yang disebut Hanura (Hati Nurani Rakyat) yang kantor pusatnya berada di seberang kediaman resmi wakil presiden di daerah Menteng, Jakarta. Cabang-cabang Hanura telah berdiri di seluruh Indonesia, yang memang dimungkinkan karena sumber keuangan yang melimpah. Hanura tampil cukup meyakinkan dalam jajak pendapat dan diharapkan memenangkan hingga 7% suara. Partai ini telah menarik dukungan dari kalangan angkatan darat, angkatan laut dan angkatan udara serta polisi, pengusaha, mantan anggota Golkar dan bahkan beberapa aktivis prodemokrasi.
Sebagai ketua Hanura, Wiranto memasang sejumlah pensiunan perwira disekelilingnya seperti Letjen. (purn) Arie Mardjono dan Laksamana Muda (purn) Abu Hartono yang keduanya merupakan wakil ketua dalam dewan pertimbangan. Tujuh wakil ketua Hanura adalah Majen. (purn) Aqlani Maza dan Laksamana (purn) Bernard Kent Sondakh, Marsekal Muda (purn) Budhy Santoso, Jenderal Polisi (purn) Chaeruddin Ismael, Letjen. (purn) Fachrul Razi, Letjen. (purn) Suaidi Marassabessy dan Jenderal (purn) Soebagyo. Wakil bendaharanya adalah Mayjen. (purn) Iskandar Ali.
Wiranto memulai karir militernya sebagai perwira infantri dan perlahan-lahan pangkatnya naik dengan menduduki beberapa posisi territorial. Tahun 1989 ia menjadi ajudan Presiden Suharto dan menjabat posisi itu hingga 1993. Sejak itu karirnya kian cerah dan ia dikenal sebagai pendukung Suharto yang setia. Ia kemudian berturut-turut menjadi Pangdam Jaya (1994), Pangkostrad (1996), Panglima TNI (1997), Panglima Angkatan Bersenjata (1998) sekaligus menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan ketika Suharto jatuh. Ia terus menjabat sebagai menteri pada masa Habibie dan Gus Dur (Abdurrahman Wahid) menjadi presiden sampai ia dipecat tahun 2000. Sejak itu tampak jelas bahwa Wiranto mempunyai ambisi untuk menjadi presiden.
Wiranto telah berhasil membangun partainya dengan efektif dan cukup mengherankan melihat adanya sejumlah warga sipil, termasuk beberapa aktivis pro-demokrasi, yang memutuskan untuk bergabung dalam barisan. Beberapa analis secara bercanda membandingkan Hanura dengan penjual tupper ware. Setiap orang dapat mendirikan cabang selama barang yang cocok terjual.
Orang yang tak mempunyai banyak uang yakin dapat memperoleh uang kontan jika mereka mendirikan cabang sementara sebagian pengusaha menanamkan uangnya dalam suatu cabang atau mempromosikan kegiatan Hanura yang lain. Setiap cabang Hanura diminta untuk mendirikan koperasi sebagai tanda tanggung jawab sosialnya sehingga menarik minat lebih banyak pendukung.
Patut dipertanyakan apakah jajaran Hanura betul-betul loyal terhadap Jenderal Wiranto. Salah satu tokoh kunci di Hanura adalah Indro S. Tjahyono yang merupakan aktivis mahasiswa yang terkemuka tahun 1978 dengan catatan anti-militer yang mengesankan. Indro merupakan salah seorang pimpinan utama oposisi pada akhir tahun 1980-an dan terlibat dalam banyak kegiatan pro-demokrasi yang penting. Dia sekarang wakil ketua Hanura meskipun diragukan apakah ia akan mendukung Wiranto dalam merebut kursi presiden. Orang-orang lain seperti Indro jelas menggunakan Hanura sebagai kendaraan untuk menjadi anggota legislatif.
Letjen.(purn) Prabowo memiliki latar belakang yang hebat. Ayahnya adalah ahli ekonomi terkemuka yang menjadi menteri baik di jaman Sukarno maupun Suharto. Prabowo menikah dengan putri kedua Suharto dan menjadi bagian dari “keluarga pertama” negara ini. Meskipun ia memiliki latar belakang seperti itu dan telah mengecap pendidikan di sekolah umum di Inggris, ia memasuki akademi militer.
Karir militernya sangat sukses sampai ia dipecat dari angkatan bersenjata tahun 1998. Selama karirnya dalam militer, ia menduduki sejumlah posisi yang bergengsi seperti Panglima Kopassus dan Panglima Kostrad. Prabowo mendapatkan pelatihan militer dan mengambil kursus pemberantasan pemberontakan di Jerman tahun 1981 dan Kursus Perwira Angkatan Khusus di Fort Benning, AS juga pada tahun 1981. Ia kemudian menjadi letnan jenderal Indonesia termuda pada usia 46 dan sebagian orang mengatakan bahwa ia dapat muncul sebagai pengganti ayah mertuanya, Suharto.
Tetapi, sekarang ia adalah pengusaha sukses dan CEO beberapa perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan, bubur kertas dan kertas, pertanian dan perkebunan kelapa sawit. Tahun 1998, dengan kian dekatnya kejatuhan Suharto, Wiranto dan Prabowo muncul sebagai saingan. Saat rejim akan tenggelam, Wiranto, yang memegang jabatan militer utama, mendukung gagasan Suharto untuk turun sementara Prabowo membela keberadaan Suharto sebagai presiden hingga berakhir pahit.
Ada banyak versi peristiwa Mei 1998 seperti yang tertuang dalam sejumlah buku mengenai peristiwa itu. Setelah Suharto akhirnya turun, Prabowo meninggalkan Indonesia menuju Jordan di mana ia menetap selama beberapa tahun. Sejak itu Prabowo telah merubah citranya dan kini tampak sebagai pengusaha terhormat. Beberapa tahun yang lalu ia membuat upaya lain untuk mendongkrak citranya dengan merengkuh jabatan sebagai pemimpin organisasi petani, HKTI. Organisasi ini didirikan pada jaman Suharto sebagai wadah utama bagi berjuta-juta petani Indonesia meskipun sangat diragukan apakah sekarang ini mampu memobilisasi konstituantenya.
Prabowo juga merupakan apa yang disebut sebagai anggota biasa sebuah partai bernama Gerindra. Jelas bahwa ia bakal menjadi calon presiden dari Gerindra dan mungkin dapat mengharapkan dukungan dari banyak cabang HKTI di seluruh Indonesia. Ini merupakan contoh khas kerendahan hati Jawa. Di atas kertas, paling tidak, Prabowo telah muncul kembali sebagai tokoh publik.
Gerindra (Gerakan Indonesia Raya) sebetulnya tidak didirikan oleh Prabowo tetapi jelas bahwa dari awal partai ini akan menjadi kendaraan politiknya. Dua perwira yang terkenal dengan reputasi buruknya adalah anggota pengurus Gerindra: Mayjen. (purn) Muchdi Purwopranyoto yang merupakan wakil ketua, dan pensiunan perwira intel Mayjen. (purn) Gleny Kairupan, juga wakil ketua, yang memainkan peran jahat di Timor Timur. Muchdi sekarang sedang diadili karena pembunuhan berencana terhadap Munir, aktivis HAM terkemuka di Indonesia
Seperti yang telah diuraikan, baik Wiranto maupun Prabowo sangatlah dekat dengan istana. Latar belakang inilah yang mungkin mendorong mereka untuk maju dalam pemilihan presiden. Tak ada yang istimewa dalam program partai mereka dan kedua partai tersebut memiliki kemampuan politik yang kurang memadai. Meski tak ada bukti bahwa Gerindra mempunyai mesin yang diminyaki dengan baik dibandingkan dengan Hanura, jelas bahwa ia akan menggunakan HKTI untuk memenangkan suara. Gerindra mencoba menarik anggota baru dengan menawarkan asuransi jiwa gratis.
Seperti Wiranto, Prabowo juga menarik beberapa mantan aktivis ke kubu mereka, yang menonjol adalah Pius Lustrilanang dan Desmond Mahesa, keduanya diculik pada tahun 1998 oleh kesatuan yang diketuainya.
Pensiunan jenderal Sutyoso juga mengira bahwa ia mampu menjalankan negara ini dan menganggap latar belakang militernya sebagai suatu keuntungan. Seperti dua jenderal lainnya, ia adalah orang Jawa meskipun tak pernah sampai ke puncak jenjang militer. Posisi tertingginya adalah Pangdam Jaya, yang menjadi batu loncatan baginya untuk menjadi gubernur Jakarta dari tahun 1997 hingga 2007. Menjadi gubernur di ibu kota paling tidak sama berkuasanya dengan posisi senior dalam kabinet seperti yang kita lihat dengan walikota London, Paris, New York dan Beijing.
Sutiyoso bertugas di banyak daerah konflik. Sebagai bintara muda pada tahun 1960-an, ia dikirim ke Kalimantan untuk membasmi pemberontakan PGRS/Paraku. Kemudian ia bertugas di Aceh, Timor Timur dan Papua. Namanya disebut-sebut terkait dengan pembunuhan lima jurnalis asing di Balibo, Timor Timur, tahun 1975. Tahun 1993 ia menjadi perwira territorial dan bertugas di Bogor dan kemudian menjadi Panglima Kodam Jaya tahun 1994. Posisinya sebagai gubernur Jakarta memberinya kesempatan untuk membangun jaringan luas dengan kalangan pengusaha. Ia juga duduk dalam berbagai jabatan bergengsi dalam bidang olah raga: sebagai ketua asosiasi menembak, ketua asosiasi bola basket, ketua asosiasi golf dan yang paling baru, ketua asosiasi badminton.
Strategi pemilihannya sangat berbeda dengan Wiranto dan Prabowo. Ia mendorong pembentukan beberapa partai kecil seperti Partai Republikan, Partai Bela Negara (PBN), Partai Nasional Banteng Kemerdekaan (PNBK) dan Partai Pemersatu Bangsa (PPB). Ia juga berhasil mendapatkan pengaruh dan dukungan dari beberapa partai sedang seperti Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Amanat Nasional (PAN). Dengan dukungan koalisi ini ia berharap untuk dapat makin dikenal.
Terlebih lagi, fakta bahwa 60% pemilih adalah orang Jawa memberi Sutyoso, yang juga orang Jawa, prospek untuk memenangkan banyak suara. Ia berharap mendapatkan dukungan dari beberapa jenderal utama yang belum memasuki arena politik, termasuk Jenderal (purn) Try Sutrisno, mantan wapres pada masa Suharto dan mantan kepala intel, Mayjen. (purn) Hendropryono.
Semua pensiunan jenderal itu memiliki keuntungan dan agenda yang sama. Mereka adalah bagian dari elit politik di Jakarta, mereka mempunyai uang tak terbatas dan tampaknya mereka nantinya dapat memperoleh lebih banyak lagi. Semuanya adalah penasehat SBY dan sebagian dari motivasi mereka adalah bahwa mereka melihat SBY sebagai perwira yang gagal.
