Sabtu, Februari 22, 2014

Pengakuan Seorang Ekonom Perusak Ekonomi Dunia Ketiga





Pada akhir tahun 1980-an, dengan kehancuran Uni Soviet dan gerakan komunis dunia, menjadi jelas bahwa menangkal komunisme bukanlah sasarannya; sama jelasnya bahwa kekuasaan global,yang berakar di dalam kapitalisme, akan berkuasa mutlak. Seperti diamati  oleh Jim Garrison, presiden forum State of the World: Diambil secara kumulatif, integrasi dunia sebagai suatu kesatuan,terutama dalam kaitan dengan globalisasi ekonomi dan kualitas mitos dari kapitalisme "pasar bebas", menggambarkan suatu "kerajaan" sejati itu  sendiri ... Tidak ada bangsa di atas bumi ini yang dapat bertahan terhadap daya tarik globalisasi yang memaksa. Hanya sedikit yang berhasil lolos dari "penyesuaian struktural" dan "kondisionalitas" Bank Dunia, International Monetary Fund, atau dari campur tangan World Trade Organization, pinstitusi keuangan itu yang, betapa pun tidak memadainya, masih menentukan apa arti globalisasi ekonomi, apa aturannya, dan siapa yang dihadiahi karena mematuhi dan dihukum karena melanggar. Demikianlah kekuatan globalisasi sehingga seumur hidup kita, kita mungkin melihat pengintegrasian, sekali pun tidak sama rata, semua ekonomi nasional didunia menjadi suatu sistem pasar bebas global yang tunggal {1 }
Ketika aku memikirkan mengenai isu-isu ini, aku memutuskan inilah
waktunya untuk menulis sebuah buku yang menceritakan semuanya,Consdence of an Economic Hit Man, tetapi aku tidak mencoba untuk bekerja secara diam-diam. Bahkan sekarang pun, aku bukanlah jenis penulis yang menulis di tempat yang terisolasi. Aku merasa perlu untuk mendiskusikan pekerjaan yang sedang kulakukan. Aku memperoleh inspirasi dari orang-orang lain, dan aku meminta mereka untuk membantuku mengingat dan kembali
memandang peristiwa- peristiwa masa lampau ku di dalam perspektif yang sebenarnya.Aku suka membacakan bagian-bagian material yang sedang kukerjakan kepada teman-temanku, sehingga aku dapat mendengar reaksi mereka. Aku memahami bahwa ini mungkin beresiko, namun aku tidak mengenal cara lain bagiku untuk menulis. Jadi Seperti seorang don Mafia memiliki seorang laki-laki yang perkawinan putrinya dan usaha kecilnya telah dibiayainya dan kemudian dibiayai nya berulang-ulang. Seperti layaknya Mafiosi yang baik, kami tidak tergesa-gesa. Kami dapat bersabar, mengetahui bahwa di bawah hutan hujan Ekuador terdapat lautan minyak, mengetahui bahwa hari baik itu akan datang.Hari itu telah tiba, ketika awal tahun 2003, aku menjalani jalanku yang berkelok-kelok dari Quito ke kota hutan Shell di dalam mobil Subaru Outback-ku.

 

 Chavez telah menegakkan dirinya kembali di Venezuela setelah menantang George W. Bush dan ia menang. Saddam sedang mencoba mempertahankan posisinya dan bersiap-siap untuk diinvasi. Pasokan minyak telah habis sampai pada tingkat yang paling rendah selama hampir tiga dekade, dan prospek untuk mengambil lebih banyak lagi dari sumber utama kami tampak suram- dan oleh karena itu, demikian juga kesehatan neraca corporatocracy. Kami memerlukan senjata pamungkas. Kini saatnya meminta bayaran penuh dari Ekuador,Ketika aku berkendara melalui bendungan raksasa di Sungai Pastaza, aku menyadari bahwa di sini di Ekuador pertempuran itu bukanlah hanya sekadar perjuangan klasik antara yang kaya dari dunia dan yang dimiskinkan, antara yang mengekploitasi dan yang dieksploitasi. Pertempuran ini akhirnya akan mendefinisikan siapa kita sebagai suatu peradaban. Kami bersiap untuk memaksa negara kecil ini untuk membuka hutan hujan Amazonnya bagi perusahaan minyak kami. Perusakan yang akan diakibatkannya tak terkira.

 


