Senin, Agustus 17, 2009

Peringatan HUT RI Ke 64 Di Istana Negara Aman


BIN Pastikan Sampai Detik Ini Istana Aman

Jaringan teroris Noordin M Top sempat membidik Istana Negara sebagai salah satu sasarannya

Kelompok teroris Noordin M Top membidik Istana Negara sebagai salah satu sasaran bom mereka. Namun Kepala Badan Intelijen Nasional (BIN) Syamsir Siregar memastikan Istana sejauh ini aman.

"Semua berjalan baik, sampai detik ini tidak ada apapun," kata Syamsir usai peringatan detik-detik proklamasi di Istana Negara, Jakarta, Senin 17 Agustus 2009.

Dia juga memastikan wilayah lain di Indonesia aman dari ancaman teroris. "Tidak ada (ancaman)," kata dia.

Istana sendiri semakin memperketat pengamanan. Terkait peringatan kemerdekaan RI, pengamanan mencapai tiga lapis. Namun Mensesneg Hatta Rajasa membantah ada peningkatan sistem keamanan. "Nggak, seperti biasanya saja," kata dia.

Seminggu lalu, 8 Agustus 2009, Densus 88 penggerebek sarang teroris di Jati Asih, Bekasi dan Temanggung, Jawa Tengah. Dari penggerebekan di Jati Asih, polisi menemukan bom rakitan dan bahan bom mobil.

Salah satu kelompok teroris yang ditangkap Amir Abdillah menginformasikan bom-bom tersebut akan diledakkan di kediaman pribadi Presiden SBY di Cikeas dan Istana Negara.

Dalam penggerebekan teroris di dua tempat itu, polisi menembak mati tiga kawanan tersebut, yakni Air Setiawan, Eko Joko Sarjono, dan Ibrohim, si pengatur bom bunuh diri di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton. Ledakan bom di dua hotel ini pada 17 Agustus 2009 lalu menewaskan sembilan orang dan melukai 55 orang lainnya.

Rabu, Agustus 12, 2009

Sekilas tentang Skenario Barat terhadap Dunia Islam

Skenario global terhadap dunia Islam

Membahas otak sesungguhnya dari terorisme yang mengatasnamakan agama Islam tentunya akan sulit untuk lepas dari teori konspirasi yang sesungguhnya memiliki kelemahan yang mendasar. Kelemahan bersandar pada teori konspirasi adalah kurang validnya data, terlalu banyak faktor kebetulan, serta terlalu kuatnya asumsi dan prasangka tertentu.

Apabila kita waspada, akan terlihat bahwa mempercayai teori konspirasi berarti mengakui supremasi Barat (AS)yang seolah-olah telah mengenggam dunia dengan segala kehebatannya. Kelemahan intelektual dan pengakuan atas supremasi Barat itulah yang justru dihembuskan dari para penganjur teori konspirasi yang mayoritas juga justru dari kalangan Barat yang tidak memiliki kredibilitas yang kuat, misalnya kelompok - kelompok Kiri radikal yang sudah invalid ditelan waktu

Terlalu banyak desepsi informasi yang menggambarkan seolah-olah CIA, MI6, dan kawan-kawan begitu hebatnya dalam operasi intelijen global serta telah menguasai banyak hal di dunia. Hal itu sesungguhnya tidak sepenuhnya benar. Saya dapat bertaruh 50-50, artinya setiap cerita kehebatan itu harus dikorting 50% nilai kebenarannya, sehingga sudah sangat tidak meyakinkan karena telah masuk dalam kategori meragukan.

Dalam berbagai kasus politik internasional, tampak jelas bahwa kemampuan intelijen AS dan negara-negara Barat tidaklah kuat. Dalam berbagai kasus serius di Timur Tengah, Afrika, China, Myanmar, Eropa Timur jelas sekali jalannya sejarah tidak ditentukan oleh peranan intelijen, tetapi justru intelijen berupaya mengklaim prestasi atau suatu hal yang tidak pantas diklaim.

Frustasi intelijen Barat selama perang dingin terobati dengan blunder politik keterbukaan di bekas Uni Soviet, karena kelemahan terbesar dari intelijen Barat adalah kurangnya penetrasi human intelligence ke dalam sasaran. Namun dari sudut pandang teori konspirasi, sah-sah saja bila intelijen Barat mengklaim telah berjasa dalam mendorong keterbukaan di bekas Uni Soviet yang akhirnya menghancurkan sendi-sendi persatuan nasional dan pecahlah negara Uni Soviet. Hal ini disadari betul oleh Vladimir Putin yang telah mengembalikan kekuatan Uni Soviet dalam skala Russia yang secara meyakinkan bangkit kembali tanpa menunjukkan suatu keadaan yang tunduk pada negara-negara Barat.

Permainan dengan pejuang Mujahidin di Afghanistan adalah juga dalam kerangka perang dingin, dan pada waktu itu Islam sama sekali bukan suatu isu ancaman bagi AS dan sekutunya. Bahkan secara serius terjadi pembinaan yang intensif dalam rangka menghadapi musuh bersama Russia. Perebutan pengaruh global di kawasan tidak dapat tidak akan melibatkan kekuatan-kekuatan lokal, sehingga mujahidin dan berbagai kelompok perlawanan mendapatkan angin dukungan dari AS. Tidak ada musuh yang abadi dan tidak ada sahabat sejati, demikian politik internasional berbicara. Masa romantis AS dan pejuang Mujahidin berakhir hanya karena Mujahidin tidak dapat dikendalikan secara ideologi untuk tunduk dan patuh kepada konsep-konsep yang ingin dipaksakan oleh AS seperti diberlakukan kepada bangsa Jepang paska Perang Dunia ke-II. Sebelum sungguh-sungguh pecah kongsi, telah terjadi upaya untuk meyakinkan pejuang Mujahidin tentang "itikad baik" membantu Afghanistan, tetapi siapa yang dapat percaya? Mengapa tidak percaya, karena perilaku AS dan Barat adalah suatu pola penjajahan modern yang memaksakan bukan hanya kekuasaan tetapi juga mencakup nilai-nilai yang tidak dapat diterima oleh kaum Mujahidin.

Mari kita tengok sejenak kasus di Indonesia.
CIA dan MI6 yang konon malang melintang di Indonesia pada saat Partai Komunis Indonesia berjaya, sesungguhnya dalah macan ompong yang tidak mengerti sama sekali Indonesia. Mereka hanya penonton yang manis yang rajin mencatat dan menganalisa, namun soal operasi nol besar. Apa yang kemudian terjadi adalah bahwa Indonesia sedang rapuh dalam persatuan dan kesatuan sehingga lahir kelompok kolaborator yang secara sukarela menerima tawaran AS dan sekutunya. Artinya bukan diciptakan oleh operasi intelijen, saya pastikan ini murni pertarungan politik domestik dalam sejarah Indonesia. Apa yang disebut sebagai dokumen Gilchrist, peranan CIA dan lain-lain adalah klaim yang terlalu dibesar-besarkan.

Bahwa ada operasi CIA itu benar, namun operasi itu tidak berarti karena sejarah perjalanan bangsa Indonesia digoreskan oleh para pelaku sejarah Indonesia sendiri dan bukan dikendalikan oleh operasi intelijen CIA. Apabila rekan-rekan Blog I-I ingin melihat bagaimana orang CIA bekerja, tentunya kita akan terheran-heran karena begitu payahnya dan jauh dari bayangan hebat seperti di film hollywood.

Misalnya analis CIA. Meskipun mereka menggunakan kode-kode nomor sandi, namun sangat kentara ketika mempersiapkan diri, misalnya dengan kuliah ke Australia meneliti Indonesia, kemudian belajar bahasa di Yogyakarta atau Solo, kadang-kadang lupa karena masih bersikap seperti intel. Yang agak lebih cerdas misalnya dengan telah menetap lama di Indonesia sebelum akhirnya ditempatkan di Indonesia. Konyolnya lagi, kadang kala mereka mempersiapkan diri di Bangkok, Thailand karena dipikirnya tidak akan jauh berbeda dengan Indonesia.

Untuk operasional, inteljen Barat lebih memaksimalkan peranan kolaborator lokal yang mana hal ini terjadi karena kolaborator lokal tergiur dollar, melesatnya karir politik dan fantasi bekerja untuk lembaga bergengsi serta kesempatan mendapatkan pengalaman. Dari sejumlah rekan yang pernah bekerja untuk kepentingan asing tersebut sering terungkap rasa bersalah yang sangat tinggi serta kekecewaan karena pada akhirnya mereka hanyalah pion-pion yang tidak berarti.

Sekarang kita perhatikan kasus terorisme di Indonesia.

Apa sesungguhnya yang terjadi?

Dari penelusuran saya bersama team I-I terhadap mantan Mujahid yang pernah berangkat ke Afghanistan dan Pakistan serta mereka yang pernah ke Filipina Selatan, setidaknya ada beberapa hal yang wajib serta sangat perlu untuk diperhatikan, yakni:
1. Sekelompok kecil adalah Mujahid sejati ikhlas berjuang demi agama Islam.
2. Sekelompok besar Mujahid lebih dikendalikan fanatisme & fatwa jihad
3. Hampir 100% tidak terlalu paham dengan konstelasi politik global.
4. Keyakinan benarnya cara perjuangan para Mujahid sangat kuat.
5. Melalui pola-pola indoktrinasi pembenaran aksiteror terjadi cuci otak.
6. Hasilnya adalah pelaku teror bunuh diri yang merasa benar tindakannya.
7. terbukti tanpa sadar konsep Jihad mujahid disusupi tafsir2 yg sesat

Apa maknanya. Para pelaku teroris adalah kolaborator terbaik bagi suatu agenda yang dapat menarik perhatian global sebagai suatu ancaman terhadap umat manusia. Apakah mereka dikendalikan oleh operator-operator Barat? Saya melihatnya tidak bersifat langsung demikian, namun secara tidak sadar langkah-langkah yang ditempuh teroris tersebut menjadi pilar utama dari agenda global Negara2 Adi Kuasa untuk dapat mencampuri dan mendikte negara - negara Islam / Dunia Islam

Sekian

Jumat, Agustus 07, 2009

Kenapa Harus Mengkambinghitamkan Intelijen ?

Haruskah Mengkambinghitamkan Intelijen ?

Oleh: Mayor (Inf) Agus Bhakti,

Beberapa waktu lalu kita begitu dikejutkan dengan terjadinya kembali ledakan bom pada tanggal 17 Juli 2009 secara hampir bersamaan di Hotel Marriott dan Ritz Carlton. Kejadian ini begitu mengejutkan karena selain telah menewaskan 9 orang dan melukai 52 orang lainnya, tercatat bahwa terjadinya teror bom terakhir adalah + 4 tahun yang lalu pada tanggal 31 Desember 2005 di Palu yang menewaskan 8 orang dan melukai sedikitnya 45 orang. Kurun waktu yang cukup lama mengingat 4 tahun dalam kondisi yang relatif aman dibandingkan kurun waktu tahun 2000 s/d 2005 yang marak dengan teror bom. Reaksipun bermunculan, dari mulai yang bersimpati kepada korban, kebencian yang mendalam terhadap teroris, solidaritas nasional untuk memerangi terorisme sampai dengan "pengkambinghitaman" individu maupun institusi.

"Diplomacy is the first line of the defense but intelligence...is the first and the last line of the defense". Ungkapan ini menunjukkan betapa pentingnya peran dan fungsi intelijen. Dikaitkan dengan potensi ancaman yang semakin multidimensional, sangatlah riskan bagi suatu negara apabila terjadi kegagalan fungsi intelijen. James Douglas Clayton, ahli komputer yang menciptakan software nirkabel Spartacus yang diperankan oleh Collin Farrel dalam film “Recruit” tahun 2004 menyampaikan asumsinya tentang CIA ketika ditemui oleh ahli perekrutan CIA Walter Burke (Al Pacino) : “CIA adalah hanya sekelompok pria kulit putih gemuk yang tertidur saat kita memerlukan mereka.” Yang dijawab oleh Walter Burke : “Apa yang sama sekali kamu tahu, sebenarnya kamu tidak mengetahuinya. Apa yang kamu lihat, dengar, tidak ada yang sesuai dengan kenyataannya.” Dialog yang cukup representatif untuk memberikan gambaran mengenai tugas-tugas aparat intelijen. Sangat sering kita dengar tentang opini yang negatif terhadap kinerja aparat intelijen seperti ungkapan intelijen lemah, intelijen tumpul, intelijen kecolongan bahkan intelijen dianggap biang jika terjadi tindak terorisme1. Hal yang lumrah dan sesuai dengan motto intelijen “berhasil tidak dipuji, gagal dicaci maki, hilang tidak dicari dan matipun tidak diakui”, walaupun motto ini tidak berlaku untuk pembenaran atas gagalnya fungsi intelijen.

Intelijen adalah informasi yang dihargai atas ketepatan waktu dan relevansinya, bukan detil dan keakuratannya, berbeda dengan "data", yang berupa informasi yang akurat, atau "fakta" yang merupakan informasi yang telah diverifikasi2. Kegagalan fungsi intelijen juga pernah terjadi di negara maju seperti Amerika Serikat yang terkejut-kejut ketika secara tiba-tiba AU Jepang menyerang Pearl Harbour pada 7 Desember 1941, Israel yang sedang merayakan hari raya Yom Kippur juga diserang tiba-tiba oleh pasukan koalisi pimpinan Suriah dan Mesir pada 6 Oktober 1973 atau yang paling aktual adalah serangan teroris terhadap WTC oleh Osama bin Laden pada 11 September 2001. Sebenarnya sangat banyak faktor yang bisa mempengaruhi suatu kegagalan intelijen. Ibarat pepatah mengatakan, orang yang pesimis akan memandang sebuah gelas terisi air setengahnya dengan mengatakan “setengah kosong”, sebaliknya orang yang optimis memandangnya dengan mengatakan “setengah penuh”.

* Dari sudut pandang kegagalan / keberhasilan intelijen, intelijen selalu dicaci jika mengalami kegagalan dan tidak pernah dipuji jika berhasil. Mengapa? Cara pandang orang terhadap kegagalan dan keberhasilan intelijen itu berbeda-beda. User intelijen pun belum tentu memiliki tolok ukur yang jelas, kapan intelijen dikatakan berhasil atau gagal. Sebagai ilustrasi, apabila negara selalu dalam keadaan aman, damai dan sentosa, apakah pernah itu dikatakan sebagai suatu keberhasilan intelijen? Tidak pernah. Tapi apakah intelijen tidak berperan dalam menciptakan kondisi aman tersebut?
* Dari sudut pandang roda perputaran intelijen, aparat intelijen bertugas untuk merencanakan pengumpulan informasi, melaksanakan pengumpulan informasi dan mengolahnya sehingga bisa disajikan sebagai informasi yang valid dan aktual bagi sang pengguna/user. Persoalan muncul ketika, user tidak bisa mengimplementasikan dengan baik semua temuan intelijen itu menjadi kebijakan yang cukup mengakomodir upaya dalam mengatasi permasalahan terkait temuan intelijen tersebut. Banyak faktor yang mempengaruhinya, seperti miskomunikasi, intervensi kepentingan, pilihan prioritas kebijakan, dll. Semuanya tumpah ruah menjadi kompleksitas permasalahan. Dan apabila meledak dengan munculnya satu kasus yang besar, kembali intel akan dijadikan sebagai kambing hitam.
* Dari sudut pandang aparat intel itu sendiri, dikenal istilah intelijen dasar, intelijen aktual dan intelijen ramalan. Informasi dalam lingkup besar merupakan sempalan dari informasi-informasi yang berlingkup kecil. Informasi tersebut didapat pada waktu yang telah lalu maupun pada saat sekarang. Semuanya harus bisa dirangkum menjadi suatu analisa untuk memprediksikan kejadian di masa mendatang. “Estimating is what you do when you do not know but it is inherent in many situations that after reading the estimate we still not know...and we always have to do that”3. Hal ini bisa disebabkan karena kekurangan akses data/informasi, kalaupun akses data dari informan ada tapi selalu berpacu dengan waktu untuk mendapatkan informasi yang aktual. Terlambat sedikit maka basilah informasi tersebut. Ini menjadi tantangan besar bagi aparat intelijen di lapangan dalam mengolah analisa informasi yang diinginkan user. Tetapi pada dasarnya intelijen ramalan bukanlah laporan yang mengada-ada saja.
* Dari sudut pandang pendanaan, memang cukup berpengaruh, akan tetapi intelijen itu ibarat kepemimpinan, “an art and science”, bahkan mungkin lebih banyak seninya. Tanpa bermaksud mengenyampingkan masalah pendanaan, banyak masalah yang sebenarnya bisa diatasi dengan kreasi dan inovasi di lapangan. Tidak semua agen/informan di lapangan bermotifkan materi dan tidak selalu keberhasilan operasi intelijen diukur dengan besarnya pendanaan.