Kenyataannya, baik Wiranto maupun Sutyoso adalah senior SBY dan sekarang merasa terongrong oleh prestasinya. Tetapi ada kesalahan fundamental dari ketiganya. Mereka tak punya program politik dan tak mewakili pemikiran politik atau ideologi apapun yang koheren. Pesannya hanyalah sekedar retorika nasionalis dan kampanye yang menampilkan mereka sebagai penyelamat bangsa. Kecil sekali kemungkinannya bagi pemilih kelas menengah perkotaan untuk memberikan suara untuk mereka dan juga tampaknya tak mungkin mesin politik mereka dapat menjangkau pemilih di pedesaan.
Ada juga pertanyaan mengenai maksud sebagian orang yang disebut sebagai pengikut ketiga jenderal itu. Selama mereka mendapatkan banyak uang dan mungkin bahkan kursi legislatif, mereka akan tetap loyal. Tetapi pemilu dan pemilihan presiden langsung adalah dua hal yang berbeda. Sebagian besar pensiunan jenderal gagal secara menyedihkan dalam usaha mereka untuk memperolah jabatan dalam polkada dan ini tentu akan terjadi lagi dalam pemilu 2009.
Boleh dibilang ada pensiunan perwira di semua partai tetapi ada perbedaan penting: ada yang bergabung untuk memainkan peran utama, tetapi ada juga yang ikut serta karena alasan ideologis atau keagamaan. Di sebagian partai Islam atau Kristen, pensiunan perwira hanya mendapatkan peran marjinal. Ini juga terjadi dalam partai sekuler seperti PDI-P dan Golkar.
Ada perubahan mencolok dalam Golkar, yang pada masa Suharto merupakan kendaraan politik utama, tetapi menjelang tahun 1990an secara bertahap ditinggalkan karena personnel militer mulai sadar bahwa partai itu tak dapat memenuhi aspirasi politiknya. Bahkan sebelum masa pasca-Suharto, pensiunan jenderal sudah mencoba untuk mendapat tempat di arena politik di luar Golkar melalui partai yang bernama PKP ( Partai Keadilan dan Persatuan) dengan ketuanya Jenderal (purn) Edy Sudradjat. Setelah partai itu bubar, banyak yang meninggalkannya dan pindah ke tempat lain.
Di antara 38 partai yang akan ambil bagian dalam pemilu adalah partai sipil yang mempunyai perwira dalam badan kepemimpinan mereka dan partai lain yang dipimpin oleh perwira militer dan mempunyai pandangan militer. Di antara yang disebut belakangan adalah PKPB (Partai Karya Peduli Bangsa) dengan Jen. (purn) Hartono sebagai ketua umum. Mayjen. (purn) Hartarto adalah sekjen sedangkan wakil ketuanya termasuk tiga pensiunan perwira: Mayjen. (purn) H.Namoeri Anoem, Brigjen. (purn) Suhana Bujana and Marsekal Muda (purn) Suharto.
Sebagian dari partai yang baru dibentuk juga menyediakan tempat bagi pensiunan militer. PRN (Partai Republik Nusantara), yang menggunakan Nusantara untuk namanya ketimbang Indonesia, akan berfokus khususnya pada daerah. Letjen. (purn) Syahrir MS sebagai anggota presidium PRN, sementara baik Jen. (purn) Syarnubi maupun Brigjen (purn) Husein Thaib sama-sama menjabat sebagai ketua.
Partai baru lainnya adalah PDK (Partai Demokrasi Kebangsaan) yang merupakan kendaraan perwira dengan jabatan lebih rendah; partai ini juga memiliki agenda nasionalis yang kuat. Kombes Pol (purn) Iyer Sudaryana sebagai ketua sementara tiga pensiunan kolonel (semuanya sekarang memegang jabatan sipil) duduk dalam kepemimpinannya: Kol. (purn) Bahar Mallarangan adalah wakil ketua Lembaga Ombudsman Nasional, Kol. (purn) Tasno HP, sekarang ini wakil kepala Dinas Pembinaan Pertanian, Peternakan dan Perikanan dan Letkol. (purn) Haryanto adalah wakil ketua Dinas Pembinaan Kehutanan dan Pertanian. Keduanya ada dalam kepengurusan PDK.
Mereka mewakili kelompok personel militer yang menempati posisi kekaryaan (sipil) dalam masa Suharto. Sebagian besar personel militer dapat memperoleh posisi selama masa Orde Baru dan sejak pensiun (pada usia 55) menjadi pejabat tinggi, setelah sebelumnya berubah karir dari militer ke sipil.
Dalam dua partai utama Golkar dan PDI-P, pensiunan militer masih memainkan peran, meskipun tak seberapa. Letjen. (purn) Sumarsono adalah Sekjen Golkar tetapi jarang muncul di muka umum. Satu dari politisi senior PDI-P adalah Mayjen. (purn) Theo Syafei, mantan panglima di Timor Timur, yang telah duduk selama dua periode dalam dewan. Kemungkinan keduanya akan digantikan dalam waktu dekat.
Partai Presiden SBY, PD ( Partai Demokrat) juga mencakup beberapa pensiunan perwira. SBY sendiri adalah ketua dewan penasehat tetapi jarang terlibat dalam kegiatan seharihari. Ketua umumnya adalah Kol. (purn) Hadi Utomo sementara Mayjen. (purn) Nur Aman dan Komjen. Pol. (purn) Nurfaizi keduanya merupakan anggota dewan. Yang mengherankan, pengurus PD adalah orang sipil yang berpandangan politik.
Dalam partai Islam PBB (Partai Bulan Bintang), ada beberapa pensiunan perwira. Termasuk di dalamnya adalah Kombes. Pol. (purn) Bambang Sutedjo, Letjen. (purn) Sugiono and Letjen. (purn) Sanif, yang semuanya menjabat sebagai anggota pengurus.
Beberapa perwira penting yang masih aktif maupun sudah pensiun belum muncul dalam kancah politik tetapi tampaknya akan unjuk gigi bulan-bulan mendatang ini. Diantaranya adalah: Ryamizard Ryacudu, Muh. Yasin and Djoko Santoso. Pensinunan jenderal bintang empat garis keras Ryamizard Ryacudu dikenal sebagai orang yang mencoba menggagalkan semua reformasi yang diperkenalkan setelah tahun 1998. Ia mencoba melakukan sabotase dalam proses perdamaian di Aceh dan dalam suatu aksi pembangkangan, ia mengadakan parade militer di depan istana semasa Gus Dur menjabat sebagai presiden. Pada hari berikutnya, Gus Dur diberhentikan oleh MPR dalam proses yang jelas-jelas dihasut oleh Ryacudu. Ia dikenal dekat dengan Megawati, kandidat PDI-P untuk capres. Kalau ini terjadi, kehadirannya kembali dalam panggung politik dapat menandakan kemunduran dari sebagian perubahan politik yang telah ada.
Letjen. (purn) Muhammad Yasin yang sampai belum lama ini merupakan pengikut setia SBY, telah muncul sebagai lawan kuat SBY. Ia menghabiskan seluruh karirnya sebagai perwira intelijen dan karena itu tak dikenal oleh masyarakat umum tetapi ia lebih dari itu semua, ia bertangan dingin. Tanpa diduga, ia telah dijadikan sebagai capres oleh partai kecil bernama PKP (Partai Karya Perjuangan) yang merupakan sempalan Golkar. Yasin dulunya adalah bagian dari lingkaran dalam SBY dan pekerja di kantor kepresidenan.
Dalam suatu wawancara langka, ia menekankan empat ‘permata’ bangsa: UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika; NKRI dan Pancasila. Meskipun Yasin tidak merupakan lawan serius dalam pemilihan presiden, ia dapat memainkan peran seperti Sutiyoso dalam membangun koalisi luas anti SBY. Jenderal bintang empat lainnya Djoko Santoso, sekarang Kepala Staf Angkatan Darat. Presiden SBY telah memilih dengan hati-hati perwira eselon tertinggi dalam angkatan bersenjata dan mereka sebagian loyal terhadap SBY. SBY sendiri adalah satu dari generasi pertama perwira pasca-dwifungsi.
Ini berarti bahwa mereka telah mengadopsi posisi non-politik, meninggalkan negara dan urusan politik ke pemerintahan dan legislatif. Santoso tak lama lagi akan mencapai usia pensiun dan tak jelas apakah ia akan terus menjadi figur politik yang netral.
Belakangan ini TNI menjalani tahun-tahun yang buruk. Ia telah banyak kehilangan kekuatan politik dan ekonominya selama dekade terakhir. Sementara itu, angkatan polisi telah ditingkatkan; ia telah mendapatkan jauh lebih banyak perhatian publik dan juga telah merebut porsi yang cukup besar dari kue ekonomi. Di sejumlah daerah, terdapat konflik publik antara unit polisi dan TNI, sebagian besar menyangkut soal pembagian kue. Djoko Santoso tampaknya dapat mewakili frustrasi angkatan perwira saat ini yang tak pernah mengenyam tahun-tahun basah yang dinikmati Wiranto, Prabowo dan Sutyoso.
Dominasi militer dalam politik Indonesia
Ada suatu masa, pada tahun-tahun awal jaman Orde Baru di bawah Suharto, ketika militer memegang sangat banyak posisi. Sebagian besar posisi dalam kabinet ada di tangan militer sementara dua pertiga dari gubernur provinsi adalah jenderal. Perwira dengan pangkat lebih rendah mengambil alih jabatan camat dan kepala desa yang melarikan diri atau terbunuh saat ada gerakan anti komunis mulai 1965 hingga 1969.
Dari tahun ke tahun ada perbaikan karena sejumlah besar warga sipil yang kompeten, banyak dari mereka merupakan akademisi, telah menunjukkan bahwa mereka lebih handal daripada perwira dalam menjalankan pemerintahan. Kriteria terbaik untuk menilai militer-sipil secara proporsional adalah keadaan dalam Golkar, partai yang berkuasa (tapi juga merupakan partai penguasa, Suharto).
Pada awalnya, Golkar dibentuk sebagai kendaraan beberapa perwira anti komunis, tetapi tahun 1969 Suharto memutuskan untuk menggunakan Golkar sebagai mesin politiknya. Selama 32 tahun di bawah pemerintahan Suharto, militer tetap dominan dalam Golkar. Keadaan itu juga nyata dari jumlah personel militer dalam pemerintahan. Tetapi secara bertahap Golkar menjadi kian sipil. Ini tercermin dalam fakta bahwa ketua Golkar saat jatuhnya Suharto adalah Akbar Tandjung yang tak pelak lagi merupakan salah seorang politisi paling handal di Indonesia dewasa ini.
Ada banyak negara di Asia di mana militer tak pernah memainkan peran penting dalam politik seperti India, Cina dan Vietnam. Tetapi ada banyak juga negara dengan tradisi politik militer yang kuat, terutama Thailand, Pakistan, Turki dan Indonesia. Sejarah telah menunjukkan bahwa tak mudah menghapus militer dari arena politik. Selama 10 tahun terakhir, Indonesia telah melakukan langkah besar dalam reformasi militer dan menghapus mereka dari arena politik. Tetapi masih diperlukan waktu untuk mengubah pola pikir militer guna memastikan bahwa mereka hanya berfokus pada urusan non-politis.
Mpu Nallar feb,09