Jika kami mendesak untuk menagih utang, reaksinya akan jauh melebihi kemampuan kami untuk mengukurnya. Itu bukanlah hanya tentang pembinasaan budaya pribumi, kehidupan manusia, dan ratusan ribu spesies hewan, reptilia, ikan, serangga, dan tanaman, beberapa di antaranya mungkin mengandung obat yang belurn ditemukan bagi banyak penyakit. Itu bukanlah hanya bahwa hutan hujan menyerap gas rumah kaca yang mematikan yang dihasilkan oleh industri kita, mengeluarkan oksigen yang penting bagi
kehidupan kita, dan menabur benih awan yang akhirnya menciptakan sebagian besar air tawar dunia. Itu jauh melampaui semua argumen standar yang dibuat oleh ahli ekologi untuk menyelamatkan tempat seperti itu, dan merengkuh jauh ke dalam jiwa kita. Jika Perusahaan2 Multi Nasional Amerika Serikat bersama Pemerintah Negara kami melanjutkan strategi ini,Sama saja kami akan melanjutkan pola imperialis yang telah dimulai jauh sebelum kekaisaran Romawi .. Kami mengutuk perbudakan, tetapi kekuasaan global kami memperbudak lebih banyak orang daripada orang2 Romawi dengan semua kekuatan kolonial lainnya sebelum kami. Aku bertanya-tanya bagaimana kami dapat melaksanakan kebijakan yang berpandangan dangkal seperti itu di Ekuador dan masih hidup dengan suara hati kolektif kami. Mengamati melalui jendela Subaru lereng Andes yang gundul, area yang selama hari-hari Peace Corps-ku rimbun dengan tanaman tropis, aku tiba tiba dikejutkan oleh kenyataan lain. Kuduga bahwa pemandangan Ekuador ini sebagai suatu pertempuran yang penting adalah mumi pribadi ,bahwa sesungguhnya setiap negara tempat aku telah bekerja, setiap negara dengan sumber daya yang telah diinginkan oleh kekuasaan global, adalah sama pentingnya. Aku mempunyai ikatan kasih sayangku sendiri untuk negara yang satu ini, yang berasal dari hari-hari akhir tahun 1960-an iketika aku kehilangan keridak-berdosaanku di sini.Tetapi itu subjektif , prasangka pribadiku. Meskipun hutan hujan Ekuador bernilai tinggi, seperti juga penduduk pribuminya dan semua bentuk kehidupan lainnya yang menghuni hutan hujan itu, hutan hujan itu tdaklah lebih bernilai daripada gurun Iran dan orang Bedouin dari warisan Yamin. Tidak lebih bernilai daripada pegunungan Pulau Jawa,kekayaan emas Puncak Papua,laut lepas pantai Filipina, stepa Asia, sabana Afrika, hutan Amerika Utara, padang es Artaktika,atau ratusan tempat lainnya yang terancam. Masing-masing tempat itu mewakili suatu pertempuran, dan masing-masing temp at itu memaksa kita untuk mencari kedalaman jiwa per orangan dan kolektif kita.

Aku teringat tentang statistik yang menyimpulkan semuanya: Rasio
pendapatan dari seperlima penduduk dunia di negara-negara terkaya terhadap pendapatan dari seperlima penduduk di negara-negara termiskin meningkat dari 30 berbanding 1 pada tahun 1960 menjadi 74 berbanding 1 , pada tahun 1995.2 Dan Bank Dunia, USAID, IMF, dan bank-bank lainnya korporasi-korporasi dan pemerintah-pemerintah yang terlibat di dalam "bantuan" intemasional terus menceritakan kepada kita bahwa mereka sedang melakukan pekerjaan mereka, bahwa kemajuan telah dicapai.Maka di sinilah aku berada di Ekuador lagi, di negara yang hanya merupakan satu dari banyak tempat pertempuran tetapi yang mempunyai tempat khusus di hatiku. ltulah tahun 2003, tiga puluh lima tahun setelah aku pertama kali tiba sebagai anggota sebuah organisasi Amerika Serikat yang menyandang kata peace di dalam namanya. Saat ini, aku datang dalam rangka untuk mencoba mencegah suatu perang yang se!ama tiga dekade telah aku bantu memprovokasinya.

Tampak bahwa peristiwa di Afganistan, Irak, Veneuzela cukup untuk menghalangi kami dari konflik lain; namun di Ekuador situasinya sangat berbeda. Perang ini .tidak akan memerlukan pasukan Amerika Serikat, karena akan dilancarkan oleh beberapa ribu pejuang pribumi yang dipersenjatai hanya dengan tombak, parang, dan senapan lantak. Mereka akan menghadapi pasukan Ekuador yang modem, segelintir penasihat pasukan khusus Amerika Serikat, dan tentara bayaran hasil pelatihan para serigala yang dipekerjakan oleh perusahaan minyak. Ini akan menjadi suatu perang, seperti konflik tahun 1995 antara Ekuador dan Peru yang kebanyakan orang yang tinggal di Amerika Serikat tidak pernah mendengarnya,dan peristiwa akhir-akhir ini telah meningkatkan kemungkinan perang seperti itu. Pada bulan Desember 2002, wakil perusahaan minyak menuduh suatu komunitas pribumi menyandera sebuah tim pekerjanya ; mereka memberi kesan bahwa para pejuang yang terlibat itu adalah anggota sebuah kelompok teroris, dengan implikasi kemungkinan berhubungan dengan Al-Qaeda. Itu adalah isu yang dibuat menjadi rumus rumit terutama karena perusahaan minyak itu belum memperoleh izin pemerintah untuk memulai pengeboran. Akan tetapi, perusahaan mengklaim para pekerja nya berhak untuk melakukan penyelidikan pendahuluan yang bukan pengeboran - suatu klaim yang ditentang keras oleh kelompok pribumi beberapa hari kemudian, ketika mereka membagi sisi cerita mereka. Para pekerja minyak itu, wakil suku menegaskan,
telah memasuki lahan yang terlarang bagi mereka; para pejuang tidak membawa senjata, dan juga tidak mengancam para pekerja minyak dengan kekerasan apa pun . .
Sesungguhnya, mereka malah telah mengawal para pekerja minyak itu ke desa mereka, di mana mereka menawarkan makanan dan chicha (bir lokal) kepada para pekerja. Selagi para pengunjung mereka berpesta, para pejuang membujuk pemandu pekerja untuk pergi. Akan tetapi, suku itu mengklaim para pekerja tidak pernah ditahan dengan melawan keinginan mereka bebas untuk pergi ke mana saja mereka senang.