Di Indonesia kita mengenal adanya beberapa badan intelijen. Seperti BIN sebagai badan intelijen nasional yang berkedudukan secara langsung di bawah presiden dan memiliki wewenang untuk mengkoordinasikan kegiatan komunitas intelijen. Baintelkam Polri yang bertugas menyelenggarkan fungsi intelijen bidang keamanan dan berkompeten secara langsung dalam penumpasan terorisme. BAIS TNI yang merupakan badan intelijen militer di bawah Mabes TNI yang bertugas menyediakan analisis-analisis strategis aktual di bidang pertahanan. Depdagripun memiliki unsur-unsur intelijen yang bernaung di bawah Rakominda yang bertugas mengumpulkan informasi tentang seluk-beluk permasalahan di masyarakat maupun organisasi lainnya di bawah Dirjen Kesbangpol. Selain itu, terdapat juga instansi yang tidak menggunakan label sebagai badan intelijen tetapi juga berperan dalam fungsi intelijen seperti imigrasi, bea cukai dan kejaksaan. Keragaman instansi tersebut tentunya sudah disertai spesifikasi fungsi sesuai dengan kompetensinya4. Menimbang bahwa terorisme merupakan suatu kejahatan yang bersifat transnasional dan multidimensional, diferensiasi badan intelijen seharusnya dapat menjadi faktor pendukung dalam penanganan masalah terorisme. Namun pada kenyatannya lebih sering muncul ego sektoral masing-masing daripada koordinasi yang baik antar institusi.

Pasca bom Marriott dan Ritz Carlton, banyak opini yang mewacanakan peningkatan dana dan kewenangan instansi dan institusi intelijen. Tapi di sisi lain, banyak juga pihak yang mengatakan bahwa hal tersebut hanya akan berdampak negatif terhadap kebebasan demokrasi dan perlindungan HAM. Kembali kita dihadapkan kepada suatu pilihan, dan sebenarnya semuanya tidak akan bermasalah jika masing-masing pihak dapat mengaturnya dengan baik. Karena pada hakekatnya menghadapi terorisme tidak bisa dilakukan sendirian, jadi marilah kita melakukannya bersama-sama.

---

Referensi:

1 JO Sembiring: "Terorisme, Sebuah Pemahaman bagi Masyarakat".
2 http://id.wikipedia.org/wiki/Intelijen.
3 Sherman Kent: "Estimate and Influence", 1969.
4 Kusnanto Anggoro: "Operasi dan Koordinasi Instansi Intelijen”, 2008.

Jumat, Juli 31, 2009

Definisi Kemiskinan dan Jumlah penduduk miskin di Indonesia


Definisi Kemiskinan dan Jumlah warga miskin dari hasil survei sosial ekonomi nasional 2008, jumlah penduduk miskin diIndonesia,mencapai 35.000.000 jiwa

Saya mengawali laporan ini dengan memotret dua rumah tangga miskin di pinggiran Jakarta.Keluarga Pak Hari, seorang nelayan yang tidak bisa melaut lagi karena harga bahan bakar tinggi, tinggal bersama istri, tujuh anak dan belasan cucu di rumah gubuk yang mungil. Keluarga Sainah hidup dari berdagang buah keliling. Sejak sore hingga hampir tengah malam, Darinah mendorong gerobaknya. Penghasilan kedua keluarga tersebut sering lebih besar dari pengeluaran. "Ya hutang-hutang," kata istri Pak Hari, Darinah.
Kepala Badan Pusat Statistik , Rusman Heriawan mengatakan seseorang dianggap miskin apabila dia tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup minimal, Kebutuhan hidup minimal itu adalah kebutuhan untuk mengkonsumsi makanan dalam takaran 2100 kilo kalori per orang per hari dan kebutuhan minimal non makanan seperti perumahan, pendidikan, kesehatan dan transportasi. "Jadi ada kebutuhan makanan dalam kalori dan kebutuhan non makanan dalam rupiah. Kalau rupiahnya yang terakhir adalah Rp 182.636 per orang per bulan," kata Rusman Heriawan Dengan definisi itu, jumlah penduduk miskin di Indonesia pada akhir tahun 2008 mencapai 35.000.000 jiwa

Angka itu merupakan hasil survei sosial ekonomi nasional, Susenas dengan sampel hanya 68.000 rumah tangga, padahal jumlah rumah tangga di Indonesia mencapai 55.000.000. Menurut ahli statistik dari Institut Teknologi Surabaya, Kresnayana Yahya, cara pandang pemerintah terhadap kemiskinan tidak mencerminkan realitas. "Ada yang tidak diperhitungkan, perusak-perusak kalori. Orang merokok bisa enam sampai tujuh batang. Itu sebenarnya negatif. Dia bisa mengatakan belanjanya sekian, tetapi di dalamnya ada enam-tujuh batang rokok," kata Kresnayana Yahya.

Perdebatan
Jumlah dan garis kemiskinan versi BPS sering menjadi perdebatan dan menjadi isyu politik yang panas. Terutama di musim kampanye seperti sekarang, para politisi gemar mengutip garis kemiskinan Bank Dunia sehingga menurut mereka jumlah penduduk miskin dua kali lebih besar. Tetapi ukuran Bank Dunia itu, kata ekonomn diJakarta Vivi Alatas ; digunakan untuk kepentingan berbeda."Kalau untuk melihat seperti apa profil kemiskinan di suatu negara, yang digunakan adalah garis kemiskinan nasional. Tetapi Bank Dunia juga mempunyai tugas mengalokasikan dana ke beberapa negara miskin. Untuk itu butuh garis kemiskinan yang bisa diperbandingkan antar negara yang biasa dikenal dengan 1 dolar pp to 2 dolar pp," jelas Vivi. Namun, lanjut Vivi, pengertian nilai dolar tersebut bukan dolar dengan nilai tukar riil.
"Kalau di Indonesia berapa rupiahnya yang dibutuhkan untuk membeli barang dan jasa yang sama dengan satu yang dolar yang bisa dibeli di Amerika. Jadi kalau ditanya berapa jumlah orang miskin di Indonesia, 35.000," tambahnya. Persoalannya data itu diambil sebelum kenaikan harga bahan bakar minyak, kata peneliti di lembaga penelitian SMERU, Sirojuddin Arif. "Biasanya kenaikan BBM itu efeknya panjang, kenaikan hargadan kadang ada PHK,daya beli masyarakat turun, orang miskin meningkat,"jelas Sirojuddin.
Deputi Menteri Bidang Evaluasi Kinerja Pembangunan, Bappennas, Bambang Widianto mengatakan, kunci utama untuk menekan angka adalah beras. "Kalau kita bisa menjaga beras itu stabil dan kita bisa memberikan bantuan-bantuan yang langsung kepada orang miskin, angka pasti menurun angka kemiskinan," tegasnya. Jumlah dan garis kemiskinan mungkin akan terus diperdebatkan, namun yang jelas persoalan ini merupakan masalah besar di Indonesia. Sekitar lima belas koma empat persen seluruh penduduk, masuk kategori miskin, meski mereka tinggal di negara yang subur dan kaya sumber daya alam dan telah merdeka 64 tahun lalu.

Rabu, Juli 22, 2009

Diduga kuat Malaysia ada dibalik teror bom di Indonesia


SIAPA YANG DIUNTUNGKAN OLEH TEROR BOM ?

Dari tragedy ledakan bom di Hotel JW. Marriott dan Ritz Charlton tanggal 17 Juli lalu, ada pihak-pihak yang diuntungkan, yakni:
1. Di level Negara; (a) negara sedang berkembang yang menjadi competitor/pesaing bagi Indonesia sebagai tujuan wisata dan tujuan investasi misalnya Vietnam atau Malaysia dll. Mereka bisa promo ke calon investor dan wisatawan bahwa Negara mereka jauh lebih aman untuk investasi dan wisata dibanding Indonesia,perlu di ingat NURDIN M TOP adalah warga negara malaysia lahir dan besar di Johor Baru. Malaysia , kuat dugaan Nurdin M Top.Cs adalah sel - sel aktif Badan Intelijen Malysia yang masuk ke Indonesia dari akhir tahun 90 an sesuai Grand Design Malaysia ; agar Indonesia pecah seperti Uni Sovyet dan Yugoslavia , agar mudah bagi Malaysia untuk caplok daerah daerah Indonesia yang punya nilai ekonomi tinggi.Yang sangat mengherankan Negara Malaysia yang lebih heterogen etniknya , agama dan kepercayaan nya tapi tidak ada gejolak SARA seperti diINDONESIA Apalagisampai ada Teror Bom
(b) Negara adidaya bisa mendesakkan dan menyetir Indonesia untuk berbuat ini itu guna melawan teroris, padahal apa yang didesakkan itu sebenarnya merupakan hidden agenda mereka untuk dapat memerangi pihak-pihak yang selama ini kritis terhadap kepentingan Negara adidaya tersebut,Contoh nyata keberdaan FBI untuk bantu POLRI dalam konflik Freport Timika - Papua
(c) Negara Tetangga dengan dalih ingin “membantu” Indonesia dalam memerangi Terorisme mereka menyusup masuk kedalam jaringan intelijen Indonesia.contoh Australia
2. Di level organisasi “teroris”, ledakan bom itu akan sangat bermanfaat untuk menunjukkan kepada public bahwa eksistensi mereka masih ada, masih mampu menunjukan kemapuannya
3. Di level daerah dan pengusaha: (a) bagi daerah di luar Jakarta, ledakan bom bisa digunakan sebagai promo bahwa Jakarta kurang aman, sehingga sebaiknya calon wisatawan mencari daerah tujuan wisata lain. (b) bagi hotel lain, ledakan bom bisa dijadikan promo bahwa hotel kelas macam Mariott ternyata tidak aman, sehingga mereka bisa promo tentang hotel mereka sebagai alternative. (c) perusahaan security dan safety bisa jualan alat detector, CCTV dll karena perangkat pengamanan pasti akan semakin dibutuhkan untuk antisipasi teror. (d) Lembaga bisnis yang kapitalis (mikirin untungnya sendiri) macam Manchester United yang untung gede tanpa keluar keringat karena mereka diuntungkan kontrak yang bisa dibatalkan kalo ada force majeur tanpa harus mengembalikan duit yang sudah masuk rekening mereka. Ini bisa jadi modus membatalkan kerjasama karena ada pasal yang membatalkan perjanjian yang bersifat post major
4. Level Individu atau Instansi: (a) meningkatnya pengamanan membutuhkan tenaga security yang sepadan. Hal ini membuka lowongan tenaga kerja sebagai security yang andal dan profesional. (b) ledakan bom bisa jadi bisnis untuk instansi yang terlibat pengamanan untuk bikin proyek baru (c) bagi pihak instansi/perusahaan dan individu yang sedang terkena kasus hukum, ledakan bom yang dimuat di media massa akan menutupi kasus mereka, sehingga mereka bisa kong-kalikong dengan pihak tertentu karena kasus mereka agak luput dari pengamatan public. Kasus ini juga bisa terjadi untuk kasus penyusunan kebijakan tertentu.

Selasa, Juli 21, 2009

Bagaimana Kesiapan Indonesia dalam Menghadapi Krisis regional Dan Perang


Sampai dimana Kesiapan Negara Menghadapi Krisis Dan Perang ?

Kalangan pertahanan dan militer tidak mengenal frase seperti “tidak akan ada perang dalam kurun waktu tertentu”. Frase demikian hanya dikenal oleh para politisi dan diplomat yang memang profesinya “mewujudkan perdamaian”. Sangat keliru bila dalam dokumen resmi kebijakna pertahanan dinyatakan secara lantang frase para politisi dan diplomat tersebut, sebab pertahanan dan militer dirancang untuk menghadapi ketidakpastian (uncertainties) dalam rangka mengamankan kepentingan nasional, Mempertahankan keutuhan Negara Kepulauan Indonesia adalah Keharusan
Ketidakpastian tersebut bisa berupa krisis, bahkan dapat pula berwujud perang. Segala upaya dalam pembangunan kekuatan pertahanan dan militer diarahkan untuk menghadapi ketidakpastian, yang mana ketidakpastian itu akan berimplikasi terhadap kepentingan nasional. Masalahnya adalah tidak semua pihak pembuat keputusan di Indonesia paham akan hal tersebut.
Kalau kita mau berpikir jernih, kekuatan pertahanan dan militer Indonesia tidak siap untuk menghadapi krisis dan perang. Kenapa tidak siap? Sistem senjata yang ada sekarang tingkat kesiapannya masih jauh dari kondisi ideal. Misalnya dari seratus lebih kapal perang kita saat ini , berapa banyak kapal perang kita yang betul-betul siap ?
Kondisi kesiapan sistem senjata sebenarnya cuma ada dua kategori, yakni siap dan tidak siap. Sesungguhnya tidak dikenal siap terbatas, sebab pada dasarnya siap terbatas sama saja dengan tidak siap. Contoh siap terbatas pada kapal perang misalnya sistem pendorong bagus, namun sewaco-nya tidak siap.
Kondisi siap atau tidak siap pada sistem senjata merupakan cermin dari kebijakan pemerintah. Kebijakan itu berwujud pada anggaran, yang apabila anggaran pemeliharaan kurang maka implikasinya wajar saja bila banyak sistem senjata yang tidak siap. Kalau sebagian besar sistem senjata tidak siap, yang mestinya ditanya lebih lanjut bukan militer, tetapi perumus anggaran pemerintah yaitu DEPKEU , DEPHAN dan DPR
Jika realitasnya demikian, lalu bagaimana mengharapkan kekuatan pertahanan dan militer bisa merespon kontinjensi. Sebagai contoh, apabila ada kontinjensi di perbatasan darat Kalimantan ,Apa dan bagaimana Kekuatan Udara kita ? Kondisi saat ini apakah kekuatan udara negeri ini sanggup menggeser kekuatan darat sebanyak satu Brigade sekaligus dari Pulau Jawa dalam hitungan jam ?
Masalah kesiapan ini merupakan isu krusial dan sudah berlangsung bertahun-tahun. Tetapi sepertinya kurang mendapat perhatian, mungkin karena belum ada krisis yang betul-betul mengancam kepentingan nasional. Kalau kondisinya terus berlanjut, lalu bagaimana kita berhadap bisa mengeksploitasi kekuatan militer dalam mengamankan kepentingan nasiona terutama mejaga ledaulatan Bangsa dan Negara di Daerah - daerah atau pulau – pukau kita yang memiliki nilai ekonomi tinggi ?
Negeri lain menganut prinsip preventing the war is as important as winning the war. Sedangkan bagi Indonesia, jangankan memenangkan perang, mencegah perang saja tidak siap. Namun kalah pun juga tidak siap.