Jumat, Januari 30, 2009

PAHLAWAN NASIONAL ETNIK TIONGHOA - INDONESIA

JHON LIE


Posted by Iman Brotoseno .

Majalah life Awal September 1949. Kapal boat Republik Indonesia panjang 110 kaki dan berukuran 60 ton “ The Outlaw “ baru saja berlabuh di pelabuhan Bhuket, semenanjung Malaya. Para awak kelelahan, setelah kesekian kali lolos dari sergapan kapal perang Belanda. Semalam tepat selepas Penang, di laut bebas mereka bertemu dengan kapal patroli Belanda yang mengejarnya sambil melepaskan tembakan boffors dan miltraliurnya.
Kelihaian kapten ‘The Outlaw”, Mayor John Lie kembali teruji, untuk bisa membawa barang barang komoditi seperti karet, gula, teh untuk di jual dan ditukarkan ban, senjata, mobil dan kebutuhan perang kemerdekaan.

The ‘ Outlaw ‘ adalah legenda saat itu. Radio BBC selalu menyiarkan keberhasilan kapal itu dalam menembus blokade Belanda. Ini membuat Belanda semakin geram dan terus berusaha menjegat kapal kebanggaan Republik.
Saat saat beristirahat sambil membongkar muatan. John Lie kedatangan seorang wartawan LIFE Magazine – Roy Rowan – yang mewancara dan kelak dimuat dalam majalah tersebut Edisi 26 September 1949. Artikel itu berjudul “ GUNS –AND BIBELS – ARE SMUGGLED TO INDONESIA “

John Lie seorang keturunan Tionghoa, telah menjadi pelaut di pelayaran KPM Belanda sebelum perang kemerdekaan. Ia kemudian bergabung menjadi ABK di armada laut sekutu ketika Perang Dunia II.
Revolusi Kemerdekaan telah menggerakannya untuk bergabung dengan pejuang pejuang Republik. Padahal banyak golongan Tionghoa yang memilih tak perduli atau bahkan memihak Belanda.

John Lie seorang nasrani yang religius. Ia selalu membawa dua alkitab – satu berbahasa Inggris dan satu berbahasa Belanda - ditengah tengah pertempuran lautnya. Roy tercengang melihat sebuah kata kata yang ditulis didinding kabin.
‘ Kemudikan kapal ini, demi Tuhan, negeriku dan kebaikan umat manusia ‘.
Selama dua tahun John Lie menjadi salah satu tokoh penting dalam organisasi penyelundupan senjata yang wilayahnya terbentang dari Malaya, Singapura, Filipina, Thailand bahkan sampai India. Ia bolak balik menembus laut, menangani jual beli senjata dari Malaysia, Thailand ke Aceh, Sumatera timur dan pulau pulau terpencil di Indonesia.

Dari lima kapal yang dibeli dari Inggris di Singapura, hanya kapal John Lie yang tak pernah tertangkap meski dikejar dan dihujani peluru serta bom. Ia cerdik mengelabui dan melarikan kapalnya di balik pulau pulau kecil di Sumatera.
Menutupi kapalnya dengan ranting dan dedaunan sambil menunggu kapal terbang Belanda dan kapal patroli menghentikan pencariannya.

john lieKelak ketika ia menjadi komandan Kapal perang KRI Rajawali, ia harus membawa berlayar Bung Karno dan Perdana Menteri Cina, Chou En Lai. Ketika saatnya makan siang, seperti kebiasan di kapalnya, John Lie selalu memimpin doa secara nasrani.
Maka ia berkata kepada Bung Karno, untuk tetap mengijinkan melakukan kebiasaan ini.
“ Kau seorang nasrani yang taat, silahkan melakukan apa yang telah menjadi kebiasaanmu di sini. “ demikian Bung Karno mengijinkan.
Jadilah John Lie memimpin doa dimeja makan, didepan ABK, Bung Karno dan perdana Menteri Cina yang komunis itu. Entah apa yang dipikirkan Chou En Lai saat itu.

Sejarah mencatat masalah banyak persoalan apriori yang menjadi penghambat hubungan etnis tionghoa dalam bangsa Indonesia.
Selama orde baru, etnis ini dikebiri dalam budaya dan dipaksa untuk melebur masuk kedalam sub etnik masyarakat Indonesia. Ini karena salah kaprah melibatkan etnis ini sebagai salah satu pendukung G 30 S PKI. Aksara dan prosesi barongsai dilarang. Ketika Slamet Mulyana mengeluarkan buku bahwa sebagian Wali Sanga adalah keturunan Tionghoa, langsung buku buku itu diberangus oleh Kejaksaan Agung.
Padahal jaman dulu sudah biasa melihat etnis Tionghoa menjabat sebagai Menteri. Bahkan menjelang kemerdekaan Indonesia, ada beberapa sosok dari etnis tionghoa yang juga duduk di BPUPKI.

Dalam Pemerintahan kolonial, etnis Tionghoa sudah terlibat dalam bentuk perlawanan terhadap penguasa. Sejak dari pemberontakan Pecinan jaman VOC.
Tahun 1912, berbarengan dengan tahun baru Imlek. Di Batavia, Pemerintah melarang etnis Tionghoa mengibarkan bendera Tiongkok sehubungan dengan diproklamirkan Republik Tiongkok oleh dr. Sun Yat Sen.
Sementara di Surabaya, polisi melarang etnis Tionghoa membunyikan petasan pada acara tahun baru itu. Ini mengakibatkan kerusuhan dan situasi yang memanas.

Dalam perjalanan sampai saat ini, masih ada kerikil dalam proses akulturasi etnis tionghoa menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Salah satunya adalah tidak adanya pahlawan dari suku bangsa ini.