Berkendara di jalan itu, aku teringat apa yang telah dikatakan oleh
warga suku Shuar kepadaku pada tahun 1990 ketika, setelah menjual IPS, aku kembali untuk menawarkan bantuan kepada mereka untuk menyelamatkan hutan mereka. "Dunia adalah seperti yang Anda mimpi kan," mereka berkata, dan kemudian mereka menunjukkan bahwa kami di Utara telah memimpikan industri besar, banyak mobil, dan pencakar langit . raksasa.
Sekarang kami telah menemukan bahwa visi kami sesungguhnya
adalah mimpi buruk yang akhirnya akan menghancurkan kita semua."Ubahlah mimpi itu," para warga Shuar itu menasihatiku. Namun dlsinilah, lebih dari satu dekade kemudian, dan terlepas dari kerja banyak orang dan organisasi nirlaba termasuk dengan siapa saya bekerja, mimpi buruk itu telah mencapai proporsi yang baru dan menakutkan.Ketika Outback-ku akhirnya memasuki kota hutan Shell, aku bergegas pergi ke pertemuan itu. Laki-laki dan perempuan yang hadir mewakili banyak suku: Kichwa, Shuar, Achuar, Shiwiar, dan Zaparo. Beberapa telah berjalan kaki selama berhari-hari menembus rimba, yang lain terbang di dalam pesawat kecil, dibiayai oleh organisasi nirlaba. Sedikit yang mengenakan pakaian tradisional, cat muka dan ikat kepala bulu mereka, meskipun kebanyakan mencoba meniru orang kota, mengenakan celana panjang, T-shirts, dan sepatu.

Wakil komunitas yang dituduh telah menyandera berbicara pertama.Mereka menceritakan kepada kami bahwa bahwa tidak lama setelah para pekerja kembali ke perusahaan minyak, lebih dari seratus prajurit Ekuador tiba di komunitas kecil mereka. Mereka mengingatkan kami bahwa ini adalah awal suatu musim khusus di hutan hujan, musim berbuah chonta.

Chonta adalah pohon yang dianggap suci bagi budaya pribumi, berbuah hanya sekali setahun dan menandai awal musim kawin berbagai burung di wilayah itu, termasuk spesies yang langka dan terancam punah. Ketika burung-burung itu berkumpul di sana, burung-burung itu sangat rentan.
Suku-suku itu menegakkan kebijakan ketat yang melarang berburu burung selama musim chonta.

"Waktunya prajurit itu datang tidak dapat lebih buruk lagi," seorang perempuan menjelaskan. Aku merasakan rasa sakitnya dan rasa sakit kawan-kawannya ketika mereka menceritakan kisah tragis mereka tentang bagaimana para prajurit itu mengabaikan larangan itu. Mereka menembak burung-burung itu sebagai olahraga dan untuk makanan. Selain itu, mereka menggerebek kebun keluarga, rumpun pisang, dan ladang ubi kayu seringkali merusak lapisan humus tipis yang tidak dapat dipulihkan kembali.
Mereka menggunakan bahan peledak di sungai untuk menangkap ikan~dan mereka menyantap hewan peliharaan keluarga. Mereka menyita senjata rakitan dan sumpitan para pemburu lokal, membuang air dengan sembrono, mencemari sungai dengan minyak bahan bakar dan pelarut,melecehkan perempuan secara seksu·al, dan lalai membuang sampah dengan baik, yang menarik serangga dan hama. "Kami punya dua pilihan," seorang laki-laki berkata. 

"Kami dapat berjuang, atau kami dapat menelan martabat kami dan melakukan yang terbaik untuk memperbaiki kerusakan itu. Kami memutuskan belum saatnya untuk berjuang." Ia menguraikan bagaimana mereka telah mencoba mengganti kerugian untuk penyalahgunaan militer dengan meminta rakyat mereka untuk bertahan tanpa makanan. Ia menamainya berpuasa, tetapi sesungguhnya terdengar lebih menyerupai kelaparan yang sukarela. Orang-orang tua dan anak-anak menderita malnutrisi dan jatuh sakit.Mereka berbicara tentang ancaman dan penyuapan. 
"Putraku," seorang perempuan berkata, "berbicara dalam bahasa lnggris dan juga Spanyol dan beberapa dialek pribumi Ia bekerja sebagai pemandu dan penerjemah untuk sebuah perusahaan eko wisata. Mereka membayar gajinya dengan pantas.