Jumat, Juli 10, 2009

Email Rahasia Andi Mallarangeng Jelang PilPers 2009


Email Rahasia Andi Mallarangeng

From: Andi Mallarangeng
Date: Fri, 3 Jul 2009 18:59:14 -0700 (PDT)
To:
Subject: Re: Kontrol media, mohon jadi pertimbangan

Muchlis yang baik tapi sedang gundah,

Menurut saya, kita masih on the track. Isu yang menyudutkan saya di Makasar, masalah di Medan, DPT bermasalah, atau omongan ngaco PS tentang GBK tidak akan mempengaruhi pemilih. Apa dia punya bukti kita memanipulasi media. Masyarakat kan melihat media sendiri lah yang menentukan berita mana yang pantas mereka turunkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Ada beberapa argumen yang bisa memperkuat keyakinan saya bahwa beragam isu ini tidak akan mempengaruhi kita.

Pertama, bangsa kita berada pada tahap puncak konsumerisme yang menyebabkan kaburnya identitas Nasional. Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila itu tinggal jargon2 saja. Jadi orang akan memiih dari apa yang mereka lihat dan sukai dan itu jelas masalah pembawaan dan penampilan.

Masyarakat konsumen tidak akan peduli dengan apa yang dibawa oleh orang tersebut. Mau kapatalis, sosialis, atau neolib sekalipun, mereka tidak akan pedulikan. Yang penting mereka puas dengan penampilan si kandidat.. Dan kandidat itu adalah SBY-Boediono. Jadi, kejadian saya di Makassar kemarin itu tidak usah dipikir terlalu berat, itu hanya sebuah eksperimen kecil saya untuk melihat apakah isu berbau SARA masih mendapat tempat di masyarakat kita? dan saya sudah mendapatkan jawabannya, memang betul terjadi sedikit riak di Makassar sana dan mungkin elektabilitas JK langsung meningkat tajam.

Tetapi lihatlah pada hari pencontrengan nanti, masyarakat tetap tidak akan bergeming dari pilihan kita. Sebab bagi masyarakat konsumen, yang penting bukanlah isu, tetapi penampilan dari kandidat. Ibaratnya blackberry vs pancasila, jelas ketahuan mana yang laku dan tidak sekarang ini. Masyarakat kita mati2an berhutang kiri kanan buat beli blackberry makin lupa lah sama pancasila.

Ingat bung, Obama bisa jadi presiden hanya karena konsumerisme dan kapitalisme di AS sedang runtuh sehingga penduduknya kembali ke nilai-nilai kebangsaannya yaitu “all men are created equal”, makanya kulit hitam bisa jadi presiden. Kalau ndak ada keruntuhan ekonomi ndak mungkin kejadian tuh Obama boss.

Kedua, FZ cs tidak percaya bahwa politik aliran sudah mati di Indonesia. NU, Muhammadiyah apalah yang lain juga sudah tidak seperti dulu lagi. Kita kan juga liat sendiri, kyai kan UUD juga akhirnya toh, tinggal mana yang kantongnya paling dalam dan janjiny paling manis aja. Dan kita kan main cantik sekali seperti anda liat. Lalu, orang seperti ini ini juga tidak mau belajar dari sejarah kepemimpinan nasional di Indonesia.

Sejak negara ini berdiri, semua presiden yang naik itu karena kecelakaan sejarah. Bung Karno diangkat menjadi presiden, karena Jepang kalah dari sekutu dan terjadi vacuum of power pada masa itu. Soeharto naik juga akibat kecelakaan sejarah yaitu terjadinya peristiwa 65. Nah yang lucu, setelah itu kecelakaan sejarahnya semakin ngaco. Reformasi bergulir tahun 98, menghasilkan presiden yang buta. Presiden buta dijatuhkan, naik pula lah perempuan bisu. Kalau politik aliran memang belum mati, sudah pasti Mega atau Habibie jadi. Lagipula kalau memang ada politik aliran maka alirannya pasti jawa, laki-laki, militer dan islam. Non jawa seperti saya dan teman-teman ini kan sudah memang tempatnya jadi king maker saja, lebih enak ndak repot tapi kebagian serunya toh. Makanya SBY berbeda, dia muncul by design yang matang lewat pemilihan langsung.

Ketiga, ancaman tentang gerakan mahasiswa dan rakyat itu sudah tidak relevan lagi dengan iklim demokrasi sekarang. Hanya mimpi siang bolong yang bisa menghadirkan kekuatan mahasiswa. Bahkan tahun 98′ pun banyak orang salah meletakkan sejarah itu sebagai kebangkitan mahasiswa menggulingkan Soeharto. Padahal bukan begitu. Itu memang jatuhnya Soeharto dan mahasiswa
jadi alat saja, tapi memang jumlahnya besar sekali jadi secara visual kelihatan seperti sebuah fenomena gerakan mahasiswa yang digerakkan sebuah pemikiran kebangsaan. Buktinya tidak ada satu pun tokoh mahasiswa yang jadi legenda karena pemikirannya di tahun 98′. Rama yang jadi tokoh terpopuler pun ternyata Cuma onggokan omong kosong saja dan sebentar lagi berangkat pula ke bui. Jadi tidak perlu khawatir mahasiswa kita ndak ada yang berkualitas pemikirannya sampai bisa menggerakkan massa jadi selalu menunggu ditungangi. Dan yang menunggangi tidak pernah pintar sehingga selalu ketahuan sehingga masyarakat tidak pernah percaya lagi sama kredibilitas demo mahasiswa jadi tenang saja boss. Kita mengontrol pikiran dan sentiment public sekarang, ndak ada yang bisa kalahkan itu. Sudahlah, rakyat tidak percaya lagi pada mahasiswa. Kita datangin mereka ke tv saja mereka sudah senang sekarang. jadi Bos, gerakan mahasiswa itu bukan lagi suatu hal yang menakutkan sekarang.

Lagipula, taruhlah media tidak lagi “bersahabat”, itu hanya segelintir. Media itu bisnis bung, owner nya ndak mungkin ambil risiko untuk lima tahun ke depan. bisa ndak makan mereka kan. Yang penting anda kan sudah dijelaskan dan ditunjukkan. selama skenario utama tetap terjaga, Cuma hitungan hari kok dan jadilah kita berangkat ke Bermuda kan haha…… ingat saja, skenario ini sudah lima kali dites dan tidak pernah gagal.. Dengan persiapan sudah lebih lama dan panjang, skenario sekarang jauh lebih sempurna.Ndak usah paniklah dengan semua isu yang berkembang ini, mereka lupa musuh utama adalah waktu, bukan kita. betul kan? Kalau orang ini memang bisa berbuat sesuatu kan sudah lama dia lakukan.

Ok boss, nda usah kuatir dengan FZ cs, mereka itu cuma angin sepoi-sepoi. Tiga hari lagi dan lima tahun ke depan kita selesaikan urusan dengan mereka satu persatu.

Trims

AM

From: Muchlis Hasyim
To: mallarangeng@yahoo.com
Sent: Saturday, July 4, 2009 8:52:49 AM
Subject: Fw: Kontrol media, mohon jadi pertimbangan

Daeng,

Saya baru terima email dari kawan kita ini. Terus terang saya agak tidak nyaman. Mungkin ini kembali menjadi pengingat Daeng. Isu kemarahan masy sulsel, DPT, dan penggadaian GBK, Din Samsudin yang semakin rame, saya khawatir bisa bergulir diluar kontrol kita. Perlu dicermati baik-baik dan diantisipasi semaksimal mungkin boss. Saya harap Daeng bisa memberikan pencerahan.

Trims

MH

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung
Teruuusss….!

From: Ronggo Lawe
Date: Fri, 3 Jul 2009 18:50:45 -0700 (PDT)
To:
Subject: Kontrol media, mohon jadi pertimbangan

Kawan Muchlis,

Banyak yang mulai tidak suka dengan permainan kita di media. Mereka mulai mengerti cara kita mengontrol berita di media. Itu sebabnya mereka terus mempermasalahkan Kasus DPT bermasalah, isu SARA celi, penghinaan orang Bugis oleh Andi, penjualan Gelora Bung Karno, dll. Saya lihat Fadli Zon cs terus bergerak untuk menguji kekuatan kita di media.. Sebab mereka tahu untuk isu-isu yang sangat sensitif itu, akan sangat janggal sekali jika media tidak memberitakannya dan itu di luar kontrol kita boss. Saya lebih khawatir lagi orang-orang seperti Fadli Zon ini bisa menggerakkan mahasiswa dan masyarakat.

Jadi boss, permainan di media ini mulai berbahaya. Kayaknya kita harus mencari strategi baru..

Selasa, Juli 07, 2009

MAHASISWA KITA TERTANGKAP DI KAIRO TERKAIT KEGIATAN IKHWANUL MUSLIMIN - MESIR


Indonesia memprotes Mesir

Indonesia melayangkan nota diplomatik kepada Mesir terkait dengan penahanan dan penyiksaan empat mahasiswa Indonesia oleh aparat keamanan negara itu.

Laporan-laporan media menyebutkan, polisi Mesir menangkap mereka di tengah operasi besar terhadap gerakan oposisi.

Dutabesar Indonesia di Kairo, Abdulrachman Muhammad Fachir membenarkan bahwa dia telah melayangkan nota diplomatik kepada departemen luar negeri di Kairo.

Menurut Dubes, sejak para mahasiswa ini ditahan, mereka sudah menanyakan kepada pihak kepolisian Mesir mengenai alasan penahanan mereka.

Sejauh ini menurut Dubes, belum ada penjelasan resmi dari pihak berwenang Mesir mengenai penahanan tersebut.

"Saya besok akan ke Kemlu lagi untuk bertanya soal ini," kata Abdulrachman.

Menurut Dubes Abdulrachman, para mahasiswa ini ditangkap kemungkinan berkenaan dengan tindakan radikalisme.

"Dalam waktu bersamaan, aparat Mesir juga menangkap sejumlah tokoh Ikhwanul Muslimim. Jadi bisa jadi, bila dikaitkan ada semacam razia begitu," kata Dubes.

Menurut beberapa laporan media, ketika polisi mendatangi rumah kontrakan para mahasiswa tersebut, pihak berwenang menemukan poster Ahmad Yasin, yang sudah meninggal, yang semasa hidupnya dianggap sebagai tokoh spiritual kelompok militan Palestina, Hamas.

Mahasiswa asal Riau

Salah seorang mahasiswa yang ditahan dan mengalami penyiksaan adalah Ahmad Yunus, yang berasal dari Rokan Hulu di Riau.

"Saya sebenarnya tidak tahu alasan penangkapan. Mereka datang kira-kira jam 2 pagi, 10 orang polisi," kata Yunus kepada BBC Siaran Indonesia.

Menurut Yunus, ketika polisi datang mereka memeriksa kamar, dan komputer tetapi tidak menemukan bukti apapun.

Kemudian polisi menggeledah kamar mahasiswa bernama Ismail, dan menemukan poster Ahmad Yasin.

Polisi Mesir itu kemudian menghubungi atasannya, yang memerintahkan agar keempat mahasiswa tadi dibawa ke kantor polisi.

Dalam perjalananan ke kantor polisi, para mahasiswa tadi dipukuli oleh polisi.

"Kami kemudian ditahan selama 3 hari. Saya dan seorang mahasiswa lagi Faturahman sempat disetrum dengan listrik. Setelah itu kami dibebaskan, karena mereka tidak menemukan kesalahan apapun." kata Yunus.

R.U.U TIPIKOR DISUSUN UNTUK KEBIRI KEWENANGAN K.P.K


DPR 'percepat' RUU Tipikor

DPR menjamin akan mempercepat proses pembuatan Undang-undang pengadilan tindak pidana korupsi.Karena ini adalah telah disusun sekian lama oleh oknum Pemerintah bersama DPR untuk dapat membatasi kewenangan KPK melakukan investigasi terhadap pejabat yang dicurigai tanpapemberitahuan terlebih dahulu kepada instansi temat pejabat yang dicurigai bekerja, jelas ini dapat mempersulit KPKapabila hendak m melakukan investigasi
Jaminan ini diajukan karena sejumlah pihak meragukan RUU itu bisa selesai mengingat masa kerja DPR sekarang sudah mendekati akhir.
UU ini dianggap penting karena ada kaitan dengan pengadilan tipikor yang statusnya terancam karena Mahkamah Konstitusi menetapkan pengadilan tersebut menyalahi aturan karena tidak tercantum dalam undang-undang.
Paling lambat akhir tahun ini, undang-undang Tipikor harus terbentuk.
Ketua Pansus RUU Pengadilan Tipikor Dewi Asmara menegaskan DPR tetap berupaya menyelesaikan undang-undang ini sebelum masa kerja DPR 2004-2009 berakhir.
Kerja Pansus, lanjut Dewi, terkesan lambat karena pembahasan rancangan undang-undang in harus disesuaikan dengan sejumlah pembahasan undang-undang yang tengah berlangsung, misalnya RUU Peradilan Umum dan RUU Pencucian Uang.
Meski demikian, lanjut Dewi, dalam keterbatasan waktu ini pemerintah justru mengirimkan draf RUU Tindak Pidana Korupsi: Penyesuaian ini penting agar RUU ini tidak tumpang tindih dengan undang-undang sejenis lain dan agar kualitasnya terjamin sehingga memperkecil kemungkinan dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi.
Dewi menambahkan jika RUU Pengadilan Tipikor ini tidak selesai pada waktunya maka pemerintah belum perlu menerbitkan peraturan pengganti undang-undang karena DPR menganggap tidak ada keadaan darurat yang bisa menjadi alasan penerbitan perpu.
Saat ini DPR tengah menggodok dua rancangan berkaitan dengan tindak pidana korupsi.
RUU Pengadilan Korupsi tengah dibahas berkaitan dengan keputusan Mahkamah Konstitusi yang mengatakan pengadilan tindak pidana korupsi tidak sesuai dengan undang-undang.
Untuk itu, Mahkamah Konstitusi meminta pemerintah dan DPR merancang undang-undang baru yang tenggatnya adalah Desember 2009. Sementara itu pemerintah akhir Mei lalu mengirim draf yang telah diperbaiki / draft RUU Tindak Pidana Korupsi ke DPR.
Namun, draf RUU Tipikor dikecam sebagian pihak karena dinilai akan mengurangi wewenang Komisi Pemberantasan Korupsi.Apakah ini hasil konspirasi Pemerintah dan DPR ?. !!!

Kamis, Juli 02, 2009

TNI BELAJARLAH DARI KEULETAN MILITER IRAN

Telisik Kekuatan Udara Iran

Melihat begitu banyak berjatuhan Pesawat – pesawat militer Indonesia baik karena usia pesawat ataupun embargo Negara produsen ada baiknya mari kita telisik kinerja Islamic Republic of Iran Air Force/ IRIAF dalam mempertahankan kekuatan udara nya walau didera embargo Militer lebih dari 20 tahun dengan ulet serta cerdik menyiasati teknologi kedigantaraan militer malah iran berani ngotot dengan tekanan Amerika pada proyek pengayaan nuklir dan Pengembangan rudal-rudal jelajah dengan tetap ingin mempertahankan proyek pengayaan uranium, Iran kini jadi sorotan Barat.Berbagai upaya diplomasi dilakukan agar Teheran mau menghentikan proyek tersebut.Seperti halnya nasib Irak,kemungkinan opsi untuk menyerang Iran dengan kekuatan militer tetapada.Mampukah kekuatan udara Iran mencegah atau paling tidak dapat mengganjal serangan itu apabila terjadi ? Iran dan kekuatan Udara nya sekilas terlihat lemah Namun :

Barat dan AS tak pernah tahu seberapa besar kekuatan udara Iran. Itulah masalah pertama yang mesti dibedah bila opsi serangan militer
dilakukan. Selama ini semua informasi tentang kekuatan AU Iran atau Islamic Republic of Iran Air Force (IRIAF) sepenuhnya datang dari
jaringan intelijen Israel. Ironisnya, kebanyakan info yang disajikan Tel-Aviv meleset. Dalam laporan disebutkan kalau kekuatan IRIAF tak sehebat dulu. Beragam jet tempur asal AS yang pernah dibelinya
sebagian besar teronggok di darat akibat kelangkaan suku cadang. Lain laporan di atas kertas, lain pula kenyataan di lapangan. Kejadian pada November 2003 lalu bisa jadi buktinya. Saat AS dan sekutunya melancarkan serbuan ke Irak, mereka sempat mencium formasi jet tempur F-14A Tomcat IRIAF dalam jumlah besar. Dari pantauan radar AWACS E-3
Sentry AU AS selama 20 menit, dipergoki sedikitnya ada 16 unit Tomcat yang terbang pada ketinggian 30.000 kaki di dalam wilayah udara Iran, dekat kota Dezful. Temuan ini merupakan yang terbesar sejak tahun
1997, ketika pesawat-pesawat AL-AS tanpa sengaja bertemu dengan sembilan pesawat sejenis di Selatan Teluk Persia.