Menarik, sejahrawan Taufik Abdulah mengibaratkan deretan pahlawan nasional sebagai album foto keluarga. Masing masing ingin melihat wajahnya sendiri dalam album itu. Kalau diperluas dalam ‘ album bangsa ‘ apakah ada sosok yang dekat atau menjadi representasi etnis atau daerah yang sama dengan kita.
Ternyata dalam daftar pahlawan nasional tak terdapat yang berasal dari etnis Tionghoa. Dengan memasukan sosok sosok dari etnis Tionghoa yang memang berjuang bersama etnis lain dalam mempertahankan kemerdekaan, membuat ada perasaan senasib dan sepenanggungan dalam berbangsa Indonesia

gong xi John Lie adalah sosok yang terlupakan. Ia merupakan sosok yang dekat dengan laut. Air yang bergerak bergelora. Berani menembus lautan untuk mencapai tanah seberang sana. Ini mirip dengan legenda Tiongkok kuno ketika Sang Kaisar mengadakan perlombaan menyeberangi sungai untuk menentukan binatang mana yang cocok dengan waktu tertentu. Untuk menentukan kalender tahun Cina. Segala jenis binatang hadir disana.
John Lie mungkin sebagai sosok kerbau yang dengan baik hati mau membantu menyebrangkan tikus dan kucing yang tidak bisa berenang.

Wartawan Roy Rowan, takjub melihat kapten kapal ini. Seorang patriot dari etnis yang paling terpinggirkan di sebuah bangsa yang besar. Alkitab, bazooka, senjata menjadi property yang disimpan rapat di kapalnya.
Ditengah tengah hiruk pikuk kuli pelabuhan menurunkan muatan. John Lie menutup wawancaranya sambil memandang ke laut lepas.
“ Ini bukan bisnis mengerikan. Ini kehendak Tuhan, dan sebelum Belanda pulang ke negaranya, kapal ini akan tetap berlayar “

Kepentingan CIA & posisi Indonesia

Rahasia CIA dan Posisi Indonesia
Posted by Bhayu

Saya sempat terkejut saat diberitahu inner circle saya yang dekat dengan kalangan militer. Ia mengatakan ada sejumlah agen rahasia asing beroperasi di Indonesia. Dua yang ia sebut, katanya berasal dari CIA dan Mossad. Dan agen-agen ini katanya sudah lama ada di negeri kita, menyamar dengan aneka profesi. Salah satunya bahkan jadi pedagang kain selama puluhan tahun di Tanah Abang.
Tapi, itu katanya.
Tidak bisa dikonfirmasi sama sekali. Dan kebenarannya sebatas rumor.
Namun beda halnya dengan heboh buku Membongkar Kegagalan CIA (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008).
Menurut penulisnya -Tim Weiner-, ia memiliki sejumlah bukti otentik berupa dokumen tertulis dari CIA sendiri. Selain itu juga ia melakukan riset mendalam dan mewawancarai sejumlah narasumber penting. Tentu saja, apa yang ditulis buku itu bukan sekedar rumor belaka seperti cerita teman saya tadi.
Sebenarnya buku terjemahan dari karya asli berjudul Legacy of Ashes: The History of CIA itu sudah cukup lama terbit dan nongkrong di toko buku begitu saja. Menjadi kehebohan saat resensi buku tersebut muncul di harian Kompas edisi Minggu, 23 November 2008 lalu. Dalam resensi yang ditulis Julius Pour -wartawan senior Kompas- itu, disebut-sebut peran Adam Malik yang katanya agen CIA.
Barulah setelah itu orang ramai-ramai memburunya. Komentar pro-kontra pun bermunculan. Terutama tentang keterlibatan Adam Malik dalam operasi CIA di Indonesia. Pemberitaan di media massa terutama televisi, makin memperbesar efek bola salju kepopuleran buku itu. Tentu saja, akibatnya buku yang dicetak 5.000 eksemplar itu laku keras hingga dicetak ulang.

Saya tidak ingin membahas konflik soal Adam Malik. LifeLearner bisa membaca soal ini di berbagai media.Saya justru hendak membicarakan mengenai rahasia CIA dan posisi Indonesia. Dalam soal ini, sudah banyak buku yang membahasnya. Baik dari analis luar maupun mantan agennya sendiri. Tentu saja, pembahasan tidak bisa terlalu mendalam karena namanya saja dinas rahasia, tentu saja banyak informasi yang tidak bisa diakses publik. Ini tentu terkait dengan kepentingan dan keamanan dalam negeri A.S. yang harus dilindungi.
Akan tetapi, ada sejumlah aturan yang mengharuskan pemerintah A.S. untuk membuka dokumennya yang terkait kebijakan publik yang bersifat rahasia. Aturan itu antara lain adalah the Freedom Of Information Act (FOIA) 1966 dan the Privacy Act 1974. Jadi, semua institusi pemerintah A.S. di semua sektor harus membuka dokumen termasuk arsip surat-menyuratnya, betapa pun rahasianya. Hanya saja, tetap ada pengecualian terhadap hal-hal yang terkategori “top secret” atau tidak terkait kebijakan publik. Intinya, tidak boleh menabrak National Security Act 1947 dan aturan khusus lain semisal the CIA Information Act.

Keterlibatan A.S. dan CIA sebenarnya memang benar-benar pernah terjadi. Untuk menggulingkan Soekarno, CIA pernah mendukung pemberontakan PRRI/Permesta tahun 1955-1958. Guna mendukung pemberontakan ini, CIA mengirimkan logistik melalui udara. Sialnya, pesawat pembawa logistik berhasil ditembak oleh artileri pertahanan udara TNI AU. Pilotnya Allen Pope berhasil ditangkap. Ternyata dia seorang agen CIA. Pemerintah Soekarno lalu menggunakannya sebagai alat penekan dan memperkuat posisi tawarnya. CIA pun menarik dukungannya dari PRRI/Permesta. Pemberontakan pun berhasil ditumpas secara militer dengan Operasi 17 Agustus yang dipimpin Kolonel Achmad Jani (di kemudian hari menjadi Jenderal dan menjabat Men/Pangad. Dibunuh dalam peristiwa 30 September 1965). Operasi ini didukung Operasi Merdeka dan Operasi Tegas berupa penggelaran pesawat, pemboman dan lintas udara di daerah operasi oleh TNI AU.
Namun, justru keterlibatan CIA dalam operasi klandestin-lah yang banyak dipertanyakan. Termasuk yang paling heboh adalah revolusi anti Soekarno sebagai epilog peristiwa 30 September 1965. Dalam peristiwa berdarah tersebut, yang akhirnya menaikkan Soeharto sebagai presiden, disebut-sebut pula peran CIA. Buku lain yaitu Peran CIA Dalam Penggulingan Soekarno karya Peter Dale Scott juga pernah memuat soal sangkaan ini. Bagaimana kebenarannya? Tidak ada konfirmasi.
Hanya saja, dari semua keterlibatan CIA baik terbuktikan maupun tidak, semestinya kita sebagai bangsa sadar betapa strategisnya bangsa ini. Kalau Anda perhatikan, Amerika Serikat memiliki begitu banyak properti di Indonesia. Kedutaan Besarnya saja memiliki sejumlah lokasi di Jakarta saja. Belum lagi perusahaan-perusahaannya termasuk di bidang pertambangan dan perminyakan. Ini menunjukkan kepentingan mereka di sini besar.
Posisi Indonesia jelas dipandang penting oleh A.S., hanya saja dalam diplomasi internasional seolah dipandang remeh. Padahal, kita tidak bakalan jadi anggota G-20 dan APEC kalau tidak dipandang penting. Ingat lho, di bumi ini ada lebih dari 180 negara berdaulat. Dan kita bisa duduk sejajar dengan negara-negara maju itu dalam forum tersebut. Maka, jelas sekali posisi Indonesia amat penting.
Cuma pemimpin kita sayangnya sering kurang pe-de. Saya pernah menulis beberapa hari lalu saat menulis soal G-20. Posisi penting Indonesia ini kurang dimainkan agar dapat bermanfaat bagi negara. Padahal, ada rumor kalau siapa pun yang berminat jadi Presiden Indonesia mendatang biasanya akan ‘sowan’ ke Presiden A.S. dulu. Katanya sih untuk dapat restu. Tapi apa itu benar, lagi-lagi cuma rumor. Yang bukan rumor cuma posisi kita yang jelas penting bagi A.S. Ya tho?

Filed under: History / Sejarah, News/Berita | Tagged: Soekarno, buku, AS, militer, TNI, 1965, CIA, Amerika Serikat, Adam Malik, Tim Weiner, peran CIA, PRRI, Permesta, klandestin, intelijen, Membongkar Kegagalan CIA

Rabu, Januari 28, 2009

Direktur CIA Versi Obama

Mencermati Direktur CIA yang baru

In anggaran, e-goverment, eKsekutif, global, hAm, indonesia, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, mAnajemen, militer, pEndidikan, pErtahanan, pOlitik on 29/01/2009 at 10:26 AM

Leon Panetta lahir tahun 1938 di Monterey, umur 70. Pendidikan: Graduated dari Monterey School; B.A. dari Santa Clara University; JD dari Santa Clara University Law School. Militer: U.S. Army, 1964-66 (wajib militer). Kongres: kongres AS mewakili wilayah Monterey, 1977-1993; ketua Panitia Anggaran DPR, 1989-93. Administrasi Pemerintahan Clinton: Direktur Kantor Manajemen dan Anggaran, 1993-94, dan kepala staf, 1994-97. Saat ini: direktur Lembaga Kebijakan Publik, yang berbasis di California State University-Monterey Bay. Keluarga: Menikah dengan Sylvia Marie Varni; 3 anak laki-laki dewasa dan lima cucu. Panetta, mantan anggota kongres dan anak imigran Italia yang bekerja pada keluarga tani Carmel Valley, telah menjalankan Institut Kebijakan Publik sejak kembali ke kehidupan pribadi.