Perusahaan minyak Amerika Serikat di Ekuador menawarinya sepuluh kali lebih banyak. Apa yang dapat dilakukannya ? Sekarang ia menulis surat yang mengecam perusahaan nya yang lama dan semua orang lainnya yang telah datang membantu kami, dan di dalam suratnya ia menyebut perusahaan minyak itu ternan kami." Dia bergidik, seperti seekor anjing yang mengibaskan air dari badannya. "Ia bukan salah satu dari kami lagi. Anakku ..... "
Seorang laki-laki tua yang mengenakan hiasan kepala tradisional dari bulu toucan* seorang dukun berdiri. "Anda mengetahui tentang ketiga orang yang kami pilih untuk mewakili kami melawan perusahaan minyak, yang tewas di dalam kecelakaan pesawat terbang itu? Nah, saya tidak akan berdiri disini dan menceritakan kepada Anda apa yang dikatakan oleh begitu banyak orang, bahwa perusahaan minyak lah yang telah menyebabkan kecelakaan itu. Tetapi saya dapat mengatakan kepada Anda bahwa kematian ketiga orang itu menyebabkan terjadinya kekosongan besar didalam organisasi kami. Perusahaan minyak dengan seketika mengisi·kekosongan itu dengan orang-orang mereka."Seorang laki-laki yang lain mengeluarkan sebuah kontrak dan membacanya. Sebagai pertukaran dengan tiga ratus ribu dolar, kontrak itu menyerahkan suatu wilayah yang luas kepada sebuah perusahaan -kayu. Kontrak itu ditandatangani oleh tiga orang pejabat suku."Ini bukanlah tanda tangan mereka yang sebenarnya," ia berkata. "Saya benar-benar tahu; salah satunya saudara laki-laki saya. ltu jenis pembantaian yang lain. Untuk mendiskreditkan para pemimpin kami."Tampaknya ironis dan sangat tidak layak bahwa hal ini berlangsung di sebuah wilayah Ekuador di mana perusahaan minyak belum diberi izin untuk pengeboran.Mereka telah mengebor di ban yak daerah di sekeliling daerah yang satu ini, dan penduduk pribumi telah melihat akibatnya, telah menyaksikan perusakan daerah para tetangga mereka. Ketika aku duduk  mendengarkan di sana, aku bertanya kepada diriku bagaimana warganegara Amerika Serikat akan bereaksi jika pertemuan seperti ini ditayangkan di CNN atau berita sore.Pertemuan itu mempesona dan pengungkapan nya sangat menggelisahkan. Tetapi sesuatu yang lain juga terjadi, di luar sesi resmi itu. Selama rehat, makan siang, dan pada sore hari, ketika aku berbicara dengan orang-orang secara pribadi, aku seringkali ditanya, mengapa Amerika Serikat mengancam Irak. Perang yang segera terjadi dibahas di halaman depan surat kabar Ekuador yang menemukan jalannya ke kota hutan ini, dan ulasannya sangat berbeda dengan ulasan di Amerika Serikat.Ulasan itu mencantumkan acuan kepada kepemilikan keluarga Bush atas perusahaan-perusahaan minyak dan United Fruit, dan kepada peran Wakil Presiden Cheney sebagai mantan CEO Halliburton.Surat kabar ini dibacakan kepada laki-laki dan perempuan yang tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah itu. Setiap orang tampak berminat pada isu ini. Di sinilah aku sekarang, di hutan hujan Amazon, di antara penduduk buta aksara yang dianggap sebagai "terbelakang", bahkan "biadab" oleh banyak orang di Amerika Utara, dan namun mengajukan pertanyaan menyelidik yang menyerang langsung ke jantung kekuasaan global.Berkendara keluar dari Shell, kembali melalui bendungan pembangkit listrik tenaga air itu dan di daerah ketinggian Andes, aku tetap memikirkan perbedaan antara apa yang telah kulihat dan kudengar selama kunjungan ke Ekuador. ini dengan apa yang aku telah menjadi terbiasa di Amerika Serikat. Tampaknya suku-suku Amazon itu mempunyai banyak hal yang dapat diajarkan kepada kami, bahwa meskipun kami belajar di sekolah dan berjam-jam membaca majalah dan menonton berita di televisi, kami tidak mempunyai kesadaran yang mereka entah bagaimana telah menemukannya. Garis pemikiran ini membuat aku berpikir tentang"Ramalan tentang Condor dan Elang", yang telah kerapkali kudengar diseluruh Amerika Latin, dan tentang ramalan serupa yang telah kutemukan di seluruh dunia. Hampir di setiap budaya aku mengenal ramalan bahwa pada akhir tahun 1990-an kita akan memasuki suatu periode peralihan yang luar biasa. Di biara di Himalaya,di situs upacara di Indonesia, dan di suaka  pribumi di Amerika Utara,dari kedalaman Amazon hingga ke puncak Andes danke dalam kota suku Maya di Amerika Tengah.

Aku telah mendengar bahwa periode peralihan kita itu adalah suatu saat yang khusus di dalam sejarah manusia, dan bahwa setiap orang dari kita dilahirkan pada zaman ini karena kita mengemban misi khusus. Judul dan pesan ramalan itu berbeda sedikit satu sama lain. Ramalan itu menceritakan berbagai hal tentang Zaman Baru, Milenium Ketiga, Zaman Aquarius, Awal Matahari Kelima, atau akhir penanggalan penanggalan lama dan permulaan penanggalan-penanggalan baru.