Untuk meredam masalah tersebut, Barat bersalin taktik.Mereka tak lagi
mengandalkan tenaga manusia.Sebagai gantinya, pengumpulan data lebih bergantung pada berbagai jenis perangkat penyadap. Mulai dari radar pengintai, wahana penyadap elektronik,pesawat pengintai,lalu satelit. Tapi sekali lagi, umumnya para pengamat militer Barat tetap berpijak pada data kekuatan militer Iran yang telah berumur lebih dari20 tahun!

Kombinasi unik
Hasil temuan di lapangan memang membuktikan, F-14A Tomcat masih jadi tulang punggung kekuatan IRIAF. Kabarnya, Teheran baru akan menurunkan jet tempur digdaya yang hanya dimiliki AS dan Iran ini bila situasi sudah benar-benar gawat Begitupun,diluarTomcat, IRIAF masih mengoperasikan beberapa tipe pesawat tempur lain.Sebut saja diantaranya adalah F-4 Phantom II,MiG-29A Fulcrum,Chengdu F-7M Airguard,Sukhoi Su-24MK Fencer-D,dan Mirage F1EQ.

Jelas kemampuan semua tipe jet tadi sudah akrab di telinga pilot-pilot tempur Barat. Persoalan justru datang dari senjata yang dibawanya.Tanpa disangka Teheran telah memasangi senjata yang tak lazim dipakai Selama musim panas 2005 misalnya, pilot-pilot Barat kerap memergoki armada Su-24 Fencer IRIAF telah dibekali rudal antikapal C-802K-2 buatan Cina.

Masih dari Cina, tercatat Iran pernah memborong sejumlah rudal PL-7(jiplakan Matra Magic Mk.II). Arsenal udara-udara jarak pendek ini dipakai buat melengkapi jet-jet MiG-29, F-4 Phantom II, dan F-5E/FTiger. Sayang proyek benilai jutaan dollar itu gagal. Teheran sempat memprotes Cina atas kegagalan ini dan selanjutnya mengambil alih proyek secara penuh. Akibatnya sampai saat ini PL-7 hanya menjadi senjata standar bagi armada MiG-29 dan F-4 saja.
Bicara tentang kombinasi senjata ajaib IRIAF, tak sepenuhnya hanya bergantung pada barang-barang impor. Mereka sanggup pula memasok
sendiri beragam tipe rudal. Soal bentuk bisa dipastikan setali tiga uang dengan rudal-rudal pasokan AS zaman Syah Iran berkuasa. Tipe pertama yang dijadikan basis adalah AIM-9P2 Sidewinder. Mengusung nama baru yaitu Fatter, kecuali bodi dan motor penggerak, seluruh perangkat avionik memakai buatan lokal.Masih tentang rudal udara-udara, lagi-lagi disini industri militerlokal Iran yang pegang peranan. Dengan kemampuannya mereka berhasil memelihara tingkat kesiapan rudal jarak jauh AIM-54 Phoenix. Dari total 284 unit AIM-54 (termasuk 10 varian latih ATM-54A) yang dibelinya semasa Shah, diperkirakan pada 1999 IRIAF masih punya 160 unit dalam kondisi siap tempur. Atau bila dihitung sekitar 40 persen dari kemampuan semula. Selain diotak-atik sendiri,sejumlah komponen
vital rudal kabarnya bisa didapat Iran dari jalur tak resmi.

Program Sky Hawk

Bagi Iran keberadaan sisa Phoenix serta Fatter jelas dianggap belum bisa memenuhi kebutuhan IRIAF. Oleh karena itu industri senjata local Iran mencoba untuk menciptakan rudal jenis baru. Kali ini yang jadi sasaran adalah rudal antipesawat (SAM) MIM-23B I-HAWK. Mengusung nama AIM-23 Sedjil.rudal ini disulap menjadi arsenal udara-udara. Sedjil terhitung sebagai rudal jarak sedang.Tercatat Iran mulai pada tahun 1986.

Pihak Barat pun mengaku sudah mengetahui kehadiran Sedjil sejak lama. Diberi nama kode Project Sky Hawk oleh AS, program ini merujuk pada upaya Israel buat menyulap rudal antiradar berkecepatan tinggi AGM-78 Standard untuk menguber MiG-25 Foxbat. Di mata AS proyek Sky Hawk dianggap gagal,lantaran mengusung banyak kelemahan. Kendala paling utama datang dari soal keselarasan kinerja radar AWG-9 milik Tomcat dengan rudal. Sistem pemandu pada rudal kelewat lemah untuk membaca sinyal-sinyal yang dikirim radar. Toh kendala tadi sudah bisa diatasi oleh Iran. Terbukti saat beroperasi sejumlah Tomcat IRIAF memang dibekali sedikitnya dengan tiga rudal Sedjil.

Selain untuk keperluan pertempuran udara, Iran juga merekayasa rudalHAWK bagi kebutuhan serang darat. Arsenal udara-permukan ini diberi Nama Rudal Yasser.Untuk menciptakannya Iran mengkombinasi rudal MIM-23 HAWK dengan hulu ledak bom M-117 yang berbobot 375 kilogram. Jujur saja,rudal Yasser untuk Israel,AS dan sekutu2nya masih kebingungan buat menganalisa sistem pemandurudal.Beberapa pengamat memperkirakan rudal melesat dengan bantuan laser (laser designator). Sementara sisanya masih percaya, pengoperasian rudal tetap berpandu pada radar AWG-9 milik Tomcat. Dalam operasi udara, IRIAF memasang rudal Yasser pada armada F-14A dan F-4E Phantom II. Sekadar tambahan,disamping rekayasa berkategori berat,Iran juga melakukan modifikasi kecil. Trik macam ini diterapkan pada system rel-rel peluncur rudal pada armada jet tempur F-4 dan F-14.Alhasil kdua pesawat tadi kini mampu meluncurkan rudal antipesawat R-73 kode NATO AA-11Archer) buatan Rusia.

Jet lokal

Bila dibedah lebih jauh, sebenarnya kemampuan Industri Iran tak hanya sebatas memodifikasi atau rekayasa arsenal udara saja. Urusan rekondisi bahkan menciptakan pesawat tempur turut diladeninya.Adalah Islamic Republic Iran Aviation Industry Organization (IRIAIO) atau kerap disebut HESA yang bertanggung jawab terhadap program pembangunan kembali kekuatan udara Iran.

Proyek pertama yang cukup berhasil adalah melakukan proses manufaktur semua komponen yang dibutuhkan mesin Tomcat, Pratt&Whitney TF-30-PW-414. Bahkan menurut sumber orang dalam HESA,Iran sudah punyakemampuan merakit penuh mesin TF-30 dengan komponen lokal. Pernyataan itu jelas tak bisa ditelan bulat-bulat oleh Barat. Mereka masih meragukan, terutama untuk komponen kompresor mesin.

Selanjutnya HESA juga dipercaya menggarap dua program pengembangan pesawat militer lokal. Program pertama adalah menciptakan jet latih berkemampuan tempur,Shafaq.Info yang berhasil dihimpun menunjukkan pesawat ini punya banyak kemiripan bentuk dengan Yakovlev Yak-130. Hanya saja bagian sirip mengadopsi model ganda seperti jet serang Skorpion asal Polandia. Kemampuan melesat hingga kecepatan mach 1 plus beragam perangkat avionik berteknologi digital dipastikan jadi standar Shafaq. Berbasis pesawat ini ada peluang IRIAF bakal mengembangkannya utk keperluan serang darat.

Program kedua dikenal dengan nama M-ATF air superiority fighter. Jujur saja, untuk proyek yang satu ini masih diselimuti kabut misteri.Teheran tak mau begitu saja meloloskan info-info tentang proyek ini. Bahkan lebih jauh lagi mereka seperti sengaja melansir sejumlah proyek-proyek tandingan untuk mengaburkan kondisi yang sebenarnya. Proyek jet tempur Saeqe-80 (Halilintar-80) misalnya, sempat diisukan sudah rampung. Digambarkan Saeqe-80 tak lain merupakan pembesaran skalatis dari jet latihtempur F-5F dengan bekal mesin-mesin dari Rusia.

Masih dalam rangka taktik pengelabuan, info paling akhir yang bisa didapat menyebutkan kalau Iran juga meluncurkan varian Saeqe-2. Basis dipakai untk pengembangan adalah F-5E. Namun bagian sirip ekor pesawat ini dirombak menjadi model V. para pengamat barat lebih percaya kehadiran Saeqe-2 tak lain merupakan wahana uji coba struktur M-ATF.

Lepas dari segala program rahasia yang saat ini sedang dijalani,secara garis besar bisa dibilang industri kedirgantaraan Iran punya kapabilitas untuk memproduksi pesawat sendiri. Setidaknya ini dibuktikan oleh HESA yang secara resmi memegang lisensi resmi dariAntonov Rusia untuk membangun varian angkut An-140.

Angkatan Udara IRAN Tetap diperhitungkan
Memang banyak kejutan yang dilakukan Teheran agar kekuatan udara negeri ini yang seharusnya tetap diperhitungkan oleh pihak lawan. Bila dijabarkan di atas kertas, ada satu keunggulan teknis yang bisa didapat dari upaya mandiri dan rekayasa tadi. Lantaran sudah berubah dari spek aslinya, tentu lawan bakal dibuat pusing tujuh keliling untuk menebak kemampuan sesungguhnya dari senjata hasil rekayasa tadi.

Soal embargo senjata yang selama ini diterapkan, nyata-nyata tak berhasil membuat Iran benar-benar bertekuk lutut.Pasalnya tak semua negara mau patuh dengan aturan yang dicanangkan oleh AS itu. Perancis misalnya, pada tahun 2000 pernah memperbolehkan IRIAF untuk menguji kemampuan rudal udara-udara Matra Magic R550 Mk.II. dari jet Mirage F1EQ hasil hibah dari AU Irak. Tak hanya itu, rampung uji coba Paris serta merta menawari Iran dengan 62 unit Mirage F-1CT eks AU Perancis, 500 unit rudal Magic Mk.II plus dukungan suku cadang selama 10 tahun. Sayang, proyek senilai 1,8 miliar dolar ini gagal gara-gara Teheran kekurangan dana.

Diluar Perancis, masih ada Rusia yang terbilang punya nasib lebih beruntung. Walau kerap terganjal oleh jaringan intelijen AS, negeri ini sempat berhasil menjual sejumlah jet tempur MiG-29A Fulcrum ke Iran. Diluar MiG-29, pada tahun 2003 Rusia pernah pula menyodorkan 22 unit MiG-31 Foxhound lengkap dengan dukungan suku cadang. Proyek untuk pengadaan MiG-31 ini tak pernah kesampaian lantaran CIA turut campur tangan. (*)

Catatan ; Kalau Negara Iran yang tertutup dari hegemoni barat masih dapat digagalkan Pembelian Alutsista dari Rusia , bagaimana dengan Pembelian Senjata Strategis untuk Milter Indonesia ? apakah para intelejen asing telah berhasil buat Militer Indonesia gagal dalam kontrak kesepakatan pembelian Alutsista dari Negara Negara diluar Sekutu Amerika Contoh nyata mana bukti hasil kesepakatan kerjasama militer Indonesia - Rusia akhir tahun 2008 untuk pembelian Alusista Penting dengan pembiayaan kredit dari Pemerintah Rusia sebesar 1 milyard dollar saat ini sudah lebih dari 7 bulan belum ada realisasinya untuk itu Mohon kiranua Presiden RI terpilih dan Para Petinggi Milter Indonesia segera melanjutkan Kontrak pembelian Alusista dari Rusia sebelum tahun 2009 berakhir /**

Nyaris Punya F-16

Sudah bukan rahasia lagi kalau semasa Syah Iran berkuasa, Teheran adalah karib Washington.Bila situasi macam itu tetap berlaku hingga sekarang, bisa dipastikan posisinya bakal ada di atas Israel.Bayangkan saja, di era 70-an Iran dengan gampangnya kebagian jatah jet-jet tempur teranyar dari Negeri Paman Sam. F-4D/E Phantom II, F-5 Tiger, hingga F-14A Tomcat,bahkan masih jadi tulang punggung AU Iran sampai sekarang.

Diluar ketiga jet tadi, sebenarnya ada satu tipe lagi yang saat itu juga jadi incaran, yaitu F-16 Fighting Falcon. Tercatat 30 tahun lalu pada 27 Oktober 1976 Pemerintah Iran pernah bersepakat buat memborong 160 unit F-16 plus opsi tambahan berjumlah 140 buah lagi. Ini artinya apabila tidak terjagi Revolusi Islam Iran 1979 bila ditotal AU Iran sama saja bakal mengoperasikan 300 unit F-16 Fighting Falcon!

Pada tahun 1978, sebagian besar komponen dan peralatan perawatan tiba di Iran. Sejumlah personil darat AU Iran sempat pula mendapat pelatihan. Tapi siapa sangka,hanya dalam tempo beberapa bulan ke depan terjadi perubahan politik di Teheran. Situasi yang saat itu berubah 180 derajat, membuat pembelian berkategori "the big-deal' itu gagal total. Padahal secara teknis, Teheran sudah membayar penuh pesanan tadi. Sejumlah ground equipment F-16 yang telah ada lantas berpindah tangan ke Pakistan. Sementara General Dynamics melempar beberapa F-16 pesanan AU Iran yang telah jadi ke AU Israel. Sebagai tambahan, nasib serupa juga menimpa delapan pesawat AWACS. Wahanaperingatan dini ini akhirnya dipakai oleh AU Arab Saudi. (*)

Negeri Penyangga
Selain kebutuhan pasokan minyak bumi, AS juga punya alasan lain untuk memperkuat AU Iran. Dalam pandangan strategis semasa perang dingin, disamping Turki, Iran dianggap sebagai wilayah penyangga dari kemungkinan serangan Soviet dan sekutu-sekutunya. Oleh karena itu, pasca PD II AS tanpa ragu- ragu menyuplai sejumlah pesawat tempur. Sebut saja mulai pemburu baling-baling P-47 Thunderbolt, jet intai bertempat duduk ganda RT-33 T-bird, F-84 Thunderjet, F-86 Sabre.Dibawah bendera bantuan senjata MAP (Military Assistance Program),semua mesin perang tadi diberikan secara gratis.