Leon Edward Panetta memiliki karir yang panjang dan terkemuka dalam pelayanan masyarakat, mulai dari tour of duty di US Army kepada layanan sebagai Chief of Staff Presiden Amerika Serikat. Lahir di Monterey pada tahun 1938 dari orangtua imigran Italia, Panetta seorang Katolik dan bersekolah di sekolah umum dan bekerja pada keluarga tani di Carmel Valley, di mana dia hidup hari ini dengan istrinya Sylvia. Dia seorang yang B.A. magna cum laude dari Santa Clara University dan JD dari Santa Clara University Law School, di mana dia adalah editor dari Law Review. Panetta menjabat sebagai Letnan Pertama di Army 1964-1966 dan menerima penghargaan Medal Army.ya Serius ?

Panetta pertama pergi ke Washington pada tahun 1966, ketika ia menjabat sebagai asisten legislatif pada Senator Thomas H. Kuchel California, Senat Minoritas Whip. Pada 1969, ia menjadi Asisten Khusus Sekretaris Kesehatan, Pendidikan dan Kesejahteraan, kemudian Direktur Dinas Hak Sipil, di mana dia bertanggung jawab untuk penegakan hukum dan pendidikan. Bukunya Bawalah Kami Bersama (diterbitkan tahun 1971) adalah bukti dari pengalaman itu. Dalam 1970, ia pergi ke New York City, di mana ia menjabat sebagai asisten eksekutif ke Walikota John Lindsay, mengawasi hubungan antara kota dengan negara dan pemerintah federal. Kemudian, pada 1971, ia kembali ke California, di mana ia beraktivitas di Thompson & Panetta sampai ia terpilih di Kongres tahun 1976.

Panetta ditunjuk sebagai Chief of Staff untuk Presiden Clinton pada 17 Juli 1994, dan bertugas di posisi yang sampai 20 Januari 1997. Dia adalah kepala perunding yang berhasil kompromikan anggaran 1996, dan telah banyak dipuji untuk membawa ketertiban dan fokus ke White House operasional dan pembuatan kebijakan. Panetta telah menjabat sebagai seorang pemimpin masyarakat dalam berbagai kebijakan publik dan organisasi nasional sepanjang karirnya. Pada Maret 2006, dia dipilih untuk melayani di Irak Study Group, komite bi-partisan yang didirikan di Kongres dan diselenggarakan oleh the US Institute of Peace, the Center for Strategic dan International Studies. Sejak 2005, ia menjabat sebagai anggota Gugus Tugas Independent pada Imigrasi dan Amerika Future. Pada bulan November 2004, Gubernur Schwarzenegger mengangkatnya pada Dewan di Base Dukungan dan Retensi. Panetta menjabat selama enam tahun pada Dewan Direksi dari New York Stock Exchange di awal tahun 1997. Dia adalah Ketua Komite untuk Tinjauan New York Stock Exchange dan di Corporate Governance serta Daftar Standarisasi Komite untuk Bursa Efek.

Ia menjabat pada Dewan Peninjau Nasional Amerika Serikat Konferensi uskup Katolik, dewan National Steinbeck Center, dan University of California Santa Cruz Foundation, dan sejak Juni 1998, ia menjabat pada board dari Santa Clara University. Dia juga menjabat sebagai anggota Dewan Wali Amanah untuk Santa Clara University, sebagai anggota dari Fleishman-Hillard International Advisory Board; sebagai wali bagi masyarakat, RS di Monterey Peninsula, dan sebagai direktur untuk Monterey Bay Aquarium. Dia adalah ketua Nasional Dewan Penasehat dari Pusat Nasional Kebijakan. Ia juga anggota Dewan Direksi untuk Blue Shield of California; IDT; Zenith; Connetics; National Marine Sanctuary Foundation; Dia memberi kuliah nasional dan internasional tentang keadaan perekonomian, dan anggaran federal dalam menghadapi masalah bangsa, dan penerima berbagai penghargaan. Ingin tahu lebih banyak soal Panetta? Lihat saja Panetta Sumber: berbagai media Amerika serikat.


Pelajaran yang perlu kita cermati dari kebijakan ini:

1. Betulkah kebijakan intelijen Presiden (terpilih) Obama ini akan menjadikan situasi dunia/internasional menjadi lebih baik ke depannya (soal HAM dan Demokrasi yang tidak ambivalen). Ujian pertama dia, soal Isreal-palestina, coba cermati.

2. Meski sipil, Panetta pernah dinas di militer sebagai wajib militer. Jadi, sekecil apapun dia sebenarnya sudah tahu dan punya modal tentang dunia intelijen.

3. Dalam konteks intelijen (apalagi internasional), berfikirlah lengkap dengan melihat semua kemungkinan yang bisa terjadi. Berharapan boleh, tunggu buktinya dulu, jangan pernah mengunyah informasi (termasuk janji Obama) secara mentah-mentah, lihat dan ikuti terus.

4. Orang dengan pengalaman intelijen yang minim dapatkah diterima sebagai pemimpin di organisasi intelijen? Bagaimanakah pembinaan sumber daya keintelijennya? Bagaimana produk dan kebijakan yang dihasilkan? Hati-hati itu lebih penting: pemilihan Panetta, bisa melegakan atau malah membahayakan komunitas internasional!

5. Camkan Dwi Warna Purwa, Cendekia Wusana, artinya bagi kita Bangsa dan Negara Indonesia-lah yang utama yang harus kita jaga dan kita bela. Untuk itu dalami dan patuhi konstitusi dan aturan hukum lainnya untuk menjalankan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang lebih bermartabat dan berkualitas. by Mpu Nallar