Terlepas dari berbagai istilah, bagaimanapun, ramalan itu mempunyai banyak kesamaan, dan "Ramalan tentang Condor dan Elang"khas. Ramalan itu menyatakan bahwa dulu kala di dalam kabut sejarah, masyarakat manusia terbagi dan mengambil dua buah jalur yang berbeda: jalur condor (mewakilihati, bersifat intuitif dan mistis)dan jalur elang (mewakili otak, bersifat rasional dan materiil). Pada tahun 1490-an, ramalan itu mengatakan,kedua jalur itu akan menyatu dan sang elang akan mendorong sang condor keambang kepunahan.Lalu, lima ratus tahun kemudian, pada tahun 1990-an, suatu zaman baru akan dimulai, di mana sang condor dan sang elang akan mempunyai kesempatan untuk bersatu kembali dan terbang bersama-sama di langit yang sama, mengarungi jalur yang sama. Jika sang condor dan sang elang menerima kesempatan ini, mereka akan menciptakan keturunan yang paling luar biasa, berbeda dengan yang pemah dilihat sebelumnya."Ramalan tentang Condor dan Elang" dapat ditafsirkan pada berbagai tingkatan - interpretasi standar adalah bahwa ramalan itu meramalkan pembagian pengetahuan pribumi dengan teknologi ilmu pengetahuan,penyeimbangan yin dan yang, dan penghubungan budaya utara dan selatan. Akan tetapi, yang paling kuat adalah pesan yang ditawarkannya tentang kesadaran pesan itu mengatakan bahwa kita telah memasuki suatu zaman
ketika kita dapat menarik manfaat dari banyak cara yang beragam untuk melihat diri kita sendiri dan dunia, dan bahwa kita dapat menggunakan cara-cara ini sebagai papan loncatan ke tingkat kesadaran yang lebih tinggi.Sebagai manusia, kita benar-benar dapat terjaga dan berkembang menjadi spesies yang lebih sadar. Orang-orang condor Amazon membuatnya tampak demikian jelas bahwa jika kami harus. menjawab pertanyaan tentang apakah artinya bersifat manusiawi di dalam milenium baru ini, dan tentang komitmen kami untuk mengevaluasi niat kami selama beberapa dekade berikutnya,maka kami perlu membuka mata kami dan melihat konsekuensi tindakan kami - tindakan sang elang- di tempat seperti : Iran, Irak,Ekuador dan sekarang di Afganistan ,  Mesir , Palestina dan Syria

Kami mesti mengguncangkan kesadaran diri kami. Kami yang hidup
di dalam sejarah bangsa yang paling berkuasa yang pernah dikenal mesti berhenti demikian berfokus pada hasil Rekayasa bak opera sabun, permainan football, neraca kuartalan, dan rata-rata harian Dow Jones, dan mesti sebagai gantinya mengevaluasi ulang siapa kami sebenarnya dan ke mana kami ingin anak-anak kami menuju Alternatif untuk berhenti menanyakan kepada diri kami pertanyaan yang penting ini benar-benar terlalu berbahaya .

by

Minggu, Januari 05, 2014

Apabila Tambang & Pabrik peleburan Freeport McMoRan.Inc di Papua Tidak segera di Negoisasi ulang kontrak kerja nya oleh Pemerintah Indonesia. Maka Rakyat Pulau Papua akan memisahkan diri keluar dari Negara Kepulauan Republik Indonesia dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB atas rekomendasi dan bantuan maksimal dari Inggris-Australia-Selandia Baru dan Negara-negara Melanesia. N.K.R.I. Waspadalah,......! Harusnya Freeport McMoRan sadar bahwa posisi usaha Freeport diambang kebangkrutan dan berfikir untuk segera Renegoisasi Kontrak Kerja nya di Papua


Awal Tahun 2014 , kembali ada Gerombolan Masyarakat Pribumi Paua yang sengaja menciptakan Teror di Areal Freeport . Karena mayoritas Pribumi Papua tidak setuju Eksploitasi Tanah leluhur Mereka Oleh Perusahaan Amerika Serikat / Freeport McMoRan Copper & Gold Inc , mulai dari unjuk rasa damai sampai teror tidak didengar oleh para Penguasa Pusat dan Daerah .

Mabes Polri membenarkan bahwa telah terjadi penyerangan pos Brigade Mobil (Brimob) Polri di Pos Kulirik, Kabupaten Puncak Jaya, Papua pada hari Sabtu (4/1). Penyerangan tersebut dilakukan oleh kelompok sipil bersenjata dengan jumlah sekitar 20 orang.

Menurut Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Pol Ronny F Sompie, dalam penyerangan itu sempat terjadi perampasan senjata milik anggota Brimob. Kelompok sipil itu membawa lari delapan pucuk senjata api (senpi) laras panjang.

"Pada saat penyerangan, 8 senpi laras panjang yang terdiri dari AK 47, Mouser 1 butir, SS1 5 pack dan amunisi dibawa oleh pelaku," kata Ronny saat dihubungi merdeka.com, Sabtu (4/1).

Tidak ada korban jiwa dalam serangan yang dilakukan 20 orang bersenjata ini. Saat ini, pasukan Brimob dibantu TNI dan jajaran polres setempat masih mengejar para pelaku.