Kebagian pasokan pesawat secara cuma-cuma so pasti membuat para pilot militer Iran jadi terbiasa dengan peralatan militer berteknologi tinggi. Tak hanya itu, kedatangan pesawat-pesawat tadi juga memicu AU Iran untuk menciptakan Tim Aerobatik sendiri. Nama yang diusung adalah Golden Crown. Tim ini muncul pada tahun 1955, bersamaan dengan kehadiran jet F-84G Thunderjet. Sayangnya, grup akrobatik udara ini tak bertahan lama. Begitu Syah Iran turun tahta, maka berakhir pula kejayaan nama Golden Crown.(*)

IRIAF Frontline Fighters

Kombinasi Barat-Timur, itulah gambaran kekuatan tempur IRIAF saat ini.
Selain jet-jet buatan AS peninggalan jaman Syah, negeri ini juga
mengoperasikan Dassault Mirage F1EQ yang didapat dari Irak selama
Operasi Enduring Freedom (1991). Jumlahnya diperkirakan mencapai 18
hingga 20 unit, baik itu varian kursi tunggal F1EQ maupun varian kursi ganda F1BQ. Jet lain yang tergolong baru adalah MiG-29A Fulcrum.

Penempur asal Rusia ini dibeli pada tahun 1990. Ada kabar beredar, setahun kemudian IRIAF mendapat tambahan 14 unit MiG-29. Selanjutnya disusul dengan enam pesawat sejenis yang datang dalam kurun waktu 1993-1994. Sayang semua info tadi tak didukung oleh bukti fotografi yang kuat. Tipe penempur terakhir yang juga patut diperhitungkan adalah Chengdu F-7M Airguard. Tercatat IRIAF mulai memakai pesawat asal Cina ini pada tahun 1987. Berikut perkiraan komposisi jet-jet tempur garis depan IRIAF saat ini.


TIPE Jumlah Negara Pembuat


1. F-14A Tomcat 60 Pesawat Amerika Serikat
2. F-4D/F-4E Phantom II 18 / 46 Pswt Amerika Serikat
3. Northrop F-5A/5B/5E/F 10/25/57/18 Pswt Amerika Serikat
4. F-7M Airguard 30 Pesawat Cina
5. MiG-29A/UB Fulcrum 35 / 6 Pswt Rusia
6. Mirage F-1EQ/BQ 18 / 20 Pswt Perancis
7. Shenyang J-6 12 Pesawat Cina
8. Su-24MK Fencer-D 30 Pesawat Rusia
9. Su-25K UBK-T 13 Pesawat Rusia


Inside The Persian Cat

Setelah membandingkan kemampuannya dengan McDonnell Douglas F-15AEagle, Iran akhirnya memilih untuk memborong Grumman F-14ATomcat sbg penempur utamanya . Dibawah bendera proyek Persian King,pemimpin Iran kala itu, Syah Mohammad Reza Pahlevi II memutuskan untuk memborong 30 unit F-14A-GR plus 424 unit rudal AIM-54A Phoenix. Batch pertama senilai 300 juta dolar ini disetujui7 Januari 1974.

Hanya dalam tenggang waktu beberapa bulan kemudian, tepatnya bulan Juni kembali IIAF (sebutan AU Iran sebelum revolusi) membeli 50 unit jet sejenis serta tambahan 290 buah Phoenix. Total jenderal dana yang mesti dikucurkan Teheran mencapai dua miliar dolar. Asal tahu saja, sepanjang sejarah AS, ini merupakan pembelian terbesar untuk satu jenis perangkat militer oleh negara asing. Pada tahun 1976 muncul berita, Iran kembali bakal memembeli tambahan 70 unit Tomcat. Rencana ini pupus lantaran Shah keburu terjungkal dari kekuasaannya.

Lepas dari lika-liku pembelian, secara garis besar kemampuan Tomcat pesanan Iran setara dengan milik AL AS. Mulai dari sumber tenaga
turbofan Pratt&Whitney TF-30, perangkat pengidentifikasi kawan-lawan (IFF), radar AWG-9, hingga perangkat antiacak elektronik (electronic counter-measure), semua sesuai standar AL AS. Khusus untuk perangkat
IFF tipe APX-81-M1E yang saat itu tergolong barang rahasia, AS sengaja mengubah deteksi kinerjanya supaya hanya bisa mendeteksi jet-jet buatan Blok Timur saja.

Bergeser ke perbedaan, untuk yang satu ini terbilang minim. Urusan kamuflase jelas sudah pasti beda. F-14 pesanan Iran mengadopsi kelirloreng ala padang pasir. Selanjutnya untuk perangkat pengisian bahan bakar di udara tak dilengkapi dengan tutup pelindung. Terakhir, semuaarmada Tomcat Iran tak punya sistem bantu pendaratan AN/ARA-62 yang notabene hanya diperlukan bagi pesawat yang kerap beroperasi dari dek kapal induk.

Mampukah Indonesia Mencontoh Iran Keuletan dan keberhasilan Iran dalam Mempersenjatai Militernya walau Telah 20 tahun di Embargo Amerikawajib bagi Militer Indonesia Belajar dari Milter Iran Agar kemampuan AURI Indonesia Air Force Disegani oleh Negara2 Tetangga Terutama Australia dan Malaysia


Selasa, Juni 23, 2009

Negara Bersama Rakyat Bahari Indonesia wajib Bangun Jaringan Kedaulatan Laut Dalam Menjaga kejahatan kapal2 Asing & Ancaman Militer Asing

Karena Indonesia adalah Negara Kepulauan Terbesar di Dunia maka adalah suatu keharusan Bagi kekuatan militer Laut Indonesia bersama Rakyat Bahari untuk mulai kita fokus terhadap ancaman dan tantangan yang muncul dalam suatu masa. Fokus terhadap hal tersebut bukan saja Pencurian Ikan oleh Nelayan asing tetapi juga pada seluruh aktivitas kapal asing baik Kapal sipil ataupum Kapal Militer Asing , saatnya kita tidak hanya terpaku pada struktur kekuatan laut yang dibangun Negara agar mampu menghadapi Gangguan di laut atau serbuan Pihak Milter Asing akan tetapi juga kita wajib mengenali pula secara lengkap karakter pihak yang dikategorikan sebagai ancaman dan tantangan tersebut. Dengan kata lain, karakter dan tindak tanduk calon calon lawan dicermati dengan benar. Agar kita TNI Bersam Rakyat Bahari Mampu Mendeteksi setiap Pelnggaran Di Wilayah laut Indonesia. TNI Bersama Rakyat Bahari akan Siap memenangkan setiap Peperangan Laut dengan Militer Asing di seluruh Wilayah Laut Kedaulatan Indonesia yang akan dicaplok Mereka sesuai dan sejalan dengan Doktrin Perlawanan Rakyat Semesta Indonesia

Sebagai contoh adalah U.S. Navy yang memandang bahwa kekuatan laut Cina akan menjadi calon lawannya di masa depan. Persepsi demikian kemudian muncul dalam aspek-aspek terkait, baik operasi, intelijen, logistik maupun pendidikan dan pengkajian. Kalau mencermati kurikulum di lembaga pendidikan U.S. Navy, khususnya untuk perwira, sebagian dari kurikulum itu dirancang untuk mengenali karakter dan tindak tanduk Cina. Begitu pula dengan hasil-hasil pengkajian di U.S. Navy, termasuk seminar-seminar, sebagian fokusnya diarahkan ke kekuatan laut Cina, meliputi aspek operasi, intelijen, logistik maupun mutasi para personel Militer Cina .
Kegiatan operasi dan intelijen pun demikian. Berlalu lalangnya kapal perang dan kapal Angkatan Laut Amerika Serikat di perairan ZEE Cina membuktikan kebenaran akan fokus itu. Apabila kita berangkat dari pemahaman demikian, tentu saja bukan suatu hal yang aneh alias janggal dengan insiden seperti USNS Impeccable (T-AGOS 23) atau tabrakan udara antara pesawat intai EP-3 Aries dengan pesawat tempur Cina.,

Sekarang Bagamana tentang Indonesia dengan segala aspek tantangan demi tantangan dari Negara – Negara disekitar Negara kepulauan Indonesia , walau sampai saat ini Indonesia secara resmi belum pernah mendeklarasikan siapa lawannya dan atau calon-calon lawannya. Namun melihat perkembangan kontemporer di Laut Sulawesi, tidak sedikit pihak di negeri ini berpendapat bahwa Malaysia dan Australia lebih besar probabilitasnya menjadi calon lawan Indonesia suatu ketika dibandingkan dengan Singapura misalnya. Selanjutnya muncul pertanyaan, sudah seberapa dalam pengetahuan kita mengenai Australia dan Malaysia khususnya kekuatan Efektif Angkatan laut Mereka dalam berperang ? Sebagai Negara Kepulauan Terbesar Di dunia Sudahkah fokus Para Pemimpin dan Petinggi militer negeri ini diarahkan ke sana , dalam segala aspek baik operasi, intelijen, logistik dan lain sebagainya? Pahamkah kita dengan doktrin operasi Militer Malaysia ? juga saatnya kita pelajari bagaimana Doktrin operasi Militer Australia apa Mengertikah kita dengan karakter operasi militer serta struktur organisasi dan Personel militernya ? Selain data data terbaru Alutsista Dari Calon Calon Agresor
Banyak pertanyaan serupa yang relevan untuk diajukan.Semua itu pada dasarnya konsekuensi bila kita harus meprediksi bila terjadi peperangan dan menilai kekuatan suatu Negara - negara yang merupakan calon calon Potensial lawan kita di Masa depan. Saatnya sekarang sebelum sebagian wilayah Indonesia dicaplok Malaysia atau Australia LEMHANAS dan TNI melakukan obsevasi – observasi yang serius pada Ciri Perilaku , aktivitas Militer Negara – Negara Seperti Malaysia , Australia , deteksi lalu lintas Aktivitas Militer asing diseluruh Perairan Nusantara . bangun Sekarang juga bersama Rakyat Bahari membangun jaringan kedaulatan Laut dengan mengikut sertakan Satu juta Kapal2 sipil nasional dan Kapal2 Nelayan Indonesia dengan memberikan penyuluhan sandi kpd satu juta kapten atau nakhoda kapal nasional Negara harus memberikan secara gratis Alat2 komunukasi yang dilengkapi radar buatan Dalam Negri Kepada kapal - kapal nasional Indonesia dalam memantau setiap kapal militer Asing , kapal2 nelayan asing , pantau seluruh aktivitas kapal berbendera Asing yang masuk wilayah lautIndonesia ,Pada Waktu Secepatnya Pemerintah ( DEPHAN dan TNI ) Memesan kepada Industri Perkapalan dan Industri Militer Nasional Untuk segera Membuat 10000 kapal Perang kecil Hemat Energi Mampu bergerak cepat yang dipersenjatai Rudal berserta kelengkapan tempur laut. Apabila Presiden Terpilih merealisasikanya maka dalam waktu 24 bulan Dari Oktober 2009 Maka Pada 0ktober 2011 Kekuatan Laut Indonesia Akan disegani karena Jelas Angkatan laut Indonesia bersama Rakyat Bahari Indonesia Akan Mampu Mengontrol Keamanan Perairan & Menjaga Kedaulastan seluruh Wilayah Laut R.I. Indonesia Raya adalah Negara Kepulauan Terbesar di Dunia

Rabu, Juni 17, 2009

Kepentingan Sektoral Dalam Bingkai Kepentingan Nasional

Kepentingan Sektoral dan Kepentingan Nasional


Kerjasama keamanan Indonesia-Australia diikat dalam The Lombok Agreement. Terdapat sembilan bidang kerjasama yang disepakati kedua negara, yang mana untuk Angkatan Bersenjata mencakup counter terrorism, maritime security, intelligence, humanitarian assistance and disaster relief dan peacekeeping. Kesepakatan mengenai kerjasama militer kedua negara disepakati pada Januari 2009 antara kedua petinggi Angkatan Bersenjata masing-masing.
Soal kerjasama keamanan dengan Australia merupakan suatu hal yang taken for granted bagi militer Indonesia, sebab hal itu merupakan kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah. Namun bagaimana realisasinya di lapangan, itu suatu hal yang mesti dicermati dengan benar. Sebab pertanyaan utamanya adalah siapa yang diuntungkan dari kerjasama itu. Apakah Australia atau Indonesia atau kedua-duanya.
Mengukur derajat kepentingan nasional masing-masing negara, nampaknya Australia lebih diuntungkan dengan kerjasama ini. Misalnya dalam bidang counter terrorism, maritime security, humanitarian assistance and disaster relief, begitu pula dengan intelligence dan peacekeeping. Dalam soal counter terrorism dan maritime security, Indonesia sepertinya akan lebih banyak berfungsi sebagai bumper. Negeri ini akan lebih ditempatkan sebagai pelaksana lapangan yang akan menginterdiksi ancaman terhadap Australia tepat di jalur pendekat maritim.
Mengenai kerjasama bidang humanitarian assistance and disaster relief, Australia lebih siap dari aspek sumber daya. Sedangkan Indonesia lebih akan menjadi “sasaran” operasi humanitarian assistance and disaster relief Australia. Probabilitas terjadinya bencana alam di Indonesia jauh lebih besar daripada di Australia.
Begitu pula dengan intelligence. Australia mempunyai sumber daya untuk mengumpulkan informasi intelijen yang sangat sulit ditandingi oleh Indonesia. Artinya Indonesia akan lebih sebagai penerima informasi, sebab apa yang akan terjadi di Indonesia sudah diketahui terlebih dahulu oleh intelijen Australia. Dan informasi yang dibagi oleh negeri di selatan itu tentu saja yang lebih menguntungkan dia.
Berangkat dari situ, perlu kehati-hatian Indonesia dalam mengimplementasikan kerjasama itu. Jangan terlalu banyak janji terhadap Australia, sebab sekali berjanji mereka akan mengejar terus realisasi janji dimaksud. Harus jelas apa keuntungan yang akan diraih Indonesia dalam suatu kerjasama terlebih dahulu, baru kemudian kerjasama itu direalisasikan. Keuntungan yang dimaksud tentu saja harus bersifat strategis dan politis, bukan keuntungan taktis belaka.
Keinginan pihak tertentu di Negeri Nusantara untuk menempatkan penasehat dari institusi pertahanan negeri di selatan di suatu lembaga tertentu dalam rangka perwujudan The Lombok Treaty mesti ditelaah dengan benar. Jangan sampai hanya demi kepentingan sektoral yang sempit maka kepentingan yang lebih besar dikorbankan. Sebab apabila kepentingan sektoral itu pun tidak direalisasikan, republik ini insya Allah akan tetap eksis dalam percaturan antar bangsa.

Minggu, Juni 07, 2009

SEGERA GUNAKAN KREDIT PERALATAN MILITER DARI RUSIA



Kerjasama Indonesia-Rusia Dan Perimbangan Kekuatan Di Kawasan ASEAN


Tidak gampang untuk dibantah bahwa beberapa negara di sekitar Indonesia melihat dengan penuh kewaspadaan dan kekhawatiran tentang kerjasama Indonesia-Rusia di bidang pertahanan. Sebab dalam kerjasama itu Rusia tidak kikir untuk meminjamkan uangnya kepada Indonesia untuk dibelikan sejumlah senjata modern buatan Rusia guna modernisasi kekuatan pertahanan Indonesia. Bandingkan dengan Amerika Serikat yang terlalu banyak syarat ketika ingin menjual senjatanya kepada Indonesia.
Tak aneh bila ada upaya-upaya di belakang layar di Indonesia dari pihak tertentu untuk menghambat laju kerjasama pertahanan Indonesia-Rusia. Contoh yang sangat jelas dan kasat mata adalah berlarutnya rencana pengadaan kapal selam yang dibiayai oleh kredit dari Rusia. Kondisi demikian mencerminkan bahwa ada pihak di dalam negeri dan di luar negeri yang tidak senang bila AL kita kondisinya lebih kuat daripada saat ini.
Kerjasama pertahanan Indonesia-Rusia, apabila terwujudnya penuh melalui penggunaan kredit US$ 1 milyar akan menimbulkan keseimbangan baru di kawasan. Sebab selama ini Amerika Serikat telah mengizinkan Malaysia, Singapura dan Australia yang tergabung dalam FPDA mempunyai senjata modern dan jarak jauh yang lebih mematikan dalam arsenal mereka. Kebijakan sama tidak diterapkan kepada Indonesia karena dianggap akan mengganggu kepentingan nasional Amerika Serikat.
Ketidakseimbangan itu sesungguhnya tidak menguntungkan stabilitas kawasan, sebab secara langsung atau tidak langsung menempatkan Indonesia pada posisi tidak nyaman. Situasi demikian dibaca dengan jeli oleh Rusia dan dimanfaatkan dengan cerdas dengan menawarkan sistem senjatanya yang secara kualitas mampu disandingkan dengan senjata serupa buatan Amerika Serikat maupun NATO.
Janji Menteri Pertahanan Amerika Serikat kepada sejawatnya dari Indonesia dalam The 8th Shangrila Dialogue di Singapura 29-30 Mei 2009 di Singapura hendaknya tidak disikapi dengan berlebihan. Bila syarat-syaratnya tidak merugikan Indonesia, boleh-boleh saja tawaran itu diterima. Namun jangan sampai kredit US$ 1 milyar dari Rusia diabaikan, sebab hal itu akan memberikan dampak negatif terhadap Indonesia. Orang seringkali mengatakan bahwa kesempatan tidak datang dua kali.