MEMBANGUN AURA POSITIF

Menanam Aura Positif lebih efektif dimulai pada masa Anak - anak & Remaja walau begitu aura positif dapat dikebangkan optimal pada Orang dewasa
Terapi hipnosis makin banyak diterapkan pada anak untuk mengubah perilakunya menjadi positif. Kunci keberhasilan terletak pada orang tua.
MICHELLE Kezia sempat membuat orang tuanya gundah. Bocah delapan tahun itu sangat sulit makan. Sang ayah, Taufik Onggowidjaja, pernah memberinya obat penambah nafsu makan. Namun jurus ini tak mempan. Belakangan, Taufik melirik terapi hipnosis. Barulah terungkap, problem gadis kecilnya bukan sekadar urusan fisik, melainkan kejiwaan.
Bapak-ibunya pun disarankan mulai mengendurkan tekanan dan mengurangi kecerewetan mereka. Lalu sang anak diberi sugesti dengan pesan-pesan positif. Perlahan-lahan, siswi kelas III Sekolah Dasar Paulus, Bandung, itu mulai makan banyak.
Terapi hipnosis pada anak kian diminati. Karena berkaitan dengan pola asuh dan peran orang tua, hipnosis ini disebut hypnoparenting. Menurut Erwin Kusuma, spesialis kesehatan jiwa di Pro V Klinik, Cempaka Putih, Jakarta, menggunakan pengaruh hipnosis untuk menanamkan rekaman positif dan menetralkan rekaman negatif pada alam bawah sadar anak.”
Dalam kondisi aktif, otak—jika dihitung dengan EEG (electroencephalography), pengukur aktivitas listrik di otak—berada dalam gelombang beta. Jika rileks, otak ada di gelombang alfa. Lebih rileks lagi, otak dalam posisi teta. Ini kondisi saat seseorang sudah terpejam menjelang tidur tapi belum terlelap. Atau, saat baru bangun, mata sudah membuka tapi belum benar-benar sadar.
Nah, teta adalah waktu terbaik untuk memasukkan sugesti, juga pada anak. Pada bayi dan anak yang belum sekolah, sasaran terapi adalahorang tuanya. Sedangkan pada anak yang lebih besar, terutama yang sudah remaja, terapi bisa langsung pada sasaran.
Dudi dan Devy Permadi—pasangan pengelola ”D” House of Hypnotherapy, Kemang, Jakarta Selatan—menuturkan kebanyakan orang tua datang karena anak mereka tak mau sekolah atau malas belajar sehingga prestasi menurun. Ada juga yang anaknya tak bisa bangun pagi, gagap, penakut, bahkan agresif. Dudi dan Devy pernah mendapat pasien anak usia tujuh tahun yang suka melakukan kekerasan dan kerap mengejar orang dengan membawa pisau. Ada juga kasus anak nakal yang melawan orang tua atau terjerat narkotik dan obat-obatan terlarang.
Bagaimana hypnoparenting? Menurut Devy, arsitek yang pindah jalur menjadi terapis hipnosis—dan sudah lima tahun mendapat sertifikat terapis—pada pertemuan pertama, terapis akan berbincang dengan orang tua dan anak. Bagi anak yang masih kecil dan belum bisa mengemukakan perasaan atau pikiran dengan kata-kata, diberikan sejumlah ”tes”: warna, gambar, dan doodle test (uji corat-coret). Misalnya, anak yang tak mau sekolah diminta mewarnai gambar orang. Sosok orang tua diwarnai dengan baik, tapi sosok teman-temannya dicorat-coret dengan warna merah berantakan dan ditebalkan. Setelah digali lebih dalam, terungkap anak itu sering dinakali (bullying) teman-temannya. Itu sebabnya ia mogok sekolah.
Anak yang lebih besar bisa langsung diajak mengobrol. Adhi Susilo, insinyur elektro lulusan Institut Teknologi Bandung yang berguru pada Anthony Robbins, terapis hipnosis Amerika Serikat, pertama-tama harus membuat anak merasa nyaman dengan obrolan itu. Setelah suasana santai, ia akan melancarkan sugesti-sugesti. Misalnya, anak yang tak suka sayur diberi sugesti positif bahwa ia doyan sayur. Pesan dianggap sampai jika wajah si anak terlihat senang dan menyatakan bersedia menuruti perintah dengan senyum mengembang. Biasanya, kata Adhi, dalam beberapa hari, orang tua akan melaporkan perubahan perilaku anaknya.
Terapis akan mengajari orang tua menanamkan sugesti positif untuk mengubah perilaku anak. Orang tua harus lebih dulu berubah, terutama bila menghadapi anak di bawah lima tahun. Mereka adalah peniru ulung. Bagaimana mungkin ayah menyuruh anaknya tenang, sementara ia sendiri suka berteriak-teriak? Bagaimana bisa ibu memaksa anaknya menghabiskan makanan, sedangkan ia sering menyisakan santapan di piring?
Langkah berikutnya, menanamkan pesan-pesan positif kepada anak dengan metode hipnosis saat anak dalam kondisi teta. Dalam kondisi rileks bisikkan kata-kata yang diinginkan dengan lembut. Syaratnya, kalimat yang diucapkan harus positif (tak boleh mengandung kata ”jangan” atau ”tidak”), harus present tense atau saat ini (tidak boleh ”akan”)—lebih singkat pesan lebih baik—dan diulang-ulang setiap hari. Misalnya, ”Mulai hari ini, setiap pagi saya bangun jam enam dengan riang gembira.”
Berdasarkan pengalaman cepat atau lambatnya keberhasilan hipnosis tak bisa dipastikan sama. Ada yang dalam 10 hari perilaku anaknya berubah. Ada pula yang membutuhkan waktu lebih dari sebulan.
Pada prinsipnya, hipnosis pada anak tak berbeda dengan orang dewasa. Keduanya sama-sama upaya untuk menanamkan sugesti positif buat mengubah sesuatu di alam bawah sadar. Pada anak-anak usia lima tahun ke bawah hipnosis relatif lebih mudah. Pada masa itu, otak mereka bagai spons yang sangat mudah menyerap masukan dari luar. Tidak seperti orang dewasa, karena sudah mengalami banyak hal, otaknya dipenuhi penyaring informasi dan lebih sulit dipengaruhi.
Yang harus diingat, hypnotherapy is not magic. Jika anak diberi sugesti supaya lulus ujian, ia harus tetap belajar. Bukan lantaran sudah dihipnotis dengan kata-kata positif, akan lulus tanpa belajar.
Apakah hipnosis pada usia dini aman bagi perkembangan otak anak? Devy menyatakan, cepat atau lambat, si anak akan mendapat pengaruh—termasuk yang buruk—dari lingkungannya. Justru jika sejak dini anak sudah diberi sugesti positif tentang hal-hal yang baik, ia akan tumbuh dengan perilaku yang baik pula.
Jika sejak kecil sudah diberi sugesti dengan pesan-pesan dan perilaku baik dari orang tua dan lingkungan terdekat, tak ada dampak buruk hipnosis bagi otak si kecil. Yang ada justru dampak positifnya.
Erwin mengingatkan, yang terpenting sebetulnya bukan hypnoparenting, melainkan parenting itu sendiri. Ada sejumlah pantangan dalam mendidik anak. Pertama, hindari labeling atau pemberian cap buruk pada anak, misalnya anak nakal, pemalas, bodoh, atau pembohong. Ini akan terekam dalam memorinya dan justru menuntut si anak ”membuktikan” bahwa label itu benar. Kalaupun mau melarang, gunakan kalimat positif. Misalnya, bukan ”jangan malas”, melainkan ”rajin”, atau bukan ”jangan ribut”, melainkan ”tenang”.
Kedua, hindari membandingkan anak dengan saudaranya atau dengan anak lain. Setiap anak unik. Bahkan dua bersaudara yang dibesarkan dengan cara yang sama persis pun hasilnya pasti berbeda.
Terlepas dari segenap teori hypnoparenting, Erwin menyatakan sejatinya hipnosis yang sangat berbahaya adalah televisi. Saat menonton, anak sedang rileks—otaknya berada di gelombang alfa—dan berkonsentrasi penuh. Ia pun menyerap tanpa saringan apa saja yang ada di layar.
Erwin menceritakan sebuah penelitian pada sekelompok anak yang gemar menonton televisi. Mereka diminta menggambar bebas. Hasilnya, mayoritas anak melukis sesuatu yang berbau kekerasan. Termasuk, astaga, gambar kepala terpenggal. ”Ini membentuk rekaman kekerasan dalam otaknya dan bisa muncul di masa mendatang,” kata Erwin.
Andari Karina Anom, Anwar Siswadi (Bandung)
Menghitung Sinyal Otak Kita
Gelombang Alfa: otak mulai rileks. Terjadi pada saat kita berkonsentrasi penuh pada satu hal, apa saja, misalnya: berdoa dengan khusyuk dan menonton televisi dengan fokus. Saat ini, sugesti bisa mulai masuk—apalagi yang sifatnya mengagetkan dan tiba-tiba. ----------
Gelombang Beta: otak sedang aktif-aktifnya, yaitu di saat kita sedang bekerja atau beraktivitas. Pikiran dipenuhi dengan saringan atau prasangka-prasangka pada informasi apa pun yang masuk.
Gelombang Teta: otak rileks lebih dalam lagi. Ini di saat kita menjelang tidur tapi belum sepenuhnya terlelap atau di saat baru bangun tapi belum betul-betul terjaga. Bisa juga dengan latihan. Saat inilah alam bawah sadar kita mampu menyerap segala informasi tanpa saringan. Ini saat terbaik menanamkan sugesti positif pada setiap orang.Tidak hanya pada anak - anak atau Remaja. Mpu Nallar

Kamis, Januari 22, 2009

ehmmmmmmm.....!


Sedikit tentang : Intelijen

Pada umumnya badan intelijen memiliki Tiga Fungsi Dasar : PENGUMPULAN, ANALISIS dan, CIRI yang melekat pada seluruh proses intelijen adalah kontra intelijen. sedangkan Fungsi ke-Empat yang agak jarang dilakukan oleh badan intelijen adalah tindakan tertutup/rahasia yang semakin sering diperdebatkan apakah hal tersebut merupakan fungsi intelijen yang pantas dalam negara maju.

1. PENGUMPULAN
Pengumpulan merupakan prinsip dasar dari intelijen, yakni upaya untuk mendapatkan informasi tentang orang, tempat, kejadian dan kegiatan yang dibutuhkan oleh pemerintah namun tidak dapat diperoleh melalui sumber-sumber yang terdapat secara luas dalam masyarakat, jalur diplomatik, maupun melalui kontak kontak lainnya. Tanpa pengumpulan, intelijen hanyalah merupakan perkiraan belaka.

Sistem pengelolaan pengumpulan digunakan untuk masing-masing dari ketiga metode utama pengumpulan:

-intelijen manusia yakni informasi yang dikumpulkan oleh manusia seperti mata-mata, agen, orang dalam, atau diambil dari pembelot, pengadu, informan, diplomat, pelaku bisnis, pelaku perjalanan dan media, dll.

-intelijen sinyal terdiri dari data dan informasi yang dikumpulkan melalui penyadapan radio, radar, atau pancaran elektronik lainnya termasuk laser, cahaya yang terlihat dan optik elektronik; dan,

-intelijen gambar yang merupakan data dan informasi yang dikumpulkan melalui foto, atau teknologi pengambilan gambar secara elektronik, inframerah, ultra-violet dari darat, angkasa, ataupun luar angkasa. Intelijen manusia dapat dipecah lagi menjadi pengumpulan terbuka dan rahasia.

Keterampilan dan teknik intelijen manusia secara rahasia sangat berbeda dengan yang dibutuhkan untuk pengumpulan intelijen manusia secara terbuka dan karena itu pengaturan dan tanggungjawabnya juga berbeda.

Demikianpun dalam pengaturan pelaporan dan penyebaran intelijen yang dikumpulkan melalui setiap metode yang berbeda. Karena kartografi dan pemetaan sekarang sudah sangat bergantung pada pengambilan gambar atau pencitraan, maka ada alasan yang cukup kuat untuk memasukkan pemetaan militer atau yang lainnya ke dalam metode ini.

Secara teoritis, semua kemampuan pengumpulan harus dilakukan terhadap target yang sama untuk memastikan konfirmasi fakta yang independen terhadap hasil yang diperoleh melalui penggunaan satu metode. Karena berbagai kerumitan dan kebutuhan yang berbeda, ini tidaklah selalu praktis untuk dilakukan dan terkadang sangatlah mahal.