Sebelumnya, kelompok sipil bersenjata (KSB) menyerang pos satuan Brimob di Kulirik, Kabupaten Puncak Jaya, Sabtu (4/1). Selain menyerang, para pelaku dikabarkan merampas delapan pucuk senjata dari berbagai jenis.Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Pol Ronny F Sompie mengatakan bahwa saat ini jajaran kepolisian Brigade Mobil (Brimob) Papua langsung mengerahkan 1 peleton pasukan untuk mengejar kelompok sipil bersenjata (KSB). Kelompok itu telah merampas beberapa senjata api di Pos Kulirik Brimob, Kabupaten Puncak Jaya, Papua.

"Mereka melakukan pengejaran oleh dengan 1 peleton Brimob yang berada di kota lama mulya. Polres dan TNI juga diperbantukan dalam pengejaran kelompok bersenjata," kata Ronny saat dihubungi merdeka.com, Sabtu (4/1).

Ronny menambahkan, hingga saat ini juga dilakukan pemeriksaan internal dari pihak propam terhadap dua orang anggota Brimob yang sedang berada di lokasi saat kejadian. Selain itu tim olah tempat kejadian perkara (TKP) dari Ditreskrimum Polda Papua juga akan dilibatkan untuk menyelidiki kasus ini.

Sebelumnya, telah terjadi penyerangan kelompok sipil bersenjata (KSB) di Pos Kulirik Brigade Mobil (Brimob) Polri, Kabupaten Puncak Jaya, Papua pada hari Sabtu (4/1) sekitar pukul 16.00 WIT. Penyerangan tersebut dilakukan oleh kelompok sipil bersenjata dengan jumlah sekitar 20 orang. Minimnya anggota pada saat kejadian membuat para kelompok tersebut leluasa mencuri beberapa senjata api (senpi).

Adapun kronologis kejadian, menurut Ronny pada saat itu anggota yang berjaga di pos hanya berjumlah dua orang. Para pelaku yang datang secara tiba-tiba kemudian mendobrak pintu pos tersebut dan langsung merampas senjata-senjata milik anggota Brimob.

"Karena kalah jumlah, dua anggota menyelamatkan diri lewat pintu belakang ke sungai dan kemudian melapor ke polres," ujarnya.

Terkait kejadian tersebut, anggota Brimob yang dibantu oleh jajaran polres dan TNI kemudian melakukan pengejaran terhadap kelompok tersebut. "Para pelaku melarikan diri ke gunung dengan mengeluarkan tembakan beberapa kali. Dalam kejadian ini korban jiwa/luka-luka nihil," imbuh Ronny.

Jelang Akhir Tahun pada 27 Desember 2013 Sebanyak tujuh truk trailer diberondong peluru oleh kelompok bersenjata di areal Freeport, Papua. Dalam kejadian tersebut, tidak ada korban jiwa.

"Betul telah terjadi peristiwa penembakan di areal Freeport pada hari Jumat tanggal 27 Desember 2013 sekitar pukul 13.30 WIT di mile 41. Korban jiwa nihil," ujar Kabid Humas Polda Papua, AKBP Sulistyo Pudjo Hartono via pesan singkat, Jumat (27/12).
Menurut Pudjo, meski mendapat serangan tersebut, seluruh trailer tetap melanjutkan perjalanan ke mile 50.

Berikut daftar trailer yang terkena tembakan kelompok bersenjata:

1. Trailer no lambung 02 xxx, kena kaca pintu kanan.
2. Trailer 02-0868 kena kaca pintu kanan.
3. Trailer 02-0956, kena blower AC.

4. Trailer 02-1014, kena pintu kanan.
5. Trailer 02-0896, kena pintu kanan
6. Trailer 02-1097, kena kap mesin.
7. Trailer 02-0826, kena kap di atas ban depan kanan.

 Uranium , Emas dan Tembaga di Puncak Jaya Papua adalah yang Terbesar di Dunia sedang diRampok Amerika Serikat