TRANSKRIPS PIDATO PRESIDENT OBAMA DI KAIRO - MESIR


Mencermati Pidato Barack Husein Obama di Mesir. Transkripsi selengkapnya.

Kairo, Mesir, 4 Juni 2009

Terima kasih. Selamat siang. Saya merasa terhormat berada di kota Kairo yang tak lekang oleh waktu, dan dijamu oleh dua institusi yang luar biasa. Selama lebih seribu tahun, Al Azhar telah menjadi ujung tombak pembelajaran Islam, dan selama lebih seabad, Universitas Kairo telah menjadi sumber kemajuan Mesir. Bersama, anda mewakili keselarasan antara tradisi dan kemajuan. Saya berterima kasih atas keramahan anda, dan keramahan rakyat Mesir. Saya juga bangga membawa niat baik rakyat Amerika, dan menyampaikan salam perdamaian dari warga muslim di negara saya: “assalamu’alaikum”.
Kita bertemu pada saat ada ketegangan besar antara Amerika Serikat dan warga Muslim seluruh dunia – ketegangan yang berakar pada gerak sejarah yang melampaui setiap perdebatan kebijakan yang kini berlangsung. Hubungan antara Islam dan Barat selama berada-abad mencakup koeksistensi dan kerja sama, tapi juga konflik dan peperangan bernuansa agama. Akhir-akhir ini, ketegangan muncul akibat kolonialisme yang menyangkal hak dan peluang bagi banyak warga Muslim, serta Perang Dingin yang membuat banyak negara dengan mayoritas penduduk Muslim diperlakukan sebagai boneka dengan mengabaikan aspirasi mereka. Lebih jauh lagi, perubahan besar yang diusung oleh modernitas dan globalisasi membuat kalangan Muslim menilai Barat bersikap memusuhi Islam.
Kelompok ekstrimis garis keras telah mengeksploitasi hubungan yang tegang itu, jumlah mereka kecil namun memiliki potensi di kalangan Muslim. Serangan pada 11 September 2001 dan upaya berkelanjutan dari kalangan ekstrimis ini untuk menyerang warga sipil telah membuat sebagian kalangan di negara saya menilai Islam bukan cuma memusuhi Amerika dan negara Barat, melainkan juga hak asasi manusia. Semua ini semakin memupuk rasa takut dan saling tidak percaya.
Selama hubungan Barat dan Islam ditentukan oleh perbedaan-perbedaan, kita akan memperkuat mereka yang menyebarkan kebencian ketimbang perdamaian, serta memperkuat mereka yang mempromosikan konflik ketimbang kerja sama yang dapat membantu rakyat mencapai keadilan dan kemakmuran. Lingkaran kecurigaan dan permusuhan ini harus kita akhiri.
Saya datang ke Kairo untuk mengupayakan awal baru antara Amerika Serikat dan Muslim diseluruh dunia, berdasarkan kepentingan bersama dan rasa saling menghormati – dan berlandaskan pada kenyataan bahwa Amerika dan Islam tidaklah eksklusif satu sama lain, dan tidak perlu bersaing. Kedua pihak bertemu dan berbagi prinsip yang sama – yaitu prinsip-prinsip keadilan dan kemajuan; toleransi dan martabat semua umat manusia.
Saya menyadari perubahan tidak dapat terjadi dalam semalam. Saya tahu banyak harapan terhadap pidato ini, tetapi satu pidato tidak akan mampu menghapus rasa curiga yang terpupuk selama bertahun-tahun, dan dalam waktu singkat siang ini saya juga tidak akan mampu menjawab semua pertanyaan rumit yang membawa kita ke titik ini. Tapi saya percaya bahwa agar bisa melangkah maju, kita harus secara terbuka mengatakan kepada satu sama lain hal-hal yang ada dalam hati kita, dan yang seringkali hanya diungkapkan di belakang pintu tertutup. Harus ada upaya terus menerus untuk mendengarkan satu sama lain; saling belajar satu sama lain; saling menghormati, dan mencari persamaan. Sebagaimana kitab suci Al Qur’an mengatakan, “Ingatlah kepada Allah dan bicaralah selalu tentang kebenaran.” Ini yang akan saya lakukan hari ini – berbicara tentang kebenaran sesuai kemampuan saya, dengan rendah hati oleh tugas di depan kita, dan dengan keyakinan bahwa kepentingan bersama yang kita miliki sebagai umat manusia jauh lebih kuat daripada kekuatan-kekuatan yang memisahkan kita.
Sebagian dari keyakinan ini berakar dari pengalaman saya pribadi. Saya penganut Kristiani, tapi ayah saya berasal dari Kenya yang turun temurun penganut Muslim. Saat kecil, saya tinggal di Indonesia beberapa tahun dan mendengar lantunan adzan subuh dan maghrib. Ketika muda, saya bekerja di komunitas-komunitas kota Chicago yang banyak anggotanya menemukan martabat dan kedamaian dalam keimanan Islam.
Sebagai pelajar sejarah, saya juga mengetahui peradaban berhutang besar terhadap Islam. Adalah Islam – di tempat-tempat seperti Universitas Al-Azhar – yang mengusung lentera ilmu selama berabad-abad, dan membuka jalan bagi era Kebangkitan Kembali dan era Pencerahan di Eropa. Adalah inovasi dalam masyarakat Muslim yang mengembangkan urutan aljabar; kompas magnet dan alat navigasi; keahlian dalam menggunakan pena dan percetakan; dan pemahaman mengenai penularan penyakit serta pengobatannya. Budaya Islam telah memberikan kita gerbang-gerbang yang megah dan puncak-puncak menara yang menjunjung tinggi; puisi-puisi yang tak lekang oleh waktu dan musik yang dihargai; kaligrafi yang anggun dan tempat-tempat untuk melakukan kontemplasi secara damai. Dan sepanjang sejarah, Islam telah menunjukkan melalui kata-kata dan perbuatan bahwa toleransi beragama dan persamaan ras adalah hal-hal yang mungkin.
Saya juga tahu bahwa Islam selalu menjadi bagian dari riwayat Amerika. Negara pertama yang mengakui negara saya adalah Maroko. Saat menandatangani Perjanjian Tripoli pada tahun 1796, presiden kedua kami John Adams menulis, “Amerika Serikat tidaklah memiliki karakter bermusuhan dengan hukum, agama, maupun ketentraman umat Muslim.” Dan sejak berdirinya negara kami, umat Muslim Amerika telah memperkaya Amerika Serikat. Mereka telah berjuang dalam sejumlah peperangan, bekerja dalam pemerintahan, memperjuangkan hak-hak sipil, mengajar di perguruan-perguruan tinggi kami, unggul dalam arena-arena olah raga kami, memenangkan Hadiah Nobel, membangun gedung-gedung kami yang tertinggi, dan menyalakan obor Olimpiade. Dan ketika warga Muslim-Amerika pertama terpilih sebagai anggota Kongres belum lama ini, ia mengambil sumpah untuk membela Konstitusi kami dengan menggunakan Al Quran yang disimpan oleh salah satu Bapak Pendiri kami – Thomas Jefferson – di perpustakaan pribadinya.
Jadi saya mengenal Islam di tiga benua sebelum datang ke kawasan tempat agama ini pertama kali diturunkan. Pengalaman tersebut memandu keyakinan saya bahwa kemitraan antara Amerika dan Islam harus didasarkan pada apakah Islam itu, bukan pada apakah yang bukan Islam. Dan saya menganggap ini adalah bagian dari tanggung jawab saya sebagai Presiden Amerika Serikat untuk memerangi stereotip negatif tentang Islam di mana pun munculnya.
Tapi prinsip yang sama harus diterapkan pada persepsi tentang Amerika. Seperti halnya umat Muslim tidak sesuai dengan stereotip yang mentah, Amerika juga bukan stereotip mentah tentang sebuah kekaisaran yang memiliki kepentingan sendiri. Amerika Serikat telah menjadi salah satu sumber kemajuan terbesar yang dikenali dunia. Kami lahir akibat revolusi melawan sebuah kekaisaran. Kami berdiri berdasarkan ide bahwa semua orang diciptakan sama, dan kami telah menumpahkan darah dan berjuang selama berabad-abad untuk memberikan arti kepada kata-kata tersebut – di dalam batas negara kami, dan di sekeliling dunia. Kami terbentuk oleh setiap budaya, yang datang dari setiap sudut bumi, dan berdedikasi pada sebuah konsep sederhana: E pluribus unum: “Dari banyak menjadi satu”.
Banyak dikatakan menyangkut fakta bahwa seorang Amerika keturunan Afrika dengan nama Barack Hussein Obama dapat terpilih sebagai presiden. Tapi kisah pribadi saya bukanlah sesuatu yang unik. Mimpi akan kesempatan bagi semua belumlah terwujud bagi setiap orang di Amerika, tapi janji itu diberikan bagi semua yang datang ke pantai kami – termasuk hampir tujuh juta warga Muslim Amerika di negara kami saat ini yang memiliki pendapatan dan pendidikan lebih tinggi dari rata-rata.
Lebih jauh lagi, kebebasan di Amerika tidaklah terpisahkan dari kebebasan menjalankan agama. Itu sebabnya ada masjid di setiap negara bagian di negeri kami, dan ada lebih dari 1200 masjid di dalam batas negara kami. Itu sebabnya pemerintah Amerika telah maju ke pengadilan untuk membela hak wanita dan anak perempuan mengenakan hijab, dan untuk menghukum mereka yang mengingkarinya.
Jadi janganlah ada keraguan: Islam adalah bagian dari Amerika. Dan saya percaya bahwa Amerika memegang kebenaran dalam dirinya bahwa terlepas dari ras, agama, dan posisi dalam hidup, kita semua memiliki aspirasi yang sama – untuk hidup dalam damai dan keamanan; untuk memperoleh pendidikan dan untuk bekerja dengan martabat; untuk mengasihi keluarga kita, masyarakat kita, dan Tuhan kita. Ini adalah hal-hal yang sama-sama kita yakini. Ini adalah harapan dari semua kemanusiaan.
Tentu saja, mengenali persamaan kemanusiaan merupakan awal dari tugas kita. Justru ini adalah awal. Kata-kata saja tidak dapat memenuhi kebutuhan rakyat. Kebutuhan baru terpenuhi jika kita bertindak berani di tahun-tahun mendatang; Dan kita harus bertindak dengan pemahaman bahwa tantangan-tantangan yang kita hadapi adalah tantangan bersama, dan kegagalan kita mengatasinya akan merugikan kita semua.
Karena kita telah belajar dari pengalaman baru-baru ini bahwa ketika sistem keuangan melemah di satu negara, kemakmuran di mana pun ikut dirugikan. Ketika jenis flu baru menulari satu orang, semua terkena risiko. Ketika satu negara membangun senjata nuklir, risiko serangan nuklir bagi semua negara ikut naik. Ketika kelompok ekstrim keras beroperasi di satu rangkaian pegunungan, rakyat di seberang samudera pun ikut menghadapi bahaya. Dan ketika mereka yang tak bersalah di Bosnia dan Darfur dibantai, itu menjadi noda dalam nurani kita bersama. Itulah artinya berbagi dunia di abad ke-21. Inilah tanggung jawab kita kepada satu sama lain sebagai umat manusia.
Dan ini adalah tanggung jawab yang sulit diemban. Karena sejarah manusia telah merekam berbagai bangsa dan suku yang mencoba menaklukkan satu sama lain demi kepentingan sendiri. Tapi di era baru ini, sikap seperti itu justru akan mengalahkan diri sendiri. Karena saling ketergantungan kita, setiap tatanan dunia yang mengangkat satu bangsa atau sekelompok orang lebih tinggi dari yang lain pada akhirnya akan gagal. Jadi apa pun pikiran kita mengenai masa lalu, kita tidak boleh terperangkap olehnya. Masalah-masalah kita harus ditangani dengan kemitraan; kemajuan harus dibagi bersama.
Itu tidak berarti kita tidak mengindahkan sumber-sumber ketegangan. Justru yang disarankan adalah sebaliknya: kita harus menghadapi ketegangan-ketegangan ini secara langsung. Dan dalam semangat ini, saya akan berbicara sejelas dan segamblang mungkin mengenai isu-isu spesifik yang saya percaya akhirnya harus kita hadapi bersama.
Isu pertama yang harus kita hadapi adalah ekstrimisme garis keras dalam semua wujud.
Di Ankara, saya telah menjelaskan bahwa Amerika tidak sedang – dan tidak akan pernah – berperang dengan Islam. Kami akan, meski demikian, tak lelah-lelahnya melawan kelompok ekstrim keras yang mengancam serius keamanan kami. Karena kami menolak apa yang juga ditolak oleh semua orang beragama: yaitu pembunuhan laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang tidak bersalah. Dan adalah tugas saya yang pertama sebagai Presiden untuk melindungi rakyat Amerika.
Situasi di Afghanistan mendemonstrasikan sasaran-sasaran Amerika dan kebutuhan kita untuk bekerja sama. Lebih tujuh tahun lalu, Amerika Serikat mengejar Al Qaida dan Taliban dengan dukungan internasional yang luas. Kami tidak melakukannya karena ada pilihan, kami melakukannya karena perlu. Saya sadar bahwa sejumlah orang mempertanyakan atau membenarkan peristiwa serangan 11 September. Tapi mari kita perjelas: Al Qaida membunuh hampir 3000 orang pada hari itu. Para korban adalah kaum pria, wanita, dan anak-anak yang tidak bersalah dari Amerika dan banyak negara lain yang tidak berbuat apa-apa untuk melukai orang lain. Tapi Al Qaida memilih untuk dengan kejam membunuh mereka, mengklaim pujian atas serangan tersebut, dan bahkan sekarang menyatakan tekad mereka untuk membunuh lagi dalam skala sangat besar. Mereka memiliki kaki tangan di banyak negara dan sedang mencoba untuk memperluas jangkauan mereka. Ini bukan opini yang dapat diperdebatkan; ini adalah fakta yang harus dihadapi.
Janganlah salah paham: kami tidak menginginkan tentara kami di Afghanistan. Kami tidak berencana mendirikan basis militer di sana. Sangat menyakitkan bagi Amerika untuk kehilangan nyawa banyak warga pria dan wanita kami. Adalah mahal dan sulit secara politik untuk melanjutkan konflik ini. Kami dengan senang hati akan memulangkan setiap tentara kami jika kami bisa yakin bahwa tidak ada kaum ekstrimis keras di Afghanistan dan Pakistan yang bertekad membunuh sebanyak mungkin orang Amerika sebisa mereka. Tetapi hal itu tidak bukanlah kenyataan yang ada sekarang.
Itulah sebabnya kami bermitra dengan koalisi 46 negara. Dan meksi biayanya besar, niat Amerika tidak akan melemah. Tak satu pun dari kita yang seharusnya mentoleransi kaum ekstrimis seperti ini. Mereka telah membunuh di banyak negara. Mereka telah membunuh orang dari beragam agama – lebih dari yang lain, mereka telah membunuh umat Muslim. Tindakan-tindakan mereka sangat bertentangan dengan hak umat manusia, kemajuan bangsa-bangsa, dan dengan Islam. Kitab suci Al Quran mengajarkan bahwa siapa yang membunuh orang tak bersalah, maka ia seperti telah membunuh semua umat manusia; dan siapa yang menyelamatkan satu orang; maka ia telah menyelamatkan semua umat manusia. Iman indah yang diyakini oleh lebih semiliar orang sungguh lebih besar daripada kebencian sempit sekelompok orang. Islam bukanlah bagian dari masalah dalam memerangi ekstrimisme keras – Islam haruslah menjadi bagian penting dari penggalakkan perdamaian.