Jadi sumber terbuka atau informasi yang tersedia secara publik dibutuhkan untuk mengenali kesenjangan pengetahuan, mengkonfirmasi bahwa informasi hanya bisa diperoleh dengan menggunakan metode intelijen tertentu, dan untuk memastikan bahwa kebutuhan yang ada memang membenarkan penggunaan kemampuan pengumpulan yang mahal atau beresiko, dan baru sesudah itu tugas diberikan kepada pengumpul intelijen.

Sistem pengumpulan intelijen tidak boleh digunakan untuk mengumpulkan informasi yang tersedia secara luas dalam masyarakat. Walaupun mungkin akan terkumpul sebagai produk sampingan selama pengumpulan intelijen, informasi publik harusnya didapatkan dengan cara lain tanpa menggunakan cara-cara rahasia.

Kemampuan pengumpulan intelijen yang berbeda-beda seharusnya digunakan hanya untuk mengumpulkan informasi yang secara masuk akal dapat ditetapkan atau sebelumnya telah divalidasi sebagai sesuatu yang penting bagi pembuat kebijakan atau pengguna intelijen. Lebih jauh lagi, biaya politis yang mungkin ada harus betul-betul diperhitungkan dengan keuntungan potensialnya. Dengan demikian pejabat kebijakan senior haruslah terlibat dalam proses ini.

2. ANALISA
Analisa adalah istilah yang digunakan untuk proses pencocokan, penguraian, dan evaluasi informasi mentah dan dari berbagai sumber diolah menjadi produk intelijen : dalam bentuk peringatan dan laporan situasi, analisa, penilaian, perkiraan, dan kertas briefing.

Analisa dan produksi sebaiknya dilakukan dalam kedekatan dengan para pengguna produk intelijen. Dalam mengelola pengumpulan, analisa dapat bertumpu pada metode-metode pengumpulan untuk menyediakan informasi mentah maupun olahan untuk dievaluasi dan kemudian membentuk produk agar sesuai dengan kebutuhan pengguna. Produk ini harus mencakup: apa yang diketahui (fakta), bagaimana hal itu diketahui (sumber), dasar pertimbangan (asumsi kunci), dampak dari perubahan dasar pertimbangan (hasil-hasil alternatif), dan apa yang tetap tidak diketahui.

Tujuan utamanya adalah untuk meminimalisasi ketidakpastian yang harus dihadapi oleh para pembuat kebijakan dalam membuat keputusan tentang keamanan nasional dan kebijakan .

Analisa juga harus membantu dalam memaknakan isu-isu yang rumit dan menggugah perhatian ke masalah-masalah atau ancaman-ancaman yang akan muncul terhadap kepentingan nasional. Jadi yang penting bukan hanya untuk menentukan apa yang akurat melainkan juga apa yang relevan untuk kebutuhan pembuat kebijakan.

Badan-badan Intelijen tidak boleh memenuhi permintaan analisa bila sebelumnya mereka mengetahui bahwa informasi yang didapatkan melalui intelijen hanya sedikit tingkat relevansinya terhadap analisa keseluruhan dari subyek tersebut. Mereka juga tidak boleh menerima permintaan analisa ketika hal itu dapat dicapai menggunakan sumber-sumber publik yang tersedia kecuali bila para analis atau badan intelijen tersebut dapat memberikan bobot tambahan yang signifikan terhadap analisa materi dari sumber-sumber terbuka.

Rabu, Januari 14, 2009

SONETA XV11- PABLO NERUDA

Memodifikasi Soneta XVII-nya Pablo Neruda

__BAHASA -_ASLINYA:
No te amo como si fueras rosa de sal, topacio o flecha de claveles que propagan el fuego: I do not love you as if you were salt-rose, or topaz, or the arrow of carnations the fire shoots off
Te amo como se aman ciertas cosas oscuras, secretamente, entre la sombra y el alma. I love you as certain dark things are to be loved, in secret, between the shadow and the soul.
Te amo como la planta que no florece y lleva dentro de sí, escondida, la luz de aquellas flores,… I love you as the plant that never blooms but carries in itself the light of hidden flowers
y gracias a tu amor vive oscuro en mi cuerpo el apretado aroma que ascendió de la tierra …. and thanks to your love a certain solid fragrance, risen from the earth, lives darkly in my body.
Te amo sin saber cómo, ni cuándo, ni de dónde,… I love you without knowing how, or when, or from where
Te amo directamente sin problemas ni orgullo: así te amo porque no sé amar de otra manera… I love you straightforwardly, without complexities or pride; so I love you because I know no other way…
Sino así de este modo en que no soy ni eres,…. Than this: where I does not exist, nor you,
tan cerca que tu mano sobre mi pecho es mía,…. so close that your hand in my chest is my hand
tan cerca que se cierran tus ojos con mi sueño … so close that your eyes close as I fall asleep
BY :Pablo Neruda: Soneto XVII




__________MODIFIKASInya :
Pernah kau kusanjung seindah mawar? Karena memang bukan gemulai kelopakmu yang membuat aku berlutut, atau kupicingkan mata menahan serbuan kemilau, seakan kau kurindu karena secemerlang batu berlian, atau kupasang perisai rasa membendung nyala api yang memercik dari panah anyelirmu yang runcing?
Ini cinta yang dulu kukira hanya ada di kitab-kitab kumal penyair, di surat -surat yang tak pernah terkirimkan. Aku menemukannya, dan kuundang kau bersama-sama menyerahkan diri pada sesuatu dalam kegelapan yang tak membutuhkan tatap, tegak di luar spektrum warna; rahasia di garis batas bayangan dan jiwa. Aku bukan petualang yang jumawa memasuki gua, untuk kemudian mati ditebas ketakutannya sendiri, tetapi karena merebut hatimu, adalah sebuah perang di mana kebinasaan pun kurayakan sebagai kemenangan..
Kau bungaku yang tak pernah mekar, rapat mengatup kuncup menunduk, tapi telah kutemukan dalam dirimu cahaya dari bunga-bunga tersembunyi, wangi yang tak menyisakan ruang untuk menghela napas…
Terima kasih, Cinta,. untuk udara hangat yang bermunculan dari lembabnya tanah, hidup, melata, secara gelap dalam tubuhku, menjalari ke nadiku yang gemetar dingin di udara pengap..
Inilah cinta yang kutunggu, yang membetahkan pungguk merindu bulan, yang membuat kesatria tabah mendekati tiang gantungan, yang tiba-tiba ada untukmu, tanpa kutahu mengapa, atau kapan, atau dari mana..
Aku mencintaimu penuh, memberat tanpa kupikul apa-apa, lurus dalam curam dan cadasnya, sederhana dalam kerumitan yang tak terterakan dengan seribu metafora, bertahta di hati tanpa macam-macam kbangaan, tanpa sorak sorai, kecuali pesta sunyi di halaman pikiranku..
Sambutlah, walau begini cara cintaku mendekatimu,
karena belum ditemukanya jalan lain, dan waktuku menyusut untuk kembali mengundi takdir
Aku mencintaimu karena kutahu tak ada jalan lain selain ini: di mana aku tiada, tiada juga kau, begitu dekat sehingga tanganmu di dadaku adalah tanganku, begitu akrab sehingga ketika matamu terpejam, akupun jatuh tertidur……..
*especialy for someone at andara street

BY MPU NALLAR

KHUSUS PEMINAT / PENGAMAT INTELEJEN

Siklus intelejen:tahapan kerjaan sang intelijen

Dua tindakan utama yang dilakukan intelijen, yakni pengumpulan dan analisa, harus dilihat dari sudut pandang yang lebih luas yakni yang menghubungkan kegiatan-kegiatan tersebut dengan kebutuhan pembuat keputusan dan penggunaan dari produk intelijen yang sudah rampung. Ini dilakukan melalui konsep siklus intelijen yakni suatu proses dimana informasi didapatkan, diubah menjadi produk intelijen dan dibuat disajikan kepada pembuat kebijakan.