Dampak Negatif dan Kontroversi PT. Freeport Indonesia

  • Selama penambangan sejak awal berdiri PTFI sudah banyak kerusakan lingkungan yang nyata terjadi di daerah Papua. Sungai yang tercemar logam berat sampai kerusakan permanen pada hutan di sekitar pertambangan yang turut merusak kekayaan hayati di Indonesia. Dampak secara tak langsung juga merugikan masyarakat yang hidup bergantung pada sungai di Papua.
  • Sebanyak kurang lebih 300.000 Ton/Hari Limbah dihasilkan dan dibuang dari proses pertambangan oleh perusahaan Amerika tersebut ke hutan dan sungai sehingga menyebabkan matinya hewan dan tumbuhan serta meracuni penduduk yang bergantung pada lingkungan di Papua. Kerusakan lingkungan hidup tidak begitu di perhatikan oleh PTFI asal Amerika tersebut karena tidak menguntungkan pada perusahaan.
  • Masyarakat lokal hanya dijadikan buruh dengan upah yang tidak sesuai dengan keuntungan yang didapat oleh PTFI per tahun. Ratusan ribu ton bijih Emas, Perak, dan tembaga dihasilkan dan di bawa ke Amerika yang diambil dari Negara Indonesia tanpa ada dampak Positif bagi masyarakat setempat. Tidak ada perbaikan kualitas pendidikan, pekerjaan, maupun penghasilan yang didapat masyarakat Papua dari keberadaan PTFI di Indonesia. Dengan hasil tambang jutaan Ton, tidak ada pembangunan infrastruktur bagi masyarakat setempat.
  • Kehidupan masyarakat setempat juga terancam dengan keberadaan PTFI asal Amerika tersebut, karena masyarakat yang bukan pekerja PTFI bisa di usir, bahkan di tembak jika mendekati area pertambangan tanpa izin. walaupun masyarakat Papua hanya mencari hasil hutan di Sekitar PTFI.
  • Negara Indonesia dirugikan dengan adanya PTFI. Sebanyak jutaan Ton Bijih Emas, Perak, dan Tembaga ditambang dari Papua, negara Hanya mendapatkan paling banyak 10% dari keuntungan yang didapat oleh PTFI. Karena PTFI melakukan pemurnian di negara asalnya yaitu Amerika serikat.
  • PTFI tidak mengindahkan keselamatan pekerjanya yaitu masyarakat Papua sendiri. hal ini terbukti saat terjadi runtuhnya tambang pada akhir 2012 lalu, tidak ada penanganan serius dari PTFI bagi para korban (dan keluarga). Bahkan kunjungan menteri dan instansi terkait untuk melakukan penyelidikan kasus, dihambat oleh Pimpinan PT. Freeport Indonesia, sehingga penyelidikan lebih lanjut tidak bisa dilakukan.
  • PTFI berusaha menyuap aparat dengan menambah uang lelah (gratifikasi) untuk penjagaan pabrik penambangan dari masyarakat setempat.
  • Perpanjangan Kontrak Kerja PT. Freeport Indonesia Hanya akan merugikan masyarakat, bangsa, dan Negara selama puluhan tahun yang akan datang.
  • Perpanjangan kontrak PTFI merupakan bentuk ketidakpedulian pemerintah pada masyarakat Indonesia bagian timur selama puluhan tahun yang akan datang.
PIPA KONSENTRAT JEBOL. Sejumlah warga mendulang emas, perak dan tembaga di Kali Outomona, Mile 30 Area Freeport, Timika, Papua, Jumat (7/10). Warga beramai-ramai mendulang akibat jebolnya pipa yang mengalirkan konsentrat milik PT Freeport Indonesia dari Tembagapura ke Portsite untuk di kirim ke Gresik dan sejumlah Negara lain. 
FOTO ANTARA/Spedy Paereng/ 7-10-2011

Sumber: Merdeka.com /okezone.com/The Conquest of Copper Mountain, A Vivid, Personal Account of the Discovery and Development of Spectacular Outcrop of Ore in the Remote Peaks of Irian Jaya, Indonesia, New York: McClelland and Stewart Ltd./Grasberg, Mining the richest and most remote deposit of copper and gold in the world, in the mountains of Papua, Indonesia, Indonesia: Freeport McMoRan Copper & Gold Inc

Jumat, Januari 03, 2014

Siaran Pers GMP Bung Karno: Melawan Intoleransi Beragama

Tingginya intoleransi dan pembiaran negara  terhadap umat beragama seperti GKI Yasmin, HKBP Filadelfia, Jemaat Ahmadiyah dan paling bernas pengkafiran dan penyesatan sistematis terhadap Muslim Syiah yang semakin gencar di pelbagai kota melalui penyebaran buku dan tekanan massa kelompok-kelompok yang ingin merusak kerukunan umat beragama semakin merisaukan dan harus menjadi prioritas perjuangan gerakan masyarakat sipil di tahun 2014.

Untuk itu Gerakan Masyarakat Penerus (GMP) Bung Karno menginisiasi konsolidasi masyarakat sipil yang berketuhanan, nasionalis dan pro-persatuan dari sesama anak bangsa untuk melawan intoleransi, memajukan dialog antar/intra-agama dan mendorong pembatalan perda dan fatwa yang telah menimbulkan konflik dan perpecahan di tengah kehidupan bermasyarakat.

Fenomena intoleransi dalam beberapa tahun terakhir ini menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan, terutama intoleransi beragama. Tindak kekerasan atas nama agama bahkan telah menimbulkan hal yang amat membahayakan masa depan bangsa, antara lain mengerasnya gerakan-gerakan memaksakan keyakinan agama tertentu, bahkan dipersempit lagi dengan mazhab agama tertentu menggunakan kekerasan untuk menjadi pemegang dominasi dalam urusan kebenaran dan keberagamaan yang semestinya dijamin negara.

Amat sering kita jumpai pemuka agama dan pejabat pemerintah yang berpengaruh dalam masyarakat mengembangkan suatu perspektif yang menegaskan bahwa Indonesia adalah negara yang hanya boleh bercirikan mazhab agama tertentu dengan cara menindas dan memfitnah kelompok agama dan keyakinan berbeda. Hal ini sangat bertentangan dengan Pancasila dan konstitusi. Benih-benih intoleransi semakin tumbuh subur dari pola beragama seperti ini.

Terbangunnya opini masyarakat untuk menghakimi agama dan keyakinan yang berbeda menimbulkan rasa saling curiga yang meruncing dalam masyarakat. Ketidakpercayaan terhadap pihak lain karena membesarnya rasa curiga dan benci di antara sesama anak bangsa telah semakin mengeras dan membangkrutkan harmoni dan persatuan di tubuh anak bangsa.