Kami juga tahu bahwa kekuatan militer saja tidak akan memecahkan masalah di Afghanistan dan Pakistan. Itu sebabnya kami berencana untuk menanam investasi sebesar 1,5 miliar dolar setiap tahun selama lima tahun ke depan untuk bermitra dengan warga Pakistan membangun sekolah, rumah sakit, jalan-jalan, dan usaha, dan ratusan juta untuk membantu mereka yang telah kehilangan tempat tinggal. Dan itu sebabnya kami menyediakan lebih dari 2.8 miliar dolar untuk membantu rakyat Afghanistan membangun ekonomi mereka dan menyediakan jasa-jasa yang dibutuhkan masyarakat.
Kini saya akan berbicara tentang masalah Irak. Tidak seperti Afghanistan, Irak adalah perang karena pilihan yang telah menimbulkan perbedaan-perbedaan kuat di negara saya dan di dunia. Meski saya percaya bahwa rakyat Irak pada akhirnya lebih baik tanpa tirani Saddam Hussein, saya juga percaya bahwa peristiwa-peristiwa di Irak telah mengingatkan Amerika tentang perlunya menggunakan diplomasi dan membangun konsensus untuk mengatasi masalah-masalah kita kapan pun memungkinkan. Kita bahkan dapat mengingat kata-kata salah satu presiden terbesar kami, Thomas Jefferson, yang mengatakan: “Saya berharap kebijakan kita akan bertambah sejalan dengan kekuatan kita, dan mengajarkan kita bahwa semakin sedikit kita menggunakan kekuatan, justru semakin besar kekuatan itu.”
Hari ini Amerika memiliki dua tanggung jawab: yaitu untuk membantu Irak membangun masa depan yang lebih baik, dan untuk menyerahkan Irak ke tangan rakyat Irak. Saya telah menjelaskan kepada warga Irak bahwa kami tidak berencana mendirikan basis di sana, dan tidak mengklaim baik teritori maupun sumber daya mereka. Kedaulatan Irak ada di tangan mereka sendiri. Itu sebabnya saya memerintahkan pencabutan brigade-brigade tempur kami sampai bulan Agustus mendatang. Itu sebabnya kami akan menghormati kesepakatan kami dengan pemerintah Irak yang terpilih secara demokratis untuk menarik pasukan tempur dari kota-kota Irak pada Juli mendatang, dan untuk memulangkan semua tentara kami dari Irak pada tahun 2012. Kami akan membantu Irak melatih Tentara Keamanan dan membangun ekonominya. Tapi kami akan mendukung Irak yang aman dan bersatu sebagai mitra, dan tidak pernah sebagai pelindung.
Dan akhirnya, seperti halnya Amerika tidak pernah bisa mentoleransi kekerasan oleh kaum ekstrimis, kami tidak pernah boleh mengompromikan prinsip-prinsip kami. Serangan 11 September adalah trauma besar bagi negara kami. Rasa takut dan marah yang muncul karenanya bisa dipahami, tapi dalam sejumlah kasus, itu telah membuat kami bertindak berlawanan dengan pemikiran-pemikiran kami. Kami sedang mengambil langkah-langkah konkret untuk mengubah arah. Saya telah sepenuhnya melarang praktik penyiksaan oleh Amerika Serikat, dan saya telah memerintahkan penutupan penjara di Teluk Guantanamo awal tahun depan.
Jadi Amerika akan membela diri, dengan menghormati kedaulatan bangsa-bangsa dan aturan hukum. Dan kami akan melakukannya dalam kemitraan dengan masyarakat-masyarakat Muslim yang juga terancam. Semakin cepat kaum ekstrimis diisolasi dan diusir dari dalam masyarakat-masyarakat Muslim, semakin cepat kita semua akan menjadi selamat.
Sumber ketegangan besar yang kedua yang perlu kita diskusikan adalah situasi antara warga Israel, Palestina, dan dunia Arab.
Ikatan yang kuat antara Amerika dan Israel telah banyak diketahui. Ikatan ini tidak dapat dipatahkan. Ini lahir berdasarkan ikatan budaya dan sejarah, serta pengakuan bahwa aspirasi atas sebuah tanah air Yahudi berakar dari sebuah sejarah tragis yang tidak bisa diingkari.
Di seantero dunia, kaum Yahudi telah ditindas selama berabad-abad, dan anti-Semitisme di Eropa memuncak dalam peristiwa Holocaust yang tidak pernah ada sebelumnya. Besok saya akan mengunjungi Buchenwald yang menjadi bagian dari jaringan kamp-kamp tempat kaum Yahudi diperbudak, disiksa, ditembak, dan digas hingga tewas oleh Third Reich. Enam juta orang Yahudi terbunuh – lebih banyak dari seluruh populasi Yahudi di Israel hari ini. Mengingkari fakta tersebut adalah tidak berdasar, bodoh, dan penuh kebencian. Mengancam Israel dengan penghancuran – atau mengulangi stereotip keji tentang umat Yahudi – sungguh sangat salah dan hanya akan membangkitkan kembali ingatan yang terperih di benak umat Yahudi sembari mencegah perdamaian yang patut dimiliki rakyat di kawasan ini.
Di sisi lain, tidak bisa diingkari bahwa rakyat Palestina – baik yang Muslim maupun yang Kristen – telah menderita dalam perjuangan memperoleh tanah air. Lebih dari enam puluh tahun, mereka telah merasakan sakitnya tidak memiliki tempat tinggal. Banyak yang menunggu di kamp-kamp pengungsi di Tepi Barat, Gaza, dan tanah-tanah tetangga untuk sebuah kehidupan yang damai dan aman yang belum pernah mereka jalani. Mereka menerima hinaan setiap hari – besar dan kecil – yang hadir bersama pendudukan. Jadi janganlah ada keraguan: situasi yang dihadapi rakyat Palestina tidaklah dapat ditoleransi. Amerika tidak akan bersikap tidak acuh terhadap aspirasi sah Palestina atas martabat, kesempatan, dan sebuah negara milik mereka sendiri.
Selama beberapa dekade, yang ada hanyalah jalan buntu: Dua rakyat dengan aspirasi yang sah, masing-masing memiliki sejarah menyakitkan yang membuat kompromi sulit dilakukan. Adalah mudah untuk menuding – rakyat Palestina menuding hilangnya tempat tinggal akibat berdirinya negara Israel, dan rakyat Israel menuding permusuhan yang terus menerus dan serangan dari dalam batas negaranya sendiri dan dari luar sepanjang sejarah negara tersebut. Tapi jika kita melihat konflik ini hanya dari satu sisi mana pun, maka kita akan dibutakan dari kebenaran: satu-satunya resolusi adalah aspirasi kedua pihak diwujudkan melalui dua negara, di mana rakyat Israel dan Palestina masing-masing hidup dalam damai dan keamanan. (tepuk tangan)
Ini adalah kepentingan Israel, kepentingan Palestina, dan kepentingan Amerika. Itu sebabnya saya berniat untuk secara pribadi mengejar hasil ini, dengan segala kesabaran yang dituntut oleh tugas ini. (tepuk tangan) Kewajiban-kewajiban yang telah disepakati pihak-pihak menurut Peta Jalan telah jelas. Supaya perdamaian terwujud, waktunya bagi mereka – dan bagi kita semua – untuk melakukan tanggung jawab kita.
Warga Palestina harus meninggalkan kekerasan. Perlawanan lewat kekerasan dan pembunuhan adalah salah dan tidak akan berhasil. Selama berabad-abad, rakyat kulit hitam di Amerika menderita hentakan pecut sebagai budak dan penghinaan akibat pemisahan berdasarkan warna kulit. Tetapi bukan kekerasan yang memenangkan hak-hak persamaan sepenuhnya. Sebuah tuntutan damai namun penuh tekad bagi realisasi kondisi ideal yang merupakan inti dari pendirian Amerika. Kisah sama ini juga diceritakan oleh rakyat mulai dari Afrika Selatan sampai Asia Selatan; dari Eropa Timur sampai Indonesia. Sebuah kisah yang mengandung kebenaran yang sederhana: bahwa kekerasan merupakan sebuah jalan buntu. Bukanlah sebuah tanda keberanian atau kekuasaan kalau menembak roket ke anak-anak yang sedang tidur, atau meledakkan perempuan tua di dalam bis. Itu bukanlah cara untuk mengklaim moralitas; namun itu merupakan cara untuk menghilangkannya.
Kini waktunya untuk warga Palestina memusatkan perhatian kepada apa yang bisa mereka bangun. Penguasa Palestina harus mengembangkan kemampuan untuk memerintah, dengan institusi yang melayani kebutuhan rakyatnya. Hamas memiliki dukungan di sebagian kalangan rakyat Palestina, tetapi mereka juga punya tanggung jawab. Guna memainkan peran yang memenuhi aspirasi rakyat Palestina, dan untuk mempersatukan rakyat Palestina, Hamas harus mengakhiri kekerasan, menghormati persetujuan di masa lalu dan mengakui hak eksistensi Israel.
Secara bersamaan, rakyat Israel harus mengakui bahwa sebagaimana hak Israel untuk eksis tidak bisa dibantah, demikian pula halnya dengan hak Palestina. Amerika Serikat tidak menerima keabsahan dari mereka yang berniat melenyapkan Israel ke dalam laut, tetapi kami juga tidak menerima keabsahan dari penerusan pembangunan pemukiman (tepuk tangan) Yahudi. Pekerjaan konstruksi ini melanggar persetujuan sebelumnya dan melemahkan usaha mencapai perdamaian. Sudah tiba waktunya pembangunan pemukiman ini dihentikan. (tepuk tangan)
Israel harus memenuhi kewajibannya untuk memastikan rakyat Palestina bisa hidup dan bekerja serta membangun masyarakat mereka. Selain menghancurkan banyak keluarga Palestina, terus berlangsungnya krisis kemanusiaan di Gaza juga tidak memperkuat keamanan Israel; begitu pula halnya dengan terus berlangsungnya kelangkaan peluang di Tepi Barat. Kemajuan dalam kehidupan sehari-hari rakyat Palestina harus menjadi bagian dari peta jalan menuju perdamaian, dan Israel harus mengambil langkah-langkah konkrit untuk memberdayakan kemajuan semacam itu.
Akhirnya, Negara-Negara Arab harus menyadari bahwa Inisiatif Perdamaian Arab merupakan awal yang penting, tetapi bukan akhir dari tanggung jawab mereka. Konflik Arab – Israel tidak bisa lagi dipakai untuk mengalihkan perhatian rakyat negara-negara Arab dari masalah-masalah lainnya. Sebaliknya, konflik itu harus menjadi penggerak untuk membantu rakyat Palestina mengembangkan institusi yang akan melanggengkan negara mereka; mengakui hak Israel; serta memilih kemajuan ketimbang fokus pada masa lalu yang begitu melemahkan.
Amerika akan menyesuaikan kebijakannya dengan mereka yang memperjuangkan perdamaian dan mengatakan secara terbuka apa yang kami katakan secara pribadi kepada warga Israel, Palestina, dan Negara-Negara Arab. (tepuk tangan) Kita tidak bisa memaksakan perdamaian. Tetapi secara pribadi, banyak orang Muslim menyadari bahwa Israel tidak akan lenyap; juga banyak orang Israel menyadari perlunya kehadiran sebuah negara Palestina. Waktunya sudah tiba bagi kita untuk bertindak berdasarkan apa yang oleh setiap orang diketahui merupakan hal yang benar.
Terlalu banyak air mata sudah diteteskan. Terlalu banyak darah sudah ditumpahkan. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk berjuang menciptakan sebuah masa dimana para ibu Israel dan Palestina bisa menyaksikan anak-anak mereka tumbuh tanpa ketakutan; masa dimana Tanah Suci dari ketiga agama besar merupakan tempat perdamaian yang diinginkan Allah; masa dimana Jerusalem merupakan tempat tinggal aman dan langgeng bagi orang Yahudi dan Kristen dan Muslim, dan merupakan sebuah tempat untuk semua keturunan Abraham hidup bersama secara damai sebagaimana dikisahkan dalam ISRA, ketika Musa, Yesus dan Muhammad (damai bersama mereka) bergabung dalam ibadah doa. (tepuk tangan)
Sumber ketegangan ketiga adalah kepentingan kita bersama sehubungan hak-hak dan tanggung jawab negara-negara atas senjata nuklir.
Isu ini menjadi sumber ketegangan baru-baru ini antara Amerika dan Republik Islam Iran. Selama bertahun-tahun, Iran mendefinisikan dirinya sebagian lewat oposisinya terhadap negara saya, dan memang ada sejarah yang kacau di antara kami. Di tengah-tengah Perang Dingin, Amerika memainkan peran dalam penggulingan pemerintah Iran yang terpilih secara demokratik. Sejak Revolusi Islam, Iran telah memainkan peran dalam tindak penyanderaan dan kekerasan terhadap pasukan dan warga sipil Amerika. Sejarah ini diketahui secara luas. Daripada terperangkap dalam masa lalu, saya telah menjelaskan kepada para pemimpin dan rakyat Iran bahwa negara saya siap untuk melangkah maju. Pertanyaannya kini, bukanlah apa yang ditentang Iran, tetapi masa depan apa yang ingin dibangunnya.
Sulit untuk mengatasi puluhan tahun ketidakpercayaan, tetapi kami akan maju dengan keberanian, kebenaran dan tekad. Banyak isu yang harus dibahas oleh kedua negara kita, dan kami siap melangkah maju tanpa prasyarat namun didasarkan pada sikap saling menghormati. Tetapi jelas bagi semua pihak yang berkepentingan bahwa dalam soal senjata nuklir kita telah mencapai titik yang menentukan. Ini bukan sekedar terkait kepentingan Amerika, ini berhubungan dengan pencegahan perlombaan senjata nuklir yang bisa menyebabkan wilayah ini terjerumus ke dalam jalur sangat berbahaya dan menghancurkan tatanan non-proliferasi global.
Saya memahami mereka yang memprotes bahwa beberapa negara memiliki senjata sementara yang lainnya tidak. Tak satupun negara bisa menentukan negara-negara mana yang boleh memiliki senjata nuklir. Itulah sebabnya saya secara kuat mempertegas komitmen Amerika untuk mengusahakan sebuah dunia di mana tak satu pun negara memiliki senjata nuklir. (tepuk tangan) Dan setiap negara – termasuk Iran – harus punya akses ke energi nuklir untuk tujuan damai apabila ia patuh pada tanggung jawabnya dibawah Persetujuan Non-Proliferasi Nuklir. Komitmen itu merupakan inti dari Persetujuan itu, dan harus diberikan kepada semua pihak yang mematuhinya.
Isu keempat yang akan saya tanggapi adalah demokrasi.
Saya percaya pada sebuah sistem pemerintahan yang memberi hak bersuara kepada rakyatnya, dan yang menghormati penegakan hukum serta hak untuk semua manusia. Saya tahu bahwa ada kontroversi tentang penggalakkan demokrasi dalam tahun-tahun terakhir ini, dan sebagian dari kontroversi ini terkait dengan perang di Irak. Saya perjelas: sistem pemerintahan apa pun tidak bisa dipaksakan kepada sebuah negara oleh negara lainnya.