Siklus intelijen umumnya terdiri dari lima langkah: (1) perencanaan dan pengarahan; (2) pengumpulan; (3) pengolahan; (4) produksi dan analisa: dan (5) penyebaran.
(1) Perencanaan dan pengarahan mencakup pengelolaan seluruh usaha intelijen, mulai dari identifikasi kebutuhan data yang disimpulkan dari penilaian tentang ancaman atau daftar prioritas dari isu strategis dan kebijakan yang sampai sekarang belum dipecahkan, memutuskan negara atau kelompok mana di dalam dan di luar negeri yang harus dpantau oleh intelijen, sampai dengan penyajian produk intelijen kepada pengguna. Keseluruhan proses ini diawali dari permintaan atau kebutuhan atas intelijen mengenai subyek tertentu berdasarkan kebutuhan dari pengguna apakah itu presiden, perdana menteri, dewan keamanan nasional, menteri atau badan pemerintahan lainnya. Dalam berbagai kasus, permintaan dan kebutuhan sudah terlembaga.
(2) Pengumpulan melibatkan pengumpulan data mentah yang diolah menjadi produk intelijen. Proses pengumpulan mencakup sumber terbuka, sumber rahasia, seperti agen dan pembelot yang memberikan informasi yang tidak dapat didapatkan dengan cara atau metode pengumpulan lainnya.
(3) Pengolahan berkenaan dengan pengubahan sejumlah besar informasi yang masuk ke dalam sistem menjadi produk intelijen akhir, seperti penerjemahan bahasa dan pemaknaan sandi. Informasi yang tidak langsung diserahkan kepada analist dipilah dan disimpan dalam komputer agar sewaktu-waktu dengan mudah dapat digunakan kembali. Dengan demikian pengolahan mengacu pada pemilahan berdasarkan subyek dan juga pengurangan data, serta penafsiran dari informasi yang disimpan dalam film dan pita melalui penggunaan proses fotografi dan elektronik lanjutan.
(4) Produksi dan analisa mengacu pada pengubahan informasi dasar menjadi intelijen akhir. Ini mencakup integrasi, evaluasi dan analisa semua data yang tersedia dan penyiapan beragam produk intelijen. Produk atau perkiraan semacam itu dapat disajikan sebagai briefing, laporan singkat atau uraian yang lebih panjang. Intelijen mentah, yang dikumpulkan sering kali terpisah-pisah dan terkadang saling bertentangan, sehingga membutuhkan ahli khusus untuk menentukan arti dan pengaruhnya. Jadi, analisa yang baik bergantung pada penggabungan berbagai pemikiran terbaik untuk mengevaluasi kejadian dan kondisi, menggunakan rangkaian pengetahuan publik maupun rahasia yang didapatkan dari musuh. Subyek-subyek yang terkait dapat mencakup kejadian, kemampuan atau perkembangan masa depan yang mungkin terjadi, atau berbagai wilayah dan masalah atau tokoh-tokoh dalam berbagai konteks, apakah itu politik, geografis, ekonomi, keilmuan, militer atau biografis.
(5) Penyebaran, langkah terakhir dari siklus ini, yang mencakup penanganan dan distribusi intelijen akhir kepada pengguna intelijen, yakni pembuat kebijakan yang sama yang kebutuhannnya telah memicu jalannya siklus pada awalnya. Ini merupakan tahap yang penuh dengan kemungkinan akan terjadinya kesalahan. Informasi yang tersaji harus memiliki lima karakter penting agar dapat berguna: relevansi, tepat waktu, akurat, cakupan, dan murni- artinya informasi tersebut bebas dari manipulasi politik (informasi yang salah, propaganda, penipuan, dll.).

Dua frasa yang seringkali diabaikan dalam proses ini: penggunaan dan umpan balik. Isu-ius penting termasuk bagaimana dan dalam bentuk apa, pembuat kebijakan menggunakan intelijen dan sampai sejauh mana intelijen tersebut digunakan. Hubungan dengan para pembuat kebijakan harusnya aktif dan bukannya pasif. Namun objektifitas membutuhkan jarak tertentu dan kemauan untuk menimbang semua variabel – bukan hanya yang dianggap penting oleh analist atau penggunanya pada masa lalu. Walaupun umpan balik tidak dilakukan sesering yang diinginkan oleh badan intelijen, suatu dialog antara pengguna dan produsen intelijen harus terjadi setelah intelijen tersebut diterima.

Jadi pembuat kebijakan harus memberikan penjelasan kepada pengguna apakah kebutuhan mereka telah dipenuhi dengan baik serta mendiskusikan penyesuaian yang mungkin dibutuhkan dalam bagian manapun dari proses tersebut. Sebagaimana model pada umumnya, gambaran siklus intelijen ini merupakan penyederhanaan dari apa yang terjadi di dunia nyata. Syarat-syarat tertentu dapat menjadi ketentuan. Pembuat kebijakan jarang mau untuk menspesifikasi rincian informasi. Melainkan, mereka akan mengindikasikan suatu keinginan akan laporan tentang situasi atau perkembangan tertentu, dan membiarkan tanggung jawab untuk menentukan bagaimana informasi yang dibutuhkan akan didapatkan guna menyiapkan laporan semacam itu kepada badan intelijen.

Lebih jauh lagi, badan intelijen pasti memiliki kebutuhan internal untuk mendapatkan informasi guna memastikan keberlangsungan operasi mereka: yaitu intelijen yang akan berguna dalam operasi potensial di masa depan atau yang terkait dengan kontra intelijen dan keamanan. Penyebaran adalah aspek sikus intelijen yang paling sulit untuk ditangani secara tepat.

Berbagi intelijen, bahkan dalam suatu pemerintahan, adalah sulit karena kebutuhan untuk merahasiakan metode dan sumber intelijen tersebut. Namun menyebarkan intelijen ke sebanyak mungkin pejabat yang bertanggung jawab adalah penting untuk memastikan keamanan dan keselamatan yang efektif.

Jumat, Januari 09, 2009

INFORMASI PENTING DIBOCORKAN AGEN BINAAN

Informasi Rahasia dibocorkan
oleh Agen Binaan


Ditulis oleh hadiwibowo - 2008

Saya pernah membaca di koran, seorang pejabat pemerintah yang dituduh sebagai agen binaan intelijen asing. Pejabat itu dengan keras membantahnya dan mengatakan bahwa dirinya bukan seorang agen binaan (intelijen) asing.

Seseorang yang dijadikan target untuk “dibina” oleh agen intelijen, tentunya tanpa sepengetahuan dan tanpa menimbulkan kecurigaan yang bersangkutan. Dan memang pembinaan itu dibuat sedemikian rupa agar tidak terasakan oleh targetnya. Itulah salah satu kerja sukses seorang agen intelijen dalam membina agen lokal yang bukan atas kemauan sendiri untuk menjadi agen.

Yang terjadi adalah pertemanan atau persahabatan seperti layaknya kehidupan normal. Dalam masa pertemanan itulah terjadi obrolan-obrolan santai yang membahas keluarga, film, kedinasan, informasi rahasia, rahasia pribadi, kegiatan di tempat kerja, atau obrolan ringan tentang sepak bola misalnya.

Si agen (intelijen) itu lalu membuat catatan kesimpulan dan resume pembicaraan-pembicaraan diantaranya yang relevan untuk dilaporkan ke kantor pusatnya atau kepada agen intelijen lainnya. Yang seperti ini dalam bahasa teknologi disebut social-engineering.

Dalam masa pertemanan itu juga biasanya si agen memberikan benda-benda yang disenangi oleh si target, misal pulpen atau jam tangan bermerek terkenal, hiasan dinding atau benda seni yang ditaruh di ruang kerja, yang sebelum diserahkan benda-benda tersebut telah disisipi alat-alat sadap. Bahkan bisa jadi si agen itu menyusup hingga menjadi konsultan atau mitra bisnis atau bahkan menjadi orang kepercayaan dari si target.

Namun semua tuduhan bahwa seorang pejabat disadap atau dijadikan agen binaan akan dibantah kecuali terbukti nyata bahwa memang telah terjadi hal demikian, seperti berita tentang pembocoran informasi penting dan rahasia di Pentagon, Amerika Serikat berikut ini.

kutip

Jawa Pos : Internasional

[ Minggu, 13 Juli 2008 ]

Jual Rahasia Pentagon, Divonis 57 Bulan

WASHINGTON - Gregg William Bergersen harus menerima konsekuensi perbuatannya. Karena menjual rahasia militer negaranya kepada mata-mata pemerintah Tiongkok, staf Pentagon itu kemarin (12/7) diganjar hukuman penjara 57 bulan. Dokumen yang dibocorkan pria 51 tahun itu adalah penjualan senjata Amerika Serikat kepada Taiwan.

Hukum yang berlaku di Negeri Paman Sam, membocorkan rahasia pertahanan negara bisa dikenai hukuman hingga sepuluh tahun penjara. Untuk Bergersen, setelah bebas nanti, dia masih harus menjalani masa percobaan selama tiga tahun. Menurut pengacara Bergersen, Mark Cummings, hakim Leonie Brinkema yang mengadili skandal penjualan rahasia militer tersebut mengatakan bahwa hukuman itu cukup ringan.

Mata-mata Tiongkok yang menerima rahasia dari Bergersen juga tidak luput dari jerat hukum. Agen rahasia kelahiran Taiwan itu, Tai Shen Kuo, akan menerima vonis pada 8 Agustus mendatang. Menurut FBI, ancaman hukuman bagi dia jauh lebih berat. Yakni, hukuman penjara seumur hidup karena telah menjadi mata-mata.

Di Pentagon, Bergersen bekerja sebagai analis kebijakan sistem persenjataan di Badan Kerja Sama Keamanan Pertahanan. Badan tersebut melaksanakan program penjualan senjata dengan asing. Selain itu, mereka secara berkala menangani penggolongan penjualan senjata luar negeri. Termasuk Taiwan, yang juga menjadi ”klien” mereka.

”Selama konspirasi itu, Kuo berusaha menjaga hubungan pertemanan dengan Bergersen. Dia melimpahinya dengan berbagai macam hadiah, termasuk uang tunai, makan malam, serta uang untuk judi di Las Vegas,” bunyi pernyataan dari Departemen Kehakiman. ”Tanpa sepengetahuan Bergersen, Kuo menyampaikan informasi yang didapatnya dari Bergersen kepada pejabat pemerintah Republik Rakyat Tiongkok,” tambahnya.

Sebelumnya, Departemen Kehakiman menyatakan bahwa banyak dokumen rahasia yang diketahui para pegawainya. Salah satunya, penjualan senjata ke Taiwan. Hal itu tidak seharusnya dibocorkan kepada pihak luar.

”Spionase adalah tindak kriminal paling serius di Amerika,” kata Arthur Cummings, asisten direktur eksekutif FBI. (AFP/dia/ami)

unkutip -antz-

Pengikut dari 5 benua

Arsip Blog