Terkoyaknya kehidupan sosial berbangsa dan bernegara yang semula damai dan menghormati keragaman semakin lama semakin mengarah pada benturan dan konflik sosial. Fenomena ini telah terjadi atas GKI Yasmin, HKBP Filadelfia, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Muslim Syiah dan  kelompok keyakinan dan penghayat di berbagai tempat.


Indonesia ini, seperti dinyatakan Bung Karno, adalah sebuah wadah bersama, yang menampung beraneka agama, beraneka suku, adat-istiadat, dan beraneka aliran politik. Artinya, realitas keanekaragaman, termasuk agama dan aliran kepercayaan, merupakan realitas keindonesiaan yang harus diakui oleh setiap orang Indonesia.Bahkan, sebelum proklamasi kemerdekaan dibacakan, konsensus nasional pertama yang kita sepakati adalah “Indonesia buat semua”. Tidak ada dikotomi pribumi dan non-pribumi. Juga tidak dibenarkan mempertentangkan agama yang satu dengan yang lain. “Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada egoisme agama,” ujar Bung Karno dalam pidato 1 Juni 1945.

Gerakan intoleransi amat penting diwaspadai karena telah menjadi pola yang mirip dengan suatu operasi sistemik yang dapat meruntuhkan kekuatan berbangsa dan bernegara. Gerakan ini antara lain aktif menyebarkan kebencian terhadap golongan-golongan yang berbeda paham dengan mereka setiap pekan di berbagai kota dengan membagi-bagikan secara gratis berbagai barang cetakan (buku, buletin, media online, dan sebagainya), dan membangun opini berdasarkan fitnah dan manipulasi bahwa kelompok yang berbeda dengan mereka sudah pasti sesat sehingga layak diusir dan bahkan dihalalkan darahnya.

Kelompok ini juga melakukan berbagai pendekatan untuk mempengaruhi lembaga-lembaga keagamaan seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan ormas-ormas baik dengan lobi, dialog bahkan tekanan massa untuk turut mengeluarkan fatwa penyesatan atas kelompok yang berbeda dan mereka musuhi serta mencegah pembangunan tempat ibadah bahkan menghalangi peribadatan penganut agama tertentu. Kelompok intoleran ini pula melibatkan pemerintah setempat dalam setiap kegiatan propaganda mereka yang dimaksudkan untuk meminjam dan mendapatkan legitimasi negara.

Pelibatan unsur pemerintah dilakukan dengan berbagai cara antara lain mengundang para pejabat pemerintah sebagai narasumber seminar bertopik intoleransi, bahkan mendesakkan munculnya peraturan daerah untuk melarang keyakinan atau ekspresi keberagamaan tertentu.

Menyikapi fenomena tersebut, maka GMP Bung Karno menyampaikan hal-hal sebagai berikut:
1. Pemerintah perlu membangun komunikasi intensif antara unsur-unsur pemerintah dengan tokoh-tokoh masyarakat atau tokoh agama untuk menguatkan kehidupan masyarakat yang toleran dan menjunjung tinggi persatuan.
2. Menolak segala bentuk intoleransi beragama, ekstrimisme dan radikalisme yang memicu munculnya kebencian, saling curiga, bahkan tindak kekerasan dalam masyarakat.
3. Menyerukan dicabutnya peraturan daerah dan fatwa yang menyuburkan konflik di tengah masyarakat dan karenanya bertentangan dengan konstitusi dan Pancasila sebagai falsafah dasar berbangsa dan bernegara

Billahi Taufiq wal hidayah. Demikian dan terima kasih.
Jakarta, 3 Januari 2014
KETUA UMUM
GMP BUNG KARNO
Drs. Zulfan Lindan

Sumber Artikel: 
http://www.indonesian.irib.ir/fokus/siaran-pers-gmp-bung-karno-melawan-intoleransi-beragama
http://www.berdikarionline.com/editorial/20130322/negara-dan-intoleransi.html

Sabtu, Desember 14, 2013

Bukti Kejahatan Amerika Serikat di Timur-Tengah

Capt. Michael P. Brabner
Ke Recipients

Hari Ini pada 8:06 PM
Good Day !!
I am  Capt Michael P. Brabner, an officer of the U.S Army. I just moved to Syria from Iraq as one of the last batches that has just left. During my services in Iraq, I was able to secure Fifteen Million Five Hundred Thousand Dollars which is my own share of the money we shared among ourselves that belong to Saddem Hussein and his family.

I have carefully arranged the said fund in a military trunk box.I have also made arrangement on how to move this trunk box to you if you can confide in me.

I want to hand over this funds to a TrustWorthy Person that can help me keep it safe in your Country until am back from the Camp in Syria for joint business and investment. can you be trusted? kindly send me your name,your business involvements and mobile number for easy communication.You will find the story of this fund on the web address below.http://news.bbc.co.uk/2/hi/middle_east/2967029.stm

Please kindly keep this transaction Confidential because I am still serving in the Military camp here in SYRIA.Pls reply me via my private email: capt.michaelbrabne@yahoo.com

Capt. Michael P. Brabner
US Rescue Team,SYRIA

Pengikut dari 5 benua

Arsip Blog