Tetapi hal itu tidak mengurangi komitmen saya kepada negara-negara yang mencerminkan keinginan rakyatnya. Setiap negara menghidupkan prinsip-prinsipnya dengan caranya sendiri, yang berasal dari tradisi rakyatnya. Amerika tidak berpretensi tahu apa yang terbaik untuk semua orang, sebagaimana juga kami tidak berpretensi bahwa kami bisa menentukan hasil dari sebuah pemilihan damai. Tetapi saya memiliki keyakinan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi bahwa semua orang merindukan hal-hal tertentu: Kemampuan untuk mengungkapkan pendapat dan ikut menentukan bagaimana bentuk pemerintahan; mempercayai penegakan hukum dan penyelenggaraan keadilan yang sama untuk setiap orang; pemerintahan yang transparan dan tidak mencuri dari rakyatnya; kebebasan untuk hidup sesuai pilihan masing-masing. Itu bukan sekedar ide-ide Amerika, itu adalah hak asasi manusia dan oleh karena itu kami akan mendukungnya di mana saja.
Tak ada garis lurus untuk menciptakan janji itu. Tetapi yang jelas adalah: pemerintahan-pemerintahan yang melindungi hak-hak ini pada akhirnya akan lebih stabil, sukses dan aman. Tak ada garis lurus untuk menciptakan janji itu. Tetapi yang jelas adalah: Memberangus ide-ide tidak pernah berhasil melenyapkannya. Amerika menghormati hak-hak dari semua suara damai dan patuh hukum agar didengar di seluruh dunia meskipun kita tidak sepakat dengan mereka. Dan kami menyambut gembira semua pemerintahan terpilih dan damai – asalkan mereka memerintah dengan menghormati rakyatnya. Dimanapun kekuasaan itu berada, pemerintahan dari rakyat dan untuk rakyat merupakan standar tunggal untuk semua fihak yang memegang kekuasaan,
Butir ini penting karena ada yang memperjuangkan demokrasi hanya pada saat mereka tidak berkuasa; setelah berkuasa, mereka secara keji memberangus hak-hak orang lain. (tepuk tangan) Di manapun kekuasaan itu berada, pemerintahan dari rakyat dan untuk rakyat merupakan standar tunggal untuk semua pihak yang memegang kekuasaan. anda harus mempertahankan kekuasaan lewat konsensus, bukan pemaksaan; anda harus menghormati hak-hak minoritas, dan berpartisipasi dalam semangat toleransi dan kompromi, anda harus mendahulukan kepentingan rakyat anda dan usaha sah dari proses politik di atas kepentingan partai. Tanpa ramuan ini pemilihan saja tidak akan menciptakan demokrasi yang murni.
Isu kelima yang harus kita tanggapi bersama adalah kebebasan beragama.
Islam memiliki sebuah tradisi toleransi yang patut dibanggakan. Kita menyaksikan hal ini dalam sejarah Andalusia dan Kordoba. Saya menyaksikan hal itu langsung ketika masih kanak-kanak di Indonesia, di mana warga Kristen yang saleh bebas beribadah di sebuah negara yang mayoritas penduduknya Muslim. Itulah semangat yang kita butuhkan kini. Orang di setiap negara harus bebas memilih dan menjalankan keyakinan mereka berdasarkan keyakinan pikiran, hati dan jiwa. Toleransi ini penting agar agama bisa berkembang, tetapi juga ditantang dengan berbagai cara.
Di kalangan Muslim tertentu ada kecenderungan yang merisaukan, yakni mengukur kedalaman keyakinan diri sendiri lewat penolakan keyakinan orang lain. Kebhinekaan agama yang memperkaya harus ditegakkan – apakah itu kelompok Maronit di Lebanon atau Koptik di Mesir. (tepuk tangan) Dan garis pemisah juga harus dihilangkan di antara warga Muslim, sebagaimana perpecahan antara Sunni dan Syiah telah mengakibatkan kekerasan yang tragis, khususnya di Irak.
Kebebasan beragama penting bagi kemampuan rakyat hidup bersama. Kita harus senantiasa menelaah cara-cara yang kita pakai untuk melindunginya. Misalnya, di Amerika Serikat, peraturan sumbangan amal telah mempersulit warga Muslim untuk memenuhi kewajiban agama mereka. Itulah sebabnya saya bertekad untuk bekerja sama dengan warga Muslim Amerika guna memastikan mereka bisa memenuhi zakat.
Juga penting agar negara-negara Barat mencegah larangan kepada warganegara Muslim untuk mempraktikkan agama sesuai kehendak mereka – misalnya, dengan mendikte pakaian apa yang boleh dikenakan seorang perempuan Muslim. Sederhananya, kita tidak bisa menyembunyikan ketidaksenangan terhadap agama apapun lewat alasan liberalisme.
Keyakinan seharusnya mempersatukan kita. Itulah sebabnya kami mengikhtiarkan proyek-proyek di Amerika yang mempertemukan warga Kristen, Muslim dan Yahudi. Itulah sebabnya kami menyambut gembira usaha dialog Antar Agama Raja Abdullah dan kepemimpinan Turki dalam Aliansi Keberadaban. Di seluruh dunia kita bisa memanfaatkan dialog menjadi pelayanan Antar Keyakinan, sehingga jembatan di antara berbagai rakyat mengarah pada tindakan – apakah itu berupa perang melawan malaria di Afrika atau menyediakan bantuan bencana alam.
Isu keenam yang ingin saya tanggapi adalah hak-hak perempuan.
Saya tahu ada perdebatan tentang isu ini. Saya menolak pandangan beberapa pihak di Barat bahwa perempuan yang memilih untuk menutupi rambutnya seakan-akan tidak memiliki persamaan hak, tetapi saya juga berpendapat bahwa seorang perempuan yang tidak bisa menikmati pendidikan tidak diberi kesamaan hak. Dan bukan kebetulan bahwa negara-negara di mana kaum perempuannya terdidik secara baik juga makmur.
Saya perjelas: isu-isu mengenai persamaan hak perempuan bukan semata-mata merupakan isu untuk Islam. Di Turki, Pakistan, Bangladesh dan Indonesia, kita saksikan di negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim, mereka memilih seorang perempuan untuk memimpin. Sementara itu, perjuangan bagi persamaan hak perempuan masih terus merupakan aspek dalam kehidupan di Amerika, dan di negara-negara di seluruh dunia. Itulah sebabnya Amerika akan bermitra dengan setiap negara yang mayoritas penduduknya Muslim guna mendukung perluasan pemberantasan buta huruf untuk perempuan, dan membantu perempuan muda memperjuangkan pekerjaan lewat pinjaman untuk usaha kecil yang membantu rakyat merealisasikan cita-cita mereka.
Saya yakin putri-putri kita bisa menyumbang kepada masyarakat setara seperti putra-putra kita, (tepuk tangan) dan kemakmuran kita bersama bisa dimajukan dengan memberi kesempatan kepada semua orang – laki-laki dan perempuan – mencapai potensi mereka sepenuhnya. Saya berpendapat perempuan tidak harus membuat pilihan sama seperti laki-laki agar mencapai kesamaan, dan saya menghormati perempuan yang memilih peran tradisional dalam menjalankan kehidupan mereka. Tetapi hal itu haruslah merupakan pilihan mereka sendiri.
Akhirnya, saya ingin membahas pembangunan ekonomi dan kesempatan.
Saya tahu untuk banyak kalangan, wajah globalisasi bertentangan. Internet dan televisi bisa mengantarkan pengetahuan dan informasi, tetapi juga seksualitas yang bersifat ofensif dan kekerasan tak berperi kemanusiaan. Perdagangan bisa menciptakan kekayaan dan peluang baru, tetapi juga gangguan dan perubahan di masyarakat. Di semua negara – termasuk negara saya – perubahan ini bisa menyebabkan ketakutan. Ketakutan karena akibat modernitas kita kehilangan kendali atas pilihan ekonomi kita, politik kita dan yang terpenting, identitas kita – hal-hal yang paling kita hargai dari masyarakat kita, keluarga kita, tradisi kita dan keyakinan kita.
Tetapi saya juga tahu kemajuan manusia tidak bisa ditampik. Tidak perlu ada kontradiksi antara pembangunan dan tradisi. Negara seperti Jepang dan Korea Selatan membina ekonomi mereka sambil tetap mempertahankan budaya mereka. Hal yang sama juga berlaku pada kemajuan mengagumkan dalam Islam mulai dari Kuala Lumpur sampai ke Dubai. Di masa kuno dan di masa kita, masyarakat Muslim membuktikan bahwa mereka mampu berada di garis depan inovasi dan pendidikan.
Ini penting karena tak ada strategi pembangunan yang semata-mata didasarkan pada apa yang dihasilkan tanah, dan strategi pembangunan juga tidak bisa dipertahankan kalau generasi mudanya tidak memiliki pekerjaan. Banyak Negara Teluk menikmati kekayaan sebagai akibat penghasilan minyaknya, dan beberapa sudah mulai memusatkan perhatian pada pembangunan yang lebih luas. Tetapi kita semua harus menyadari bahwa pendidikan dan inovasi akan menjadi faktor penentu dari abad ke 21. (tepuk tangan) dan di banyak masyarakat Muslim masih kekurangan investasi dalam bidang-bidang ini..Saya tekankan hal itu di negara saya. Dan sementara Amerika di masa lalu memusatkan perhatian pada minyak dan gas alam di bagian dunia ini, kami kini menghendaki hubungan yang lebih luas.
Dalam pendidikan, kami akan memperluas program pertukaran dan memperbanyak bea siswa, seperti yang mengantar ayah saya ke Amerika, sementara juga mendorong lebih banyak warga Amerika untuk belajar di tengah masyarakat Muslim. Dan kami akan menempatkan siswa-siswa Muslim yang menjanjikan di tempat-tempat magang di Amerika; melakukan investasi dalam pembelajaran online untuk guru-guru dan anak-anak di seluruh dunia; dan menciptakan jaringan online baru, sehingga seorang remaja di Kansas mampu berkomunikasi langsung dengan remaja di Kairo.
Dalam rangka pembangunan ekonomi, kami akan menciptakan sebuah korps relawan bisnis baru untuk bermitra dengan counterpartnya di negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim. Dan saya akan menyelenggarakan KTT Kewiraswastaan tahun ini untuk mengidentifikasi bagaimana kita bisa mempererat hubungan antara pemimpin bisnis, yayasan dan wiraswasta sosial di Amerika dan masyarakat Muslim di seluruh dunia.
Dalam bidang sains dan teknologi, kami akan meluncurkan sebuah dana baru untuk mendukung pembangunan teknologi di negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim, dan membantu mentransfer ide-ide ke pasar-pasar sehingga tercipta lapangan pekerjaan. Kami akan membuka pusat keunggulan sains di Afrika, Timur Tengah dan Asia Tenggara serta mengangkat Utusan Sains baru untuk bekerja sama dalam program-program yang mengembangkan sumber energi baru, menciptakan lapangan pekerjaan hijau, digitalisasi catatan, air bersih dan menumbuhkan tanaman panen baru. Dan hari ini saya mengumumkan sebuah usaha global baru bersama Organisasi Konferensi Islam guna memberantas polio. Dan kita juga akan memperluas kemitraan dengan masyarakat Muslim guna menggalakkan kesehatan anak dan ibu.
Semua ini harus dilakukan lewat kemitraan. Rakyat Amerika siap bergabung dengan warganegara dan pemerintahan; organisasi kemasyarakatan, pemimpin agama dan bisnis di masyarakat Muslim diseluruh dunia guna membantu rakyat kita memperjuangkan kehidupan yang lebih baik.
Isu-isu yang telah saya uraikan tidak mudah ditanggapi. Tetapi kita punya tanggung jawab untuk bergabung demi memperjuangkan dunia yang kita cita-citakan – sebuah dunia di mana ekstremis tidak lagi mengancam rakyat kita, dan pasukan Amerika bisa pulang; sebuah dunia di mana rakyat Israel dan Palestina masing-masing memiliki negara mereka sendiri yang aman, dan energi nuklir dipergunakan untuk tujuan damai; sebuah dunia di mana pemerintahan melayani warganegaranya serta hak-hak dari semua umat Allah dihormati. Ini merupakan kepentingan bersama. Itulah dunia yang kita cita-citakan, tetapi hal itu hanya kita bisa capai bersama.
Saya tahu ada banyak – Muslim dan non-Muslim – yang mempertanyakan apakah kita bisa membina permulaan baru ini. Beberapa ingin menghasut api perpecahan, dan menghalangi kemajuan. Beberapa mengatakan hal ini tidak ada gunanya – bahwa kita sudah ditakdirkan untuk berseteru dan berbagai peradaban ditakdirkan beradu. Banyak lagi yang sekedar skeptis bahwa perubahan nyata bisa terselenggara. Begitu banyak ketakutan, begitu banyak ketidak percayaan. Tetapi kalau kita memilih untuk terperangkap dalam masa lalu maka kita tidak pernah akan melangkah maju. Dan saya secara khusus ingin mengatakan kepada generasi muda dari setiap kepercayaan, di setiap negara – anda, lebih dari orang lain, memiliki kemampuan untuk menata kembali dunia, menyusun kembali dunia.
Kita semua menghuni dunia ini untuk waktu yang singkat. Pertanyaannya adalah apakah kita melewatkan waktu itu terpusat pada hal-hal yang memecah belah kita, atau apakah kita mendedikasikan diri pada usaha – usaha berkesinambungan – untuk mencapai kesamaan, memusatkan perhatian pada masa depan bagi anak-anak kita dan menghargai harga diri semua insan manusia.
Hal-hal ini tidaklah mudah. Lebih mudah memulai perang ketimbang menghentikannya. Lebih mudah menuduh pihak lain ketimbang melakukan introspeksi diri; untuk melihat apa yang berbeda pada diri seseorang ketimbang menemukan kesamaan kita. Tetapi ada pula sebuah aturan yang merupakan inti setiap agama – bahwa kita memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan oleh mereka. Kebenaran ini berlaku lintas negara dan lintas rakyat – sebuah keyakinan yang tidak baru, yang tidak hitam atau putih atau coklat; bukan kebenaran Kristen, atau Muslim atau Yahudi. Ini merupakan keyakinan yang berdetak dalam dari buaian keberadaban, dan masih tetap berdetak dalam jantung miliaran manusia. Ini merupakan rasa percaya pada orang lain, dan hal itulah yang membawa saya kesini hari ini.
Kita memiliki kekuatan untuk menciptakan dunia yang kita cita-citakan, tetapi hanya apabila kita punya keberanian untuk memasuki awal yang baru, sambil ingat pada apa yang tertulis.
Kitab Suci Al Quran mengatakan, “Wahai manusia! Sesungguhnya kami telah ciptakan kamu sekalian dari jenis laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu sekalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling kenal mengenal…”
Talmud mengatakan kepada kita: “Seluruh Torah adalah untuk maksud menggalakkan perdamaian.”
Kitab Suci Injil mengatakan pada kita, “Diberkatilah pencipta perdamaian, karena mereka akan disebut putra-putra Allah.”
Rakyat seluruh dunia bisa hidup bersama dalam damai. Kita tahu itu merupakan visi Allah. Kini, itu menjadi kewajiban kita di Dunia. Terima kasih. Dan semoga damai Allah bersama anda. Terima kasih banyak. Terima kasih.

Pengikut dari 5 benua

Arsip Blog